
William Tanata terjungkal mundur dan jatuh terduduk. Sosok sang istri kini bermandi darah. Bahu telanjangnya sampai sepasang tungkai kaki jenjangnya berselimutkan cairan merah itu. Wajah tanpa emosi Jessica Wu tersirami darah yang mengucur deras dari kepalanya yang bocor. Rambut indah lurusnya lepek lengket oleh darah pula.
Sepasang matanya kembali berkata-kata, "PERGILAH SEKARANG! AKU SUDAH MATI! PERGI ... PERGI ...," berulang-ulang.
William Tanata memegang kepalanya, mencoba melarikan diri dari imajinasi mengerikan tersebut.
"PERGILAH SEKARANG! @)7 #7$@- ?@58! PERGI ... 034&8 ....," sepasang mata itu terus berbahasa, membuat otak William Tanata terasa begitu bising dan ramai.
Di depan rumahnya, dua orang pemuda rombongan pimpinan Yudi dari Kampung Pendekar telah mendobrak masuk. Dengan gampang, mereka menjejak pintu berdaun dua yang tebal itu sampai lepas dari engselnya. Parang panjang setengah berkarat mereka diseret di lantai.
William Tanata membuka mata. Sosok sang istri tak terlihat.
"PERGI!!!" lengking teriakan Jessica Wu terengar tepat di samping bersamaan dengan wajah berdarah-darah sosok itu yang menempel di telinganya.
William Tanata berguling ke samping saking kagetnya. Namun ia segera berdiri. Nafasnya memburu, detak jantungnya berpacu tak karuan.
"Aku tak takut dengan kamu, Sayang. Aku suamimu!" seru William Tanata.
William Tanata tahu bahwa sosok yang muncul di hadapannya itu mungkin sekali adalah arwah, hantu, roh tak tenang yang memang sangat menakutkan. Namun, ia terlalu rindu dengan istrinya yang telah wafat itu. Jessica Wu membuatnya gila selama ini karena ketiadaannya. Maka ketika sosok itu mendadak kembali hadir dihadapannya, William Tanata seakan tak ingin melepaskannya lagi, tak peduli seperti apa bentuknya.
Hampir saja bilah parang menebas kepala William Tanata bila tubuhnya tidak ditarik dengan kuat.
William Tanata memaksa sadar dari kebingungannya yang berlipat-lipat. Ia melihat ke arah sosok yang menariknya dengan keras tadi: berbaju merah dan bertopeng putih pucat berjongkok di sampingnya.
__ADS_1
Sosok itu bukan hantu istrinya.
Sarti sudah membuka mata batin dan melihat hantu perempuan Tionghoa berbaju merah semerah guyuran darah di seluruh tubuhnya berdiri mematung di ujung ruangan. Dua pemuda dengan menggenggam parang panjang tersenyum licik ke arahnya setelah salah satu bacokan ke arah William Tanata tadi gagal.
"Kau harusnya mendengar ucapan istrimu untuk pergi," ujar Sarti datar kepada William Tanata di balik topeng panjinya. Tangan kanannya meloloskan sebilah celurit yang berkilauan.
Sarti yang digdaya melecutkan tubuhnya bagai pecutan kilat. Celuritnya langsung memapras putus lengan pemuda Kampung Pendekar yang hampir membacok William Tanata tadi. Tidak selesai sampai disitu, ketika lengan utuh sang pemuda yang masih menggenggam parang panjang itu menggelepar di lantai, Sarti menebas dada sang pemuda dengan kekuatan yang tak terungkapkan. Dada sang pemuda terbongkar menumpahkan darah dan bagian dalam tubuhnya.
Melihat kejadian ini William Tanata tak bisa menahan gejolak kekagetan dari dalam perutnya. Ia muntah.
Ia memuntahkan isi perut untuk kedua kalinya ketika melihat pemuda yang dadanya terbelah itu masih berusaha mencoba bangun dengan memasukkan kembali organ-organ tubuhnya yang berkeluaran sebelum tubuh itu terdiam ketika sosok berbaju silat merah menebas putus kepalanya.
William Tanata tak tahu lagi mana yang lebih mengerikan, hantu istrinya, pemuda yang dibunuh dengan sadis ini, atau sang pembunuh misterius berdarah dingin tersebut.
"Pergi dari sini!" perintah Sarti kepada William Tanata lagi.
