Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Enampuluh Tiga


__ADS_3

Ketika tubuh-tubuh mereka yang telah kembali utuh sempurna ini menyentuh tanah, mendadak ledakan energi pecah, membentuk terpaan angin yang menghentak para warga.


Sepuluh pendekar yang di masa lalu digentari orang dan jawara lain karena berilmu tinggi dan kejam tersebut, kini semakin kuat dan bertambah hebat karena disusupi kekuatan iblis itu sendiri. Para hantu bernaung di dalam tubuh baru mereka bagai seragam pinjaman setan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Salah satu warga kota ini bersumpah bahwa ia melihat kilatan cahaya seperti letupan senjata di seberang sungai sana, yaitu di daerah Kampung Pendekar, yang jembatan tolnya putus oleh karena sebuah - atau mungkin beberapa - ledakan besar. Tapi tak ada yang benar-benar memperhatikan seberang karena sibuk dimakan ketidaktentuan berita dan informasi. Ketakutan pun ikut menggerogoti jiwa para warga karena segala sesuatu yang tak pasti, berbayang dan berada di balik kegelapan adalah mengerikan adanya.


Andai warga itu tahu bahwa lecutan cahaya yang ia lihat adalah tanda pembantaian keduapuluh anggota satuan pasukan khusus anti teror.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Darah membanjiri tanah, mengalir di sela-sela pohon kelapa sawit, turun ke tempat yang lebih rendah sebelum hilang diserap bumi. Rentetan tembakan sudah mulai memudar bersamaan dengan semakin lemahnya teriakan para anggota regu khusus pimpinan Brigjen. Pol. Nursaidi Said ini.


Dulu, sewaktu ia masih belum menjadi komandan, banyak sekali cerita yang sampai di telinganya mengenai hal-hal diluar akal dan nalar. Di derah-daerah kerusuhan berlatar belakang suku dan agama dimana ia ditugaskan, banyak saksi dari anggota kepolisian dan rekan-rekannya mengatakan bahwa mereka melihat dengan mata kepala sendiri, orang-orang kebal diberondong mimis, atau digasak perang dan senjata tajam lainnya. Ada pula orang yang mampu menghilang atau berubah menjadi binatang.


Kisah-kisah tentang hantu tanpa kepala atau bagian tubuh lainnya yang terpotong lalu-lalang dan berseliweran di bekas daerah kerusuhan, rumah-rumah serta hutan yang terbakar, kuburan atau sungai-sungai dimana mayat-mayat korban peperangan dibuang, juga cukup populer.

__ADS_1


Namun, ia belum pernah sama sekali mengalaminya. Ia bukan orang yang skeptis meski belum pernah mendapatkan bukti satupun tentang hal-hal gaib semacam itu. Brigjen. Pol. Nursaidi Said selalu mencoba membuka pikiran, apalagi ia paham selama bertugas, manusia kerap hadir dalam bentuk yang mengejutkan.


Ia tahu banyak penjahat yang mampu menahan sakit ketika disiksa sampai mati demi menjaga kesetiaan terhadap kelompok kriminalnya. Ia pernah menemukan beberapa orang yang terlalu sadis dan tanpa perasaan yang membunuh anak-anak, perempuan hamil bahkan nenek-nenek bagai mematikan seekor nyamuk saja.


Maka, kejadian di depan matanya ini menyimpulkan semuanya, termasuk akhir dari cerita hidupnya. Segala hal yang pernah ia dengar ternyata mungkin sekali hanyalah seujung kuku dari kejadian mengerikan yang ia saksikan langsung saat ini.


Ledakan bom rakitan menghempaskan dua anggotanya dan melukai mereka dengan parah. Namun tidak lah sulit untuk melihat keberadaan para penyerang sehingga komando langsung bertaburan dari mulut Brigjen. Pol. Nursaidi Said yang ditimpali dengan berondongan tembakan ke arah musuh oleh para personil regu.


Semua menyaksikan, tubuh-tubuh pemuda yang terlihat masih hijau dan tanpa kemampuan militer sama sekali itu terkoyak tembakan, robek, pecah dan hancur. Harusnya dalam beberapa menit saja, misi serangan itu sudah selesai, sebelum perlahan tapi pasti, setiap sobekan kulit, cacahan daging merah dan patahan tulang merayap bagai lipan ke tubuh masing-masing pemilik buncahan badan itu sampai kembali utuh menjadi sempurna satu tubuh.


