
Mereka telah hadir disini.
Bandi merentangkan lengannya. Para mahluk halus berbentuk pocong berkain lusuh, kuntilanak dan sundel bolong berwajah pucat, siluman jelmaan binatang serta jin tak berbentuk mengambang mendekat ke tubuh Bandi. Sosok-sosok astral nan adikodrati tersebut merasuki tubuh sang preman berilmu hitam itu dan berusaha menarik sesuatu keluar dari dalam tubuhnya.
Bandi mengejang hebat. Bukan keringat, melainkan darah yang mengalir keluar dari pori-pori tubuhnya. Tak lama sobekan besar di dadanya menyembulkan sosok bulatan sebesar kepala bayi yang berusaha merangkak keluar. Benjolan itu membesar, membentuk kepala dengan rambut-rambut hitam panjang, kemudian tubuh utuhnya sungguh merayap keluar dari tubuh Bandi.
Para mahluk halus terkikik, tertawa histeris kemudian ikut keluar dari tubuh Bandi dan menghilang di balik untaian kabut.
Kini, tonjolan yang tertarik keluar itu telah membentuk satu sosok kurus berambut panjang yang dengan cepat merangkak ke atas dinding pagar makam kuno batu bata merah. Sepasang matanya putih seluruhnya. Namun, anehnya, ia sesungguhnya tak berwajah. Meskipun memeiliki mata, akan tetapi tak ada hidung, mulut atau bagian lain yang biasa dimiliki manusia. Jari-jarinya panjang dan meruncing di ujungnya serupa akar pepohonan. Sang sosok aneh dan menakutkan itu menelengkan kepala ke arah Bandi yang tubuhnya sudah kembali utuh, dan robekan di tubuhnya juga telah menutup sempurna.
Sosok mahluk bermata putih itu adalah manifestasi satu bagian dari ilmu Parang Irang.
Di sisi lain sang kerangka tulang belulang sekelam jelaga yang juga merupakan bagian sari ilmu Parang Irang, kini memudar perlahan menjadi asap dan masuk perlahan ke dalam tubuh Bandi melalui pori-pori kulitnya yang sejenak tadi mengalirkan darah keluar.
Sosok serupa kepala bayi yang awalnya berada di dalam tubuh Bandi sudah keluar, sedangkan tengkorak hitam malah masuk dan menjadi satu bagian dengan tubuhnya.
Kedua sosok berbeda dunia ini saling pandang. Sang manifestasi Parang Irang memainkan kepalanya. Rambutnya yang begitu panjang menjuntai ikut bergerak.
"Kita habisi bajingan-bajingan itu sekarang," seru Bandi kepada manifestasi Parang Irangnya.
__ADS_1
Setelah itu, Bandi melompat tinggi setengah terbang menuju ke arah Wong Ayu, Yakobus Yakob dan Soemantri Soekrasana yang sedang bertempur. Tak alam, sosok manifestasi Parang Irang menyusul Bandi dengan melompat tinggi bagai seekor katak beracun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sisa tim regu pasukan Kepolisian khusus mundur cepat dari medan pertempuran masuk ke dalam perkebunan kelapa sawit yang lebat.
Mereka menunduk merunduk dengan nafas berat bersembunyi di balik batang-batang pohon kelapa sawit. Tanah lapang di beberapa tempat membuat mereka merasa tak benar-benar terlindungi.
Sembilan orang jumlahnya. Nafas mereka tersendat-sendat, tak percaya apa yang mereka saksikan tadi. Sebuah pembantaian yang sama sekali tak masuk di akal bagaimanapun caranya mereka melogikakannya. Baru saja tadi mendadak banyak anggota dari kedua tim kerasukan dan menyerang anggota sendiri. Tak lama serombongan pemuda datang memburu pula dengan parang panjang haus darah. Mereka tak bisa mati, tak peduli seberapa banyak tembakan yang mengenai tubuh mereka, bahkan kepala. Mereka terus bangkit dari kematian dan kembali menyerang.
Kesembilan orang ini, sisa dari kedua tim khusus tersebut sangat frustasi, merasakan ketakutan yang aneh serta asing dan tak tahu apa yang harus dilakukan.
