Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Obong - Ngalimun


__ADS_3

Satria Piningit berjalan mendekat ke arah bangunan yang ia tahu pastilah rumah Priyam. Bila ia tidak mengalami kejadian mengerikan yang masih menyisakan degup jantung berkejaran bagai kuda pacuan, pastilah ia akan mengakui bahwa rumah Priyam sangatlah nyaman. Berbeda dengan rumah mbah kakung dan putri yang ia tinggali, rumah sederhana Priyam yang terbilang jauh lebih kecil bahkan mungil ini sangatlah indah lestari. Bunyi angin yang menyapa dedaunan, serta gemericik air yang tak tahu berasal dari mana, menjadi melodi indah yang saling memintal.


Bila saja ia tak bertemu hantu nenek-nenek itu, tentunya.


Satria Piningit berjanji akan menanyakan detil mengenai sosok tersebut kepada Priyam kelak setelah ia menemuinya. Tidak hanya itu, ia akan menanyakan semua hal yang pernah Priyam lihat di desa ini sebelumnya, tak peduli seberapa takutnya ia tadi.


Dari pekarangan, Satria Piningit akhirnya mendekat ke pelataran rumah.


"Kulonuwun," ujar Satria Piningit sembari mengetuk pintu itu beberapa kali pelan sampai sesosok laki-laki berumur lima puluh tahunan muncul keluar dari ambang pintu.


"Nuwun sewu, pak. Apa benar ini rumahnya pak Ngalimun?" tanya Satria Piningit kepada orang itu berusaha sesopan mungkin.


"Leres nak, benar, saya sendiri," jawab sang orang paruh baya itu dengan nada suara yang tak kalah sopan meski yang ia hadapi hanyalah seorang bocah seumuran anaknya.


Ada gambaran yang tidak sesuai dengan cerita Priyam, pikir Satria Piningit. Ia mengatakan bapaknya dituduh sebagai seorang dukun oleh warga kampung. Namun, pak Ngalimun yang ia lihat ini tidak menunjukkan ciri-ciri itu sama sekali. Agak berbeda dengan ayah dari Wong Ayu yang meski juga ramah, tapi rambut panjang, iket dan kumis jenggotnya sudah seperti menunjukkan ciri-ciri umum seorang dukun. Pak Naglimun ini malah terlihat rapi seperti seorang pegawai kantoran atau guru. Rambutnya pendek disisir ke belakang. Dari bahasanya saja, ia terlihat mewakili tindak-tanduk orang yang berpendidikan dan tahu tata krama. Bukan berarti ayah Wong Ayu sebaliknya. Hanya saja, untuk orang yang dituduh sebagai seorang dukun, harusnya ada alasan kuat yang membuat tuduhan itu bisa diterima atau masuk di akal.


"Bolehkah saya bertemu dengan Priyam, pak?" tanya Satria Piningit.


Pak Ngalimun memandang Satria Piningit sedikit agak lama. Raut mukanya menunjukkan sejumput kebingungan. Sebelum Satria Piningit menajdi merasa tidak nyaman, paras wajah Pak Ngalimun menjadi cerah. Ia seperti baru paham atas pertanyaan anak laki-laki itu, "Maksud anak, Priyam ... Priyambada?"


Kini Satria Piningit yang terlihat bingung. Ia baru sadar bahwasanya yang ia tahu selama ini adalah seorang anak bernama Priyam. Satria Piningit tidak pernah tahu nama panjangnya. Maka, akhirnya ia mengiyakan saja. Mungkin memang benar Priyambada-lah nama aslinya.

__ADS_1


Pak Ngalimun tersenyum lebar. Ia juga membuka pintu rumahnya lebih lebar. "Mari masuk sejenak, nak," pintanya sopan.


Satria Piningit tentu mengikutinya masuk. Sudah lama pula ia ingin mengetahui rumah dan keluarga Priyam. Kunjungannya ini bahkan adalah inti dari tujuannya.


"Silahkan duduk dahulu, nak," Pak Ngalimun mempersilahkan Satria Piningit masuk.


Ia duduk di sebuah kursi panjang berbahan jati yang indah. Kemungkinan sudah berusia cukup tua sehingga menjadi barang antik.


"Bu, tolong buatkan teh. Kita kedatangan tamu ini," seru pak Ngalimun.


Satria Piningit tersentak, "Tidak perlu, pak Ngalimun. Saya jadi merepotkan bapak." ujarnya betul-betul kaget.


