
Ternyata Pak Jerry mengambil keputusan yang tepat, karena tak lama kabut menutupi daerah itu semakin pekat dalam waktu yang cepat tanpa warga perumahan itu sadari. Kelak banyak dari mereka akan terjebak di dalam kabut yang perlahan turun dari langit bersama segala hawa jahat nan kuat.
Proses penguasaan sudah dimulai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pak Agus ketika pulang ke rumah langsung bercerita kepada istrinya mengenai betapa konyol penjelasan Pak Jerry yang datang dengan tiba-tiba ke kompleks perumahan mereka itu. Pak Agus bercerita bahwa Pak Jerry pulang ke kompleks mengebut dengan sedannya yang compang-camping: pintu samping dan belakang belum tertutup, bahkan kaki Pak Norman masih seperempat tertinggal di luar mobil.
Ini adalah tindakan yang membahayakan semua orang di dalam mobil itu. Apalagi di dalam, para penumpang yang berangkat bersama Pak Jerry sebelumnya, datang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Parahnya lagi, Pak Jerry malah membual mengatakan bahwa mereka melihat hantu. Tak lama, Pak Jerry sendiri mengaku bahwa mereka bertemu para pemuda Kampung Pendekar yang sudah dipastikan adalah para preman.
"Pak Jerry harusnya bisa jujur saja, mengatakan bahwa mereka habis dipalak atau dicegat orang-orang dari Kampung Pendekar. Mungkin karena Pak Jerry panik, maka terjadi kejadian yang tak diinginkan sehingga masalah lebih runyam. Pak Norman dan Setya bisa saja pingsan karena digasak para preman. Begitu ‘kan lebih baik, dibanding berbohong agar tak disalahkan warga karena bersikap pengecut. Segala hantu dibawa-bawa," jelas Pak Agus pada istrinya.
Namun, seperti penawaran solusi yang ia berikan sebelumnya, beberapa warga memutuskan standby menjaga kompleks terlepas dari apa yang sesungguhnya terhadi. Pak Agus juga segera meraih telpon untuk menghubungi Kepolisian.
Tak ada sinyal telepon maupun internet sama sekali. Nol!
Kabut yang tebal ini mungkin penyebabnya, pikir Pak Agus. Mungkin ada masalah cuaca.
Istri Pak Agus tak terlalu ambil pusing masalah ini. Ia kembali ke dapur untuk memasak sarapan.
Dapur di rumah Pak Agus adalah salah satu wilayah favorit istrinya, sekaligus daerah kekuasaannya di dalam rumah. Dapur itu luas, bahkan mendekati luasnya ruang tamu. Istri Pak Agus senang menghabiskan waktu di dapur untuk mengurusi perihal masak-memasak bagi anggota keluarga. Kadang, ia bisa seharian disana untuk mempersiapkan makanan.
Dulu, duabelas tahun yang lalu, dapur tempat Bu Agus memasak dan mempersiapkan sarapan adalah sebuah kebun yang lama tak ditanami. Tepat di tengah-tengah dapur dahulu ada sebuah pohon besar tumbuh berdiri di sana.
Dulu, duabelas tahun yang lalu, seseorang menyimpul tali tambang di antara cabang-cabang kokohnya. Tak lama orang itu mengikatkan tali itu ke lehernya dan menyentak injakan kakinya.
__ADS_1
Orang itu tewas bunuh diri karena terlilit hutang untuk membayar kebunnya yang tak berhasil menumbuhkan apa-apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sinyal magis merayap cepat melalui kabut, membuka mata batin setiap warga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bu Agus baru saja ke dapur ketika dilihatnya ada sesosok tubuh tergantung di langit-langit dapurnya. Sosok itu berkolor bercawat dan bertelanjang dada. Kakinya tak berkasut, hitam kejang-kejang menggelepar tak menggapai lantai. Kedua matanya yang melotot memandang tajam Bu Agus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pak Agus membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia tak berniat kembali terlelap, sekadar baring saja.
Belum sampai satu menit ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, terdengar teriakan histeris sang istri.
Pak Agus berhenti ketika melihat sang istri sudah terkapar di lantai dapur tak sadarkan diri.
