
Kuda-kuda gaib tersebut dipacu bergemuruh dan berhenti menyandar di dataran berpasir pantai. Kaki-kai mereka di udara mengambang tak menyentuh bumi.
Bumi adalah duniawi dan ia adalah adikodrati.
Ombak yang bergemuruh sepertinya tak sebanding dengan lautan pasukan yang jauh-jauh datang menembus portal dimensi dari Keraton Laut Selatan. Kedatangan mereka menciptakan warna hijau bagai karpet raksasa yang menutupi laut dan pantai.
Nyi Blorong tersenyum.
Nyi Roro Kidul mendengus. Ia sebenarnya masih tak begitu rela menggunakan pasukan perempuannya dalam misi penundukan wilayah gaib pulau ini.
Nyi Roro Kidul sebelumnya pernah ikut serta menundukkan pulau ini bahkan sampai dua kali. Pertama kalinya, bersama membonceng Kerajaan Majaphit meluluhlantakkan Kerajaan Nan Sarunai milik orang-orang suku asli pada tahun seribu tiga ratus enam puluh dua. Kedua kalinya, dua abad kemudian, pada tahun seribu enam ratus dua puluh dua, ia bersama pasukannya mengganggu-gadang Tumenggung Bahureksa dari Mataram menyebrang menundukkan Sukadana.
Manusia bertempur dengan manusia, mahluk halus berperang dengan mahluk halus.
Namun, kali ini, Kanjeng Nyai Kidul tidak memberikan perintahnya secara langsung. Meski pun sang ratu pemilik kekuasaan sepanjang laut Selatan itu memperhatikan kekuatan dari dunia gaib yang menguat di tanah Kalimantan yang dahulu disebut dengan beragam nama seperti Hujung Tanah, Tanjung Negara, Bakalapura dan Brunai atau Borneo.
Nyi Blorong yang sudah gemas dan ingin langsung menyobek tirai batas kekuasaan yang secara terang-terangan dipasang dan ditantang oleh sosok dengan kekuatan baru bernama Amin Kelaru tersebut.
Nyi Roro Kidul memandang ke segala penjuru, menakar kemampuan perang musuh. Ia berpaling memerintahkan kusir kereta kuda kencananya yang merupakan budak dari kalangan manusia untuk memacu kuda-kudanya kembali ke samudra.
__ADS_1
Puluhan pasukan gaib perempuan khusus ditariknya kembali, berbaris dan berlari menembus samudra bagai melewati kepulan asap belaka, mengikuti kepergian sang pemimpin.
Sebelum benar-benar menghilang, sang ratu berkata menembus ruang dan waktu langsung ke dalam jiwa Nyi Blorong, "Blorong, kekuatan mereka terlalu lemah. Aku tak mau ikutan ambil andil dalam hal ini. Laut dan pulau itu sebagian besar masih kita kuasai. Mereka tak seberbahaya yang kau ungkit-ungkit di depan Kanjeng Ratu. Setelah selesai, jangan bahas apapun di dalam keraton. Aku tak mau dipermalukan atas kejadian sepele ini," ujar Kandita sang Nyi Roro Kidul.
Setelah Nyi Roro Kidul menghilang dalam deburan ombak, segala pemikirannya ternyata salah besar.
Amin Kelaru bukan sosok sepele dan remeh. Kekuatan dan kekuasaannya memang membuat Nyi Blorong bernafsu sekali ingin menjajalnya. Kekuatan Laut Selatan atas pulau ini benar memang masih kuat, tetapi sama sekali bukan berarti tidak ada perlawanan dan kekuatan lain yang hadir di tempat itu.
Sosok Amin Kelaru telah melakukan persiapan lama untuk menghadapi keangkuhan para mahluk gaib dari laut Jawa tersebut. Amin Kelaru telah membawa empat pukul dua jin Arabia dengan segala kekuatan dan kebengisannya yang telah melekat bagai karat, ribuan tahun lamanya.
Nyi Blorong tidak peduli lagi dengan keputusan Nyi Roro Kidul untuk meninggalkan medan pertempuran dengan membawa serta kembali sebagian pasukannya. Nyi Blorong memutuskan untuk langsung menyerang saja.