Semuanya saling pandang tanpa suara ketika di balik pepohonan mereka melihat bayangan besar yang mulai menunjukkan bentuk asli mereka.
Binatang buas dengan bentuk dan ukuran yang tidak masuk akal itu menggeram membuat taring-taring mereka mencuat dari rekahan mulut dengan air liur menetes. Mata dan hidung mereka bergerak-gerak senada sebagai pengidentifikasi dan pelacak mangsa.
Mahluk-mahluk ini adalah bahutai, anjing-anjing iblis, pemangsa jiwa manusia. Kerap kali mereka hanya terlihat oleh orang-orang tertentu karena memang sifatnya yang gaib. Sialnya, orang-orang yang dapat melihat bahutai dengan jelas adalah sasaran kematian. Bahutai dikirim pemilik atau majikannya untuk membunuh orang-orang tersebut.
Dan, sembilan sisa anggota regu pasukan khusus itu dapat melihat lima ekor bahutai tersebut dengan jelas.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bunyi letusan senjata api kembali terdengar menyalak dari sela-sela pepohonan kelapa sawit, dibarengi dengan teriakan kematian para anggota tim khusus tersebut.
Mimis timah panas berdesing membabat tubuh berbulu hitam kasar yang berdiri di tengkuk itu. Anggota Kepolisian tersebut dibuat bingung. Mimis-mimis melesat masuk ke dalam daging, namun seakan tak melukai mereka. Entah, bulu dan kulit mereka yang terlalu tebal, atau sosok gaib mereka yang menyembunyikan mimis-mimis tersebut.
Para anggota tim khusus tersebut tak sempat berpikir lagi karena tubuh mereka sudah melayang ke udara akibat dicengkram dan dilemparkan ke atas bak daging mentah yang ketika terjatuh ke bumi langsung segera diperebutkan bahutai lain, disobek, digigit, dicabik dan dikunyah dimakan dengan rakus.
Darah dan serpihan daging serta tulang terpercik dan terlempar ke mana-mana, termasuk mengenai wajah dan tubuh anggota polisi lain yang masih mencoba bertahan. Wajah mereka tergambarkan teror dan horor, rasa takut dan ngeri, rasa tak percaya dan syok, ketika bahkan helm pelindung kepala rekan mereka hancur lebur, senjata api berderak patah atau meleyot bengkok.
Tidak hanya kuat, besar dan ganas, bahutai juga bergerak dengan cepat dan gesit untuk ukurannya. Ketika mereka ditembaki, sosok-sosok itu bergerak-gerak terganggu, bukan kesakitan. Mereka sibuk mengunyah, menjilati dan mereguk darah korban. Nampak sekali para bahutai sangat menikmati kegiatan ini, bukan sekadar melaksanakan perintah majikan mereka.
Satu persatu anggota pasukan tersebut dibantai, dihabisi dalam artisan sesungguhnya, dimakan sampai habis.
Lima orang mundur. Punggung mereka terdesak menempel pada pohon-pohon kelapa sawit. Sampai sekarang mereka masih bisa selamat karena para bahutai sibuk memakan tiga orang rekan mereka sampai benar-benar ***** dan tamat.
Senjata di tangan mereka sudah tak mengancam lagi. Tergenggam hanya sebagai kebiasaan saja. Mereka benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan karena menembakkan senjata mereka pun percuma.
Mereka sedang menunggu ajal menjemput, mengantri sampai para bahutai selesai dengan makanan mereka dan memalingkan wajah ke arah mereka yang tersisa. Beberapa bahkan berdoa bahwa kematian ini tidak terlalu menyakitkan. Pandangan mereka kosong layaknya orang yang sedang sekarat.
__ADS_1
Waktu yang ditunggu pun tiba. Lima wajah penuh hiasan darah berpaling ke arah lima sisa anggota Kepolisian tersebut. Lima bahutai untuk lima nyawa.
Senjata di tangan tak lagi menjadi jaminan pertahanan, apalagi serangan. Tapi prajurit mana yang mau mati konyol tanpa perjuangan, tanpa perlawanan, tanpa harga diri? Kelima anggota tim khusus tanpa komandan itu saling pandang, melihat langsung menembus ke hati. Mereka siap mati, namun sebagai para prajurit sejati.