Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Limapuluh Dua


__ADS_3

Calonarang adalah seorang perempuan janda dari desa Girah yang hidup di pulau Jawa pada abad keduabelas. Ia hidup di masa kerajaan Kahuripan dibawah pimpinan raja Airlangga. Sang janda dituduh menguasai ilmu leak dan sihir serta dianggap sebagai sosok yang membunuhi banyak warga desa dengan mengerahkan pagebluk, termasuk bencana dan penyakit mematikan dengan menggunakan ilmu sihirnya.


Asal muasal penyebab malapetaka angkara murka ini adalah karena banyak warga yang memusuhi anak perempuannya yang bernama Ratna Manggali. Banyak pria enggan bergaul apalagi menikahi anak perempuan sang janda sakti itu. Ini tak adil bagi Ratna Manggali, pikir Calonarang. Sang putri adalah anak perempuan yang begitu cantik, tetapi semua orang mendengar desas-desus tentang perilaku sang ibu yang mengerikan. Sebaga hasilnya, Calonarang akhirnya benar-benar memberi pelajaran semua warga dengan meneluh dan membunuhi mereka dengan cara yang paling mengerikan.


Namun, tidak seperti kebanyakan orang yang melihat Calonarang selama ratusan tahun sebagai seorang ratu penyihir, peneluh sejati dengan murid-murid perempuannya yang tak kalah buruk rupa dan buruk hati, Wong Ayu melihat Calonarang dalam bentuknya yang sangat agung dan penuh kasih.


"Karena memang begitulah adanya ibunda, anakku," ujar Sarti seakan membaca pikiran Wong Ayu.


Ada kesadaran yang menyerbu jiwa dan rasa Wong Ayu dengan ucapan Sarti ini, semacam sebuah pintu yang terbuka lebar sehingga ia dapat melihat segala sesuatunya dengan jelas. Ia melihat puluhan kehidupan masa lampau Sarti, termasuk cara tewas dan bangkitnya.


Wong Ayu berkata terbata-bata, "Sar ... Sarti ... Apakah kau Ratna Manggali? Putri satu-satunya Ibu Calonarang?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gatotkaca jatuh terlentang ke bumi. Ada jalinan akar yang muncul dari dalam tanah mengikat lengan, kaki, perut dan lehernya dengan kencang.


Tunggu, itu bukan akar, tetapi jalinan rambut!


Iblis perempuan keluar dari dalam tubuh Marsudi.


Rambut panjangnya menembus bumi dan menjerat Gatotkaca. Marsudi mengangkat kedua tangannya ke udara. Sontak dua APV yang tergeletak ikut terangkat ke udara oleh kekuatan sihir Marsudi yang tertawa terbahak-bahak.


Kedua APV itu dijatuhkan di atas tubuh Gatotkaca yang terbelenggu.


Ledakaan keras disertai percikan api yang berpendar ke segala arah membuat para warga kaget luar biasa.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tulang-tulang patah berderak menyambung kembali. Daging yang tersobek menutup rapat lagi. Teriakan saling bersahutan dari para anggota polisi yang bergelimpangan dihajar Gatotkaca sebelumnya. Semuanya bergulingan bereaksi terhadap rasa sakit yang tak terperi. Namun ini terjadi hanya sejenak ketika mereka perlahan sadar bahwa tubuh mereka kembali prima, badan mereka terisi tenaga yang sulit digambarkan.


Belasan anggota polisi yang semula telah dilumpuhkan sosok adiwira misterius yang disebut Gatotkaca itu kini perlahan berdiri, saling pandang dan melihat sekeliling. Pandangan mereka berhenti di senjata api yang tergeletak di berbagai tempat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Air hujan serasa berhenti ketika Sarti melaju bagai kilat menusuk perut dan memapras putus kepala satu anggota kepolisian yang menembakinya dan ketiga anggota Catur Angkara lainnya.


Tidak sukar baginya untuk menghindari rentetan serangan senjata api yang menyalak bagai anjing-anjing hutan. Namun, masalahnya hanya karena para warga masih berada dalam marabahaya bila tembakan-tembakan itu nyasar.


Sarti sudah hidup selama ratusan tahun. Ia telah menyaksikan sang ibu membunuh orang dari satu desa ke desa lainnya dalam wilayah kerajaan Kahuripan. Mayat-mayat membusuk, bau borok dan beragam jenis penyakit kulit menyengat hidung. Bising teriakan perih dan kesakitan orang terdengar.


Ini semua dikarenakan oleh dirinya.


