
Kabut putih berenang lamat-lamat dan lambat-lambat di tengah bunyi teriakan warga Dusun Pon yang terdengar di sana sini, termasukdi balik atap dan tembok rumah. Penampakan arwah gentanyangan dan roh-roh penasaran rupanya telah mulai terlihat dan bermunculan di mana-mana.
Gerbang jagad lelembut sudah mulai sobek dan koyak.
Girinata tak menyangka dan hampir tak percaya bahwa akhirnya ia akan benar-benar mencapai kembali masa ini. Kemampuan sihir yang telah dimiliki keluarganya turun-temurun nyatanya berhasil ia rengkuh kembali.
Lihatlah, tubuhnya kembali terik, tak kisut dan tak kusut. Ia memijat otot-otot lengan dan bahunya sendiri. Bahkan tanpa sungkan lagi, Girinata melepaskan sisa pakaiannya dan kini telah benar-benar bugil. Ia melihat ke arah pangkal kedua pahanya dimana tumbuh keperkasaan yang kini telah kembali muda, sama dengan tubuhnya secara keseluruhan.
Girinata melihat ke arah Marni, istrinya, yang cekikikan duduk di tepi kasur butut di kamar mereka yang luas namun tak kalah lusuhnya.
"Kenapa kau tertawa, Bu? Mau coba buktikan apa benda ini bisa dipakai seperti dulu lagi?" ujar Girinata nakal, mengarahkan pandangannya ke benda menggantung menonjol di bawah perutnya itu.
Marni, yang kembali menunjukkan wajah polos bengal dalam kemudaannya itu kembali terkikik. Kecantikannya kembali datang menempel. Ia terang-terangan memandang ke organ di bagian bawah suaminya yang masih menunduk malu-malu itu.
"Kau pikir aku takut, Pak?" balas Marni nakal. Ia berdiri dan meloloskan satu persatu pakaiannya, sengaja memperlambatnya agar dapat menikmati proses reaksi kebangkitan kejantanan Girinata.
__ADS_1
Berbeda dengan Wardhani, anak perempuannya, Marni memiliki kulit kuning langsat. Mungkin kulit gelap Wardhani didapat dari bapaknya, Girinata. Namun yang jelas, Marni memiliki lekuk tubuh sama ramping dan pucuk gundukan dada yang sama merahnya dengan Wardhani.
Girinanata melenguh bagai seekor sapi menikmati pemandangan tubuh istrinya yang sudah polos serta merasakan hasrat itu kembali membangunkan kejantanannya seperti masa muda yang telah ia tinggal berpuluh-puluh tahun yang lalu. Salah satu tangannya menggenggam batang kelelakiannya itu, mengurutnya pelan agar yakin bahwa benda itu ternyata masih berfungsi seperti dahulu.
Sepasang suami istri itu menggunakan waktu sungguh-sungguh untuk bermain cinta. Percikan energi listrik melecut setiap sayatan syaraf dan otot ketika kulit keduanya bersentuhan dalam bara kama yang membara. Girinata menekan dalam-dalam tubuhnya, Marni membuka lebar-lebar gapura pertahanannya. Dua tubuh yang rindu kesempurnaan masa muda itu bekerja dengan kasar, memberi dan menerima tanpa mau mengalah. Girinata menggigit, Marni mencakar. Keduanya saling hajar.
Girinata membaui aroma tubuh Marni yang semanis melati dan berahi. Marni sendiri menyesap dalam-dalam bau Girinata yang kelam tetapi membuatnya terbenam, seperti secangkir kopi di sore hari.
Marni bangga luar biasa ketika lekukan tubuhnya diselusuri oleh lidah sang suami. Keringatnya bercampur dengan saliva, begitu kotor dan liar bagai hewan. Ya, ia dan Girinata memang binatang. Keduanya tidak sekadar saling pagut, tetapi menjambak dan menggasak. Marni membiarkan kerongkongannya meneriakkan suara kenikmatan tanpa halangan. Sang wanita mungkin sesungguhnya tak hanya meneriakkan kenikmatan, ia sejatinya melepaskan pembebasan. Bebas dari keterbatasan si masa, bebas dari ancaman kematian dunia, bebas dari ngerinya menua.
