Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Marni


__ADS_3

Tubuh Soemarni Nataprawira yang sedang kseurupan menimpa Soemantri Soekrasana. Kesepuluh jari sang perempuan melingkar erat di leher laki-laki muda itu. Soemantri Soekrasana menggapai-gapai udara yang tak berhasil masuk ke paru-parunya karena jalannya tersendat cekikan arwah mendiang Sapar Nataprawira yang merasuk ke dalam tubuh anak perempuannya sendiri.


Wardhani berteriak tertahan. Namun entah mengapa ia tak panik, tak takut dan tak kemerungsung. Dengan sigap ia memegang lengan sang ibu dan menariknya kuat agar melepaskan cekikannya.


Wardhani berhasil. Soemantri Soekrasana terlepas dari cekikan dan jatuh terduduk.


Girinata, sang bapak, terpelongo. Ia mendengar jelas suara kemarahan ayah dari istrinya yang serupa dengan ketika terakhir kali ia dijejak, diinjak, ditendang dan ditampar dengan menggunakan selop laki-laki yang tewas sebelum sempat menjadi mertuanya itu.


"Bapak ... Segera pegang ibu!" seru Wardhanikepada Girinata yang terdiam kaku dengan sepasang mata menatap tak percaya.


Girinata tersentak, sadar bahwa dirinya terdiam ternganga sehingga lupa bahwa istrinya sedang mengamuk kerasukan. Segeralah ia mendekat ke arah Marni yang menggeliat-geliatkan tubuhnya memberontak bagai seekor cacing tersiram minyak tanah.


Belum sampai menyentuh tubuh istrinya, Marni melotot memandang tajam ke arah suaminya, kemudian menggeram menggeretakkan gigi-giginya serta mengatupkan rahangnya bagai pagar besi.


"Marni, ini aku, suamimu, Bu ...," ujar Girinata mengangkat kedua tangannya dan mengarahkan telapaknya ke depan sebagai bentuk usaha menenangkan sang istri.


"Mas ... Mas Soemantri, bangun segera. Apa yang harus aku lakukan?!" teriak Wardhani.


Yang diteriaki bangun terduduk, memegang lehernya dan menghela nafas panjang dan cepat, merasa lega hidupnya masih bisa berjalan. Soemantri Soekrasana memandang ke arah kejadian kisruh di depannya dan langsung tersadar. "Pegang ia ... maksudku Ibumu kuat-kuat, Wardhani," Soemantri Soekrasana mengobok-obok tas selempangnya untuk mencari sesuatu.


"Cepat Mas. Aku tak bisa menahan ibu lebih lama!" seru sang gadis.


Benar saja, tak lama tubuh Marni melengkung ke belakang, setengah kayang, kemudian terangkat ke udara.


Kali ini Girinata yang kembali tersadar. Ia tak ambil pusing lagi untuk langsung bergegas mendekat. Ia memegang kedua kaki Marni yang sudah menggantung di udara sedangkan Wardhani yang dari tadi menggenggam lengan sang ibu ikut terangkat. "Mas Soemantri ... Cepat ... Cepat bantu aku!" serunya.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana akhirnya menemukan sebuah pisau lipat kecil yang ia cari dari dalam tas selempangnya. Dengan pisau itu ia menorehkan luka di telapak tangan kirinya. Wajahnya meringis ketika darah menyembul keluar dari rekahan kulit dan daging telapaknya.


Dengan telunjuk tangan kanan, Soemantri Soekrasana menyolet darah itu kemudian menulis ke lantai ubin belanda sebuah mantra dalam aksara hanacaraka.


꧋ꦱꦏꦺꦃꦭꦫꦲꦥꦤ꧀ꦱꦩꦾꦧꦭꦶ꧈ꦱꦏꦺꦃꦲꦩꦥꦤ꧀ꦱꦩꦾꦩꦶꦫꦸꦢ꧈ꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃꦥꦤ꧀ꦢꦸꦭꦸꦤꦺ꧈ꦱꦏꦺꦃꦲꦶꦁꦧꦿꦗꦭꦸꦥꦸꦠ꧀ꦏꦢꦶꦏꦥꦸꦏ꧀ꦠꦶꦧꦤꦶꦁꦮꦼꦱꦶ꧈ꦱꦏꦺꦃꦲꦶꦁꦮꦶꦱꦠꦮ꧈ꦱꦠꦺꦴꦒꦭꦏ꧀ꦠꦸꦠꦸꦠ꧀ꦏꦪꦸꦲꦲꦺꦁꦊꦩꦃꦱꦔꦂ꧈ꦱꦺꦴꦁꦔꦶꦁꦭꦤ꧀ꦝꦏ꧀ꦒꦸꦮꦤꦶꦁꦮꦺꦴꦁꦊꦩꦃꦩꦶꦫꦶꦁ꧈ꦩꦾꦁꦥꦏꦶꦥꦺꦴꦤ꧀ꦤꦶꦁꦩꦼꦫꦏ꧀꧈


"Aku perlu bantuanmu, Wardhani. Ikuti apa yang aku ucapkan walau terbata-bata karena kau tak kenal kata-katanya atau terlupa," seru dukun muda itu.


