
Wardhani diam terpaku. Permukaan kulitnya berdesir, ia merasakan sesuatu sedang terjadi di sudut dusun. Dua pemuda budaknya bertelanjang dada. Peluh membasahi tubuh mereka dengan latar belakang pemandangan gapura bata merah yang hancur lebur hampir rata dengan tanah. Api juga membumbung dari pos penjagaan keamanan dusun. Para warga yang mendapatkan giliran malam ini berserakan di tanah. Mereka syok dan terluka secara mental sehabis menyaksikan iblis berupa-rupa berkeliaran tepat di depan mata mereka. Belum lagi kekuatan Wardhani yang mendadak berubah menjadi seorang ratu dedemit yang mengintimidasi baik dengan aura maupun kekuatan gaibnya.
Juned dan Waluyomelihat sekeliling, seperti bangga atas hasil pekerjaan mereka, kemudian berjalan dengan percaya diri mendekati Wardhani.
"Ah, Wardhani ... Atau boleh kami panggil Raden Ayu?" ujar Juned, salah satu diantaranya.
Wardhani tak mengacuhkan mereka. Ia masih menewarang dan mencoba menerjemahkan rasa yang datang tiba-tiba menyentuh semua indranya.
Juned dan Waluyo saling bertatapan. Kemudian Junedkembali memanggil nama Wardhani.
Kali ini Wardhani berpaling memandang ke arah mereka. Ia memandang kedua pesuruhnya itu dengan tajam.
"Ah, bagaimana mengatakan kepada Raden Ayu, ya ini? Begini ..., apakah kami sudah diperbolehkan mendapatkan imbalan dan ganjaran kami karena telah membantu Raden Ayu?" lanjut Juned.
Wardhani terlihat seperti berpikir, namun kemudian ia tersenyum. "Boleh kutahu maksud kalian apa? Mengapa tak katakan dengan jujur dan lugas?" jawab Wardhani. Suara yang keluar dari sela-sela bibir legitnya itu menggetarkan jiwa kedua pemuda tersebut.
Tanpa diperintah, hampir secara berbarengan, Juned dan Waluyo menggaruk kepala mereka yang tak gatal. Waluyo menimbang-nimbang batang besi linggisnya dengan tidak nyaman dan malu-malu, meski akhirnya ialah yang membuka mulut mewakili rekannya. "Begini Raden Ayu. Bukankah kami dijanjikan untuk dapat mendapatkan ... Ah ... Mendapatkan Raden Ayu bila kami telah menyelesaikan pekerjaan kami ini?"
Wardhani mengerling nakal. "Oh, itu maksudmu. Kalian ingin menikmati tubuhku, bukan?" jawab Wardhani sembari melemparkan senyum menggodanya. Sekali lagi tanpa dikomando, kedua pemuda mengangguk serentak dan nyengir ngeres.
Raden Ayu Ratu Dedemit Wardhani berbalik arah. "Ikut aku," ujarnya.
Bagai sepasang kerbau dicucuk hidungnya, Juned dan Waluyo mengikuti kepergian Wardhani dengan taat.
__ADS_1
Wardhani berhenti di ujung belokan jalan setapak dusun. Ia berbalik dan menghadap ke arah kedua pemuda yang diburu nafsu bagai dua ekor anjing menjulurkan lidah minta diberi makan.
Cahaya jingga lemah dari kobaran api yang melahap sisa pos penjagaan dari kayu itu membayang di kulit gelap nan mulus Wardhani.
Perlahan, lengan ramping Wardhani meraih simpul kain kafan yang membalut sepasang dada mungilnya. Selembar kain panjang itu jatuh ke tanah. Sinar jingga lidah api yang lemah bermain warna dengan puncak dada merah darah Wardhani yang mengacung tegak di sela-sela kabut.
Kedua pemuda budak berahi itu menelan ludah. Tonjolan jakun di leher mereka naik turun sekehendak hati tanpa bisa dikontrol lagi. Wardhani membiarkan angin membelai kulit telanjangnya, termasuk kedua pemuda yang
memandang sang ratu dedemit dengan lapar.
Wardhani yang malah menikmati pemadangan ini..
Kedua lengannya kemudian merambat turun ke pinggul, meraba dan mencari-cari simpul kain kafan yang mengikat penutup bagian bawah tubuhnya tersebut.
Sayang, kedua pemuda tak sempat menyaksikan puncak tontonan utama itu karena tubuh mereka tiba-tiba terangkat ke udara. Leher mereka tercekik oleh tangan-tangan tak kasat mata. Wardhani mengangkat kedua lengannya dari jauh.
Pemandangan indah lekukan lengan bagian bawah Wardhani, terus turun ke cekungan ketiak dan tonjolan dada membusung tegak itu tak dapat dinikmati sama sekali oleh kedua pemuda yang memegangi lehernya tanpa tahu apa yang harus dilakukan sedangkan mereka mulai kehabisan nafas.
