
Suasana sejenak tenang dan hening.
"Kau ini aneh, Mas," ujar Soemantri Soekrasana. "Hantu anak kecil itu, siapa namanya, Priyam? Ya, Priyam. Dia ‘kan hilang, kau tak pernah melihatnya lagi setelah entah berapa lama ia menempel di dekatmu. Sekarang malah kau cari-cari dia. Kemudian saat ini kau melihat hantu dan berlagak kaget."
Suasana menjadi tenang kembali. Kaku dan aneh.
Soemantri Soekrasana memutuskan untuk memberi panggilan 'Mas' kepada Satria Piningit, terutama karena dia tahu bahwa Wong Ayu dan Satria Piningit sebaya, berteman di masa remaja mereka dahulu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Soemantri," suara Wong Ayu melelehkan kekakuan aneh selama beberapa detik tadi.
Soemantri Soekrasana menggaruk lehernya yang jelas tidak gatal. "Panjang ceritanya. Entah bagaimana aku juga baru tahu bahwa aku dan keluargaku terhubung dengan desa itu. Kapan-kapan akan aku ceritakan lebih banyak tentang si kuntilanak yang selalu mengikutiku itu. Mungkin serupa dengan Priyam, Mas. Tapi bedanya hantu ini perempuan. Dengan wajah pucat menyedihkan itu berkali-kali muncul ketika aku sedang mandi. Kau bisa bayangkan, bukan?"
Soemantri Soekrasana terkekeh. Tawanya ternyata menular ke Anggalarang yang memiliki tawa yang cukup heboh. Tentu saja Satria Piningit juga ikut tertawa. Sepertinya Soemantri Soekrasana merasa bersalah telah membuat suasana sejenak tadi menjadi aneh dan tak mengenakkan. Ini semacam pernyataan damai darinya terhadap Satria Piningit.
Setelah sedikit reda, Anggalarang memandang Wong Ayu, "Kau sendiri, apa pekerjaanmu, Wong Ayu? Terus terang, aku belum pernah melihat orang sesakti dirimu. Kau begitu mengerikan ketika menjadi Durga. Tak heran orang-orang gentar mendengar namamu. Tapi, lihatlah kau sekarang," kata Anggalarang sembari mengajak semua orang di sana memperhatikan perempuan di kursi depan itu. "Kau tak terlihat mengerikan sama sekali, malah kebalikannya. Bukan begitu, Satria?" Anggalarang menepuk bahu Satria Piningit yang sedang menyetir. Yang ditepuk menyinggungkan senyum. Anggalarang bahkan dengan gaya tengil melirik ke arah Soemantri Soekrasana.
Patut didengar pula ujaran Anggalarang ini. Wong Ayu sudah berubah menjadi seorang perempuan yang luar biasa cantik dan menarik. Kaos ketat berbelahan dada rendah, serta celana jogger yang modis tak akan membuat orang menyangka bahwa perempuan ini adalah seorang pendekar sakti yang memiliki kekuatan magis yang luar biasa dan telah membunuh banyak orang dengan tangannya.
"Aku seorang jurnalis."
Semua terdiam. Hanya Sarti yang ternyata sibuk mengunyah permen jahe yang sempat dibelinya sebelum berangkat tadi. Kehidupan manusia dan misterinya tidak terlalu membuatnya gampang kaget apalagi terperanjat. Maklum, ia telah hidup ratusan tahun yang memberikannya waktu cukup banyak untuk mengenal sifat dan macam-macam latar belakang mereka. Bahkan hidupnya sendiri bisa dikatakan selalu mengejutkan dan aneh.
"Aku termasuk salah satu wartawan yang mengejar berita tentang Gatotkaca, adiwira yang sempat terlibat dengan kejadian di Prajuritan," ujarnya menatap lurus ke depan. "Ternyata aku benar-benar mendapatkan berita tentang dirinya. Sosok itu sudah dipastikan nyata adanya dan terlihat berada di pihak siapa."
__ADS_1
"Kalian bertemu Gatotkaca?" ujar Satria Piningit.
Tak ada yang mendengarkan, apalagi menjawab. Anggalarang dan Soemantri Soekrasana hendak bertanya lebih jauh, namun bingung menggunakan kata yang mana dan memulai dengan apa.
Anggalarang memandang ke kursi belakang. Ia tersenyum.
"Jangan coba-coba menanyaiku," ancam Sarti dengan ketus.
Anggalarang berbalik badan dan memandang ke depan. Soemantri Soekrasana tertawa pelan, sedangkan Wong Ayu kembali tersenyum.
