Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Limapuluh Satu


__ADS_3

Wong Ayu agak terkejut dengan nada bicara Soemantri Soekrasana. Biasanya ia terdengar tenang dan tak pernah menggunakan kata-kata yang tegas dan penuh emosi.


"Apa mau kalian sebenarnya?" ujar Wong Ayu.


"Kita harus bersama menyelesaikan masalah ini. Selama kita terpecah, mayat terus bergelimpangan. Pasti ada alasan mengapa kita berempat dipertemukan," Sarti kali ini yang berbicara.


"Kau yang terkuat di antara kami. Aku tak mau bohong untuk tidak beranggapan bahwa memang kau penyebab kekacauan ini. Tapi, apa boleh buat, jalanku adalah untuk membantu kalian menyelesaikan masalah ini," tambah Anggalarang.


Wong Ayu menarik nafas panjang, menghembuskannya keras-keras dan menatap ke atas.


"Kalian sama sekali tak menjawab pertanyaanku. Kalian mengakui bahwa akulah penyebab kekacauan ini, membawa serta kekuatan gelap ketika aku mengambil ilmu dari dunia gaib itu. Tapi di sisi lain kalian juga bersikeras tak menyalahkanku. Bila memang kalian mengakui semua kesalahan ada padaku, biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri. Tapi bila mau membantuku, mengapa kalian cegah aku untuk turun tangan langsung kembali menghadapi perempuan iblis yang sudah menjadi tanggung jawabku itu?"


"Mbak jelas berhasil ia kalahkan berkali-kali. Kita harus mengakui bahwa mahluk itu, ditambah inangnya, adalah mahluk yang begitu kuat. Kita berempat juga sudah kehabisan tenaga. Tiba-tiba ada sosok sakti yang muncul menghadapinya. Ini adalah kesempatan kita agar tidak sembrono seperti sebelumnya. Berapa kali kita diperdaya sehingga korban terus berjatuhan? Semua karena kita terlena pada hawa nafsu kita sendiri untuk mengalahkan dan menghabisi iblis betina itu," ujar Soemantri Soekrasana panjang lebar.


"Kau sebenarnya tahu bahwa sosok misterius yang sakti, seberapapun hebatnya, yang tiba-tiba datang itu tak bisa melawan mahluk iblis itu, bukan? Kaulah yang benar-benar tahu bagaimana mengalahkannya. Mengapa tak kau beritahu kami?" tukas Anggalarang.


Sarti melipat kedua tangannya di depan dada, "Lihat sekelilingmu. Lihat kekacauan ini. Kita harus hentikan, Wong Ayu. Apa yang membuatmu menyembunyikan hal ini dan memutuskan untuk melakukannya sendiri? Apah ini sebenarnya adalah tindakan yang kau lakukan Sebagai penebusan dosa?"


Mendengar ini, kedua bahu Wong Ayu jatuh. Ia tak bisa berkilah. Mungkin ia ditakdirkan untuk tak berjalan sendirian dalam gelapnya malam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Marsudi menyemburkan api dan melemparkan petir ke arah sosok yang dikenal sebagai Gatotkaca itu. Sang sosok terpelanting menghajar bangunan yang sudah runtuh.


Gatotkaca bangun dari reruntuhan. Tubuhnya basah oleh air hujan. Otot-ototnya menegang dan tanpa berlama-lama, tubuhnya kembali terlontar bagai p3luru kendali.

__ADS_1


Tubrukan besar di udara antara kedua kekuatan tersebut tak bisa dihindari lagi.


Sosok Gatotkaca ini memiliki kecepatan dan kekuatan fisik yang luar biasa. Ia berkali-kali menyerang Marsudi dengan pukulan, tendangan bahkan bantingan, melemparkan Marsudi ke bumi, menginjak-injaknya bahkan. Ia juga diserang balik. Marsudi memiliki ilmu kanuragan yang berlipat ganda. Ketua para preman itu juga tentunya dipengaruhi oleh ilmu gaib sang iblis.


Gatotkaca kerap memukul udara kosong.


Marsudi menghilang bagai udara, muncul di atas Gatotkaca dan menghujamkan tendangannya sehingga tubuh Gatotkaca melesak ke tanah. Ia juga menyemburkan beragam jenis serangga beracun dari mulutnya untuk melihat efek pada diri Gatotkaca. Ketika itu tiada berguna, Marsudi membakar serangga-serangga menjijikkan itu dengan kedua matanya, membuat Gatotkaca menahannya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan wajah.


