
Soemantri Soekrasana memalingkan wajahnya ke arah Sarti. "Kau kenal dia?" ujarnya heran.
Sarti tidak menjawab. Bahkan kali ini mendadak perempuan itu sadar akan sesuatu. "Soemantri, pertahankan Aji Panglimunanmu itu. Jangan terpancing dengan kemunculan Chandranaya!" tegas Sarti.
Soemantri Soekrasana mendadak ingat bahwa ia baru saja hendak menjawab panggilan sosok kuntilanak merah yang sedang dalam bentuk warasnya tersebut.
Wong Ayu kemudian yang giliran mengatupkan kedua matanya. Ia juga paham apa maksud Sarti.
"Kau masih dilingkupi rasa kemanusiaan dalam menanggapi dan memperlakukan hantu, Soemantri. Itulah sebabnya kekuatan besar di dalam sana berhasil menipumu," ujar Wong Ayu.
Sosok Chandranaya perlahan kembali berubah ke bentuk gaibnya yang semula setelah tidak mendapatkan jawaban dari Soemantri Soekrasana. Kabut membawa serta lapisan terluar perempuan hantu itu bagai ular melepaskan kulitnya.
Kuntilanak merah kini mengambang di udara. Sosoknya mengabur, memecah, transparan dan menghilang.
Soemantri Soekrasana menarik nafas dan menghembuskannya panjang.
"Maaf, Soemantri, kuntilanak itu sekarang sudah dalam genggaman kekuatan apapun itu di dalam kampung sana," ujar Wong Ayu.
Soemantri Soekrasana mengganti mimiknya seakan-akan hal itu bukan masalah baginya, walau semua rekannya paham bagaimanapun Soemantri Soekrasana merasa kehilangan sosok gaib yang selalu ada di sampingnya itu. "Dia adalah hantu. Aku sudah bertahun-tahun ingin lepas darinya. Bisa jadi ini adalah saat yang tepat. Siapapun orang yang memperbudak para hantu di sana, aku akan berterimakasih padanya," ujar Soemantri Soekrasana. "... dan kau, Sarti. Kau hutang cerita denganku, bagaimana kau bisa kenal dengan Chandranaya," lanjutnya.
Sarti mengangkat kedua bahunya tak acuh.
"Kuntilanak itu punya nama? Mengapa diam-diam kudengar kau panggil dia sundal, brengsek dan sebagainya, Soemantri?" selidik Anggalarang.
Kali ini Soemantri Soekrasana yang tak mengacuhkan pertanyaan rekannya itu.
"Baiklah teman-teman. Sudah jelas bahwa kampung itu sedang menyusun kekuatan. Dia ... Atau mereka ... Sedang memanggil kekuatan gaib di seluruh daerah ini, memperbudak mereka. Masalahnya, kita tak bisa main serang karena masih terlalu banyak penduduk di beberapa perumahan di belakang sana yang terancam untuk dijadikan budak dan para pengikut iblis. Pertama-tama, para warga akan ditakuti dengan kemunculan berbagai hantu dan mahluk halus sehingga membuat mereka lemah. Kemudian, para warga akan dibantai oleh para pemuda yang sudah lebih dahulu diperbudak. Setelah itu ...,"
"Mereka juga akan dibangkitkan dan dijadikan tentara setan. Sama seperti jerangkok dan warga kerasukan hantu yang kita hadapi di desa Prajuritan," sambung Anggalarang.
__ADS_1
"Tapi lebih kuat," lanjut Sarti.
"Trik murahan, tapi efektif," gumam Wong Ayu.
Soemantri Soekrasana mengangguk-angguk puas. "Nah, kita sudah memiliki dasar persetujuan yang sama. Paling tidak untuk sekarang, kita harus menyelamatkan warga dahulu, karena seperti kata Yu Wong Ayu, iblis perempuan itu memiliki trik yang sama, kotor, murahan namun berdaya guna."
Anggalarang mengangguk keras-keras tanda setuju.
"Yu, mampu kah Yu membawa kami lagi berteleportasi ke perumahan?" tanya Soemantri Soekrasana.
Wong Ayu menggeleng kesal.
"Sudah kuduga. Lapisan kabut yang semakin kental ini mencegah beberapa kemampuan kita. Tapi itu tak masalah. Aku pikir Yu masih bisa terbang?"
Wong Ayu mengangguk tanpa berbicara.
"Ya, ya ... Jangan khawatirkan aku," potong Sarti.
"Kau, Anggalarang. Aku butuh Maung. Aku pikir akan seru menunggangi seekor harimau," lanjut Soemantri Soekrasana.