Serangan prajurit perempuan yang terbang, mengambang dan menerjang tiba-tiba dikagetkan ledakan dahsyat dari segala penjuru. Empat puluh dua mahluk menyeramkan nan sakti muncul menyembul dari udara. Jin beragam bentuk bertubuh api, asap dan kilat meluncur menggempur.
Secara bersamaan, anjing-anjing bahutai meraung berkelebat secepat sinar, membobol pertahanan prajurit perempuan yang kemudian dibantai para pasukan gaib Amin Kelaru. Para jin Arabia membentuk raksasa setinggi awan menjejak binatang-binatang melata Laut Selatan yang berkecipak dalam samudra.
Nyi Blorong mengamuk melihat keadaan ini. Ekornya membubarkan pasukan lawan, ia berdiri menyundul langit, lebih tinggi dari para jin. Lawannya, Amin Kelaru, terbang, meminjam sinar bulan dan petir yang tersembunyi sebagai mandaunya.
Kedua pimpinan mahluk halus tersebut berperang dalam dimensi setipis kertas.
__ADS_1
Mata manusia biasa belasan nelayan di sudut lain pulau menangkap deburan ombak yang terlalu tinggi. Angin mematahkan pepohonan dan menghempas perahu-perahu mereka, sedangkan bulan purnama tertutup awan gelap yang melecutkan petir dan kilat, tetapi tak mereka sadari ada kekuatan gaib yang sedang berperang di balik fenomena alam tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ternyata ini semua ulah Nyi Blorong. Ia kembali ingin menguasai pulau ini dengan cara yang berbeda! Ia gagal mengalahkan Amin Kelaru karena tidak maksimal dalam penyerangan tanpa dukungan Nyi Roro Kidul dan bahkan tanpa sepengetahuan Kanjeng Ratu Kidul," gumam Anggalarang.
Ia sadar akar dari permasalahan yang terjadi. Kekuatan yang berkuasa di tempat ini bukanlah milik sang Durga seperti yang terjadi pada desa-desa di bawah bukit seperti masalah yang mereka hadapi sebelumnya. Meskipun Anggalarang juga yakin bahwa kekuatan gaib lain juga turut berpartisipasi untuk mendapatkan keuntungan di dalam kekisruhan tempat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Chandranaya membuka mulutnya selebar mungkin. Rahangnya jatuh, rongga di wajahnya membulat sebesar sebuah gua. Kedua matanya meneteskan darah begitu deras.
Pocong, kuntilanak, sundel bolong dan hantu-hantu tanpa bagian tubuh yang lengkap beterbangan bagai kapas tertiup angin, bubar ke segala penjuru.
Portal gaib terbuka. Segala keindahan di dalam lorong pintu gerbang itu meghilang, membusuk. Api berkobar-kobar melahap para hantu yang tersedot ke dalamnya. Ketika mereka berpegangan pada jalur masuk, Jin Obong memapras mereka sampai lepas. Hantu dan mahluk halus yang lebih kuat dapat mengalahkan hantu lain.
Dengan lemahnya para hantu, maka imajinasi dan halusinasi tingkat tinggi yang diciptakan mahluk adikodrati di sisi lain tersebut membuat perjalanan kekuatan dari dunia lain tersendat.
Maung meraung mengunyah kepala seorang pemuda sampai hancur berkeping-keping. Setelah itu, Yakobus Yakob memecah tubuhnya menjadi partikel mikro, masuk ke dalam tubuh tiga pemuda yang baru saja kembali utuh. Dari dalam sana, bagian-bagian tubuh Yakobus Yakob yang lebih kecil dari debu dan berjumlah milyar sampai trilyunan itu keluar menembus tulang, daging, urat dan kulit para pemuda pendekar. Tubuh mereka hancur dan jatuh menumpuk di atas genangan darah mereka sendiri.
__ADS_1
Maung dan Yakobus Yakob yang telah memadat saling pandang. Tubuh empat pemuda yang tak berbentuk lagi tersebut tak kembali utuh seperti puluhan kali sebelumnya.
Untuk memastikannya, Yakobus Yakob menciptakan api dari kepalan tangannya dan melemparkannya ke onggokan daging tersebut. Api membara yang menjilat langit pagi, mengusir kabut, membakar lahap setiap tulang dan menguapkan darah.