Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Duapuluh Tiga


__ADS_3

Sinar mentari merekah serupa jarum-jarum yang menusuk melewati celah-celah pepohonan. Mobil van Kardiman Setil melaju, tak pelan, tak laju. Marsudi membuka mata, menarik nafas perlahan, seperti menikmati hidup yang baru. Dia ‘kan baru saja bangkit dari kematian. Affandi dan Kardiman Setil selalu merasa penasaran bagaimana rasanya hidup kembali. Marsudi hanya mengatakan bahwa sama saja seperti bangun dari tidur, hanya saja ada sedikit bagian yang terlupa, tapi mungkin tidak terlalu penting.


Affandi-lah sangat ingin bisa menguasai ilmu kanuragan seperti sang abang angkatnya, meski ia tahu bahwa itu tak mungkin. Betapa sulitnya menguasai ilmu semacam rawarontek, pancasona, brajamusti atau lainnya. Itu sebabnya ia begitu mengidolakan Marsudi dan mencoba belajar sebisanya dari segala tindak tanduk, termasuk sepak terjangnya di dalam dunia gelap premanisme dan kriminalitas ini.


Kardiman Setil, lebih percaya pada senjata api dan cara membunuh yang cepat dan efisien. Rasa hormat dan segannya terhadap sang saudara tua tidak bisa dipungkiri, tapi ia punya tujuan dan keinginan sendiri. Ia hanya ingin memenuhi segala nafsu hedonisme duniawi dalam bentuk kekayaan, kekuasaan dan perempuan tentunya. Selama ini ia bisa memenuhinya, bersama Marsudi dan Affandi. Ia tak perlu meminta lebih.


"Mar, kita berhenti sebentar di desa kedua itu. Kita perlu mencari warung kopi atau apa saja untuk istirahat sejenak," ujar Kardiman Setil ketika melihat memang sudah banyak bangunan rumah yang nampak.


Sepertinya mereka sudah mulai memasuki sebuah desa. Menurut perkiraan, ini adalah desaa kedua untuk mencapai desa Obong. Berarti masih ada satu desa lagi untuk dilewati. Perlu tenaga untuk perjalanan yang masih panjang dan penuh tantangan ini. Ia belum tidur, begitu juga Affandi. Mungkin mereka memang terbiasa dalam hal jam tidur yang tidak lama, tapi ini adalah kasus yang sama sekali berbeda.


Marsudi mengiyakan, sadar bahwa kedua saudara angkatnya perlu waktu untuk istirahat sejenak. Ia sendiri perlu mencari tempat yang sedikit tenang untuk kembali mencari tahu dan merasakan 'panggilan' dari desa Obong.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soemantri Soekrasana terlempar di semak-semak. Ia bergulingan sebelum berhenti di dekat sebuah pohon kecil. Wong Ayu turun perlahan dari udara, mengambang. Saat itu matahari sudah muncul sehingga Soemantri Soekrasana dapat melihat wajah perempuan itu dengan jelas, raut wajah yang cantik seperti bukan berasal dari bumi.


"Jangan bicara, jangan bertanya. Aku membawa kau ke desa Pancasona ini untuk mengumpulkan kekuatan dan rencana. Jelas tadi kita tak akan bisa menang melawan iblis betina itu. Aku akan jelaskan semua kepadamu nanti. Kita harus mencari kedai makan atau kopi untuk beristirahat dan membahas semuanya. Perempuan siluman itu juga sedang mengumpulkan kekuatan. Sementara ia masih terlalu lemah untuk bisa mengejar kita. Semoga orang-orang di desa Kaliabang tidak menjadi korban mahluk itu, toh kita saat ini tak akan bisa melakukan apa-apa," ujar Wong Ayu panjang lebar. Soemantri Soekrasana masih terduduk di rerumputan dengan melongo. Ia baru saja dibawa perempuan misterius ini menghilang dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat dan cara yang ajaib, teleportasi.

__ADS_1


Perutnya bergejolak, kepalanya pening. Ia memerlukan beberapa detik untuk mencerna informasi yang diberikan padanya dengan cepat.


Wong Ayu sendiri tanpa menunjukkan emosi apapun dan cenderung tidak mengacuhkan lelaki muda yang ia 'selamatkan' dengan membawanya menghilang itu. Ia berjalan ke balik sebuah pohon, mengambil bungkusan berupa tas, kemudian melepas jubah panjangnya. Ia mengenakan baju kaus berkerah V yang berbelahan cukup rendah, membuat Soemantri Soekrasana semakin pusing.