Anggalarang sendiri sudah kembali muntah ketika sosok Maung kembali muncul dari dalam dirinya. Kuku dan taring panjang serta tajam merobek keluar jemari dan mulutnya. Maung mengambil alih tubuh Anggalarang dan melompat menghadang rentetan tembakan para anggota kepolisian.


***


Soemantri Soekrasana bersila, mengambil potongan kemenyan terakhir dari dalam tas selempang dan mengunyahnya. Mantra-mantra keluar dari mulutnya. Kedua matanya tertutup erat dan kening berkerut-kerut. Ia benar-benar berkonsentrasi pada usaha terakhirnya, memenjarakan sang iblis betina kembali ke dalam dunianya semula.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wong Ayu berdiri berhadap-hadapan dengan sang iblis betina yang sepasang dada telanjangnya menggantung, rambut panjangnya menggapai tanah, sedangkan kesepuluh jarinya dihiasi kuku-kuku panjang nan hitam, penuh racun dan kutukan.

__ADS_1


Di sekeliling mereka, api berkobar menjadi-jadi semacam sedang memakan energi yang muncul dari dua sosok sakti dan gaib ini, menciptakan neraka kecil.


Sang iblis betina tertawa lebar. Kelabang, cacing, dan kecoa berjatuhan dari mulutnya.


"Wong Ayu, anakku. Sudah terlambat untuk mencoba menebus dosa-dosamu dengan menahanku. Berapa banyak jiwa yang telah kaurenggut dengan alasan kebenaran, padahal semua hanya pembenaran atas nafsu membunuhmu dan dendam kesumat. Benci yang kau rasakan ingin kau bagaikan pada para dukun bejat dan para penjahat yang hanya menyecap sedikit saja kenikmatan hawa nafsu. Kau sudah lebih dahulu bergelimang kegelapan. Jadi, untuk apa semua ini? Mengapa kita tidak bersama-sama saja berkelana di dunia ini, berenang di dalamnya, mereguk kehidupan sebagai orang yang paling berkuasa di muka bumi?" desis sang iblis.


Wong Ayu tersenyum. "Kau terlalu jemawa menantangku. Mengapa kau sendiri tidak pulang? Ini adalah duniaku. Kau tidak punya kekuatan di sini. Harusnya kau lawan dan habisi aku di duniamu tadi, bukannya nekad kembali ke dunia ini untuk melawanku," jawab Wong Ayu.


Si mahluk gaib mengerutkan keningnya namun kemudian terkekeh, sedikit kaget akan rasa percaya diri yang tumbuh sejenak setelah Wong Ayu berhasil kembali ke dunia nyata.


Si perempuan iblis memang tadi sengaja membawa kesadaran Wong Ayu masuk ke dalam dunia gaib dimana ia tinggal dan berkuasa. Disana ia mempermainkan jiwa Wong Ayu dengan menunjukkan jasad kedua orangtuanya yang dalam keadaan mengenaskan.


Namun, syukurnya, Soemantri Soekrasana membuka gerbang antar dunia dan membawa masuk dua orang lainnya, termasuk Ratna Manggali, putri semata wayang Calonarang, salah satu perempuan dengan ilmu sihir terkuat yang tercatat di sejarah nusantara.


Perempuan iblis ini sesungguhnya adalah pengejawantahan salah satu unsur dari ilmu yang dikuasai Calonarang saat itu, dimana selama ratusan bahkan ribuan tahun, manusia selalu menyalahartikan sang iblis betina sebagai sang Dewi Durga.


Kekehan sang perempuan berhenti. Ia menatap Wong Ayu tajam dengan kedua matanya yang berapi. Mulutnya membuka lebar, menyobek pipi dan rahangnya. Satu ekor babi hutan bertaring, kambing bertanduk tajam dan anjing hutan liar berbulu hitam legam keluar melalui robekan mulut itu dan menyerang Wong Ayu.


Wong Ayu sendiri langsung menyemburkan ribuan tawon dari dalam mulutnya menyambut serangan kambing, babi dan anjing hutan gaib yang keluar dari dalam tubuh si perempuan iblis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maung tertembak di beberapa bagian si tubuhnya. Bulu putihnya menjadi merah hampir seluruhnya. Ia mengganas.


Taring dan kuku-kukunya menyobek daging para polisi kotor anak buah Marsudi, membuat darah terciprat kemana-mana.

__ADS_1


Marsudi menghentak tanah, bersemangat merasakan tubuhnya melambung ke udara dan mendaratkan kedua kakinya ke punggung Maung.


Maung menggelosor bergulingan di lapangan parkir beraspal menubruk beberapa buah motor. Marsudi melompat lagi dan menghujamkan tubuhnya tepat di atas tubuh Maung si siluman harimau putih.


__ADS_2