Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

Sebelumnya Nyi Roro Kidul, yang juga dikenal dengan nama Kandita, yang selalu menjemput kematian dan kebangkitan Sarti. Kadang ia datang dalam rupa balutan busana yang memeriahkan cahaya emas dan hijau tetapi tetap berwajah seorang putri nan cantik.


"Ampun, Kanjeng Ratu. Hamba tidak mengenali Kanjeng Ratu dengan segera. Mungkin karena keadaan hamba yang sedang sekarat seperti ini sehingga tidak mampu menjura, menghormat dan mengenal Kanjeng Ratu dengan baik," jawab Sarti sekuatnya.


Sang Ratu pemimpin laut Selatan ini tersenyum.


"Ah, kau ini, Sarti. Kami ‘kan memang hanya datang ketika kau di ambang kematian dan kebangkitan. Tak perlu berlagak sungkan seperti itu," ujar sang Ratu masih dengan gaya bicaranya yang tenang namun penuh wibawa.


Memang banyak orang salah sangka dengan menyamakan figur Nyi Roro Kidul dan Kanjeng Ratu Kidul sebagai satu tokoh. Padahal, Kanjeng Ratu Kidul telah berumur ribuan tahun menjaga Samudra Hindia di bawah kekuasaannya dan menjadi kekuatan penyeimbang gaib di pulau Jawa bahkan Nusantara.


Sedangkan Nyi Roro Kidul adalah seorang Putri dari kerajaan Sunda yang memiliki jalan hidup mengenaskan, dibuang keluarga dan kerajaannya sendiri sehingga dijadikan pengabdi Keraton Samudra milik Kanjeng Ratu Kidul. Praktis Nyi Roro Kidul adalah bawahan setia Kanjeng Ratu Kidul.


Sampai sekarang Sarti tidak pernah tahu mengapa ia diberikan jalan ini oleh Keraton Laut Selatan, dan apa tujuan utamanya. Ia juga tak paham ketika sesekali Nyi Blorong dalam rupa mahluk setengah manusia setengah ular datang padanya, bukannya Nyi Roro Kidul atau Kanjeng Ratu Kidul sendiri.


Banyak orang, termasuk dirinya, masih belum bisa mengerti apakah Nyi Blorong dan Nyi Roro Kidul adalah orang yang sama tetapi dalam pengejawantahan yang berbeda. Para penganut ilmu kebatinan juga punya pendapat yang berbeda. Ada yang mengatakan bahwa Nyi Roro Kidul dan Nyi Blorong adalah entitas yang sama, mengabdi pada Kanjeng Ratu Kidul sebagai 'humas' yang berhubungan langsung dengan manusia, termasuk memberikan pesan, 'hadiah' atau menghukum dengan memberikan pagebluk bila dirasa tindakan manusia sudah melanggar keseimbangan alam.


Di sisi lain, banyak yang mengatakan bahwa Nyi Blorong adalah sosok berbeda walau masih sama-sama bawahan setia Kanjeng Ratu Kidul. Ia memiliki tugas berbeda, Panglima terkuat Kerajaan Laut Selatan yang bertugas menyesatkan manusia dengan godaan pesugihan atau ilmu-ilmu lain yang berhubungan dengan kekuasaan sehingga manusia dapat menjadi budaknya selama-lamanya.


Kepala Sarti berdenyut sakit. Sudah saatnya ia tewas dan entah kapan lagi akan bangkit. Jadi, sudah selesaikah tugasnya kali ini?


"Belum, Sarti. Masih banyak yang harus kau lakukan malam ini. Belum saatnya kau mati. Jadi, bangunlah dan hadapi takdirmu," Kanjeng Ratu Kidul tersenyum, membaca pikiran Sarti.

__ADS_1


Di belakangnya berdiri puluhan dayang yang kesemuanya berbusana hijau. Mereka mendekati sang Ratu kemudian menyentuhnya. Tubuh sang Ratu mengambang di udara bersama para dayang kemudian perlahan mengabur dan hilang.


Anggalarang masih mencoba menutup luka tembakan di perut Sarti. ia tak benar-benar paham apa yang harus dilakukan. Ia terkejut ketika Sarti membuka kedua matanya dan darah di perutnya seketika berhenti mengalir keluar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tubuh Soemantri Soekrasana tertarik kesana kemari oleh kekuatan tak kasat mata. Rentetan tembakan tak berhasil menyentuh kulitnya padahal Soemantri Soekrasana sedang benar-benar kelelahan karena tenaganya terkuras oleh kekuatan keris Mpu Gandring.


