Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Duapuluh Tujuh


__ADS_3

Soemantri Soekrasana merasa menjadi manusia beradab kembali. Ia telah mandi, cuci muka, gosok gigi dan berganti pakaian. Rambutnya yang sedikit panjang sudah disisir ke samping. Ia mengenakan kemeja yang baru, lengan panjang abu-abu yang lengannya digulung sampai siku. Celana panjangnya berganti celana bahan kain berwarna hitam. Keris Mpu Gandring tidak lagi ia selipkan kembali di pinggang bagian belakang serta ditutup dengan jaket jinsnya yang ia bersihkan sekenanya, melainkan telah dimasukkan ke dalam tas selempangnya.


Ia membuka pintu dan melihat si kuntilanak merah mengambang di depannya.


"Bangsat! Sundal! Kau selalu bikin aku jantungan. Sekali lagi kau muncul tiba-tiba semacam ini, aku tusuk pantatmu dengan keris ini," ancam Soemantri Soekrasana sembari meraba hulu keris Mpu Gandring di permukaan tas selempangnya.


Si kuntilanak merah terkikik. Suara tawa pedihnya menggema di dalam ruangan toilet dan kamar mandi itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Anjing! Apa ini, Kar? Aku sudah lihat orang kebal, orang mati dan hidup kembali berkali-kali. Tapi tidak dengan hantu. Kuntilanak pula," maki Affandi ketika mereka sudah berusaha menjauh sejauh mungkin dari bangunan toilet laki-laki itu.


"Kau pikir aku tak takut, apa? Melihat mayat bangkit kembali tak seberapa dengan melihat roh gentayangan semacam itu tadi," jawab Kardiman Setil.


Affandi berjalan mondar-mandir mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

__ADS_1


"Berarti memang benar ada sesuatu dengan laki-laki itu. Aku merasa bagai banci yang ketakutan melihat hantu. Tapi aku memang takut. Cuma aku tak bisa terima dengan keadaan ini," Affandi terdengar geram sekaligus ketakutan.


Kardiman Setil hendak merespon, namun dihentikan oleh Affandi, "Cukup, cukup. Kau pasti berpikir apa yang aku pikirkan," Affandi mengambil ponsel dari dalam kantongnya dan menekan sebuah nomer di layar sentuhnya.


"Af, kau yakin? Tidak perlu kita tanya Marsudi dahulu? Biasanya kau yang paling taat dan paham dengan keinginan dia."


"Tidak kali ini. Yang penting, kita harus mendapatkan keris itu dari si laki-laki itu. Kuntilanak sundal itu tak boleh menghalangi kita. Dan kau lebih baik ikut menggunakan teleponmu sekarang."


Kardiman Setil berkacak pinggang selama beberapa detik untuk menormalkan detak jantungnya. Ia kemudian mengambil sebuab ponsel dan menyentuh layarnya. Udara sejuk masih sangat terasa. Sinar matahari meredup, semakin mendinginkan angin yang merangkak di atas tanah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jaman dahulu ketika wabah penyakit menyerang, ada istilah isuk loro sore mati - pagi sakit, sore meninggal, yang menjelaskan betapa ganasnya sebuah penyakit tertentu. Di jaman Mataram, atau Nusantara di masa kolonialisme, warga tewas dengan beruntun dan dalam waktu yang cepat. Di masa kini, wana-wabah tersebut dijelaskan dengan cara yang ilmiah: penyakit pes yang disebarkan tikus, atau penyakit sampar dari bakteri Yersinia pestis dari beras yang dibeli dari Burma tahun seribu sembilan ratus sebelas, atau masuknya flu Spanyol.


Yang tak tercatat dalam sejarah, memang pagebluk atau bencana penyakit itu tidak jarang terjadi tidak secara alami. Di mata ilmu pengetahuan, pagebluk adalah hal yang awam terjadi di berbagai belahan dunia dalam sejarah-sejarah peradaban bangsa, namun bagi pandangan orang seperti Sarti, kekuatan gaib seringkali ikut campur di dalam keadaan ini.

