
Dalam pembahasan ini, satu orang peronda lain nampaknya berbeda dibanding teman-temannya. Ia lebih cenderung berada di sisi Hamdan.
Namanya Alif.
Meski terlihat sebaya, akan tetapi ia sebenarnya lebih muda empat tahun dibanding rekan-rekan rondanya yang lain. Alif adalah yang termuda. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, ingin urun rembuk. "Bagaimana bila begini mas," ujarnya. "Bagaimana bila saat ini adalah masa dimana pola pikir filosofis perkara keresahan masyarakat ini menjadi nyata, membentuk sesosok tokoh berbentuk fisik yang mewakili mereka? Sosok ini adalah bentuk perlawanan masyarakat terhadap kekacauan, kejahatan, angkara murka, opresi atau kekuasaan yang lalim?"
Yang lain sontak terkekeh. "Kau ini menghindari pikiran filosofis tapi malah menjawab secara filosofis dan retoris pula," jawab satu peronda terakhir dari enam orang tersebut.
Namanya Aris.
Perawakannya tinggi ceking namun tidak terlihat letoy alias lemah sama sekali. Sebaliknya ia terlihat memiliki fisik yang prima.
Intinya dalam percakapan keenam orang ini, mereka sedang membahas mengenai sebuah isu yang telah diberitakan berbulan-bulan lamanya di media massa. Ini adalah mengenai satu sosok misterius yang dikabarkan memiliki kekuatan diatas rata-rata manusia dan memiliki sepak terjang dalam melawan beragam tindak kriminal. Sosok tersebut bahkan melawan pihak-pihak yang hampir tak tersentuh hukum sekalipun, seperti sebut saja korupsi dan kejahatan yang dilakukan oleh para penguasa negara.
__ADS_1
Terlihat jelas bahwa dua orang, Hamdan dan Alif memiliki pendapat yang berbeda dengan teman mereka yang lain, dua lawan empat. Fadlan, Dul Matin, Murdani dan Aris cenderung melihat berita yang santer itu hanya sebagai isu belaka, bahkan bila memang kejadian-kejadian perlawanan melalui hukum rimba terhadap para perilaku kriminal itu memang ada, itu hanyalah bagian dari bentuk keresahan masyarakat yang diciptakan sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah cerita yang memiliki sosok fisik.
Keenam orang peronda itu duduk di sebuah pos ronda di depan sebuah gapura desa mereka, tepat di depan sepasang patung gupala. Perumahan penduduk desa Prajurit terletak di dataran tinggi. Walau desa ini adalah desa yang memiliki tempat paling rendah di kaki gunung bila dibandingkan dengan Pancasona, Kaliabang dan Obong, namun dari pos ronda ini dapat dilihat dengan jelas kelokan jalan beraspal yang meliuk-liuk mengitari gunung. Lampu-lampu mobil terlihat muncul hilang di kelokan walau hari belum terlalu malam.
Kewajiban ronda sendiri sudah menjadi kebiasaan bahkan kebudayaan desa Prajuritan sejak lama. Meski di bawah sana terdapat pertokoan dan sekolah, pemukiman desa Prajuritan jauh dari kesan hingar bingar dan ramai.
"Sosok tokoh manusia dengan kekuatan super ini bukan sekadar konsep filosofis, Ris. Aku benar-benar percaya ia ada. Desa kita sudah ratusan tahun menjaga kepercayaan bahwa kejahatan dapat datang dalam beragam bentuk. Baik melalui ilmu supranatural yang tak bisa dijelaskan dengan logika dan ilmu pengetahuan modern atau malah kejahatan dan angkara murka yang jelas-jelas datang dalam bentuk perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan dan intelektualitas. Apapun bentuknya, kejahatan adalah kejahatan. Kita harus siap menghadapinya dan juga siap menerima kebaikan yang mengejawantah di dunia serba tak acuh dan tak peduli sebagai seorang pahlawan, sama seperti ratusan tahun yang lalu dalam diri para pejuang dan jagoan yang melawan penjajahan dan penindasan," ucap Alif panjang lebar dengan segala pemaknaannya.