Tembakan dari satuan khusus ini kembali membahana di kebun sawit tersebut, bedanya, sekarang ada serangan balasan yang dilakukan.


Brigjen. Pol. Nursaidi Said terpaksa melihat satu persatu anggota tim nya tumbang tertembak walau tak telak dan langsung dibuat tewas. Ini murni karena senapan musuh hanyalah senjata rakitan dengan daya akurasi dan daya bunuh yang rendah serta kualitas para pemuda dalam menembak yang juga buruk dikarenakan tak memiliki pendidikan militer tertentu.


Tapi, ini bukanlah berita yang baik sama sekali. Para pemuda maju perlahan, walau tembakan dari para anggota tim khusus ini harusnya sudah membunuh mereka berkali-kali, berkali-kali itu pula, kaki mereka yang patah menyambung kembali. Dada mereka yang hancur, menyatu kembali.


Brigjen. Pol. Nursaidi Said yang sempat menonton film-film bertema zombie juga mencoba peruntunganya dengan sedikit kreatif dalam berimajinasi. Ia memerintahkan para anggota timnya menembaki kepala musuh. Mungkin otak adalah letak kelemahan mereka, serupa dengan para zombie keparat di dalam film-film tersebut.

__ADS_1


Yang terjadi adalah: pecahan otak yang menghambur ke segala sisi merambat bagai ribuan semut kembali ke sarangnya, rongga tengkorak kepala dan sosok berkepala hancur itu hidup kembali.


Semua anggota frustasi. Senjata mereka terus diisi kembali, namun musuh datang bagai air pasang menembaki para anggota dengan acak dan tanpa akurasi yang tepat. Teriakan para anggota memenuhi kepala Brigjen. Pol. Nursaidi Said. Mereka semua terluka parah, terkena sumbangan tembakan yang dilakukan dengan asal oleh musuh.


Dalam keadaan terdesak dan kehabisan ide serta mulai kehabisan magazin inilah Brigjen. Pol. Nursaidi Said melihat apa yang harusnya ia lihat bertahun-tahun lalu.


Sosok-sosok aneh, ajaib dan misterius muncul timbul tenggelam di balik pepohonan sawit. Sosok kuntinalak merangkak kayang dengan kepala terpuntir menembus pepohonan dan menghilang. Sundel bolong dengan baju jubah putih panjang menyeret tanah dan rambut panjang acak-acakan perlahan mengambang di udara lalu ikut menghilang. Pocong dengan kain kafan bernoda tanah dan darah melompat-lompat dari satu sudut ke sudut lainnya. Wajahnya yang pucat dengan kapas menyumpal lubang hidungnya itu tiba-tiba muncul di depan wajah Brigjen. Pol. Nursaidi Said.


Sang komandan terjengkang ke belakang dan jatuh terduduk saking kagetnya. Kedua matanya membelalak mencari-cari sosok hantu itu tanpa menemukannya. Darahnya serasa membeku dan kepalanya pusing luar biasa, penat. Ia menembakkan senapan, menghabiskan isinya ke depan. Tembakan mencacah pepohonan tanpa mengenai sasaran, baik para sosok gaib itu atau para pemuda yang masih berjalan maju perlahan.


Brigjen. Pol. Nursaidi Said melemparkan senapannya dan berbalik lari bagai pengecut meninggalkan para anggotanya.


Sial bagi si pengecut ini karena hanya dalam beberapa langkah saja ia sudah kembali berhenti.


Ada sosok besar menjulang berdiri membungkung di depannya. Tubuhnya dipenuhi bulu-bulu kasar bagai binatang. Ciri-ciri kehewanian juga terlihat pada kuku dan taring-taringnya yang panjang nan tajam, apalagi sepasang mata lebar yang penuh kebengisan melotot tajam.


Tubuh tak bernyawa Brigjen. Pol. Nursaidi Said dilempar-lempar di udara sebelum jatuh ke tanah dan disobek-sobek hantu Mariaban. Nasib sial sang komandan juga dialami semua anggota tim satuan khusus anti teror tersebut tanpa terkecuali.

__ADS_1


__ADS_2