Namun sebelum kekagetan dan kebingungannya hilang, Pak Agus merasakan ada tetesan cairan dari langit-langit ke kepalanya.
Ia mendongak ke atas dan melihat seseorang tergantung di sana. Darah keluar dari mulut dan hidung sosok itu menetesi kepala Pak Agus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi-pagi, mentari menyembul kikuk di balik kabut tebal yang aneh dan tak wajar ini. Orang bilang hantu tak muncul di kala mentari bersinar. Lalu, bagaimana dengan istri Pak RT yang baru saja melihat mendiang ibunda, dengan daster andalannya, duduk di sofa, menonton televisi di pagi ini? Kegiatan yang ia selalu lakukan tiap hari sewaktu ia masih hidup.
Istri Pak RT melihat bagian belakang kepala dan punggung sang ibunda sewaktu ia baru saja keluar dari kamar tidurnya. Ia tak mungkin salah. Ibundanya memang telah tiada lebih dari setahun yang lalu, namun sekali lihat pun ia tahu bahwa sosok yang muncul tiba-tiba itu adalah orang yang melahirkannya dahulu.
__ADS_1
Istri Pak RT tak bisa berkata apa-apa. Keringat dingin mengalir keluar sebesar beras setiap bulirnya.
Tapi tetap saja ia mendekat ke arah sosok yang duduk di depan televisi yang tidak dinyalakan tersebut.
Dari samping, istri Pak RT tak benar-benar dapat melihat wajah sang ibunda meski ia merasakan ciri khas hawa dingin ibunya dan perasaan serta pikiran yang kerap diucapkan dengan lugas.
"Sudah masak sarapan buat suami kamu, Dinda?" ujar sosok ibunya itu masih tanpa menengok ke arahnya.
Apakah ini semacam rekaman masa lalu kehidupan sang ibu sebelum meninggal? Karena memang ini pertanyaan yang kerap diutarakan sang ibu sewaktu masih hidup. Setelah wafatnya sang suami, ayah Adinda, istri Pak RT, ibundanya tinggal di rumah ini bersama suami istri tersebut sampai wafatnya.
Istri Pak RT yang bernama Adinda itu pun tak bisa benar-benar menjawabnya. Ia gamang, hati dan jiwanya seperti terapung-apung di antara masa lalu dan kenyataan. Ia tak yakin ini nyata adanya.
Dengan segenap keberanian diantara kebingungannya, Adinda tetap berucap, "Mengapa ibu disini?"
Sang sosok masih menatap layar televisi tanpa gambar itu. Adinda merasa sepertinya sosok itu tersenyum samar, lalu menjawab, "Kamu sepertinya tidak terlalu senang ibu ada di rumah kamu dari dulu."
"Bukan itu maksud Dinda, Bu. Tapi, ibu ‘kan sudah ...," Adinda ragu dan gamam.
"Ibu tak kemana-mana, Dinda. Walau Ibu mengerti ini adalah rumah kamu dan suami kamu, tapi sofa ini milik Ibu," ucap sang sosok.
Adinda ingat benar bahwa memang sofa lama itu dibawa mendiang ibunya dari rumahnya sebelumnya. Bisa dikatakan sofa itu tak pernah lepas dari sang ibu. Kegemarannya menonton acara kuis dan komedi di televisi selalu dilakukan di atas sofa tersebut, terutama di masa-masa terakhir kehidupannya dimana sang ibu mulai kesulitan berdiri dan memiliki kondisi tubuh yang lemah.
Adinda benar-benar kehilangan kata-kata. Ia mencoba membalas kata-kata sosok surealis itu namun tak yakin harus menjawab apa.
Saat itulah ia melihat sosok dalam bentuk ibunya itu bangkit berdiri. Tubuhnya begitu jangkung hingga menyentuh langit-langit.
Adinda membuka mulutnya lebar-lebar dalam rupa teror. Air matanya mengalir deras ketika sosok yang menjulang tinggi itu berputar memandangnya. "Sudah Ibu katakan, Dinda. Ini sofa Ibu!" seru keras sosok yang tak memiliki wajah.
__ADS_1