
"Desa ini dulu dibangun oleh keluarga bapak, puluhan, ah ... mungkin seratusan tahun yang lalu," ujar pak Ngalimun membuka ceritanya. "Keluarga kami memiliki kebiasaan yang unik, atau sebut saja aneh. Nama sang pendiri desa adalah Ngalimun, sama seperti nama bapak sekarang. Ini karena kepala keluarga wajib menamai anak laki-laki tertuanya dengan nama itu, Ngalimun," sang bapak menatap Satria Piningit dengan pandangan teduh.
Sampai di situ, Satria Piningit masih paham dan tidak terganggu dengan yang bapak ini maksud sebagai keunikan keluarganya.
"Dulu, banyak warga mempraktikkan kepercayaan nenek moyang dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mungkin juga karena mereka belum mengenal pendidikan. Ini juga termasuk nenek moyang keluarga bapak," lanjutnya. "Generasi pertama keluarga Ngalimun dikenal sebagai orang pintar, makanya ia dihormati warga desa. Ia dikisahkan mampu berbicara dengan mahluk halus, mengobati orang sakit karena diguna-guna, dan membantu pekerjaan banyak warga yang kesulitan terutama bila bersinggungan dengan dunia gaib."
Cara bercerita Pak Ngalimun membuat Satria Piningit khawatir akan pikirannya sendiri, meski ia masih diam saja mencoba mengikuti kemana arah cerita ini berlanjut.
"Dalam hitungan kekerabatan, Ngalimun generasi pertama, yang pertama kali menggunakan nama Ngalimun, di dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah mbah wareng atau moyang kelima dari keluarga bapak. Mbah wareng bapak inilah yang pertama kali menamai anak laki-lakinya dengan nama yang sama dengannya, yaitu tentu saja Ngalimun. Lagi-lagi dalam hitungan Jawa, mbah Ngalimun bapak generasi kedua ini disebut dengan istilah mbah canggah. Banyak orang saat itu berpendapat bahwa kebiasaan memberikan nama anak laki-laki yang sama dengan mbah wareng bapak ini adalah syarat yang diminta jin atau mahluk halus lainnya agar keluarga Ngalimun tetap bisa tinggal dan memimpin di desa ini. Bahkan dahulu nama desa ini adalah desa Ngalimunan, sebagai penghormatan kepada keluarga Ngalimun."
Satria Piningit menarik nafas panjang dan menghembuskannya ragu-ragu. Jantungnya perlahan mulai memompa darah dengan sedikit lebih cepat.
"Mbah canggah Ngalimun bapak juga kemudian memiliki putra, yaitu mbah buyut bapak, yang tentu saja ia beri nama yang sama, yaitu Ngalimun. Tapi mbah buyut Ngalimun tidak hanya memiliki seorang putra, melainkan dua orang, ditambah seorang lagi anak perempuan. Dalam kepercayaan keluarga bapak turun temurun, adik laki-laki mbah buyut Ngalimun itu tidak wajib diberikan nama yang sama. Lagipula pasti akan membingungkan bila semua anak laki-laki diberikan nama yang sama bukan?" tanya pak Ngalimun sembari tersenyum.
Satria Piningit paham maksud hati pak Ngalimun adalah ingin bercanda untuk membuat suasana tidak terlalu tegang. Tapi jantungnya sudah terlanjur berpacu dengan cepat, khawatir atas sesuatu yang ditakutinya akan terjadi pula.
__ADS_1
"Siapa nama adik laki-laki mbah buyut Ngalimun itu, pak?" tanya Satria Piningit langsung dengan tak sabar.
"Priyambada, nak."
Seperti disambar petir, Satria Piningit terkejut bukan main. Bulu kuduknya meremang dan rasa takut akhirnya berhasil menyergapnya, "Maksud bapak apa?" tanya Satria Piningit dengan suara meninggi.
"Ya, nak Satria. Priyambada adalah mbah buyut bapak, anak kedua dari ketiga anak mbah canggah bapak," dengan sabar sang bapak tetap menurunkan nada suaranya walau mendapatkan reaksi berlebihan dan mengejutkan dari Satrai Piningit.
"Mbah buyut bapak yang bernama Ngalimun juga memiliki anak, yaitu mbah kakung atau kakek bapak sendiri yang diberi nama yang sama. Mbah Ngalimun memiliki anak laki-laki lagi, yaitu ayah dari bapak yang nantinya juga menamai dengan nama Ngalimun, yaitu bapak sendiri."
Ngalimun, Ngalimun, Ngalimun, Ngalimun ... nama itu berulang-ulang memukul dan memantul di dalam rongga kepala Satria Piningit.