__ADS_1


Ia ingat ketika suatu kala, perempuan ayu nan anggun berselendang hijau yang selalu hadir ketika ia sedang sekarat atau bangkit dari kematian itu melewati sebuah desa dengan rombongannya. Prajurit perempuan dan laki-laki, semua berbusana hijau dengan senjata lengkap membuka jalan, beterbangan. Bagi beberapa orang, mereka dapat melihat para prajurit tersebut dalam rupa kobaran bola-bola api yang berlompatan. Ada juga yang tak benar-benar dapat melihatnya karena ketika mereka membuka mata, nyawa mereka menjadi taruhannya. Orang-orang menyebut mereka lampur atau lampor.


Dalam keadaan seperti trans, ia melihat sang putri duduk di dalam kereta kencananya yang melayang di udara, ditarik enam ekor kuda yang hampir tak menapak tanah di belakang para prajurit tak kasat mata itu. Bunyi gemerincing lonceng kereta kencana membuat bulu kuduk manusia normal meremang dan nyali menciut. Ratusan tahun Sarti mendengar beragam penceritaan orang dalam bentuk mitos, legenda dan cerita rakyat bahwa pada masa inilah sang putri sedang dalam perjalanannya dari Laut Selatan ke gunung Merapi di bagian utara.


Tapi pagebluk bisa juga dikarenakan kekuatan jahat yang begitu hebat. Seseorang yang sakti bisa saja menyebarkan wabah penyakit ke sebuah daerah sehingga menyebabkan banyak warga yang menderita sakit borok, kudis, pathek, bubul, dan sejenisnya. Sehingga dikenal bahwa orang yang sakit di waktu pagi, sorenya meninggal.


Di depan kedua bola matanya, Sarti melihat bahwa bahkan di masa modern ini, ratusan tahun setelah masanya, ia menyaksikan kejadian yang serupa. Orang-orang desa berbondong-bondong pergi meninggalkan rumah mereka dengan kepanikan, seperti melarikan diri dari gunung meletus atau banjir. Tua dan muda membawa barang-barang penting mereka saja. Mereka menaiki truk, mobil pick-up atau motor. Mereka berjalan cukup pelan, karena ada juga beberapa warga yang masih tertinggi dan berjalan kaki sebisanya.


Sarti melihat semua itu dari puncak pohon di pagi buta itu. Ia merasakan panggilan gaib seperti sebuah suar yang memancarkan sinarnya terang dari daerah ini, desa Kaliabang tepatnya. Suar itu memanggil-manggilnya untuk datang. Ini jelas merupakan misinya yang sudah ia tunggu-tunggu lama di kehidupannya kali ini. Namun anehnya, sang Maung yang sempat bertarung dengannya juga merasakan hal yang sama.


Apa hubungannya dengan siluman harimau putih itu?


Sarti melompat lagi secepat kilat dari pohon ke pohon. Sinar mentari yang bagai jarum masuk melewati sela-sela ranting dan dedaunan sudah tak mampu menyamarkan sosoknya bila ia memutuskan berlarian di atas tanah. Sebagai akibatnya ia berlompatan saja di atas ranting-ranting dengan menggabungkan ilmu meringankan tubuh dan saifi angin.


Beberapa ratus meter dari rombongan para warga yang mengungsi, ia melihat ada beberapa warga lain, berjumlah belasan, laki-laki, muda dan setengah baya. Mereka tidak terlihat seperti warga yang tertinggal rombongan. Mereka berdiri awas, tersebar di jalan sempit beraspal sampai ke semak-semak dan perkebunan. Para laki-laki itu mempersiapkan diri mereka dengan parang, kudhi, arit atau celurit dan golok. Mereka menutupi akses keluar dari desa dengan pedati, membakar ban, kayu dan bambu yang dipaku dan dibuat sedemikian rupa agar membentuk semacam benteng atau pagar serta menyiapkan beberapa buah sepeda motor.

__ADS_1


Sarti mengerenyitkan kening di balik topeng panjinya. Sinyal dalam rupa sinar kebiruan memancar dari sebuah keris legendaris yang semalam ia dan sang Maung rasakan memang sudah tak terasa lagi. Namun pasti ada alasan mengapa ia ditarik kesini.


Tak lama pertanyaannya terjawab sudah. Dari atas pepohonan mudah bagi Sarti melihat jauh ke segala arah. Ada banyak bayangan bergerak mendekati akses jalan tersebut. Satu orang laki-laki terlihat berlari kepayahan dari bayangan yang berjumlah sangat banyak mendekat rapat mengejarnya bagai kumpulan semut hitam.


__ADS_2