Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Nirwana


__ADS_3

Soemantri Soekrasana terbatuk-batuk. Perlahan ia tersadar dan membuka mata. Tengkuknya nyeri luar biasa. Selain itu, darah lengket dari tengkuknya yang terluka sudah mengering, tapi kemudian retak sehingga menarik kulitnya ketika ia bergerak.


Soemantri Soekrasana mendesah mengaduh.


Pandangannya kabur, namun pelan-pelan sosok-sosok yang berdiri di depannya mulai membentuk jelas.


Soemantri Soekrasana yakin dua orang tersebut adalah Girinata dan Marni, pasangan suami istri yang kini terlihat jauh lebih muda dan segar. Soemantri Soekrasana tak akan salah mengenali mereka. Di samping keduanya ada dua orang laki-laki yang pernah ia lihat di warung Mak Romlah, tempat ia berehat petang tadi sebelum bertandang ke kediaman Girinata.


"Bagaimana keadaanmu, nak?" suara lembut Marni yang penuh kepalsuan merasuk ke telinga Soemantri Soekrasana. Harus diakui, perempuan yang sebelumnya ia lihat sebagai sosok setengah baya ini ternyata memiliki paras ayu ketika masih muda. Tak heran Wardhani, anak gadisnya yang juga penuh kelicikan itu mewarisi pesona sang ibu.


"Kami sangat bahagia menemukan nak Soemantri. Seakan-akan memang sudah takdirnya nak Soemantri datang ke rumah kami dan membantu kami mencapai mimpi dan cita-cita kami selama ini. Berkat nak Soemantri, sekarang putri tercinta kami, Wardhani, dapat menjadi Ratu Dedemit, penguasa alam kegelapan," lanjut Marni masih dengan suara lembut keibuannya yang sekarang malah tidak cocok dengan penampilannya yang terlalu muda itu.


"Nak Soemantri pasti masih terlalu bingung dengan keadaannya, bukan? Jujur, kami juga masih sanga tpenasaran dan memiliki banyak sekali pertanyaan tentang nak Soemantri yang semuda ini sudah menguasai japa-mantra sehingga mampu menguasai kaum arwah, bahkan juga memiliki kuntilanak merah yang begitu hebat tersebut. Tapi sudahlah, informasi itu tidak terlalu penting lagi buat kami. Intinya toh kami akan tetap berhasil melaksanakan keinginan kami setelah bertahun-tahun. Untuk itu kami berterimakasih sekaligus mohon maaf sebesar-besarnya atas perilaku kami yang tidak pantas ini," kali ini Girinata yang berbicara.


Soemantri Soekrasana menghela nafas panjang.

__ADS_1


Melihat hal ini, Girinata dan Marni saling bertatapan sejenak, kemudian tersenyum lebar. Nampak sekali mereka puas karena berhasil menipu dan mengerjai dukun muda tersebut.


Soemantri Soekrasana, lucunya tak terlihat terlalu kecewa. Ia membiarkan kepuasan yang terlukis di wajah sepasang manusia licik itu mengambang di udara untuk beberapa saat.


Soemantri Soekrasana kembali menghela nafas. Bukan untuk memberesi perasaan kecewany, tetapi cenderung karena rasa sakit di kepala dan lehernya. "Tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan. Kalian pikir aku tak tahu dari semula?" ujar Soemantri Soekrasana datar. Ia menggerak-gerakkan kepalanya pelan, merasakan sakit di belakang kepalanya itu.


Girinata dan Marni saling berpandangan, kemudian meledak tertawa. Mereka tak habis pikir dengan perkataan orang yang sedang dalam keadaan terikat ini.


"Ya, ya, ya ... Silahkan saja tertawa. Aku juga heran, mengapa orang-orang jahat di film-film dan cerita selalu digambarkan dengan selalu tertawa. Apa karena mereka ceria dan bahagia? Atau gila saja, ya?" ujar Soemantri Soekrasana lebih kepada diri sendiri.


"Aduh, nak. Kami pikir pukulan ke tengkuk nak Soemantri terlalu keras sehingga nak Soemantri agak mengigau," ujar Girinata geli sembari menghapus air mata akibat tertawa terlalu keras tadi.


