Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Limapuluh Delapan


__ADS_3

Nurdin masih berteriak-teriak meminta dan memerintah semua orang keluar dari rumah mereka. Kabut mendadak memekat, langit bagai mendung karena matahari tertahan jaring asap putih keperakan itu.


Beberapa orang warga mulai kembali berani memunculkan wajah mereka walau ragu-ragu. Beberapa lagi keluar dengan susah payah, nafas pendek-pendek dan tercekat. Entah pocong, entah sundel bolong, entah kuntilanak, entah siluman ular yang barusan mereka lihat di dalam rumah, membuat jantung mereka serasa ingin mencelat keluar dari tempatnya.


Nurdin menengok ke belakang, melihat empat pemuda mencelat menyerang sosok gelap penuh rajah di badannya itu. Ia seperti melihat adegan film laga, bedanya ini nyata adanya di depan kedua mata telanjangnya. Dan yang membuatnya berbeda dengan film-film aksi, perkelahian mereka terlihat sungguh-sungguh, untuk membunuh atau dibunuh.


Kelebatan demi kelebatan layaknya percikan sinar dan petir saling silang dibalik kabut.


Kadang Nurdin dapat melihat parang dibabatkan ke tubuh sang sosok misterius itu. Parang tersebut memercikkan api ketika ditangkis dengan tangan kebal sekeras baja itu sendiri. Namun, kadang, yang ia lihat hanya percikan api dan kilatan cahaya saja, mungkin karena begitu cepatnya gerakan mereka.


Sampai pandangan Nurdin menumbuk tatapan Pak Rudi Suwarno dan Juwanto. Keduanya tersenyum mengerikan.


"Sialan! Cepat semuanya, cepat pergi ...!" seru Nurdin.


Nurdin paham, kedua mantan rekannya itu kini mengincar para warga. Pekerjaan mereka akan lebih mudah karena para penghuni sudah hampir kehilangan tenaga, nyali, kewarasan dan akal sehat karena bagitu takutnya dengan beragam jenis mahluk halus yang mendadak berseliweran. Nurdin sendiri sudah menjadi korban penglihatan tersebut, mahluk jangkung melangkahi bangunan.


Sesungguhnya, Pak Rudi Suwarno dan Juwanto tak bohong bahwa mereka diperlihatkan keindahan yang menggetarkan jiwa mereka ketika berada di dalam alam kematian. Mereka belum pernah menyaksikan warna-warna yang rasanya mustahil ada di dunia. Setiap sudut yang mereka pantau, warna membias, melukis semesta, menyebar ke segala arah. Mereka dimanja, dininabobokan, dan dibuat nyaman.


Jauh lebih mengesankan dibanding efek narkoba.


Akibatnya mereka tak kuasa menolak tipuan iblis tersebut. Jiwa mereka tertahan di alam pengecoh itu sehingga akibat rayuan genit iblis yang memesona. Jiwa mereka bersedia dikembalikan ke dalam tubuh boneka yang melawan kehendak bumi dan alam sehingga bisa dikatakan tak terkalahkan tersebut untuk memanen lebih banyak jiwa, menipu mereka dengan godaan perdaya kegelapan.


Jangankan manusia seperti mereka, bahkan para mahluk haluspun tak kuasa untuk melawan, sehingga diperbudak kekuatan tak dikenal yang menyala berpijar berkelap-kelip ramai dari pusatnya di Kampung Pendekar.


Kini, Pak Rudi Suwarno dan Juwanto berlari ke arah Nurdin dan para warga yang bergerak terseok-seok. Tubuh mereka serasa kembali muda, utuh, prima, sempurna, dengan tambahan kekuatan yang seperti tak habis-habis. Mudah sekali membawa tubuh ini, pikir Pak Rudi Suwarno dan Juwanto.

__ADS_1


Mereka baru saja bangkit dari kematian dan secara sadar ikut 'berjuang' bersama rekan-rekan kebangkitan. Tak lama tadi, mereka melawan satu sosok tokoh sakti yang berhasil membunuh keempat pemuda Kampung Pendekar kedua kalinya dengan sekali hajar. Walau mereka tahu bahwa mereka tak bisa kembali mati, namun, bantuan lebih banyak pasukan tempur akan menjadi lebih baik.


Maka, mereka memburu siapa saja untuk dibunuh dan dipaksa merasakan hal yang sama dengan mereka.