"Sakèh lara apan samya bali ...," ujar Soemantri Soekrasana yang langsung diikuti dengan sempurna oleh Wardhani, "Sakèh lara apan samya bali ...," ujar sang gadis.


" ... sakèh ama pan samya miruda ...," lanjut Soemantri Soekrasana dan sekali lagi diikuti dengan baik tanpa cela oleh gadis itu, " ... sakèh ama pan samya miruda ...."


Nampaknya memang Wardhani memiliki 'bakat' sebagai penjaga gerbang gaib seperti yang diutarakan oleh Soemantri Soekrasana. Maka, sang dukun muda itu mencoba langsung menyelesaikan semua larik-larik mantra, " ... welas-asih panduluné, sakèhing braja luput, kadi kapuk tibaning wesi, ..."


Mulut Wardhani komat-kamit namun suaranya jelas dan padat mengulangi mantra tersebut, " ... welas-asih panduluné, sakèhing braja luput, kadi kapuk tibaning wesi, ..."


Kuntilanak merah muncul mendadak di sudut ruangan. Tubuh astralnya itu melayang cepat ke tengah ruangan, menubruk Marni yang juga sedang melayang di udara. Tubuh Chandranaya menembus masuk ke badan Ibu Wardhani itu dan menghilang.


Tak lama teriakan keras terdengar memekik. Si kuntilanak merah kembali muncul entah dari mana, mengambang.


Marni terkulai lemas. Tubuhnya jatuh ke bawah. Untung Wardhani langsung menjejak lantai dan Girinata sudah memegang kakinya dari awal sehingga tubuh lunglai istrinya yang tak sadarkan diri itu tak menghajar ubin Belanda.


Chandranaya membuka mulutnya lebar. Darah kental keluar mengalir dari rongga mulut dan sisi dalam kedua bola matanya yang juga memerah darah.


Angin keras menerpa daun jendela, pintu, tirai dan tikar. Semuanya berkibaran bagai bendera. Kursi rotan di pojok ruangan terhempas keras menabrak lemari pakaian kuno di sisi lain ruangan.

__ADS_1


Sosok hantu simbah Dasimah terlihat di tempat yang semula terdapat kursi rotan tersebut. Tubuh sang simbah terpatah-patah dan melengkung.


Hantu Kinanti muncul tiba-tiba dalam keadaan merangkak. Rambut ijuk kemerahannya menutupi wajah. Badannya kemudian bagai tercabik-cabik. Setiap sel tubuhnya memudar, robek, memecah untuk kembali lagi serta berulang kembali. Teriakan pedih juga keluar dari mulut mengerikan sang hantu perempuan tersebut.


Terakhir, sosok Sapar Nataprawira berdiri di menempel dinding. Kedua matanya terbeliak ke atas, hampir-hampir terbalik. Perutnya berlobang, bocor. Darah keluar dari perutnya beserta paku dan gotri yang mengalir deras bagai air terjun.


Di luar, segala jenis hantu beterbangan, bertaburan bagai bintang di langit. Mahluk-mahluk merangkak, melata, berenang di lumpur, menggali tanah, menyelip angin, menggeliat dari pepohonan besar, atau melompat-lompat, membuat udara begitu panas.



"Kau hapal mantra tadi, Wardhani?" tanya Somantri Soekrasanadengan berseru di sela-sela sapuan angin dan teriakan keras Chandranaya dan Kinanti yang saling timpa.


Wardhani mengangguk keras.


"Bagus ... mantra itu adalah perintah untuk mengatur mahluk-mahluk halus. Kuntilanak merah itu memiliki kekuatan yang luar biasa dalam menaklukkan segala jenis setan, iblis, hantu, jin dan mahluk gaib lainnya. Terus ucapkan mantra itu, Wardhani. Kau bisa memerintahkan kuntilanak itu untuk menaklukkan semua hantu. Setelah ini kita bisa kembali menutup gerbang gaib, sebelum kekuatan yang lebuh besar lewat dan masuk ke dusun ini," seru Soemantri Soekrasana panjang lebar.



"Maksud ... Maksud Mas, mantra ini membuat aku menguasai semua mahluk gaib? Benarkah itu, Mas?" balas seruan Wardhani.


"Ya .. Ya, kau benar, Wardhani. Terus baca mantra itu. Kalau kau pandai, bisa kau bacakan dalam hati," ujar Soemantri Soekrasana sembari mencoba berdiri.


"Tentu aku bisa melakukannya, Mas Soemantri. Terimakasih sudah membuka rahasia ilmu ini," balas Wardhani. Suaranya memelan dan merendah, hampir tak terdengar oleh Soemantri Soekrasana.


Seketika itu pula mimik wajah gadis cantik itu berubah menjadi begitu licik.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana sadar dengan perubahan ini namun terlambat untuk meresponnya. Pandangannya mendadak mengabur. Ia jatuh berdebum tertelungkup, pingsan, semaput, tak sadarkan diri.


__ADS_2