Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Tigapuluh Tiga


__ADS_3

Mayat hidup dan jerangkong berjalan turun dari kuburan di bukit belakang desa Pancasona di bawah hujan. Mereka menyeret serta bagian-bagian tubuh yang patah, hancur dan busuk namun masih menempel di badan.


Wong Ayu berdiri di atas atap losmen, melihat semuanya dengan mata batin, termasuk semua jenis mahluk halus yang perlahan muncul. Mayat hidup yang baru saja meninggal dan masih dipocongi bangkit, sedangkan rohnya berkumpul bersama pocong-pocong lain yang berjejer di balik pepohonan dan bangunan tua. Kuntilanak dan sundel bolong berbagai jenis berkikik sahut-menyahut. Bau busuk bagai comberan dan buangan limbah menyeruak dari satu tubuh buto ijo, roh halus raksasa berwarna hijau yang menjulang tinggi dan besar di belakang sebuah rumah warga. Sepasang bibirnya seakan tak mampu menahan taring yang mencuat keluar dari mulutnya. Tampangnya yang liar ini sama persis dengan kelakuannya yang tak bisa diam. Ia berdiri tak tenang dan kusak-kusuk seakan menunggu perintah untuk bergerak.


Wong Ayu juga melihat dengan jelas di beragam sudut desa, dari pekuburan kuno, atau titik-titik yang terbengkalai selama puluhan bahkan mungkin ratusan tahun, muncul beragam jenis jin yang mengambil bentuk-bentuk ganjil. Sosok manusia berkepala anjing, ular atau monyet. Ada pula manusia melata bagai ular atau buaya. Ada beberapa sosok lain yang lebih banyak menyerupai binatang atau mahluk dengan ciri-ciri hewani ketimbang manusiawi yang berekor dan bertanduk atau bahkan bersisik perlahan keluar dari kolam atau sumur. Banaspati dan banaswati berupa kepala berambut panjang dan bertaring diselimuti kobaran api dengan ujung kebiruan beterbangan. Mereka seperti menunggu perintah untuk menyerbu ke dunia manusia.


Wajah Wong Ayu mengeras. Perlahan tubuhnya melayang dari atas atap losmen. Warna busananya yang gelap tertutupi langit yang juga menggelap, hampir seperti malam karena awan kelabu dan hujan yang mulai lebat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Warga dari desa Kaliabang berkumpul di Balai Desa bersama dengan para pejabat dan tetua desa Pancasona. Warga Pancasona lain yang penasaran dengan apa yang terjadi terhadap rombongan ini tersebar di sekitar bangunan Balai Desa yang berbentuk pendopo besar, tanpa dinding sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk melihat apa yang terjadi di dalam. Meski hujan turun lumayan deras, warga tetap berusaha untuk bertahan dengan menutupi kepala mereka menggunakan payung, daun pisang atau apapun yang mungkin digunakan.


"Kami tidak bisa menolong kalian semua. Pertama, kami tidak benar-benar paham dengan apa yang terjadi. Kedua, kami juga memiliki kehidupan sendiri. Tidak semua orang dapat menampung warga Kaliabang. Mungkin malam ini kalian bisa menginap di sini, kami akan berusaha semampunya untuk memenuhi keperluan kalian. Tapi besok, kami akan melaporkan ke pihak yang berwenang untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di desa kalian," ujar salah satu warga yang dituakan dan dihormati di Pancasona.


"Terlambat. Malam ini juga kita semua harus bersiap-siap dengan apa yang akan terjadi. Kami bukan sekadar minta tolong, kami juga memperingatkan kalian. Nyawa kalian juga di dalam bahaya," ujar Lutfi yang berbicara mewakili para warga Kaliabang, berhubung ia pula yang menjadi saksi penting kemunculan iblis betina di desanya.


