
Hujan lebat berganti gerimis, kemudian lebat kembali, berulang seperti itu beberapa kali, menciptakan hawa dingin yang merasuk sampai ke sumsum tulang.
Desa Prajuritan mencekam!
Kompleks makam dijagai lebih dari separuh warga laki-laki Prajuritan yang masih mampu menggenggam senjata.
Satu-satunya makam bagi desa Prajuritan tidak terletak di area rumah penduduk desa. Sebaliknya kompleks pekuburan berada di tepi jalan raya, dekat pusat kegiatan masyarakat seperti sekolah dan pertokoan. Sebagai hasilnya, kuburan itu pun bentuknya jauh dari kesan kelam dan mengerikan. Ini karena para warga desa beranggapan bahwa makam adalah tempat peristirahatan terakhir yang sakral namun damai dan tenang, bukannya gelap dan ditinggalkan.
Reaksi warga Prajuritan terhadap kedatangan dan laporan rombongan warga lain mengenai kehebohan yang terjadi di desa mereka ternyata sama sekali berbeda dengan desa Pancasona. Seakan warga Prajuritan memang mempersiapkan diri mereka terhadap pegabluk dan bencana gaib seperti ini.
Warga desa yang datang berbondong-bondong 'diamankan' di perumahan warga desa. Semua warga tidak ragu menawarkan mereka tempat tinggal dan makanan. Gapura desa dijaga belasan laki-laki yang kuat, guru dan murid padepokan silat di desa. Di bagian dalamnya, tidak hanya laki-laki, namun perempuan bahkan remaja yang mampu, mau dan berani membela desa dan warganya dipersenjatai dengan apa saja yang bisa digunakan untuk melawan.
Irawan dan Lutfi sedang berkoordinasi dengan Fadlan. Mereka sepakat bahwa warga desa Kaliabang dan Pancasona yang mampu, mau dan berani juga akan ambil bagian dalam perlawanan ini.
Irawan sendiri memutuskan untuk turun ke pusat desa, ke makam tepatnya, untuk membantu anggota desa Prajuritan yang lain. Ia membawa serta beberapa pemuda Kaliabang dan Pancasona untuk ikut serta. Lagipula, ia sudah terlebih dahulu berpengalaman melawan para mayat hidup.
Di makam, mereka langsung bergabung dengan Hamdan, Dul Matin, Alif, Aris, Murdani dan segera 'pasukan' dari desa Prajuritan.
"Kami sudah meminta tiga warga untuk ke kota, melaporkan apa yang terjadi ini kepada aparat Kepolisian. Namun, karena memang tak semua orang bisa percaya hal-hal gaib semacam ini, kami sedikit mengubah cerita. Kami bilang saja ada beberapa warga desa sebelah yang terkena penyakit menular kemudian menggila dan mengamuk sehingga membuat warga takut," kata Hamdan sembari meringis.
"Aku tak yakin cerita itu meyakinkan mereka," tambahnya.
Irawan tersenyum. "Tak apa, terimakasih, kawan. Bagaimanapun itu adalah keputusan bijak. Paling tidak polisi harus tahu bahwa ada suatu kejadian gawat di area kita."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul sembilan malam. Semua lampu di seluruh wilayah desa Prajuritan dihidupkan. Suasana terang benderang dan penuh persiapan. Para 'prajurit' desa mempersenjatai diri mereka dengan parang, pedang, golok, celurit dan pentungan kayu keras. Tidak sedikit yang juga menyelipkan keris pusaka peninggalan keluarga mereka, atau menggenggam tombak yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu di desa mereka.
Para tetua, guru silat, dan pejabat desa Prajuritan ikut serta pula. Mereka bahkan berada di garis depan bersama para pemuda.
Dul Matin, Aris, Alif dan Murdani saling berpandangan.
"Tak kusangka ini saat yang selalu diwanti-wanti oleh orangtua dan sesepuh kita semua. Identitas desa yang dipelihara selama ratusan tahun ternyata memang dipersiapkan untuk hari ini," ujar Murdani.
Sepasang mata cerdasnya berkilat.
"Aku tak keberatan kalau harus mati di tanah ini, menggenapi takdir. Kita bertanggung demi kebenaran, bukan?" kata Dul Matin kepada rekan-rekannya.