Marsudi kemudian berubah menjadi gendruwo raksasa. Ilmu sihir ini membingungkan Gatotkaca sehingga mahluk astral itu berhasil menggenggam Gatotkaca dan melemparkannya menubruki pepohonan di kaki bukit, menghancurkan dan menumbangkan paling tidak tiga buah pohon besar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Lihat, sosok itu tak akan menang. Ia sudah menolong kita dan para warga dari rentetan tembakan para polisi korup itu. Tapi perempuan iblis itu adalah tanggung jawab kita," Anggalarang berujar.


"Coba-coba itu namanya, mbak," potong Soemantri Soekrasana.


"Selagi mbak enggan mengambil keputusan itu dan menganggap mbak mampu menyelesaikan sendiri, secara tak sadar pula korban-korban akan terus berjatuhan, terutama bila mbak gagal," lanjut Soemantri Soekrasana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gatotkaca dihajar Marsudi yang berubah menjadi gendruwo; membakar dalam rupa banaspati; menjerat tubuh Gatotkaca dalam bentuk lembaran kain kafan yang bergulung-gulung; atau menjadi beragam binatang yang menyeruduk seperti kambing raksasa dan babi hutan raksasa.


Serangan-serangan itu kadang gagal dan tak terlalu berpengaruh pada Gatotkaca. Namun beberapa serangan tetap membuatnya terjengkal jatuh dari udara, menubruk bangunan atau terhempas ke bumi. Yang jelas, Gatotkaca kebingungan menghadapi lawan yang memiliki ilmu gaib dan sihir tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Wong Ayu telanjang bulat bagai terlahir kembali. Ia berdiri separuh badan di tengah sebuah danau berwarga darah. Mayat kedua orangtuanya mengambang di permukaan air dengan tubuh yang hancur tercincang dan menggembung seperti terlalu lama berada di air.


Sepasang dada penuh dan mengkal Wong Ayu tertutup darah yang lebih kental dari air. Darah itu tak hilang walau riak air menyapu tubuhnya. Darah juga menutupi kedua matanya sehingga dalam pandangannya, dunia berwarna merah.


Sang iblis betina muncul dari dalam danau. Rambut panjangnya menutupi permukaan danau bagai tumbuhan merayap. Ia tepat berada di depan Wong Ayu, tersenyum. Belasan kelabang menerobos keluar dari bibir keriput iblis itu.


Jalaran rambut-rambut itu membelit mayat membengkak kedua orangtua Wong Ayu, menariknya perlahan.


Sosok Sarti muncul dari dalam danau. Tubuhnya terbalut kain berwarna hijau terang berkelim keemasan. Ia mendekat ke arah Wong Ayu yang memasang wajah penuh kengerian. Sarti menutupi tubuh telanjang Wong Ayu dengan kain hijau itu.


"Orangtuaku," ujar Wong Ayu, seperti berbicara sendiri.


Kedua mata bulatnya masih terbelalak lebar.


Sarti tersenyum. Dari dua sudut lain di danau muncul Soemantri Soekrasana dan Anggalarang. Tubuh keduanya juga terbalut kain hijau yang berpendaran sinar keemasan. Mereka berjalan membelah air danau yang menutupi separuh tubuh dan ditutupi rambut menuju ke dua jasad orangtua Wong Ayu. Sesampainya disana, mereka membongkar rambut yang membeliti kedua jasad itu dan menutupi tubuh keduanya dengan kain yang mereka kenakan.


"Kau tak perlu khawatir lagi, anakku. Kedua orangtuamu sudah tenang di seberang sana. Mahluk itu ada memang disebabkan oleh dendam kesumatmu, maka berhentilah memupuk kejahatan di dalam jiwa."


Wong Ayu memandang Sarti. Ia melihat sang Rangda dari desa Girah, Calonarang sang janda sakti dalam rupa Sarti, salah satu dari empat rekan barunya dalam Catur Angkara.


"Ibu Calonarang ...," ujar Wong Ayu.


Wajah Sarti berubah-ubah menjadi seorang gadis muda berumur enambelas tahun yang begitu cantik, berganti Calonarang yang setengah baya dan penuh kasih, dan Sarti yang berwajah tegas. Namun ketiga wajah ini memiliki garis yang serupa.


Sarti, gadis muda, dan Calonarang tersenyum bersamaan dalam satu tubuh.

__ADS_1


__ADS_2