Juwanto yang lebih cepat sampai mencengkram bahu salah seorang warga yang berjalan tertatih-tatih, kemudian akan segera melemparkannya ke arah pagar berduri di depan sebuah rumah mewah.


Parulian tiba-tiba berada di belakang Juwanto yang hendak melemparkan warga yang bahunya tercengkram erat itu. Parulian menghajar tengkung Juwanto dengan sebatang linggis besi.


Juwanto terjerembab, warga yang ia cengkram lepas dari tangannya. Sayang, nasib Parulian yang bertujuan menolong itu tidak terlalu baik. Lengannya langsung dipatahkan oleh Pak Rudi Suwarno yang muncul kemudian. Teriakan pilu Parulian tak tertahankan lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yakobus Yakob terpukul mundur membobol dinding sebuah rumah bercat merah bata. Keempat pemuda seperti tak memberi ampun dan kesempatan. Luka mereka akibat disobek lengan Yakobus Yakob atau tulang-tulang yang dipatahkan, kembali ke bentuk awal dengan begitu cepat.


Mendadak kelebat bayangan berwarna putih muncul di balik keempat pemuda yang siap kembali membacoki Yakobus Yakob.


Sang Maung kemudian mencabik-cabik kedua tubuh itu.


Sisanya yang dua menjadi terkejut dengan kemunculan sosok siluman itu, diserang Yakobus Yakob yang kembali memecahkan kepala keduanya.


Ada sosok lain lagi, pemuda, yang duduk di balik punggung berbulu putih kasar si Maung, Soemantri Soekrasana.


Ia melompat turun.


"Kesaktian mereka melebihi rawarontek dan pancasona. Saat ini kita bisa mencegah mereka sejenak, tapi ketika tubuh mereka utuh kembali, mereka akan semakin pintar, cepat dan sakti. Lebih baik kita bantu warga. Ada dua orang security yang memburu mereka. Aku akan mencoba mencari kunci kelemahan mereka," ujar Soemantri Soekrasana kepada Yakobus Yakob dengan santai.

__ADS_1


"Maung, kita ke sana," ujar Soemantri Soekrasana menunjuk ke arah Nurdin dan beberapa warga yang mencoba mencegah Pak Rudi Suwarno dan Juwanto dengan senjata seadanya: pisau atau parang, pentungan kayu dan linggis.


Maung menggeram kemudian melompat. Soemantri Soekrasana dengan gesit meraih punggung dan mengepit kakinya di tubuh Maung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maung kembali membenamkan taringnya di tubuh lawannya, kali ini Pak Rudi Suwarno. Dengan sekali sentak, tubuh Pak Rudi Suwarno terbelah dua, sobek tepat di tengah.


Juwanto meraung, tak peduli di depannya ada mahluk jadi-jadian bertubuh besar dan ganas. Ia bahkan membuat dirinya lebih ganas dengan mencakari wajah Maung, mencari-cari matanya untuk membenamkan kesepuluh jarinya dan mencongkel keluar bola mata jadi-jadian itu.


Maung mencakar punggung Juwanto. Mengangkat tubuh itu ke udara dan menghempaskannya ke jalan beraspal. Tubuh Juwanto luluh lantak berkeping-keping bagai air dalam balon yang pecah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Parulian diseret menjauh oleh Nurdin, dibantu warga lain yang mencoba sekuat tenaga untuk berani. Menyaksikan kejutan demi kejutan bukanlah hal yang wajar bagi mereka.


Tadi mereka melihat beragam sosok hantu berkeliaran serta orang mati kembali bangkit, kini siluman harimau putih muncul entah dari mana.


Sebuah hari yang luar biasa aneh nan mengerikan bagi para warga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soemantri Soekrasana mengusir sosok sundel bolong yang berkeliaran dan tengkurap di samping sosok tubuh tak sadarkan diri; seorang laki-laki yang darah dari mulutnya menempel di wajahnya sendiri.


Ia merapal mantra dan mengancam sang sosok hantu perempuan dengan punggung berlubang itu. Sang sundel bolong akhirnya merangkak mundur dan hilang dari pandangan.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana kembali merapal mantra dengan khusuk, "Sang ireng jeneng muksa pangreksan, sang ening meneng jati rasane, lakune ora katon, pangrasane manusia."


__ADS_2