Melihat hal ini Marsudi terkekeh. Ia mencelat tinggi tanpa menghiraukan tembakan dari anak-anak buahnya dan menghujamkan kedua kakinya ke arah Soemantri Soekrasana. Seperti diduga, Soemantri Soekrasana lolos satu jengkal dari serangan Marsudi ini, sedangkan ada lima tembakan bersarang di punggung Marsudi. Para polisi penembak segera menghentikan tembakan mereka, namun Marsudi tak menunjukkan rasa sakit sama sekali.


Marsudi mencelat lagi, menyerang Soemantri Soekrasana. Seperti yang sudah diprediksi Marsudi, Soemantri Soekrasana lolos lagi dari serangannya. Marsudi terkekeh dan kembali melontarkan dua tiga kali serangan yang selalu lolos. Namun Soemantri Soekrasana sepertinya dibawa Marsudi agar terpojok di sebuah bangunan perkantoran.


"Luar biasa. Lembu Sekilan!" ujar Marsudi puas.


Marsudi kemudian mengangkat tangannya dan memukulkan tinjunya. Sebuah energi tak kasat mata keluar dari tinjunya namun bukan ke arah Soemantri Soekrasana, melainkan ke arah tembok sebuah bangunan di belakangnya.


Bangunan itu hancur. Bongkahan tembok yang tebal serta genteng berjatuhan berdebum ke bumi menimpa Soemantri Soekrasana.


Ajian Lembu Sekilan sangat ampuh untuk menghindari musuh yang sengaja menyerang ke arah si pemilik aji ini, namun tidak akan berlaku ketika menghadapi kecelakaan atau sebuah serangan yang tidak langsung diarahkan kepadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bagai lintang kemukus, sosok itu terbang dengan kecepatan luar biasa dan turun menjejak tanah. Bumi bergetar. Air hujan yang jatuh berpantulan seakan kembali ditarik oleh langit.


Dua orang warga kembali tewas mengenaskan, tertembak beberapa kali di tubuh mereka. Karena kekuatan gaib sang iblis nampaknya sudah hilang, maka kedua warga yang baru saja tewas ini tetap menjadi mayat.


Sang sosok misterius yang datang dari angkasa ini terlihat geram menyaksikan keadaan yang berantakan dan memilukan tersebut. Rambut panjang tanggungnya basah, termasuk kumis dan jenggot tipis yang menghiasi wajah tegasnya. Ia mengenakan baju serba hitam; hoodie dengan penutup kepala yang terbuka di punggungnya, celana jins ketat yang robek di bagian lutut serta sepasang boot ringan yang terendam air yang mengalir di tanah beraspal.


"Gatotkaca!" seru salah satu anggota kepolisian keras.


Teriakan ini membuat anggota kepolisian yang lain segera awas. Awalnya mereka memang diperintahkan menembaki warga dan keempat anggota Catur Angkara. Namun ketika mendengar teriakan salah satu anggota mereka ini, entah mengapa ada semacam gelombang kesadaran yang membuat semua anggota kepolisian langsung menodongkan moncong senjata mereka ke sosok yang mereka kenal dan sebut sebagai Gatotkaca ini.


Sinar terang berpendaran dari senapan laras panjang kepolisian. Mimis timah meloncat melalui lubang laras senjata mereka mengejar mangsa bagai kumpulan serigala kelaparan.


Gatotkaca bergerak cepat bagai kilat. Menangkisi mimis timah panas yang berhamburan ke arahnya.


Dengan gamblang sebenarnya warga dapat melihat bahwa sosok ini memiliki ketahanan tubuh. Satu dua mimis timah panas berhasil menerobos masuk menyobek pakaiannya namun tak berhasil melukainya. Sang Gatotkaca berencana menepis sebanyak mungkin tembakan agar tak melukai warga.


Sekian detik diberondong mimis timah panas, Gatotkaca melesat menyerang. Ia menubruki para anggota kepolisian, menepis senapan mereka sehingga terlepas dari pegangan dan terlempar jauh.


Kadang sang figur manusia dengan kekuatan super ini membengkokkan senjata api musuh, kemudian menyepak kaki pemegangnya hingga retak atau patah dan membanting tubuh mereka bagai melempar setengah kilo gula pasir dalam kantung plastik dengan begitu mudahnya.


Ia meluncur terbang.

__ADS_1


Kemudian meluncur turun memukul, menendang dan melempar para polisi penyerangnya. Setiap orang yang diserang bisa dipastikan terluka parah.


Dua APV dinyalakan dan digeber menyerang Gatotkaca yang masih dihujani tembakan. Dua banteng besi itu meraung, sinar lampu sorotnya menerpa wajah Gatotkaca ketika ia membalikkan tubuhnya dan menghadapi dua pemburunya tersebut.


__ADS_2