
Laki-laki bernama Marsudi itu terkekeh geli membaca headline sebuah tabloid yang isinya berfokus pada berita-berita magis, mistis dan supranatural. Berita kali ini dipenuhi dengan cerita mengenai sosok misterius yang terlihat di berbagai tempat. Sosok yang sedang trending di dalam beragam berita tersebut diberitakan dapat terbang ke angkasa dengan kecepatan luar biasa dan memiliki kekuatan fisik yang tidak kalah mengagumkan.
Marsudi jelas pada dasarnya tak heran dengan berita-berita semacam ini. Lagipula apa yang diharapkan dari tabloid yang menulis tentang cerita-cerita gaib dan supranatural, bukan? Tapi yang membuatnya sedikit geli adalah bahwa tabloid ini menyebut sang sosok itu sebagai seorang adiwira atau istilah baratnya disebut superhero, alias pahlawan super.
Menurut banyak sumber, tokoh ini kerap melakukan perlawanan terhadap orang-orang yang melanggar hukum. Ia menghajar para perampok yang beroperasi di jalur pantai utara Jawa, atau pengedar narkoba di Sumatra, atau geng motor di bagian barat pulau Jawa. Media bahkan memiliki julukan untuk sosok fenomenal ini. Mereka menyebutnya Tetuka, yang merujuk pada tokoh pewayangan Jawa, yaitu nama kecil dari sang Gatotkaca.
Cuih!
Begini amat sih beritanya, pikirnya. Tapi laki-laki itu kembali terkekeh, mendadak sadar karena betapa konyolnya berita itu sekalipun, bukan tanpa alasan ia masih terus membaca tabloid mistis ini. Sambil menenggak kopi dan duduk di terminal bis sekaligus pasar ini, ia melihat iklan mengenai jual beli jimat. Apa haknya menertawakan berita yang ia pikir konyol dan tak masuk akal, padahal ia percaya dengan hal-hal mistis dan diluar nalar, ya seperti
soal jimat ini.
Sebagai anggota preman yang lumayan memiliki nama, Marsudi sudah melakukan banyak hal dan usaha agar karirnya dalam dunia gelap ini menanjak. Ia sudah pernah membunuh orang, dua kali, masuk penjara juga dua kali. Perkelahian adalah hal yang familier bagi dirinya. Ketika berkelahi, ia belum pernah kalah. Penguasaan ilmu rawaronteknya sudah sampai tingkatan yang cukup tinggi.
__ADS_1
Lima hari yang lalu, ia bermimpi seseorang mendatanginya dan memberikannya sebuah pusaka. Bukan sekadar jimat biasa karena langit menjadi kelabu dan di dalam mimpinya ia melihat bangunan berupa candi-candi megah dan ramai orang, seakan candi-candi itu baru selesai dibuat bukannya ratusan tahun yang lalu. Sang pembawa pusaka mengenakan pakaian kerajaan Jawa kuno yang agung, penuh emas sebagai kalung, gelang dan giwang. Kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya dijahit dengan kain emas pula serta kain sutra menjadi selempangnya.
Sejak saat itu ia tak bisa melupakan mimpi itu. Ia bukan orang yang suka dengan ramalan mimpi meski ia praktisi ilmu kesaktian. Tapi mimpi ini teringat terus di dalam otaknya, bahkan setiap bagiannya jelas. Kalau bukan pertanda, lalu apa lagi?
Affandi, seorang laki-laki yang mengenakan jins belel dan kaos polo berkancing tiga mendekatinya. Tubuhnya lebih kecil dibanding Marsudi, namun otot-otot tubuhnya sangat liat. Sama seperti Marsudi, Affandi juga penyuka ilmu bela diri. Ia adalah pesilat salah satu aliran silek harimau di ranah Minangkabau. Pada saat muda, ia tekun sekali berlatih silat. Ia juga memiliki obsesi yang tinggi untuk menggapai sesuatu, namun ia juga adalah seorang pemarah serta pendendam. Merasa dianaktirikan oleh sang guru silat dibandingkan dengan kakak seperguruannya, ia menantang sang saudara sepersilatan itu. Ia mengalahkannya, membunuhnya dan lari ke pulau Jawa bersama seorang teman seperguruan lain yang sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Teman seperguruannya yang bernama Kuranji ini hanya tahu bahwa mereka akan berangkat merantau ke pulau lain untuk mengamalkan kemampuan mereka bersilat di dunia nyata, melawan kesulitan dan tantangan hidup. Tak sulit ditebak bahwa Affandi kemudian menjadi jawara yang pilih tanding di Jawa. Merampok, mengintimidasi dan juga kembali membunuh sudah menjadi bagian dari dirinya sekarang. Ia juga pernah dibui, bahkan beberapa kali.
