
Wardhani tak memerlukan busananya lagi. Tubuhnya telah dibalut energi murni jagad lelembut. Beragam jenis hantu dan mahluk gaib menempeli setiap ruas jari tubuhnya, berkelap-kelip, tembus pandang, meliuk-liuk, bergegap gempita serta berpendar bersinar. Wardhani telah bebas, tubuh fisiknya telah lepas sejak melayang dalam dunia gaib, entah berapa lama. Mungkin tak cukup lama, tapi Wardhani kehilangan konsep ruang dan waktu di tempat ini.
Soemantri Soekrasana, baunya telah tercium dari jauh. Kehadirannya terasa di permukaan kulit gelap Wardhani. Ia rindu laki-laki dukun itu. Seperti apa rupanya sekarang? Pikir Wardhani. Kuntilanak keparat itu juga jelas masih mengikuti sang pembaca mantra itu. Wardhani mendidih mengingat bahwa iblis betina itu yang membuat ia tersedot ke dalam kehampaan, dunia yang penuh kengerian bahkan bagi seorang yang jahat seperti dirinya.
"Kau mungkin masih bersama hantu sundal merah itu, Mas Soemantri. Tapi aku bukan Wardhani yang dulu. Andai kau melihat para hantu menggelendot dan menggelayut di tubuhku ini, Mas. Mereka adalah tentaraku. Aku siap bertarung dan mencoba menaklukkanmu lagi, Mas Soemantri," gumam Wardhani.
Ah, ada Anggalarang pula. Laki-laki dengan harimau di dalam tubuhnya itu juga hadir di tempat ini bersama energi-energi hebat dan ganas lainnya. Tanah yang luar biasa panas, membuat Wardhani menarik nafas penuh ekstasi kebebasan dan kuasa.
Berada di dalam dunia kegelapan ini, geliat seorang Kusuma Dewi lah yang mengembalikan semangat dan tujuannya lagi.
Siapakah Kusuma Dewi? Ia adalah seorang gadis yang membenci setiap sisi dirinya,bahkan sampai ke ampas dan dangkal kehidupannya. Mengapa ada Dewi dalam namanya, Kusuma Dewi? Nama yang dimiliki ribuan perempuan di negeri ini.
Kulitnya memang putih, tetapi pucat, membuatnya bukannya indah, malah terlihat tak segar, tak sehat dan seperti berbau orang mati saja. Ia benci rambutnya yang berwarna kemerahan, dan itu asli dan alami dari orok. Orang jadi seenaknya menuduh bahwa ia mewarnai rambutnya tersebut. Kusuma Dewi sebal dan insecure melihat pinggangnya yang menyempit kecil namun bokongnya membulat penuh. Seperti perempuan nakal, *****, sundal, pelacur yang dengan pakaian apapun, bagian belakang tubuhnya itu selalu menonjol genit, ganjen, gatal menggoda meski niatan tak pernah terpercik sekalipun dalam pikirannya untuk melakukannya. Belum lagi kalau melihat sepasang dadanya bila sedang tak dibungkus penutup: besar, tetapi panjang, lancipdan menggantung jatuh, bukannya bulat, kencang dan penuh.
Lalu, wajahnya? Terutama wajahnya!
Bintik-bintik hitam yang bagi beberapa orang dianggap indah itu malah menderanya setiap saat. Kepucatan kulitnya membuat titik-titik hitam itu menyala dan wajahnya kerap kemerahan bagai ruam atau ditampar ketika matahari dengan tega memelototinya.
Dari segala jenis kebencian pada dirinya, yang paling unggul adalah kebodohannya menyukai rekan kerjanya, Anggalarang. Kusuma Dewi bahkan memuja laki-laki itu. Ia tak benar-benar paham bagaimana mendefinisikan perasaannya. Apakah cinta, atau nafsu syahwat dan berahi yang sebenarnya meraja? Kegusaran ini membuatnya terbenam semakin dalam ke lubang kebencian diri yang tak berujung.
__ADS_1
Anggalarang, laki-laki itu brengsek bukan main. Buaya kelas induknya. Semua orang tahu, dan anehnya semua perempuan masih saja mengidolakannya.
Sialnya, itu termasuk Kusuma Dewi sendiri.
Gaya berpakaian Anggalarang yang rapi, modis, namun terlihat nyaman, bukan satu-satunya modal yang membuatnya berhasil meniduri hampir semua rekan kerja perempuan di divisinya, bahkan termasuk penyelia baru yang masih lajangdi usianya yang ketigapuluh empat tahun itu.
Kusuma Dewi sebaliknya, tidak termasuk salah satu dari perempuan-perempuan beruntung yang ditiduri Anggalarang tersebut. Bokong bulat dan menonjol Kusuma Dewi yang baginya bak sundal itu tak membuat Anggalarang acuh seujung kuku pun.
