
Yakobus Yakob berdiri di depan cermin tanpa busana. Darah dan lumpur mengalir luntur dari tubuhnya, terus dibawa air mengalir keluar melalui lubang pembuangan. Sekarang ia melihat tubuh ramping berotot liat itu tertutupi rajah dengan beragam motif saling timpa, menciptakan semacam gradasi warna hitam gelap, hitam tipis dan abu-abu.
Hanya pangkal paha, paha bagian dalam, mata, hidung, mulut, beberapa titik di leher dan tengkuknya, telapak tangan dan telapak kaki yang tak tertupi rajah tersebut.
Yakobus Yakob mendorong keluar bilah pisau cutter kecil selebar jari tengahnya. Ketika potongan tajam itu muncul di ruas keduanya, ia langsung menusukkannya ke dadanya sendiri yang ditutupi rajah tersebut.
Dua ruas mata cutter patah.
Ia tersenyum. Kemudian menutup mata. Perlahan semua rajah di tubuhnya menghilang.
Yakobus Yakob mendorong pisau mata pisau cutter sepanjang satu ruas lagi dan menggoreskannya ke dadanya yang sudah tak bertato tersebut.
Rasa sakit menyerang. Ujung cutter yang tajam menggores kulit dengn mudah.
Yakobus Yakob meringis melihat darah segar mengalir keluar dari luka sayatan tersebut.
Ia kembali menutup mata.
Luka goresan memanjang di dadanya menutup sempurna bagai air yang dibelah dan bersatu kembali.
Tak lama, tubuhnya kembali tertutupi rajah yang membuatnya bagai mengenakan busana.
Ia mainkan mata pisau cutter naik turun beberapa kali sebelum ia memutuskan untuk mendorong dua ruas pisau cutter, menekan ujung pisau tajam itu ke paha luarnya yang bertato gaib.
Mata pisau itu membengkok dan patah satu ruas.
Ia memainkan kembali mata pisau tersebut, kemudian menusukkan mata pisau cutter yang tipis itu ke paha dalam dekat bagian kelelakiannya yang tak terlindungi tato.
__ADS_1
Pisau melesak masuk sepanjang satu setengah ruas ke dalam paha Yakobus Yakob.
Ia berteriak. Darah meloncat keluar dari balik kulitnya melewati sisi-sisi bilah pisau cutter.
Seketika itu juga Yakobus Yakob mencabut pisau dan membuangnya ke lantai kamar mandi rumahnya.
Di cermin panjang yang dapat memantulkan refleksi seluruh tubuhnya, ia melihat luka di paha bagian dalamnya tak menutup dan darah terus mengalir keluar, menggelegak.
Yakobus Yakob tertawa keras. Ia sudah menduganya. Lain kali ia akan mencari cara agar bagian tubuhnya yang tak tertutupi rajah itu dapat tersembunyi dan terlindungi dari senjata tajam atau mimis timah, karena ternyata di situlah letak kelemahannya.
Yakobus Yakob menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, tidak lagi mengacuhkan darah yang merembes keluar dari lukanya.
Tubuhnya melayang. Ia bisa merasakan kedua kakinya di atas lantai ubin kamar mandi. Air dan darah menetes dari tubuh dan pahanya melalui ujung-ujung jari kakinya, jatuh ke lantai.
Ia terus melayang.
Tiba-tiba tubuh Yakobus Yakob yang penuh tato itu mengabur. Partikel-partikelnya memudar. Ia menembus langit-langit kamar mandi, menembus atap dan terus terbang melayang sampai mengambang di atas semua bangunan yang ada di sekelilingnya.
Alat kelelakiannya menggantung bebas tanpa penutup, mengkerut kecil bagai anak burung. Tapi ia tak peduli sama sekali. Kegagahannya bukan pada alat kejantanannya itu sekarang, akan tetapi pada keberadaannya di atas puncak rantai makanan. Ia adalah singa bagi sesamanya.
Yakobus Yakob membuka mata. Ada bara api di bolanya.
Ia melihat sebuah dunia yang sangat berbeda. Segala indranya berfungsi seratus kali lipat.
Ia melihat lima sosok pocong dengan kain berbalut tanah berdiri kaku di sudut pekuburan umum di bawah sana. Wajah mereka setengah busuk, menampilkan tulang tengkorak yang menyembul dari kulit yang telah meleleh.