Satria Piningit menarik nafas panjang. Pengalaman macam apa ini, pikirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ada dua gedung biskop, dua tempat perbelanjaan, dan banyak restoran serta cafe. Semerbak bau kopi dan roti panggang membawa sekumpulan manusia ini ke suasana yang berbeda sama sekali.
Apartemen Anggalarang terletak si tengah kota. Kamarnya bisa dikatakan mewah dan bersih. Anggalarang sendiri ternyata diketahui sebagai lelaki dengan selera seni yang tinggi. Nilai estetika kamar berwarna monokrom, interior minimalis dan kerapian di atas rata-rata membuat semua berdecak kagum.
Soemantri Soekrasana malah merasa dirinya bagai seekor kambing yang masuk ke dalam sebuah hotel.
"Kau ini memang seorang ahli interior atau penderita OCD, Anggalarang?" tanya Soemantri Soekrasana asal.
"Aku tak keberatan kalian membongkar kamarku. Soemantri, kau bisa cari baju yang pas di lemari bajuku. Aku juga tidak terganggu dengan bau badanku, entahlah dengan yang lain. Aku sendiri harus mandi. Kalian terpaksa harus antri," jawab Anggalarang santai. Jawaban ini menegaskan bahwa ia bukan penderita Obsessive Compulsive Disorder yang selalu cemas akan kebersihan dan keteraturan.
__ADS_1
Soemantri Soekrasana menciumi bajunya. Memang luar biasa bau, pikirnya. Ia pun tak segan membuka-buka lemari baju Anggalarang. Ia mengambil sepotong kemeja berlengan panjang berwarna krem. Ia duduk di sebuah kursi di depan sebuah komputer, menunggu gilirannya untuk mandi.
Wong Ayu dan Sarti duduk di sebuah sofa. Keduanya kompak menutup mata. Sedangkan Satria Piningit mati gaya, bingung harus melakukan apa. Ia kemudian memutuskan untuk keluar dari kamar, turun ke bawah, ke mobilnya untuk mengambil pakaian dari tasnya sembari mengulur-ngulur waktu agar tidak berada di kamar apartemen milik Anggalarang terlalu lama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Terimakasih sudah berusaha dengan baik membantuku melawan iblis perempuan itu, padahal kau tahu bahwa aku lah penyebab semuanya," ujar Wong Ayu kepada Soemantri Soekrasana. Keduanya sedang duduk di sebuah cafe di ujung jalan.
Awalnya memang Wong Ayu memerlukan sambungan wifi untuk memberikan laporan reportasinya pada media massa online tempatnya bekerja.
Soemantri Soekrasana terkejut bahwa di dalam tas Wong Ayu, selain sebilah kelewang yang telah digunakan untuk menebas entah berapa kepala manusia, dan jubah kebesarannya, Wong Ayu juga membawa perlengkapan 'normal' lainnya seperti sebuah tablet, pakaian, bahkan keperluan mandi.
Seperti tas perempuan pada umumnya, Soemantri Soekrasana percaya bahwa seseungguhnya para perempuan menggunakan kantong ajaib milik Doraemon. Entah barang-barang apalagi yang dibawa di dalam tas tersebut. Ia tak akan heran bila Wong Ayu mengeluarkan payung, mantel hujan, bahkan tenda darurat dari dalam tas itu.
Buktinya ia sekarang, setelah mandi tadi, telah berubah sama sekali menjadi seorang perempuan cantik. Tidak ada yang dapat menduga bahwa sosok rupawan tersebut adalah seorang pendekar sakti pula. Tidak hanya sakti, tetapi mungkin mengerikan dan kejam bagi beberapa orang.
Wong Ayu menguncir rambut ikal, hitam nan lebatnya. Gerakan sederhananya yang ini dapat membuat seorang Soemantri Soekrasana menahan nafas.
Ia mengenakan sehelai tanktop hitam yang menempel ketat membentuk lekukan tubuhnya. Ia menutupi tanktop itu dengan cardigan berwarna krem, senada dengan kemeja pinjaman Soemantri Soekrasana. Kedua tungkai kakinya dibalut jins biru ketat. Ia mengenakan sepasang sepatu kanvas.
Setelah kelar dengan tugasnya, Soemantri Soekrasana ikut datang ke cafe tersebut. Jadilah keduanya saat ini menghisap rokok lintingan Soemantri Soekrasana sembari menyesap espresso.
"Tidak perlu berterima kasih kepadaku, Mbak. Sudah kukatakan, mungkin ini memang sudah jalannya. Kita dipertemukan bukan tanpa alasan," jawab Soemantri Soekrasana.
__ADS_1