Bagian bawah tubuhnya ternyata Wong Ayu mengenakan celana jogger berwarna krem yang sangat modis. Di dalam tas yang ia ambil di balik sebuah pohon, ia mengambil sepasang sepatu kanvas putih. Tas besar itu - yang ternyata adalah sebuah ransel - pula digunakannya untuk memasukkan jubah dan kelawangnya.


Soemantri Soekrasana tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Perempuan ini semalam adalah sosok yang sama namun sangat mengerikan dan sakti. Sekarang ia adalah seorang perempuan cantik dan modis dengan ransel di punggungnya, seperti seorang turis saja.


Sosok itu berjalan pergi meninggalkan Soemantri Soekrasana dengan santai. Rambut hitam ikalnya bergoyang indah. Soemantri Soekrasana bergegas bangun, menepuki celana dan bajunya, kemudian mengejar sang perempuan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soemantri Soekrasana terkejut setengah mampus. Nama itu terlalu akrab dengannya. Bahkan sudah menjadi bagian dari misinya yang dikabarkan di salam mimpi-mimpinya. Ia seakan dikembalikan pada ingatan bahwa anak laki-laki yang terbakar tubuhnya juga hadir di peristiwa semalam di desa Kaliabang. Hantu anak laki-laki itulah yang berkali-kali mengatakan nama Wong Ayu di dalam mimpinya.


Namun ia masih mencoba memakai untaian misteri ini. Jadi ia memutuskan untuk tak mengatakan apa-apa dan berpura-pura belum pernah mendengar nama itu. Lagipula ia masih tak habis pikir dengan kemunculan sosok Wong Ayu tiba-tiba dengan kekuatannya yang mengerikan, sikapnya yang misterius dan acuh tak acuh, serta kecantikannya yang agak susah dijelaskan. Baru saja semalam yang lalu, perempuan ini dapat melayang dan bergerak dengan cepat, berilmu tinggi, menyemburkan api bahkan bisa berteleportasi, namun sekarang ia sudah benar-benar menjadi orang yang berbeda.


Rambut ikal, panjang dan gelapnya jatuh dengan indah di bahu. Soemantri Soekrasana menaksir Wong Ayu ada di usia akhir dua puluhan tahun, atau awal tiga puluh, dilihat dari bahasa tubuh dan pembawaannya dalam berbicara yang sudah matang dan dewasa. Namun, ciri-ciri fisiknya menunjukkan yang sebaliknya. Lengannya panjang dan ramping. Sepasang dadanya padat dan pinggulnya melengkung sempurna bak kelokan sungai Kapuas di Kalimantan.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa yang sedang ia pikirkan.


Wong Ayu memperhatikan gerak-geriknya, "Aku tahu kau punya banyak pertanyaan. Tapi kita bisa mulai dengan namamu."


"Soemantri Soekrasana," jawabnya pendek.


"Lalu, bagaimana orang sepertimu bisa memegang Mpu Gandring? Aku dengar keris itu sudah lama hilang. Konon katanya dilempar ke kawah Gunung Kelud," lanjut Wong Ayu.


Soemantri Soekrasana mengangkat bahu, "Itu yang orang tahu dari berita si tabloid-tabloid magis atau internet."


"Jadi, memang benar keris itu adalah keris sakti yang dibuat Mpu Gandring?"


"Lho, kok malah aku yang ditanya-tanya? Bukannya seharusnya mbak yang mulai menceritakan bagaimana tiba-tiba muncul di desa Kaliabang entah dari mana," jawab Soemantri Soekrasana.


Wong Ayu tersenyum mendengar sang pemuda menyebutnya dengan 'mbak.' Ia sama sekali tidak keberatan, tapi sudah lama rasanya tidak berbicara secara normal dengan orang asing.


"Baik, baik. Yang bisa aku ceritakan adalah bahwa sosok yang muncul di Kaliabang bukan ratu Calonarang seperti yang kau duga. Ia adalah semacam entitas representasi amarah, benci, kejahatan dan nafsu sang ratu yang sekarang berada di dimensi lain dunia kita. Ah, kau pasti tahu maksudku."

__ADS_1


Soemantri Soekrasana memandangi Wong Ayu tanpa bereaksi. Melihat ini Wong Ayu melanjutkan ceritanya, "Kau pasti juga terpancing oleh suar yang membawamu ke Kaliabang, bukan? Aku juga seperti itu. Tapi aku tak tahu panggilan macam apa yang memancingmu kesana. Yang jelas, kasus banyak kematian warga di tiga desa selain desa Obong dengan ciri-ciri seperti terkena wabah memang adalah akibat si wanita leak itu. Aku memang memiliki misi untuk menghancurkan kekuatan itu dan mengembalikannya ke neraka," ujar Wong Ayu dengan sedikit menggebu.


__ADS_2