Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Murka Luar Biasa


__ADS_3

Girinata tersenyum lebar sebagai respon jawaban istri Pak Guru Johan tersebut. Ia bahkan tersenyum begitu lebarnya sampai terlihat begitu mengerikan. "Nah, masih bisa dikenal, bukan?" ujar Girinata.


Tanpa menunggu respon istri Pak Guru Johan tersebut, Girinata berjalan mendekat dengan pelan tetapi pasti. Kini tangan kanannya yang sudah menggenggam sebilah keris terlihat jelas.


Melihat keadaan ini, istri Pak Guru Johan memekik keras. Spontan iIa mundur dengan panik sembari menyeret kedua anaknya. Yang paling kecil langsung terkejut dan menangis karena terseret oleh tindakan yang semerta-merta itu. Istri Pak Guru Johan sadar atas apa yang dilakukannya tersebut, kemudian hendak mengangkat anak bungsunya tersebut ke dalam gendongannya.


Namun, Girinata yang telah memuda bergerak terlalu cepat. Dengan tangan kirinya, ia menarik anak laki-laki sulung Pak Guru Johan dan melemparkannya begitu saja ke pekarangan tanah bagai melontarkan sekantong sampah saja. Anak itu bergulingan dan memekik tertahan kemudian menangis. Jelas sang anak syok dan mungkin sekali terluka di beberapa bagian tubuhnya.


Girinata kemudian memegang anak bungsu Pak Guru Johan, menendang istri Pak Guru Johan sehingga pegangannya pada sang anak terlepas, lalu menenteng sang bungsu bagai mengangkat seekor kucing belaka.


Istri Pak Guru tersentak jatuh mendelosor terduduk ke belakang. Dadanya perih tak terperi. Namun yang paling menyesakkan adalah pemandangan di depannya. Sang bungsu berteriak-teriak karena Girinata mengangkatnya tepat di lengan atasnya. Sedangkan tangan kanan Girinata siap melesakkan keris berlekuk itu ke dada si kecil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Marni yang baru sampai ke bangunan di belakang rumahnya terperanjat menyaksikan dua anak buahnya tergeletak semaput dalam posisi berantakan dan tak enak dipandang. Kursi rotan terlempar jatuh, lepas anyamannya di berbagai tempat dan sosok dukun laki-laki muda Soemantri Soekrasana sudah tak ada di sana.

__ADS_1


Marni berteriak kalap sekeras-kerasnya. Dada di balik kemben kain kafannya kembang kempis. "Bangsat, laknat, jahanam! Akan kubunuh kau dengan tanganku sendiri, bocah!" serunya di gelapnya malam. Suara teriakan kegeraman dan kemarahan Marni menubruki helai-helai kabut, begitu juga tak lama dengan tubuhnya yang bergerak cepat meninggalkan salah satu bangunan di kediamannya tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Girinata luar biasa terkejut. Tangan kirinya melepas pegangan pada anak bungsu Pak Guru Johan saking kagetnya.


Di balik tanaman koleksi istri Pak Guru Johan dengan begitu tiba-tiba muncul sosok wewe gombel. Sosok besar mengerikan itu menyibak dedaunan hijau yang tinggi-tinggi bagai seekor singa hendak menyergap mangsa.


"Bajingan!" seru Girinata bersumpah serapah.


Wewe gombel itu menyeringai ke arah Girinata seakan ingin berkata bahwa ia begitu senang karena ketika akhirnya bertemu dengan ayah kandung Wardhani, perempuan yang menyebut dirinya sebagai Ratu Dedemit.


Istri Pak Guru Johan juga berteriak gagap demi memandang mahluk menakutkan bermandikan sinar terang lampu rumahnya yang muncul tiba-tiba itu. Namun naluri keibuannya mengalahkan segalanya. Walau tak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi di sini: Pakdhe Girinata yang mendadak menjadi muda dan melukainya serta hendak membunuh anaknya, sosok gaib mengerikan yang muncul dengan tiba-tiba dan terpapar jelas di tengah deburan sinar lampu rumahnya, ia tetap memikirkan dua buah hatinya. Langsung saja ia menggendong anak bungsu serta sulungnya dan berlari secepat dan sekuat mungkin menjauh dari rumahnya sendiri meski dadanya masih begitu terasa nyeri. Kesempatan ini tak mungkin dibuangnya begitu saja.