Anggalarang sendiri tersenyum geli akan ide itu. Belum ada yang berani berpikir sedekat dan seakrab itu dengan seekor siluman harimau putih yang ada di dalam tubuhnya sebelumnya. Bahkan dulu, ia dan Maung sama sekali tak memiliki persamaan persepsi, mereka adalah dua entitas yang berbeda bahkan bertentengan.
Namun kali ini, ia rasa Maung tak akan keberatan, karena ia juga tidak masalah. Toh, Anggalarang dan Maung sejak menjadi bagian dari Catur Angkara, sudah mampu berjalan beriringan.
Anggalarang mengangguk.
Soemantri Soekrasana tersenyum puas.
"Setelah Aji Panglimunan ini aku batalkan, kita tak akan terlindungi lagi. Namun, kita harus menghindari konfrontasi dengan entitas apapun yang dapat mengarahkan kita langsung kepada pusat kekuatan di kampung itu. Kita tak mau membuat mereka sadar terlalu cepat. Fokus kita adalah penyelamatan nyawa, ingat ... Penyelamatan nyawa, bukan mencabutnya," tegas Soemantri Soekrasana.
__ADS_1
"Aku mohon kepada kalian untuk tak dimakan hawa nafsu membunuh," lanjut Soemantri Soekrasana.
Wong Ayu mendadak menggenggam lengan Soemantri Soekrasana. "Aku janji, Soemantri. Bisakah sekarang kita mulai?" ujar Wong Ayu meyakinkan.
Detak jantung dukun muda itu langsung menyergapnya. Syukur, Soemantri Soekrasana masih bisa berpikir waras. Ia tak mau dilahap perasaan gandrung saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bau daging terbakar menyeruak masuk kamar hotel. Ini adalah hari kedua Satria Piningit menginap bersama anak kembar dan istrinya. Hotel tersebut cukup jauh dari pusat ledakan. Akibatnya, tempat mereka tinggal ini cukup mengamankan rasa takut dan kaget kedua anak kembar sekaligus istrinya.
Hantu Priyam akhirnya telah kembali setelah sekian lama tak bersua dengan Satria Piningit. Ada rasa aneh yang menjalar di udara di sekitar pertemuan mereka.
Hantu anak laki-laki kurus kering dengan celana pangsi sebetis yang sebagian gosong, luka bakar di seluruh tubuhnya, wajah yang hancur dengan salah satu mata ingin meloncat keluar dan mimik wajah yang sedihnya berlipat-lipat itu berdiri di balik sebuah mobil di parkiran hotel.
"Kau kemana saja, Priyam?" ujar Satria Piningit.
Priyam adalah sosok hantu yang dapat berkomunikasi dengan baik dengan Satria Piningit selain Jin Obong, yaitu sosok entitas lain yang juga baru ia ketahui dapat berbicara lancar pula dengan dirinya.
Selama ini, hantu prajurit tanpa kepala, kuntilanak dan sundel bolong, serta hantu-hantu lain, berusaha menunjukkan sesuatu selalu dengan cara yang tak wajar. Mereka selalu membuat Satria Piningit terkejut, bahkan takut setengah mati dengan perawakan dan kemunculan mereka.
"Kau tahu kuntilanak merah yang kita lihat sewaktu aku kecil di Desa Obong? Yang melayang di atas pohon pisang? Ia mendatangiku, menakuti aku dan istriku pula. Tak lama ada ledakan besar di jembatan tol, memutuskan akses ke rumahku sendiri serta membuat kacau kota ini," jelas Satria Piningit tanpa menunggu jawaban dari Priyam.
"Perempuan berkebaya merah itu sengaja dikirim untuk menjauhkanmu dari kejadian di seberang sana," jawab Priyam datar.
"Apa hubungannya denganku, Priyam? Awalnya ia muncul di rumahku, kemudian Jin Obong juga memberitahukanku untuk segera menyeberangi jembatan tol yang kini telah hancur putus. Tapi anehnya, kuntilanak merah itu malah menakut-nakutiku di hotel," lanjut Satria Piningit.
"Kau adalah salah satu kunci masalah ini, Satria Piningit. Kuntilanak merah itu sebelumnya memiliki kesadaran sendiri untuk memperingatkanmu sebelum ia kemudian akhirnya tidak mampu melawan kekuatan gelap itu dan berhasil dikerangkeng. Ia diatur oleh kekuatan yang lebih besar berasal dari kampung itu," kata Priyam. Tangan kurusnya yang gosong terbakar menunjuk ke arah seberang sungai.
Satria Piningit mengernyit. "Aku masih tak paham, Priyam. Apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1