Senyum itu nampak sekali bermakna. Mungkin sekali Pak Ngalimun bisa melihat bibir Satria Piningit yang pucat karena degup jantungnya yang masih memburu, atau otot-ototnya yang melemas. Jadi, Satria Piningit sangat memerlukan secangkir teh hangat di sore ini.


Tak lama, seorang ibu, jelas adalah istri pak Ngalimun datang membawa nampan besi berisi dua cangkir teh panas dan sebuah poci atau teko dari tanah liat. Ia tersenyum ke arah Satria Piningit yang dibalas dengan mengangguk sopan.


"Silahkan diminum, nak," ujar sang ibu sama ramah dengan suaminya. Kemudian ia masuk kembali ke dalam rumah.


Satria Piningit tak bisa berbasa-basi lagi sehingga langsung meminum cairan hangat manis tersebut. Seluruh tubuhnya terasa lebih tenang secara drastis. Entah teh melati itu sekadar teh, atau ada ramuan khusus yang membuatnya terasa begitu nyaman.


Seakan paham kondisinya, pak Ngalimun juga meminum tehnya, tidak ingin Satria Piningit merasa kikuk dan tak enak, "Silahkan dituang lagi tehnya, nak," ujar Pak Ngalimun. Ia sendiri menuang kembali teh ke dalam gelasnya dan tanpa ragu langsung menambahkannya juga ke gelas tamu kecilnya tersebut. Satria Piningit berterima kasih dan kembali mereguk teh itu dengan kepuasan yang sama.

__ADS_1


Setelah kondisinya lumayan tenang, pak Ngalimun membuka percakapan. "Sudah berapa lama anak kenal dengan Priyambada?" tanyanya.


"Mungkin sebulan dua bulan ini, pak," Jawab Satria Piningit. Agak aneh juga mendapatkan pertanyaan semacam ini dari bapak seorang kawan. Seperti mau melamar pekerjaan atau anak gadis saja, pikir Satria Piningit.


Pak Ngalimun menarik nafas, "Ah, bagaimana ini. Kok bapak malah belum tahu nama kamu. Siapa namamu, nak?"


"Satria, pak. Satria Piningit," Jawab Satria Piningit, masih merasa aneh.


"Nama yang bagus, sesuai dengan pribadimu," ujar Pak Ngalimun.


Satria Piningit secara sembunyi-sembunyi melongok ke ruangan lain di dalam rumah ini, dimana sang ibu tadi masuk. Ia melakukannya untuk melihat kemungkinan atas keberadaan Priyam. Ia masih belum melihat anak itu dari tadi.


Pak Naglimun kemudian mendehem, "Begini nak Satria. Boleh bapak bercerita sedikit?"


Satria Piningit tak bereaksi. Ia tak tahu mau kemana arah pembicaraan ini. Priyam pun tak terlihat batang hidungnya. Alih-alih mempertemukannya langsung dengan Priyam, Pak Ngalimun malah mengajaknya ngobrol dan ingin menceritakan tentang sesuatu. Di luar, matahari perlahan mulai tenggelam. Belum terlalu sore, apalagi Magrib, tapi ada setitik rasa dingin merasuk melewati pori-pori Satria Piningit.


Ia merasa bahwa ada satu level yang harus dilewati sebelum akhirnya ia bertemu dengan Priyam. Sebuah perasaan yang aneh dalam keadaan yang sama janggalnya ini. Apakah sang bapak ingin bertanya mengenai kehidupannya, latar belakang keluarga, atau apa saja yang ia dan Priyam lakukan selama ini? Satria Piningit kemudian semakin kesal pada warga desa, terutama anak-anak sebayanya yang mungkin menyebabkan Priyam sungguh tak memiliki banyak kawan. Jadi ketika ternyata Priyam kedatangan teman yang berasal dari desa ini, mungkin saja bapaknya merasa perlu tahu lebih banyak tentang temannya tersebut.


Satria Piningit merasakan hawa dingin perlahan merasuk ke dalam pori-pori kulitnya. Ia tak tahu apakah itu karena memang suhu yang sudah mulai berubah, atau mendadak ia teringat pada sosok hantu nenek yang mengejutkannya tadi dalam rupa yang sangat mengerikan.


Satria Piningit kembali mendengar bunyi angin yang menyapa dedaunan serta gemericik air yang tak tahu berasal dari mana di luar sana. Bunyi-bunyi itu memilin satu sama lainnya, terpintal dan terjahit dengan indah

__ADS_1


__ADS_2