"Terlalu banyak yang telah kita korbankan dan akan makin banyak yang kita korbankan bila sampai kita tewas. Pikirkan orangtua kita, saudara, warga, anak-anak yang akan ...," Irawan tak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Aris mendekat dan menepuk bahu Irawan, warga desa tetangga mereka itu. "Baiklah, kawan. Kami berjanji tak akan tewas," ujarnya tersenyum sumringah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lampu-lampu kendaraan berpendar dari jalan. Deru suara mobil meramaikan desa Prajuritan. Sisa warga desa Pancasona datang berbondong-bondong. Tangisan dan teriakan pilu tak terperi kembali meramaikan desa. Mereka adalah warga yang tak percaya bahwa ancaman gaib itu nyata.
Kepala desa bermaksud ingin membiarkan mereka untuk melanjutkan pelarian mereka ke kota karena khawatir di desa inipun mereka tak dijamin keamanannya, lagipula desa sudah mulai sesak oleh jumlah warga yang datang.
__ADS_1
Tapi warga lain mengingatkan bahwa di kota pun mereka akan kesulitan menemukan bantuan, seperti tempat tinggal untuk istirahat sejenak atau makan dan minum. Akan lebih baik bersama orang-orang yang mempercayai mereka seperti warga desa Prajuritan.
Akhirnya, warga desa Pancasona yang tersisa itu juga pergi ke perumahan warga. Dari rombongan perempuan, anak-anak dan orang yang sudah sepuh, ada seorang laki-laki yang dari perawakannya terlihat berpendidikan, bila memang harus dibandingkan dengan warga lain yang datang bersamanya. Namun wajah orang itu terlihat sama kalut dan berantakannya.
Lutfi memandang sang laki-laki lekat-lekat. Ia mendekat dan melayangkan tinju ke laki-laki tersebut. Sang laki-laki tersentak ke belakang dan jatuh terduduk. Hidung dan bibirnya mengalirkan darah, namun tak ada tampak mimik protes ketika ia tahu siapa yang memukulnya. Laki-laki bermata bertampang dan bergaya rapi dan terlihat berpendidikan itu adalah orang yang sebelumnya menentang kepercayaan masyarakat desa Kaliabang dan menolak membantu mereka serta tidak waspada terhadap masalah bencana gaib ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bumi yang diinjak bergetar bagai gempa. Pagar makam retak, begitu juga dengan batu nisan dan tanah seperti terbelah. Jerangkong dan mayat hidup merayap keluar.
Irawan memandang kenarah Hamdan, Dul Matin, Alif, Aris, Murdani dan puluhan pemuda Prajuritan bersenjata tajam. Semuanya menggenggam erat gagang senjata mereka. Tak menunggu waktu lama, mereka menghambur masuk ke dalam area makam dan membabati semua mahluk tak berjiwa yang menjadi boneka iblis.
Serangan-serangan mereka penuh tenaga dan terarah. Sesuai namanya, warga desa Prajuritan nampaknya memang sudah memegang teguh identitas keberanian ala prajurit dalam menghadapi musuh-musuhnya, terutama lawan-lawan yang datang dari dunia gaib.
Marsudi muncul dari kepulan asap di depan gapura desa bersama para pengikutnya. Ia membuat portal khusus yang membuat tidak hanya Affandi, anak buah mereka yang dimasuki para hantu dan beberapa warga desa Pancasona yang membelot menjadi pengikutnya, namun juga belasan pemuda berajah Kalacakra di dada mereka, warga desa Obong. Praktis mereka menjadi semacam gerombolan pasukan siap perang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Soemantri Soekrasana bergelut melawan para hantu. Mantra berbahasa Jawa kuno dan baru untuk membuat batas dua dimensi agar mereka tak bisa menerobos masuk merasuki para warga terus ia rapal.
Kuntilanak merah melayang di atas kepala Soemantri Soekrasana dengan pandangan nanar melihat ke arah mahluk-mahluk sejenisnya.
Bau terbakar menyengat ketika banaspati beterbangan di atas atap rumah warga. Kuntilanak dan sundel bolong meraung dan berkikikan di bawah pepohonan sedangkan wewe gombel menyeringai di atas pepohonan di balik dedaunan. Ada pula buto ijo yang sesuai namanya berwarna hijau bertubuh raksasa dan berkepala plontos nyeret tubuhnya yang gempal nan tinggi menjulang itu di atas tanah. Bau anyir darah merebak di seluruh desa ditemani teriakan para warga. Mereka dapat melihat mahluk-mahluk astral terkutuk itu dengan mata telanjang mereka.
__ADS_1