Ia juga melihat sesosok perempuan yang mati bunuh diri tiga tahun lalu masih bergantung di teras lantai tiga sebuah bangunan indekos. Sepasang mata perempuan itu membelalak dan lidah terjulur. Kulit lehernya terkelupas dengan tali gantungan yang melesak masuk ke dalamnya dan berhenti hanya ketika menyentuh tulang leher.
__ADS_1
Tubuh Yakobus Yakob kemudian kembali mengabur dan pecah menjadi bagian-bagian kecil yang terbang menghilang seakan terbawa angin malam.
Yakobus Yakob sedang menikmati kekuatan, kesaktian dan kekuasaan yang hanya secuil dari fragmen entitas Pangkalima yang dibentuk semesta sebagai medium keinginan, nafsu, insting bertahan hidup dan angkara murka manusia.
Ia melesat ke arah Utara bukan dalam bentuk tubuh utuh, namun potongan-potongan partikel yang mampu menembus pepohonan yang lebar dan bangunan yang padat tanpa tertahan atau terbentur. Ia nyaris kedewaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pramudya menggaruk-garuk kepalanya yang hampir tanpa rambut itu. Ia juga kemudian menggaruk-garuk jambang dan jenggotnya yang secara ironis sangat lebat dan berkebalikan dengan keadaan rambut di atas kepalanya. Ia sendiri bahkan mengakui bahwa ia sengaja menumbuhlebatkan jenggot, kumis dan jambangnya itu sebagai kompensasi atas ketidakhhadiran rambut di kepalanya.
Wong Ayu berdiri di depannya dengan pose gaya 'bernego yang tak dapat di tawar.'
"Ayolah pak ketua. Ijinkan aku pergi dua tiga minggu. Pak ketua ‘kan paham bagaimana cara kerjaku," ujar Wong Ayu.
"Kau gila apa? Dua tiga minggu sudah tidak ada bedanya dengan sebulan. Sudah lebih dari dua minggu ini kau menghilang. Ketika terdengar kabarmu, kau malah mengirimkan artikel yang melompat-lompat. Kau belum benar-benar menyelesaikan tulisan jurnalismemu mengenai kelompok preman yang bergaya mafia itu, bukan?" ujar orang yang dipanggil Pak Ketua oleh Wong Ayu tersebut.
"Bukannya aku sudah jelaskan dari awal, Pak ketua? Aku harus ke Kalimantan untuk menyelesaikan tulisanku ini. Sebuah proyek raksasa, Pak ketua! Lagipula, aku bukan reporter. Aku menulis analisis jurnalistik, bukan sekadar budak pencari berita," lanjut Wong Ayu masih mencoba meyakinkan bos berita online dimana ia bekerja.
"Oh .. Oh ... Oh, jadi kau mulai percaya diri membedakan dirimu dengan kuli tinta yang lain, yang 'hanya' pencari berita?"
Wong Ayu mengangguk. "Pak ketua tahu kualitasku. Pak ketua tahu disiplinku. Tulisan mana yang pernah terlambat aku selesaikan? Tanggung jawab mana yang tak pernah aku laksanakan?" tantang Wong Ayu
Pramudya memegang kepalanya yang sebentar lagi plontos sempurna itu dengan kedua tangannya. "Sialan kau Wong Ayu. Aku benar-benar ingin membuat kepala sombongmu itu bisa ditundukkan.," ujar Pramudya. Ia meletakkan tangan di atas meja dan memandang Wong Ayu lekat-lekat. "Lima belas hari. Dua minggu lebih sehari. Itu waktu yang bisa aku berikan, tidak lebih! Setelah itu kau kembali ke kantor ini menghadapku dengan laporan dan tulisan lengkap. Selesai!"
Wong Ayu hampir berteriak girang. Ia mendekat dan mengulurkan tangannya untuk berjabat. Pramudya meraihnya dengan enggan, yang diraoh Wong Ayu dan diremasnya erat serta mantap. Wong Ayu mengangguk, sedikit tersenyum kemudian bergegas keluar, "Terimakasih Pak ketua," katanya sembari ngeloyor pergi setengah berlari.
"Beri aku laporan tiap tiga hari!" kalimat terakhir Pramudya masih sempat tertangkap Wong Ayu sebelum tubuh moleknya menghilang dari ruangan pimpinan redaksi tersebut.
__ADS_1
Pramudya memandang sisa-sisa bayangan salah satu penulis surat kabar online terbaiknya itu sembari tersenyum tipis dan menggeleng pelan.