Wardhani mendadak bosan menunggu kedua laki-laki muda itu megap-megap mengejar udara bagai dua ekor ikan terlempar dari kolamnya. Maka ketimbang jenuh, Wardhani melemparkan kedua tubuh yang terangkat ke udara itu jauh-jauh dari hadapannya.
Dua tubuh pemuda budak nafsu tersebut terhempas di atas tanah dengan bunyi berdebum. Tak ada yang sungguh tahu apa yang terjadi pada keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Keris Mpu Gandring mengebiri kekuatan iblis sama sekali. Segala mahluk adikodrati yang berseliweran melalui portal gaib Dusun Pon dan terkena percikan energi dari senjata pusaka itu kelojotan tanpa pandang bulu.
Bocah-bocah setan dalam wujud tuyul bergulingan menggelinding hebat dalam kepanikan bagai kumpulan anak kera yang gusar. Genderuwo, jin, bahkan wewe gombel yang sempat menolong menyelamatkan anak Pak Guru Johan pun menghilang dan berdiam di sudut-sudut terjauh dari medan pertempuran.
Girinata memang dapat kembali muda. Segala keriputnya tertarik kembali, segala penyakit tuanya hangus dan segala tenaga serta semangatnya tertuang utuh lagi. Namun, bukan berarti luka-luka di tubuhnya dapat dengan segera kembali sembuh. Mungkin ia perlu mempelajari Rawarontek atau Pancasona bila menginginkan keahlian penyembuhan kilat semacam itu. Meski tubuhnya terluka, ia sama sekali tak merasakannya. Yang ada dalam dirinya sekarang adalah api kesumat dan benci yang membakar rongga dadanya melihat istri sundel bolongnya menggelepar berteriak-teriak di atas tanah dalam bentuk gumpalan asap setengah berdaging setengah arwah.
Girinata mungkin tak menguasai Pancasona atau Rawarontek, tapi ia bukan tak berilmu sama sekali.
Ia memandang tajam ke arah Soemantri Soekrasana yang menggenggam sebuah keris pusaka. Udara yang mendadak berubah drastis pastilah diakibatkan oleh kekuatan keris tersebut. Pusaka yang Girinata curigai sebagai keris legendaris buatan Mpu Gandring itu ternyata mampu melukai para mahluk gaib. Itu yang terjadi pada sang istri.
Tapi, meski tenaga dahsyat yang berpendar biru dari bilah keris itu membuat para hantu, jin, dan siluman ketakutan, Girinata juga memerhatikan hal lain. Soemantri Soekrasana terlihat sekuat tenaga memegang gagang keris sekaligus menahan ledakan tenaga yang keluar membuncah dari keris tersebut.
Sepercik kesadaran membuat Girinata mengerti sekarang. Ia melihat kembali ke arah Marni yang masih berteriak kesakitan berselimut asap, kemudian memandang Soemantri Soekrasana dengan amarah yang menggedor-gedor palang kesadarannya.
Girinata merapal sebuah susunan mantra, sebuah ilmu hitam. Mantra yang diucapkannya adalah pembalikan bait-bait indah puja-puji kepada Tuhan alam semesta menjadi ayat-ayat kemaksiatan dan kerangkeng dosa.
Girinata berteriak tertahan. Kedua lengannya mendadak menghitam sempurna, begitu pula dengan kedua bola matanya.
Ayah dari Wardhani ini sudah paham dari awal bahwasanya keris pusaka itu memiliki kekuatan luar biasa dalam menundukkan segala jenis mahluk halus. Tapi sebagai sebuah pusaka yang dikutuk dan telah memakan banyak korban dalam sejarah, keris ini menyerap tenaga sang pengguna. Dalam hal ini Soemantri Soekrasana sedang tersedot tenaganya karena menggenggam pusaka yang nampaknya terpaksa ia gunakan karena harus menghadapi Marni si sundel bolong yang bukan bertindak seperti hantu biasa, melainkan diatur dan dimainkan oleh Girinata sendiri.
Kedua lengan menghitam Girinata berbau busuk dan tak menyenangkan, menunjukkan borok nan bangsai ilmu itu sendiri.
Girinata meraung keras menyerbu sosok dukun muda itu dengan kedua tangannya yang hitam legam jelaga busuk bobrok borok terentang ke depan.
__ADS_1
Soemantri Soekrasana sudah siap dengan serangan apapun dari lawan. Keris Mpu Gandring sudah tergenggam nyalang menyalak menantang di tangan kanannya. Lembu Sekilan juga masih terikat mantra. Lakukan apa yang harus dilakukan pada laki-laki bejat jahat, pikir Soemantri Soekrasana.