"Jadi abang dapat apa yang abang cari, kah?" tanyanya pada Marsudi yang sudah ia anggap abangnya sendiri.
Affandi melihat Marsudi dengan prihatin. Tak lama, ada satu orang lagi yang bergabung dengan mereka. Ia duduk diantara keduanya serta memesan kopi dan dua batang rokok. Laki-laki ini bergaya perlente. Kemejanya disetrika rapi dan dimasukkan ke dalam celana jins birunya. Terlihat kalung emas mengintip dari balik kemeja berwarna abu-abunya. Rambutnya disisir klimis ke belakang. Ia juga berbau sangat wangi. Kardiman Setil namanya.
"Jadi, kita masih di rencana semula ‘kan?" ujar Kardiman Setil sembari menepuk bahu kedua temannya.
Marsudi mendesah, "Itu ‘kan hanya mimpi yang menggangguku. Memang dalam mimpi, orang yang memberikanku keris itu mengatakan kepadaku untuk pergi ke arah barat dan mencari sebuah desa bernama Obong. Tapi entah benar atau tidak desa itu ada aku tak yakin. Lagipula kalau toh aku ingin pergi, untuk apa kalian ikut-ikut segala?" ujar Marsudi.
__ADS_1
Kardiman Setil tersungging, menggaruk kepalanya lalu menghembuskan asap rokoknya tinggi-tinggi ke udara, "Kalau kau tak menganggap sepele mimpimu itu, bagaimana aku bisa menganggapnya sepele? Sudah pasti hal ini benar-benar penting buatmu. Dan kalau itu penting buatmu, maka jelas itu penting buatku juga," ujar Kardiman Setil yang tanpa ragu disetujui oleh Affandi.
Kardiman Setil, sosok ini mendapatkan nama terakhirnya sebagai julukan. Ini karena memang ia selalu berusaha terlihat keren dalam berpakaian atau berbusana. Keren dalam bahasa pasar di lingkungannya disebut setil. Mungkin sekali ini berasal dari kata style di dalam bahasa Inggris. Kardiman Setil adalah seorang hitman, alias pembunuh bayaran. Bahkan sampai sekarang ia masih aktif menggeluti pekerjaan ini. Korban-korbannya mungkin sudah hampir mencapai dua puluh orang, dan ia melaksanakan pekerjaan profesionalnya ini dengan baik.
Ia tidak selalu membunuh sang korban dengan cara langsung dan tangannya sendiri. Apapun bisa ia gunakan. Racun, sabotase, menggunakan atau menipu pihak lain untuk melaksanakan rencananya, dan cara-cara lainnya. Tapi bila memang ia yang harus melakukan langsung dengan tangannya sendiri, ia juga adalah orang yang mampu beradaptasi dengan baik. Selain senjata api, ia bisa membunuh orang dengan menggunakan barang apapun untuk
dijadikan senjata. Dari pisau, kayu, pecahan kaca, pensil, bahkan tangan kosong.
Namun, tak ada gading yang tak retak.
Ia juga beberapa kali harus masuk penjara karena metode membunuhnya yang tidak pas atau kegagalan eksekusi, atau bisa juga karena ia dikorbankan oleh klien yang namanya harus dilindungi. Di penjara inilah ketiga orang yang penuh dengan sisi gelap ini bertemu saling bersumpah setia sebagai saudara walau sebelumnya juga sempat berusaha saling serang dan saling bunuh. Kehidupan semacam ini biasa sekali terjadi di dalam budaya penjara, kebiasaan di bui.
Orang bilang, hubungan persaudaraan akan semakin kental bila dimulai dari sebuah permusuhan. Entah benar, entah tidak, kenyataannya, sampai saat ini, ketiga orang tersebut telah terikat oleh penjanjian darah yang membuat mereka bertekad untuk hidup mati bersama. Siapapun dari mereka akan rela mengorbankan hidup untuk yang lainnya.
__ADS_1