Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Sundel Bolong


__ADS_3

Nafsu manusia sungguh tak berbatas. Tak ada apapun yang sanggup menahan keinginan sang insan bila ia telah berkendak. Semesta hanya bekerja berdasarkan bagaimana manusia berpikir dan bertindak.


"Ambil ini anakku," ujar sang ibu memberikan perintah kepada Girinata sembari menggendong orok Wardhani. Dasimah lalu memberikan sebuah benda ke telapak tangan anak laki-lakinya tersebut.


"Apa yang harus kulakukan?"tanya Girinata muda ragu. Ia menatap wajah sang ibu seperti seorang anak kecil meminta diyakinkan.


"Kau tahu pasti apa yang harus kau lakukan," jawab Dasimah pelan namun tegas.


Sang ibu kemudian memicingkan mata serta membaca mantra. Suaranya yang serak parau dan telah tua itu menggetarkan udara dengan alunan rapalan yang terjalin rapi. Si sundel bolong Marni masih melayang di atas tanah kuburannya yang masih basah, tetapi sosoknya tak bergerak sama sekalibagai sebuah obyek dalam selembar foto.


"Lakukan sekarang, Girinata. Sebelum kesempatan ini hilang selamanya," perintah simbok Dasimahtanpa melihat ke arah Girinata. Ia tahu anak laki-lakinya itu masih dibawa rasa ragu dan cemas.


Girinata akhirnya pun melaksanakan perintah ibunya. Anak sulung dan tunggal keluarga tersebut itu maju perlahan mendekat ke arah hantu berlubang punggung tersebut. Untuk terakhir kali Girinata memandang ke arah ibunya seakan meminta petunjuk dan kepastian kembali. Dasimah memandang balik ke arah anak laki-lakinya dengan tatapan tajam sebagai jawaban, sedangkan mulutnya masih berkomat-kamit merapal mantra.


Girinata membuka kepalan tangannya dan melihat sebuah benda dari logam panjang berbentuk paku terbaring di telapak tangannya.


Girinata memalingkan wajah ke arah hantu istrinya dan memantapkan hati. Ia lalu meraih dan menggenggam pakaian sebentuk jubah panjang putih yang dikenakan sang sundel bolong kemudian menariknya keras.


Ia tak menyangka bahwa tubuh sundel bolong ini benar-benar telah memadat. Lekukan daging manusia hidup terasa sekali di dadanya ketika Marni tertarik jatuh ke tubuhnya. Lubang di punggung sang sundel bolong semakin menganga lebar seakan dapat menelan seisi kehidupan. Darah membuncah turun mengalir keluar dengan deras dari lubang itu sampai membasahi lengan Girinata yang dalam posisi setengah memeluknya.


Tanpa menunggu lama lagi, Girinata menggunakan segenap kekuatannya menancapkan dalam-dalam paku dari bahan kuningan itu di puncak kepala sang mahluk halus tersebut.

__ADS_1


Si sundel bolong memandang ke arah Girinata dengan sepasang mata melotot mengerikan. Wajah pucatnya semakin memutih, seakan darah sudah lama pergi dari urat-uratnya. Tak lama teriakan pilu nan menakutkan keras keluar dari mulutnya yang terbuka lebar.


Orok Wardhani mendadak menangis mendengar teriakan yang datang tiba-tiba itu. Di tengah malam, suara teriakan perempuan sundel bolong dan tangisan orok membuat siapapun yang mendengarnya akan lari kocar kacir dan yang berada di rumah akan menutup dirinya dengan selimut serta langsung membaca doa sekhusuk mungkin, apapun agama dan kepercayaan mereka.


Sebagai tindakan pamungkas, Girinata meraih palu yang tersampir di ikat pinggang bagian belakangnya. Ia langsung melesakkan paku kuningan itu dalam dua kali pukulan palu yang keras.


 Sundel bolong Marni bergetar. Asap putih mengepul dari tubuhnya, melewati tumpukan rambut tebal awut-awutannya sampai benar-benar memenuhi seluruh badannyabagai bungkus kepompong.


Kejadian ini terjadi tak lama, karena ketika asap tebal itu benar-benar hilang, Girinata melihat tubuh ramping kuning langsat istrinya yang berada di pelukannya mendadak melemas sehingga jatuh terlentang telanjang di tanah kuburan.


Girinata memandang sosok tubuh wanita itu seakan tak percaya. Ia tak mungkin salah mengenali tubuh molek sang istri dengan kedua pucuk dadanya merekah merah darah. Tubuh Marni seakan telah kembali ke keadaannya sebelum melahirkan, molek dan utuh.