"Priyam yang selalu bertemu denganku itu adalah Priyambada, buyut bapak yang sudah meninggal puluhan .. entah berapa tahun yang lalu itu?" ujar Satria Piningit masih belum bisa percaya, walau baru saja tadi ia melihat hantu nenek-nenek dengan jelas. Jiwanya masih menyangsikan kebenaran berita mengenai Priyam itu.
"Umur berapa Priyam meninggal, pak?" pertanyaan itu cenderung berbentuk tes. Satria Piningit berharap Pak Ngalimin berbohong. Bagaimanapun, Priyam yang ia temui dan kenal adalah sebayanya.
__ADS_1
"Kurang lebih ia seumuranmu, nak Satria. Kalau sekarang, mungkin sebanding dengan anak SMP, itu yang bapak dan simbah kakung bapak katakan ketika menceritakan tentang kehidupan keluarga kami turun-temurun" jawab pak Ngalimun.
Kedua mata Satria Piningit terasa panas. Memang benar apa yang dikatakan pak Ngalimun bahwa Priyam memang seusia dengannya, "Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Priyambada sewaktu ia seumurku, pak?" lanjut Satria Piningit mencoba mulai sadar dengan kenyataan ini.
Pak Ngalimun menatap matanya lekat-lekat, "Mbah buyut Priyambada tewas terbakar ketika orang-orang desa marah dengan keluarga mbah canggah Ngalimun bapak," jelas Pak Naglimun.
Kedua mata Satria Piningit kini terasa kabur. Ada genangan air mata di sana.
"Mbah canggah waktu itu sudah merasa bahwa jalan hidup orang-orang desa sudah mulai salah. Bapaknya, yaitu mbah wareng, saat itu menggunakan kekuatan gaib untuk melakukan hal-hal baik demi kemaslahatan warga desa. Begitu pula mbah canggah yang berusaha berdamai dengan mahluk-mahluk tak kasat mata. Tapi warga marah karena mbah canggah kerap mengganggu praktik jahat mereka seperti ilmu nujum demi melampiaskan kebencian terhadap tetangga atau desa tetangga dengan menyantet dan meneluh. Warga juga sudah mulai mencuri dari sesama dengan menggunakan tuyul atau melakukan pesugihan dengan tumbal nyawa. Mbah Canggah lalu difitnah, dituduh sebagai orang yang melakukan praktik-praktik syirik tersebut karena memang almarhum bapaknya, yaitu mbah wareng terkenal sebagai orang pintar," Pak Ngalimun Menghela nafas panjang.
"Pada puncaknya, warga berbondong-bondong datang malam-malam membawa obor dengan amarah. Mbah canggah, istrinya dan anak tertua mereka, yaitu mbah buyut, sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang mengadakan ritual penghormatan kepada penghuni sungai Pratama karena mengalirkan airnya tanpa henti ke sawah dan ladang petani melalui kali-kali kecil. Mbah buyut Priyambada yang masih remaja sedang tidur terlelap. Warga sudah tersulut emosi karena tidak ada orang di rumah tersebut. Mereka membakar salah satu bagian rumah sebagai ancaman tapi tidak tahu bahwa ada si remaja Priyambada di sana. Mereka baru sadar ketika mbah canggah dan keluarganya pulang mendapati anak mereka sudah tewas terpanggang di dalam rumah. Sejak saat itu orang-orang menyebut desa ini sebagai desa Obong yang berarti 'bakar'."
Satria Piningit tak bisa menahan diri lagi. Ia berdiri, "Bapak jangan bercanda. Bapak pasti punya anak yang bernama Priyam 'kan?" katanya dengan suara meninggi.
__ADS_1
Pak Naglimun menggelengkan kepala pelan. "Bapak adalah Ngalimun yang belum diberikan kepercayaan seorang momongan oleh Tuhan, nak. Keluarga Ngalimun berakhir di bapak. Sejak kejadian tragis itu, simbah Ngalimun dan keturunannya memutuskan untuk pelan-pelan meninggalkan kehidupan yang dekat dengan alam gaib dan lebih mendekatkan diri dengan pendidikan dan hidup yang baik saja."
Satria Piningit berlari keluar rumah tanpa pamitan. Ia terlalu syok. Ia terus berlari melewati pekarangan dan membuka pagar ketika ia melihat dari sudut matanya, sang sosok nenek yang tadi ia lihat, saat itu berdiri mematung di bawah pohon nangka meantap ke arahnya. Satria Piningit menyusuri tegalan sawah, menabraki tanaman padi dan terperosok di lumpur. Nafasnya terengah-engah seperti ingin putus saja.