Kepala desa mencoba mengambil alih percakapan ketika warga yang dituakan tadi hendak menjawab Lutfi. "Begini, mas Lutfi. Desa kita sudah berhubungan erat sejak ratusan tahun yang lalu, mas Lutfi pasti paham kami tidak pernah menolak kedatangan warga sekalian. Apa yang para warga alami pastilah benar-benar menakutkan. Kami sendiri tentu menjadi awas dan waspada dengan segala kemungkinan yang terjadi. Apalagi memang beberapa waktu ini, ketiga desa dari Prajuritan sampai Kaliabang mengalami banyak kemalangan, kematian penduduk dengan gejala yang cukup meresahkan," kepala desa berdehem. "Tapi mas, bapak dan ibu-ibu sekalian mohon mengerti kami juga. Ini bukan masalah sepele. Kami tidak bisa tiba-tiba memutuskan sebuah perkara karena diburu-buru, atau mendengar desas-desus belaka. Apa jadinya desa kami, terutama bagi warga kami."


Suasana pun menjadi riuh. Masing-masing orang seakan mencoba memberikan pendapat dan sanggahan. Belum lagi warga Pancasona sendiri yang tidak sedikit percaya atau ikut khawatir paling tidak dengan apa yang dialami warga desa Kaliabang dan bila benar, mungkin sekali sedang mengintai desa mereka.

__ADS_1


"Kalian lupa dengan alasan dibalik nama desa kalian? Pancasona? Orang-orang dengan kekuatan dan keberanian legendaris yang berani mengambil resiko berasal dari desa ini. Sudah ratusan tahun kejadian bersejarah dengan para dukun santet dan orang-orang berilmu hitam dari desa Obong dimana warga Pancasona terpecah, tapi mereka tetap mengambil keputusan. Lalu, bagaimana dengan kalian? Sudah berani kembali mengambil keputusan atau menunggu hal buruk terjadi pada kalian?" lanjut Lutfi ketika suara masyarakat perlahan mereda.


Satu orang warga unjuk bicara. Dari perawakan dan penampilannya menunjukkan bahwa pria ini adalah orang berpendidikan, mungkin latar belakang pekerjaannya yang mempengaruhi cara berpakaian termasuk cara berpikirnya. "Sejarah memang perlu diingat untuk memahami identitas diri. Namun sudah saatnya kita untuk maju dan memperhatikan perkembangan jaman." Ia tersenyum kecut. "Sudah saatnya kita tinggalkan hal-hal berbau tahayul dan mitos. Untuk hal-hal semacam ini, kepanikan malah dapat membuat kita menjadi makin terpuruk dalam ketersesatan."


Lutfi memandang pria itu dengan tajam. "Saya tidak meminta bapak paham dengan situasi ini. Mungkin bapak sudah meninggalkan pola pikir kuno desa ini bersama masa lalu, tapi tidak sedikit orang yang masih percaya dengan kekuatan supranatural yang dapat membahayakan kehidupan kita."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Marsudi menahan semua anak buahnya, termasuk anak buah Affandi, untuk melakukan apa-apa, namun ia minta mereka bersiap-siap. Hujan lumayan deras, sedangkan langit bisa dikatakan gelap menyeluruh, laksana petang.

__ADS_1


Sebelumnya, ia sudah menjelaskan kepada Affandi dan Kardiman Setil bahwa keputusan mereka memanggil bala bantuan tidak ia salahkan. Ia bahkan merasa semua ini memang perlu. Bahkan sebelum Affandi menjelaskan bahwa Kardiman Setil melihat seseorang membawa keris di pinggang bagian belakangnya, dan keduanya menyaksikan sosok kuntilanak merah meneror mereka, Marsudi mengakui bahwa semedinya memberikan semacam informasi bahkan ada sesuatu yang besar bakal terjadi si desa Pancasona ini. Dengan kehadiran warga desa Kaliabang dalam jumlah besar dan tiba-tiba, menunjukkan bahwa kejadian besar itu memang sedang terjadi, hanya saja jujur ia belum benar-benar paham apa itu gerangan.


Maka, satu cara yang bisa dilakukan adalah menunggu waktu yang tepat untuk tetap melaksanakan rencana Affandi yang awal, yaitu menyerang si penghuni losmen di lantai atas dan merebut kerisnya. Untuk kekuatan supranatural dan gaib yang mungkin terjadi, paling tidak akan banyak saksi dan bantuan sehingga kengerian barangkali dapat dilawan bersama.


__ADS_2