Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Meringkuk dan Menciut


__ADS_3

Soemantri Soekrasana mendongak ke atas. Di antara pepohonan, ada sosok kuntilanak sedang melayang terbang. Tak lama selarik sinar melesat menyusul penampakan hantu perempuan itu. Diikuti dengan beberapa larik lagi, beragam warnamenghiasi angkasa bagai kembang api pada pesta pergantian tahun. Bedanya, tidak ada keceriaan di sana. Yang ada hanya penderitaan dan gemeretak gigi karena rasa sakit dan tersiksa.


"Ilmu teluh," gumam sang dukun muda pelan.


 Mendadak Soemantri Soekrasana tersadar akan rasa perih yang menyergap. Namun kali ini bukan berasal dari belakang kepalanya dimana sebelumnya ia dipukul oleh Girinata, melainkan di telapak tangan kiri dimana ia menorehkan pisau untuk menulis japa-mantra di lantai ubin rumah Girinata.


Raut wajahnya berubah, tapi tetap tak bisa dibaca. Ada suatu hal yang melintas di dalam pemikirannya, dan itu adalah sesuatu yang serius dan sungguh-sungguh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Marni membebat tubuhnya dengan kain kafan membentuk kemben. Ia berdiri di pekarangan rumahnya yang lantainya dijalari tanaman liar. Beberapa sosok hantu kuntilanak dengan wajah pucat, rambut panjang menggapai tanah, melayang-layang di sekitarnya tak menyentuh daratan.


Larik-larik cahaya berkelebatan di angkasa. Mata telanjang manusia biasa mungkin tak semua dapat melihat, tapi jelas setiap pori-pori mereka akan memaksa rambut di lengan dan tengkuk meremang oleh karena perubahan atmosfir di tempat dimana larik-larik cahaya itu memintas.


Marni menutup mata, merasakan gerbang dua dunia akan terbuka penuh. Anak perempuannya, Wardhani, akan memberikannya kekuatan gaib yang sempurna.


Arwah Kinanti meringkuk di balik tanaman perdu yang menempel di salah satu dinding terluar rumahnya. Marni menatap sosok arwah salah satu anaknya tersebut. "Kinanti, anakku sayang. Terimakasih atas segala pengorbananmu, nak. Orangtuamu akan kembali jaya. Bahkan kita akan jauh lebih jaya dibandingkan siapapun di keluarga kita. Ibu dan bapakmu akan terus awet muda. Adikmu, Wardhani, akan menguasai tidak hanya dusun ini, namun juga jagad lelembut, tempatmu tinggal. Kau juga, Kinanti. Kau akan terus bersama kami di sini, bersama keluargamu," ujar Marni. Ia tersenyum lebar ketika larik-larik sinar makin bertambah banyak dan berseliweran di angkasa.


Kinanti tak beresaksi. Ia semakin meringkuk dan menciut. Tidak ada seorangpun yang paham apa yang dirasakan satu sosok hantu dalam keadaannya yang seperti ini.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Girinata dapat mencium dengan jelas bau tanah, pepohonan, serta air sungai yang mengalir. "Dusun ini milikku sekarang," ujarnya pelan sembari berjalan gagah nan perkasa. Ia kembali bertelanjang dada, memamerkan keringatnya yang mengering oleh udara malam bekas percintaan gila-gilaannya tadi dengan Marni. Namun, sesuai perkataannya kepada Marni sang istri, tugas mereka memang belum benar-benar selesai. Semua pancajiwa, lima benda keramat di empat tempat tersebut harus dihancurkan. Wardhani dengan kekuatannya akan memerintah para arwah. Ia dan Marni akan menikmati, apapun yang diberikan oleh sang putri.


Girinata kemudian berlari kecil menuju ke arah pusat dusun, melewati lapangan dengan kobaran api yang masih menyala melahap sisa-sisa kayu dua pohon beringin keramat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Marni tersentak dan membuka mata.


Pocong mendadak muncul terbaring bagai guling di dekatnya. Wajah di balik kain putih kumal itu tidak lagi tampak manusiawi. Bahkan tidak lagi terlihat pucat, malah cenderung busuk. Menghitam dan cacah di mana-mana. Sepasang matanya melotot ke arah Marni seujung jari saja lepas dari rongganya.