Girinata yang tercengang mulai merasakan kerutan di wajahnya menjadi ceria. Ini juga ditimpali oleh Marni dengan tatapan mata jenaka, penuh kebinalan, kenakalan dan kesundalan yang terpercik kecil, kemudian meletup-letup bersemangat.


Marni yang telah sepenuhnya sadar, kemudian berpaling ke arah sang ibu mertua yang sedang terkekeh puas atas hasil karyanya itu. Marni memandang gendongan di tangan sang ibu mertua dengan tangisan Wardhani di baliknya.


Ia tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sundel bolong itu kembali melayang sepuluh jengkal dari atas bumi. Kain putih gaib yang membungkus tubuhnya bagai jubah berkibaran seperti lidah api walau tak ada angin kencang yang terasa. Rambut panjang menumpuk kusut masainya menjulur turun ke bawahbagai akar pohon beringin.

__ADS_1


Kulitnya yang tak tertutup jubahnya itu berwarna pucat melebihi putihnya busananya, termasuk sepasang lengan yang kesepuluh jarinya dihiasi cakar-cakar tajam dan hitam mengalahkan kelamnya malam.


Soemantri Soekrasana menggertakkan giginya dan menatap Marni si sundel bolong dan Girinata bergantian dengan tajam.


Girinata terkekeh. Soemantri Soekrasana meludah ke tanah. Setiap ada kejadian dan hawa gaib di sekitarnya, rongga mulutnya serasa dipenuhi gumpalan lumpur pahit. Meludahkannya adalah cara paling sederhana untuk membuang kekotoran tersebut.


"Keluarga ular beludak. Kali ini aku benar-benar tak sampai berpikiran sejauh ini. Tidak hanya menggunakan anak kandung sebagai tumbal, istrimu sendiri kau karyakan untuk mencapai nafsu biadabmu, Pak Girinata," seru Soemantri Soekrasana.


Girinata semakin tersenyum lebar. "Ibuku sendiri yang mengatakan bahwa kelak aku, Marni, dan Wardhani tentunya, tidak akan terpengaruh dengan ruang dan waktu. Kekayaan hanyalah secuil kenikmatan yang bisa kami dapatkan. Tapi waktu? Nah, nah …,  itu sesuatu yang sama sekali tak terukur, nak. Lagipula ibuku, bahkan termasuk Kinanti, mereka akan terus melayang-layang di dunia fana ini bersama kami, bukan?"


 Soemantri Soekrasana kembali meludah ke tanah, merasakan kekotoran itu tak hilang dari dalam rongga mulutnya saking kentalnya. "Baik. Bila benar memang seperti ini adanya, aku juga semakin berniat untuk tak sungkan-sungkan memberikanmu dan anak perempuanmu itu pelajaran dan hukuman yang setimpal," seru Soemantri Soekrasana geram.


"Anak bau kencur sepertimu? Kencing saja belum bisa lurus mau mencoba cari masalah denganku, bocah? Kau pikir dengan memiliki kemampuan mantra pemanggil dan penjinak mahluk halus serta menguasai Lembu Sekilan membuat dirimu hebat? Mau jadi polisi gaib, kau?" Mata Girinata membelalak menantang. Otot-ototnya mengeras. "Marni ... Bunuh orang itu!"


Tanpa mempertontonkan mimik perasaan sama sekali, Marni sang sundel bolong menghambur cepat ke arah Soemantri Soekrasana. Kain jubah putihnya berkelebatan menonjol diantara kepekatan kegelapan.


Serangan fisik memang tak akan mampu melukai Soemantri Soekrasana selama Lembu Sekilan masih dimantrakan. Namun lain ceritanya bila sosok gaib hantu sundel bolong menyergap dengan sepuluh jari bercakarnya. Lembu Sekilan nampaknya tak dapat mendeteksi serangan semacam itu. Itulah ide dasar Girinata mengapa ia memutuskan untuk mengembalikan Marni ke dalam bentuknya yang semula. Dengan begitu, Soemantri Soekrasana tak mungkin dapat menghindar terus-menerus.


Maka Soemantri Soekrasana melompat kesamping sejauh mungkin. Tubuhnya menubruk jambangan tanaman milik istri Pak Guru Johan. Lengannya terluka oleh pecahan jambangan dari tanah liat di berbagai tempat. Ia sendiri sedikit merasa bersalah karena menghancurkan benda-benda itu, walau ia yakin istri Pak Guru Johan pasti akan memaafkannya karena ia terpaksa melakukannya agar tak mati dicekik dan dicakar sesosok sundel bolong.


Soemantri Soekrasana segera awas, tetapi mendapati hantu Marni telah menghilang!

__ADS_1


__ADS_2