Cara tersenyum dan tertawa sang pria terlihat tulus tanpa beban. Garis-garis di kedua ujung matanya yang tak terlalu lebar itu tertarik sedemikian rupa ketika Anggalarang tergelak, menciptakan atmosfir kenyamanan dan kebebasan bagi perempuan manapun yang sedang berbicara padanya.
Tubuh laki-laki itu yang ramping memiliki dua unsur maskulinitas dan feminitas sekaligus, membuatnya terkesan jantan dan di saat yang sama, anggun.
Itulah yang paling ia benci. Mengapa harus laki-laki jahanam itu? Pun mengapa ia tak malu menginginkan badan dan jiwanya diperbudak oleh pesona aneh nan misterius seorang Anggalarang?
Kusuma Dewi tak sampai berpikiran terlalu jauh untuk menjadi perempuan istimewa Anggalarang, entah itu pacar entah itu istri. Ia hanya ingin menjadi para perempuan lain di dekat pria itu, ditidurinya.
Kebencian diri, kuasa nafsu, kegamangan bahkan juga mungkin kebodohan membuat Kusuma Dewi sampai ke tempat ini.
Dusun Pon.
__ADS_1
Entah angin apa yang menerpa kepalanya yang semata-mata berisi bayangan tubuh bugil Anggalarang berenang-renang di atas badannya yang terlentang pasrah itu. Yang jelas, sewaktu sepupu perempuannya, Ratih, mengundangnya datang ke dusun antah-berantah itu, Kusuma Dewi menyanggupinya.
"Dusun ini terpencil, Dek. Tapi internet baru saja masuk, jadi sekarang tidak bisa dikatakan tertinggal juga," ujar sang sepupu melalui telepon sembari tertawa kecil beberapa waktu yang lalu.
"Selama Mbak Ratih sekolah di kota, aku sama sekali belum pernah ke Dusun Pon, tempat Mbak tinggal. Jadi aku sama sekali tidak ada bayangan bagaimana tempat itu. Aku malu sebenarnya, Mbak. Apalagi bapak ‘kan warga asli Dusun Pon sebelum menikah dengan ibu dulu," balas Kusuma Dewi.
"Nah, memang, dulu selain terpencil, dusun ini benar-benar jauh dari peradaban. Tapi setahun terakhir, dusun ini sudah semakin dikenal dan malah hampir tiap hari kedatangan tamu dari daerah lain, termasuk juga orang kota. Mas Johan, suami Mbak, yang terlihat senang banget. Ia bisa ketemu orang kota dan terpelajar, jadinya ada yang nyambung juga kalau bicara dengannya. Maklum, suami Mbak 'kan guru yang dulu pendidikannya di kota," balas Ratih.
"Oiya? Memangnya, kenapa banyak orang yang datang ke Dusun Pon akhir-akhir ini, Mbak?"tanya Kusuma Dewi dengan selidik.
Ratih tertawa. Lebih lepas kali ini. "Alasannya, dusun ini masih terlihat asri dan asli. Mereka datang buat berwisata. Eksotis dan otentik, kata mereka. Lagipula, internet sudah lancar. Mereka tak takut terputus dengan dunia luar. Lucunya lagi, beberapa datang karena alasan supranatural. Dusun ini punya banyak cerita magis, Dek. Bahkan ada beberapa tempat yang dulu keramat sekarang dijadikan ajang buat pemuda-pemudi untuk mendapatkan jodoh."
"Mendapatkan jodoh, bagaimana maksudnya, Mbak?" rasa penasaran menggelitik sanubari Kusuma Dewi.
"Kalau perempuan, mereka suka datang ke daerah keramat tunggul kayu di tepi sungai, meminta supaya bisa menjadi cantik, seksi dan menarik di mata kaum Adam."
"Memangnya berhasil, Mbak?"
"Ya namanya usaha, bisa saja. Bisa juga tidak. Tapi, jujur, dulu memang orang-orang dusun sempat mengalami banyak kejadian supranatural disini, termasuk Mbak. Ah, datang saja kesini, dicoba sendiri, mana tahu manjur. sekalian liburan dan temu kangen sama saudaramu ini," jelas Ratih riang dan penuh canda.
__ADS_1
Ratih tak sadar bahwa ceritanya itu menempel hati dan pikiran Kusuma Dewi. Kedunguan akibat benci dirinya itu membuat ia mengambil keputusan untuk mendatangi tempat keramat di Dusun Pon, sebuah tunggul kayu di tepi sungai. Ia akan meminta kepada siapa atau apapun itu untuk mengubahnya menjadi seorang perempuan yang menarik. Begitu menariknya sehingga mampu membuat Anggalarang menggelepar-gelepar di depan tubuh molek nan indahnya kelak.