Begitu juga sosok sundel bolong dengan rambut tebal menumpuk mengembang di kepalanya. Hantu itu terkikikdi dekat Marni. Memamerkan deretan gigi menghitam dan beberapa runcing.


Marni merasakan ada hal yang tidak biasa. Ia mencium sebuah keanehan dan ketidakberesan. Mengapa mahluk-mahluk ini berkumpul di rumahnya? Bukankah kelima benda keramat di empat tempat berbeda itu sudah semua berhasil dihancurkan? Mengapa mereka tidak mengikuti Wardhani saja, menuruti semua perintah anak perempuannya itu?


Marni membalikkan tubuhnya. Mahluk-mahluk gaib itu tiba-tiba menghilang kemudian ujug-ujug muncul sekehendak hati. Arwah sang Rama juga muncul di sampingnya. Marni tersentak kaget. Namun sebelum Marni bisa mengatakan apapun, bahkan sumpah serapah sekalipun, roh bapaknya itu berjalan menembus dinding rumahnyadan pergi menghilang.


Marni menyipitkan kedua matanya.

__ADS_1


Ia mengikuti kemana roh bapaknya pergi, yaitu menembus masuk ke dalam rumahnya.


Pintu rumahnya berderit ketika ia buka.


Sinar temaram tak sanggup memenuhi ruang tamu yang luas itu.


"Tunggu. Akan kubenahi ruangan ini sebentar lagi. Akan kujejalkan sinar terang memenuhi setiap rongga ruang tamu agar kemewahan terlukis jelas," gumam tekad Marni pelankepada dirinya sendiri.


Sang kuntilanak merah melayang di tengah ruangan yang kosong itu. Sepasang matanya meneteskan darah yang terus mengalir melewati kebaya merah, jarit dan kedua kakinya.


"Mau apa kau di sini? Kau harusnya bersama Wardhani," ujar Marni berusaha terdengar tegas kepada sang sosok hantu berbusana merah itu. Sayangnya, ia sendiri merasakan suara yang keluar dari mulutnya agak lemah dan tak yakin. Sejujurnya, ia agak takut.


Chandranaya sang kuntilanak mereha menatap kosong ke arah Marni, tapi tak benar-benar melihat ke arahnya, melainkan seakan menembus ruang dan waktu ke sebuah semesta tertentu.


Tetesan darah dari sang hantu betina itu sangat mengganggu Marni, tapi ia tak kuasa untuk tak melihatnya, sampai ... pandangan Marni tertumbuk pada aliran darah yang menetes di atas tulisan japa-mantra yang ditorehkan Soemantri Soekrasana dengan darahnya di atas lantai ubin ruang tamu rumahnya tersebut.


Marni mengumpulkan keberanian. Ada semacam kekuatan yang membuatnya tertarik untuk datang mendekat walau entah mengapa, berhadapan dengan hantu yang satu ini nyalinya menciut. Ia juga terbawa suasana ketika perlahan hantu dan mahluk-mahluk gaib beragam bentuk mulai bermunculan menembus dinding, merayap di langit-langit, merangkak di lantai dan mengambang di udara. Ia malah tak menemukan hantu sang ayah yang menembus masuk ke dalam rumahnya tadi. Jangan-jangan, sang Rama sesungguhnya juga ingin menunjukkan sesuatu, pikirnya.


Marni tak betah dengan kemisteriusan ini. Ia gerah dengan kemunculan para hantu. "Pergi kalian! Cepat! Jangan sampai anakku, Wardhani, memanggil kalian dan ternyata kalian tak ada di sana. Ia akan menghukum kalian dengan mantranya," seru Marni masih mencoba terdengar galak.

__ADS_1


Namun, kedua matanya kemudian masih menumbuk tulisan mantra di lantai yang darahnya sudah mengering itu. Darah Chandranaya yang menetes di atasnya adalah semu belaka. Seakan-akan kuntilanak merah itu hanya ingin menunjukkannya kepada Marnidengan caranya.


Bentakan Marni tak memiliki efek apapun. Para mahluk itu terus berdatangan, memenuhi ruangan besar yang mendadak menjadi sangat sempit tersebut. Marni merasa kesulitan bernafas.


__ADS_2