Di satu sudut kamar, sosok arwah Sapar Nataprawira berdiri dengan kepedihan menahun, memenjara, menyiksa. Ia tak bisa pergi dari tempat itu. Tubuhnya membayang di tepi tempat tidur. Kedua matanya mencelang terbuka melihat putrinya digagahi laki-laki yang sebenarnya kini terhitung sebagai menantunya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bangunan gudang di bagian belakang rumah keluarga Girinata semakin direngkuh dan disembunyikan malam yang pekat. Kegelapan menelan pijaran kuning lampu bohlam dengan bantuan sang kala.
__ADS_1
"Ingsun amatek ajiku si lembu sekilan, Rasulku lungguh, Brahim nginep babahan, Kep-karekep barukut kinemulan wesi kuning, wesi mekangkang, Sacengkang, sakilan dsadempu, Sakabehing braja tan ana nedasi, Bedil pepet, mriyem bunyu, ...." Diam-diam Soemantri Soekrasana sudah membaca mantra ilmu Lembu Sekilan sejak ia terbangun sadar dari pingsannya tadi.
Setelah memerintahkan kedua pemuda kacung berahi itu untuk membunuh Soemantri Soekrasana, Marni meraih tangan suaminya dan bergegas pergi. Ia tak dapat menahan denyut nafsu di balik roknya. Ia juga tak sedang ingin melihat darah sang pemuda kurang ajar sok pintar itu.
Tinggallah Wandi dan Farid, dua rekan pemuda itu yang diperintahkan membereskannya.
Hanya saja, anehnya, ujung golok Wandi, si pemuda yang diperintahkan Marni untuk membunuh laki-laki muda yang terikat di kursi rotan itu lewat sejengkal dari kepala Soemantri Soekrasana ketika ditebaskan, sejenak setelah Girinata dan Marni meninggalkan gudang. Entah bagaimana, otot-otot di tubuh Soemantri Soekrasana bergerak sedemikian cepat, misterius sekaligus praktis sehingga menghindarkan dirinya dari serangan musuh.
Sang pemuda menyipitkan kedua matanya memandang golok yang baru saja ia tebaskan, seakan-akan ada yang salah dengan ukuran atau bentuk senjata tajam tersebut. Ia kemudian memandang Soemantri Soekrasana yang masih duduk terikat di kursi rotan. Ada sedikit gerakan di sana. Sang pemuda kemudian menatap rekannya yang malah balik menatap dirinya, seakan mengatakan bahwa kesalahan ada padanya, bukan goloknya.
"Ah, selalu pemuda yang dijadikan budak tindakan jahat mereka yang punya kuasa," pikir Soemantri Soekrasana. "Kalau tidak tawaran berahi, pastilah uang dan kejayaan kekayaan. Itu sangat menyinggungku. Aku juga pemuda, masih bengkok kencingnya," ujar Soemantri Soekrasana kepada dirinya lagi. Kali ini sembari tertawa kecil. " ... tapi aku tak berniat mencelakai orang lain, apalagi satu dusun, hanya dengan dibayar kenikmatan semu itu."
Sang pemuda menarik nafas panjang, kembali memusatkan perhatian dan niat. Golok ia arahkan lagi ke batok kepala laki-laki muda yang jelas terikat erat tak berdaya di kursi rotan di depannya itu.
Bilah golok memotong udara tanpa sasarannya yang terkena.
__ADS_1
"Kau mabuk, ya?!" seru Farid, rekan sang pemuda, melihat temannya memapras kosong angin bagai orang yang linglung. Dan memang Wandimerasa seperti linglung. Jelas-jelas ia menetak bilah goloknya secepat mungkin. Dalam jarak sependek itu mustahil rasanya tak mengenai sasaran. Lagipula, sudah seminggu ia tak menenggak alkohol sama sekali, apalagi mabuk.
"Sini, biar aku saja yang membereskan. Ingat, kau tak boleh curang. Kau harus melaporkan kepada Budhe Marni dan Pakdhe Giri kalau aku yang membunuh orang ini. Jadi aku yang berhak mendapatkan keperawanan Wardhani duluan," kata Farid yang maju tanpa meminta persetujuan temannya yang gagal itu. Untung memang tak dapat ditolak, pikir Farid. Ia tak menyangka Wandi sebegitu mabuknya sampai tak bisa membacok dukun muda itu.