
Hari yang baik dan memuaskan tidak terjadi selamanya.
Dengan Priyam, Satria Piningit belajar menerima dan apa adanya. Tidak ada sesuatu yang ia tutup-tutupi ketika berbicara dengan anak laki-laki itu. Masalah sifatnya yang aneh, itu beda hal. Satria Piningit tidak terlalu peduli dengan ada kisah apa di balik hidupnya. Masalah hantu-hantuan dan segala yang berhubungan dengan indra keenamnya atau apapun namanya itu hanyalah menjadi bumbu persahabatan mereka. Satria Piningit bahkan berusaha untuk dapat menerima perspektif atau sudut pandang sang sahabat.
Bagitulah paling tidak yang Satria Piningit pikirkan sampai saat ini.
"Kau tahu, anak perempuan itu kemarin melihat kepala terbang yang dikirimkan desa ini ke desa sebelah?" katanya beberapa hari yang lalu, sebelum percakapan Satria Piningit dan Wong Ayu di tepi kali terjadi.
"Wong Ayu, maksudmu?" tanya Satria Piningit heran. Priyam masih memanggil Wong Ayu dengan sebutan anak perempuan, padahal mereka tinggal di desa yang sama. Harusnya nama bukanlah sesuatu yang asing, bukan? Batin Satria Piningit.
Priyam tak menjawab. Sebaliknya ia melanjutkan bercerita dengan bahasa Jawanya yang unik itu, "Kepala terbang itu terlepas dari badan seorang warga di desa ini. Itu adalah bagian dari ilmu hitam yang digunakan untuk mencelakai orang lain."
"Apa tujuannya, Priyam? Mengapa ada orang desa ini yang ingin mencelakai orang lain? Apakah karena dendam?" tanya Satria Piningit. Sekarang ia selalu senang dan penasaran dengan cerita-cerita Priyam dan Wong Ayu. Kebiasaan ini seperti menonton sinetron yang berseri banyak. Cerita keduanya pun kini telah dipikir dan dianggap benar adanya oleh Satria Piningit. Namun, jauh di lubuk hatinya masih ada setitik keraguan bahwa Priyam dan Wong Ayu menceritakan semua itu apa adanya. Mungkin sekali keduanya menambahkan bumbu di sana-sini sehingga membuat cerita-cerita tersebut lebih menarik.
Satria Piningit tak peduli itu. Rasa penasarannya lebih kepada sifat alami manusia.
Priyam memainkan gelang akar kayu bahar di lengan kurus nan hitam legamnya kemudian menatap ke arah Satria Piningit. "Tidak semua ilmu hitam digunakan untuk tujuan balas dendam dan kebencian. Tapi, aku rasa kepala itu lepas dari tubuhnya memang digunakan untuk mencelakai seseorang, mungkin membunuhnya. Tapi ilmu ini bisa saja dimiliki seseorang sebagai alat kekayaan."
Satria Piningit mulai paham maksud Priyam, "Seperti pembunuh bayaran, maksudmu?"
__ADS_1
Priyam terlihat bingung. Satria Piningit berpikir mungkin karena pemakaian bahasanya yang dicampur dengan bahasa Indonesia dan Melayu ini yang memusingkannya?
"Pembunuh bayaran adalah orang yang dibayar orang lain untuk membunuh orang yang ia inginkan," jelas Satria Piningit.
Priyam tersenyum. Satria Piningit mengartikan respon Priyam adalah sebuah jawaban untuk ya.
Satria Piningit tak tahu apa yang kemudian dilakukan Wong Ayu setelah penampakan kepala terbang yang kata Priyam disaksikannya itu. Oleh sebab itu beberapa hari kemudian, pada kesempatan yang lalu Satria Piningit bertanya kepada Wong Ayu langsung. Dan gadis ayu itu langsung ngeloyor pergi.
Dengan Wong Ayu, Satria Piningit jelas memiliki rasa kepadanya. Selain cantik, anak perempuan itu juga pemberani, unik namun juga lugas. Keanehan yang ada padanya, yang membuat ia dan keluarganya dijauhi warga desa Obong malah membuat Satria Piningit memiliki keleluasaan merapatkan hubungan mereka. Entah hubungan apalah itu namanya. Toh, intinya keduanya makin dekat hari demi hari.
Pernah suatu hari Satria Piningit memberanikan diri bertanya kepada Wong Ayu mengenai pekerjaan ayahnya, "Maaf Wong Ayu. Sekali lagi aku minta maaf bila kamu tersinggung. Tapi aku terlalu penasaran ... ,"
"Dengan pekerjaan bapakku?" potong Wong Ayu.