"Mahluk hina dina, jahanam dan kotor. Apa maksudmu muncul seperti ini dan menakutiku, heh?!" gertak Girinata kesal. Ia, Marni dan anaknya, Wardhani, telah hidup bertahun-tahun dengan penglihatan dan penampakan hantu serta mahluk-mahluk halus lain. Mereka tak membuatnya takut sama sekali. Bahkan, sudah sejak lama pula akhirnya mereka menanti agar Wardhani dapat menguasai para dedemit. Tapi entah mengapa, pandangan dan seringai lebar sang wewe membuat beku seluruh darahnya. Ada energi asing yang salah dengan wewe gombel ini, pikirnya. Tujuannya untuk menghabisi si anak laki-laki kecil itu juga gagal.

__ADS_1


"Wewe gombel memang terkenal suka mencuri anak-anak. Tapi itu karena mereka sedang bermain dengan anak-anak, terutama yang tak diurus orangtuanya dengan baik. Tapi, bayangkan bila Bapak membunuh anak yang tak berdosa, yang bahagia bersama ibunya yang menyayanginya? Bapak akan membuat wewe gombel murka luar biasa, bukan begitu, Pak Girinata?" Soemantri Soekrasana muncul di jalan setapak masuk pekarangan rumah Pak Guru Johan. Dua tuyul mengendap-endap malu di belakangnya, kemudian lari menghilang ketika Girinata melihat keduanya.


"Kau ...," ujar Girinata terkejut tanpa bisa menyelesaikan kalimatnya.


"Ya, ya ... Tadinya saya tak bisa tepat waktu sampai kesini. Untungnya saya sempat melaporkannya pada wewe gombel itu bahwasanya bapak akan mencoba membunuh seorang anak kecil tak berdosa. Untungnya saya tepat waktu sehingga tindakan jahat bapak berhasil digagalkan," ujar Soemantri Soekrasana sembari menghela nafas lega tanpa berusaha menutup-nutupinya.


Sang wewe gombel kembali menunjukkan sikap misterius dengan seringainya. Tapi Girinata sekarang paham bahwa pandangan sang wewe gombel kepada dirinya adalah kebencian dan permusuhan, bukan rasa senang dan bangga bertemu dengan ayah dari ratu dedemit. Bulu kuduk Girinata mendadak merinding.


Soemantri Soekrasana berkomat-kamit membaca mantra, kemudian berteriak lantang. "Pergi dari sini. Orang ini sudah menjadi urusanku. Kau sudah menyelamatkan anak itu. Pergilah berkumpul di tempat kalian seharusnya berada. Jangan khawatir, kau akan bertemu dia lagi kelak," perintah Soemantri Soekrasana kepada sosok perempuan tua berdada menggantung tersebut.


Sang wewe gombel menatap sekali lagi ke arah Girinata seakan tak rela untuk meningalkan kesempatan ini. Namun, mantra yang dibaca Soemantri Soekrasana dengan tegas menjelaskan yang sebaliknya. Tak lama kemudian tubuh bongsor sang wewe gombel mundur dari paparan sinar terang lampu rumah Pak Guru Johan, menyelip diantara pepohonan, dedaunan dan serabut kabut untuk menghilang menyatu dalam kegelapan.


Tinggal Soemantri Soekrasana dan Girinata yang saling berhadap-hadapan. Girinata jelas puyeng dan bingung dengan keadaan ini. Mengapa Soemantri Soekrasana bisa berada di tempat ini, bukankah ia seharusnya telah tewas? Lalu, mengapa masih ada mahluk-mahluk gaib dan adikodrati yang terlepas dari kekuasaan Wardhani seperti sosok wewe gombel dan dua tuyul yang membantu si dukun muda tersebut?


"Saya tahu bapak masih bingung dan memiliki banyak pertanyaan tentang keadaan ini. Tapi sudahlah, intinya toh rencana saya berjalan dengan baik," ujar Soemantri Soekrasana yang pada dasarnya mengulang apa yang diucapkan Marni kepadanya sewaktu ia terikat di atas kursi rotan beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2