Mendengar hal ini, Hamdan manggut-manggut setuju, sedangkan keempat temannya yang lain tidak menolak akan tetapi juga tidak mengiyakan.
Orangtua dan sesepuh mereka selalu menekankan untuk membuka diri terhadap berbagai pola pikir. Tetap maju dengan menuntut ilmu, namun tak menutup pikiran dengan hal-hal diluar nalar. Mereka harus siap ketika ada bencana yang dipercayai pernah terjadi dahulu, akan datang kembali. Mereka harus membuka diri pada adanya ilmu teluh dan santet, mahluk-mahluk astral dan adikodrati di luar bentuk fisik manusia, membekali diri mereka juga dengan beladiri pencak silat yang diajarkan guru-guru kanuragan di desa Prajuritan, berpegang teguh pada falsafah desa, namun tetap belajar dan menimba ilmu untuk kemudian diamalkan untuk memajukan generasi dan desa.
Maka, tak bisa tidak, keenam peronda tersebut sepakat untuk tidak menganggap sepele berita yang sudah menasional itu. Namun mereka juga merasa tidak terlalu berlebihan dalam menanggapinya. Toh bila memang tokoh misterius dengan kekuatan super itu memang ada, mereka tak terpengaruh secara langsung, hanya memperkuat kepercayaan mereka terhadap adanya kekuatan diluar kewajaran yang ada di dunia ini.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat itu, hanya Fadlan yang berlari masuk ke desa untuk melaporkan kejadian heboh di bawah sana kepada kepala desa. Sisanya berlarian ke pusat desa Prajuritan yang ada di bawah bukit di tepi jalan raya. Puluhan pasang cahaya lampu menerangi desa.
Suara ribut terdengar jelas ketika orang-orang, tua maupun anak-anak bahkan bayi, laki-laki dan perempuan, memenuhi lapangan di depan kompleks sekolahan. Kehadiran mereka menyesakkan lahan yang tak begitu luas itu.
Dul Matin jelas heran melihat rombongan kendaraan dari arah desa Pancasona, Kaliabang dan Obong berbondong-bondong berhenti di pusat desa mereka di bawah sana.
Setahunya, memang walau keempat desa berada di kaki gunung, aktifitas ekonomi cukup berjalan dengan ramai. Ada jalur khusus yang terletak di antara desa mereka dan Pancasona. Gunung yang ada di area mereka adalah penghasilan batu dan material. Namun begitu, perkebunan sayur-mayur juga subur sehingga banyak kendaraan transportasi dari dan ke kota ramai lalu-lalang. Mungkin hanya Kaliabang dan desa Obong yang sedikit 'terpencil' karena posisi mereka yang mengitari gunung.
Sebagai petugas ronda, keadaan yang khusus ini tentu menarik perhatian mereka. Jelas lucu rasanya baru saja mereka berbicara mengenai hal-hal supranatural, tapi nampaknya hal itu sudah datang ke desa mereka saat ini juga. Bagaikan semesta menjawab langsung dan membayar tunai pemikiran para peronda tersebut.
Hamdan, Dul Marin, Murdani, Aris dan Alif tak pelak berbagi tatapan. Ada rasa aneh yang masuk ke relung-relung jiwa mereka.
__ADS_1
Tongkat rotan yang biasa mereka bawa ketika menjaga desa entah mengapa mereka ganti dengan parang dan golok. Ada rasa mengganggu yang sangat bersamaan dengan kedatangan rombongan aneh itu. Mereka tak dapat menjelaskan rasa tersebut. Padahal hari belum benar-benar gelap, bahkan belum pukul tujuh malam. Angin yang berhembus di tempat itu pun terasa panas. Bukan saja gerah melainkan juga membakar.