Tentu saja ucapan Soemantri Soekrasana yang bagai orang sedang meracau dan mengigau ini cukup membingungkan Girinata dan Marni. Apalagi melihat keadaan Soemantri Soekrasana yang sama sekali tak menguntungkan dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa dengan gampang membual bahwa ia sudah memikirkannya sedari awal? Sedangkan dukun muda itu sekarang terikat di sebuah kursi dengan kemungkinan kecil sampai nol untuk dapat lepas. Kematian sudah ada di depannya. Harusnya paling tidak kebingungan sampai kengerian yang dirasakan orang yang berada di dalam posisi seperti Soemantri Soekrasana ini. Maka, satu-satunya kemungkinan adalah pukulan di tengkuk Soemantri Soekrasana terlalu keras sehingga pikirannya terganggu.


"Kalian nikmati dulu saat-saat membanggakan ini. Lagipula susah untuk melaksanakan rencanaku bila warga dusun ini rata-rata tak percaya pada hantu, roh dan arwah-arwah gentayangan, termasuk pada ilmu sihir dan gaib. Biarlah mereka diperlihatkan hantu-hantu oleh Wardhani, putri kalian, dibantu oleh perempuan kuntilanak itu agar mereka yakin bahwa mereka sesungguhnya butuh bantuan. Begitulah rencanaku, bila kalian memang ingin tahu." Soemantri Soekrasana menerawang. Sikapnya seakan-akan ia tidak sedang berada dalam sebuah kesulitan berarti.

__ADS_1


"Aku sendiri heran, bagaimana bisa dusun kecil tertinggal semacam ini, yang memiliki empat tempat keramat, tapi mayoritas penduduknya tak percaya dan tak memiliki pengalaman melihat hantu. Benar-benar aneh. Mungkin memang empat tempat keramat itu dipasang kuat sekali oleh para tetua kalian, dengan tambahan karena orang-orang dusun ini sudah haus akan kemajuan sejak puluhan tahun lalu," Soemantri Soekrasana terkekeh seorang diri.


Kini Girinata dan Marni kembali saling pandang, bertukar perasaan terganggu, kesal, penasaran sekaligus bingung, dan bukan lagi geli serta merasa lucu. "Bajingan! Pemuda ini gila rupanya, bu," seru Girinata.


"Tolong sudah hentikan saja dia. Bungkam mulutnya untuk selamanya," ujar Marni. Seruan ini juga adalah sebuah perintah bagi kedua pemuda yang berdiri dengan senjata tajam di tangan mereka.


 Kedua pemuda yang adalah Wandi dan Farid tersebut saling berpandangan. Tak terlalu yakin dengan apa yang diperintahkan kepada mereka.


Marni menghela nafas semakin sebal karena tak mendapatkan reaksi yang ia inginkan dari. "Bunuh dia!" perintahnya.


Melihat tak ada yang bergerak, Marni menunjuk ke Wandi yang menggenggam sebatang golok, "Kau, bunuh dia. Kau yang pertama tidur dengan Wardhani. Ia masih perawan."


Mendengar kalimat perintah yang lugas ini, jantung Wandi sang pemuda bergolok seakan jatuh ke perut saking girangnya.


Wandi ingat sekali lekuk tubuh gadis idamannya dan rekan-rekannya itu. Beberapa kali berbagi intipan di kamar mandi rumah Girinata ketika Wardhani sedang mandi, sungguh memberikan gambaran utuh penampilan sang gadis ketika sedang tak berbusana. Sepasang dadanya yang kecil tetapi padat dengan ujung-ujungnya yang berwarna merah terang tersebut akan begitu nikmat bila berada di dalam mulutnya, disenggol berkali-kali dengan lidahnya, begitu khayalan Farid. Belum lagi ketika ia mampu menembus pangkal paha Wardhani dengan kejantanannya, memacu tubuhnya melesak masuk sembari mengunggis daging mungil menonjol merah darah itu. Mungkin hal tersebut adalah kenikmatan yang setara dengan berjalan di atas tanah nirwana.

__ADS_1


Kini malah Farid yang memegang pisau dapur kini menyesal dan iritidak langsung melaksanakan perintah sang tuan.


Wandi tak menunggu waktu lama lagi sebelum sang tuan berubah pikiran dan malah Farid yang mendapatkan keuntungan ini. Ia mengangkat golok yang memantulkan sinar temaram lampu bohlam kuning gudang itu, berjalan cepat ke arah Soemantri Soekrasana yang masih terikat di kursi rotan, siap melesakkan bilah tajam itu dalam-dalam ke batok kepala sang dukun muda.


__ADS_2