Satu pemuda yang tersisa bukannya menyasar sosok misterius ini walau melihat rekannya dibantai, ia malah memandang William Tanata dengan tajam, kemudian melesat siap membacok tubuhnya.
William Tanata bahkan tak sanggup berteriak walau mulutnya terbuka lebar.
Sarti menubruk tubuh pemuda itu dengan begitu keras sampai William Tanata berpikir bahwa yang bertubrukan tadi adalah dua truk besar. Tubuh sang pemuda terlempar menubruk dinding rumahnya, kembali menciptakan suara yang luar biasa keras serta lubang besar di dinding.
Melihat ini, William Tanata merangkak keluar semampunya. Otaknya masih mencoba berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi otaknya pula yang memintanya untuk segera mengikuti perintah sang sosok berbaju merah dan bersenjatakan celurit itu.
__ADS_1
Sampai di pintu depan, pemandangan tak kalah aneh, absurd atau surealis terpampang di hadapan William Tanata. pintu-pintu rumah tetangganya terbuka. Warga sudah berada di luar, tak kalah parah dengan keadaannya. Semua menunjukkan wajah horor dan tak percaya pada sosok-sosok yang melayang terbang di udara.
Dengan kedua mata kepalanya, William Tanata melihat sosok tubuh seorang perempuan mengambang di udara. Ia menciptakan gumpalan api melalui tangannya dan menyemburkannya kepada para pemuda berparang yang mencoba membacoknya dari atap rumah. Mereka memanjat bangunan perumahan di kompleks seperti cicak yang menempel erat di dinding dan berjalan gesit kemudian berlompatan bagai kera-kera berebut makanan untuk menyerang sosok perempuan bak penyihir sakti itu.
Belasan pemuda terbakar, jatuh berdemum ke tanah kompleks beraspal. Beberapa patah tulang, berderak, terdengar menyisip diantara bunyi sembutan api dan terlihat di sela-sela benang-benang kabut.
William Tanata memalingkan wajah ke arah rumahnya. Sosok Jessica Wu terlihat membayang di balik jendela kaca. Darah marah mengucur dari luka berlubang di kepalanya.
William Tanata berusaha berdiri semampunya, tertarik-tatih setengah berlari, menuju ke arah kerumunan warga yang juga terlihat keluar untuk mencari perlindungan.
Di tempat ia menyelamatkan William Tanata tadi, Sarti melihat onggokan tubuh yang hampir tak terbentuk itu perlahan bergerak, saling menyambung dan menjahit sendiri, meluncur lambat bagai siput tanpa cangkang di atas genangan darah.
Ia meludah ke lantai. "Harus kuapakan mahluk-mahluk ini?" ujarnya.
Sarti melihat keluar, kemudian sosoknya mencelat cepat, yang terlihat hanya kelebatan merah.
Sarti melompat membabat beberapa pemuda yang terluka bakar dan terjatuh dari atas ketika gagal menyentuh tubuh Wong Ayu.
Bagi mereka yang terluka cukup parah dan tak dapat bergerak banyak, Sarti dengan mudahnya memapras putus kepala, atau membacok tengkorak kepala sehingga ujung celuritnya melesak masuk menembus otak. Kulit mereka yang terbakar membuat tebasan Sarti menjadi jauh lebih mudah, bagai memotong daging panggang.
Tapi, para pemuda ini selain memiliki ilmu penyembuh yang membuat mereka bisa dikatakan tak dapat mati itu, juga menguasai beladiri silat yang beberapa cukup mumpuni. Maka tak semua pemuda merelakan tubuh mereka dibacok Sarti seenaknya.
Sarti terpaksa harus berkelit mendapatkan dari mereka membacokkan parang dengan gerakan yang berdasarkan pada jurus-jurus silat aliran tertentu. Sarti mempercepat gerakannya sehingga ia dapat membunuh lawan-lawan yang ngotot untuk terus melawan.
__ADS_1
Ajian Saifi Angin Sarti membuatnya berkelebat setara dengan angin. Darah berlompatan dari tubuh-tubuh yang terkena senjata Sarti. Para pemuda tewas seluruhnya ... Paling tidak untuk saat ini.
"Sarti, mereka tetap akan masih hidup," ujar Wong Ayu di dalam kepala Sarti. Perempuan penyihir yang digelari Durga ini kembali berbicara dan berkomunikasi dengan Sarti menggunakan pikirannya.