"Anak-anak desa mengatakan bapakmu adalah seorang dukun berilmu hitam. Orang tua mereka malah yang mengatakannya kepada mereka. Sebenarnya bukan masalah aku percaya atau tidak, apapun itu kan tidak mengubah pandanganku terhadapmu dan keluargamu."
Wong Ayu tertawa manis kembali. Mata lentiknya bermain-main di kepala Satria Piningit.
"Ya, bapakku adalah seorang dukun. Tapi kalau mereka mengatakan bahwa dukun itu merujuk ke hal-hal buruk dan negatif, pikiran dan hati mereka saja yang penuh dengki dan kebencian. Bukankah ada istilah dukun beranak? Apa itu buruk?"
__ADS_1
Benar juga, pikir Satria Piningit.
"Bapakku bekerja dengan alam gaib untuk berdamai dengan mereka dan menjaga keseimbangan hidup," kata Wong Ayu, mengingatkan Satria Piningit dengan apa yang diucapkan Priyam mengenai bapaknya sendiri waktu awal-awal mereka bertemu. Sudah dikatakan, menurut Satria Piningit, kedua temannya ini memiliki banyak kesamaan.
"Orang-orang datang untuk membeli barang-barang antik sebagai penyeimbang kehidupan mereka. Mereka juga kerap meminta saran bapak mengenai kehidupan mereka, baik usaha, cinta sampai kesehatan."
Satria Piningit megangguk-angguk keras, "Ah, semacam fengshui tapi versi Jawa berarti. Apa ya namanya? Primbon?" tanya Satria Piningit.
Wong Ayu tertawa renyah, namun ia terlihat setuju.
Percakapan semacam ini membuat seakan lengkap sudah hidup remaja Satria Piningit di desa ini.
Tetapi, seperti diutarakan di awal kitab cerita ini, hari yang baik dan memuaskan tidak terjadi selamanya. Kenyataan membangunkan Satria Piningit dari mimpi kekanak-kanakan dan tanpa dosa ini. Wong Ayu harus pergi dan pindah dari tempat ini setelah lebih dari satu bulan tinggal di desa Obong.
Rumah Wong Ayu yang ia tinggali bersama kedua orang tuanya di desa ini sebenarnya biasa saja. Bangunannya dengan gaya joglo, seperti rata-rata rumah orang Jawa lainnya di desa ini, meski ukurannya termasuk kecil. Lantai tanah padat dan dinding kamar separuh bata separuh gedhek atau anyaman bambu bertaburan hiasan dinding berupa wayang dan topeng. Perlahan Wong Ayu melepas semua hiasan dinding itu dan memasukkannya ke kardus bekas mie instan.
Orang-orang desa berdatangan. Anak-anak kecil berlarian di depan rumah Wong Ayu sambil curi-curi pandang ke dalam rumah. Beberapa bahkan nekat mencoba masuk rumah sebelum pantat mereka digasak ibu-ibu berpakaian daster atau kebaya harian. Bapak-bapak duduk agak jauh, di dekat kali atau di depan kebun tebu sembari merokok kretek atau lintingan.
Laki-laki yang lebih tua dan sepuh beberapa merokok daun dan menyirih, sama seperti simbah-simbah putri yang mulai bungkuk dan mengenakan kebaya harian. Mulut dan gigi mereka merah karena terus-menerus mengunyah sirih. Tiga orang simbah putri malah kulihat disiapkan lincak atau bangku panjang terbuat dari bambu oleh anak atau cucu mereka. Mereka bertiga duduk di kursi penonton itu layaknya menonton pagelaran wayang atau layar tancap.
__ADS_1
Sedangkan anak-anak remaja dan remaja tanggung sok-sokan menjaga wibawa mereka dengan pura-pura acuh tak acuh. Mereka tidak terlihat terlalu dekat dengan rumah Wong Ayu, namun tetap berkumpul di pos ronda bergosip.
Warga desa ini pokoknya seperti sedang menikmati dan merayakan proses kepindahan Wong Ayu dan keluarganya. Entah bagaimana, perasaan Priyam terhadap desa ini melalui cerita-ceritanya saat ini terasa sekali pengaruhnya terhadap diri Satria Piningit. Ia merasakan sesuatu yang baru, seakan pintu terbuka perlahan-lahan dan memperlihatkan sisi lain dari desa ini. Selama ini ia sama sekali tidak melihat dan tidak berusaha mencari tahu sifat orang-orang desa yang selama ini diteropong Priyam dari lensa yang sanagat berbeda.