
Sarti berumur duapuluh tiga dalam kehidupannya kali ini. Ia mengambil busana merah darah kebesarannya dan mengenakannya dengan mantap. Malam ini ia sedang merespon panggilan takdirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yanto menenggak bir langsung dari botolnya. Ia memperhatikan ketiga rekannya yang juga sedang menikmati malam setelah berminggu-minggu menyusun rencana dan berhasil juga menjalankan rencana itu, walau dengan sedikit kesalahperhitungan.
Yanto mengelus bandul kalungnya yang terbungkus kain berwarna hitam. Sebuah jimat. Tindakan ini membuatnya tenang. Tidak percuma ia sudah berpuasa tiga bulan lamanya, berpantang makan taoge dan tidur dengan pacar atau perempuan-perempuan pelacur yang biasa ia pakai setiap habis menerima uang gaji. Kalung jimat ini tidak hanya membuatnya kebal, tapi juga meningkatkan kepercayaan diri dan keberaniannya. Seakan-akan tak ada satu hal pun di dunia ini yang dapat menahan semangat dan keinginannya.
Randu dan Pariadji, dua sahabat sedari kecil, sudah setengah mabuk, tertawa-tawa dan berkata-kata kasar dan cabul saling ejek bercanda, menunjukkan rasa hati mereka yang sedang senang. Lima ratus tujuhpuluh juta rupiah sudah ada di tangan. Setengah miliar lebih. Walau harus dibagi empat sama rata, masih cukup besar untuk mereka yang hidupnya hanya sekitar rokok, alkohol dan perempuan. Yanto terbukti menjadi pemimpin kelompok yang cerdas, berani dan penuh keberuntungan. Bagaimana tidak, sudah tiga kali perampokan, semuanya berhasil dengan gemilang, tidak ada hasil rampokan kurang dari dua ratus juta. Dua tiga kali lagi pun mereka masih sanggup dan dengan senang hati melakukan ini. Sudah seperti pekerjaan kantoran saja, dengan gaji tetap dan terjamin.
Yanto dikenal dua kali masuk bui, masing-masing lamanya dua dan tiga setengah tahun. Ia sepertinya tahu benar dengan dunia kejahatan perampokan dengan senjata dan kekerasan. Sedangkan Randu dan Pariadji, walau beberapa kali pernah dipukuli dan dihajar karena tertangkap basah mencopet dan menjambret, lucunya belum pernah merasakan dinginnya lantai penjara. Bekerja di pabrik baja milik Afung bersama Yanto inilah yang membuat karir kriminal mereka mulai menunjukkan hasil.
Tomi, tidak sekeren namanya, duduk dengan kedua lutut terlipat, tak menyentuh birnya sama sekali, terlihat bagai kain lap kotor yang teronggok di pojokan. Rasa gelisah menghantuinya tanpa tedeng aling-aling. Ia terlihat sekali ketakutan, dengan gamblang.
Demi melihat hal ini, Yanto mendekati Tomi, "Sudah aku bilang, kau akan aman saja. Kau tinggal ambil uangnya dan pergi. Aku sudah berjanji bahwa kau tak akan terlibat apa-apa. Kita hanya perlu merunduk dua tiga hari sampai semuanya reda dan tak ada curiga."
Tanpa disangka-sangka Tomi berdiri, "Mengapa harus kau bacok istrinya? Kita tidak pernah membahas mengenai ini. Aku tak masuk penjara karena membunuh," ujarnya dengan suara yang meninggi. Tentu saja Randu dan Pariadji yang cengengesan dan terus menenggak bir terkejut dan ikut berdiri dengan awas.
"Bajingan kau bocah. Kami mengajakmu untuk merampok Afung bukan tanpa menjelaskan resikonya. Kau ‘kan yang lebih senang berjudi dan menggoda janda di desa Obong sana? Kau juga ‘kan yang berhutang puluhan juta?Lalu mengapa kau yang paling pengecut di sini?" ujar Pariadji. Tampaknya ketika sedang diperlukan, alkohol tak benar-benar bisa membuai kesadarannya.
__ADS_1
Melihat Tomi terdiam, Pariadji melanjutkan ocehannya, "Istri Afung adalah perempuan paling kejam yang pernah kutahu. Suaminya mungkin memang bos di pabrik ini, tapi istrinyalah yang punya kuasa. Kau ingat ketika ia memaksa suaminya memecat lima puluh karyawan demi memotong biaya produksi? Atau ketika ia berani menampar pak Sapto yang sudah berusia enam puluh tahun itu, atau ...."
"Sudah, diam!" potong Tomi. "Tak perlu kau cari pembenaran. Bila bukan Yanto yang membacok istri Afung, kau yang akan melakukannya demi kesenangan. Jangan pikir aku tak tahu sepak terjang kalian di luar sana."
Satu bogem mentah membuat Tomi tersungkur ke belakang. Randu berdiri di depan Tomi yang terlentang di lantai. "Banci!" katanya pendek.
Tomi bangun karena perasaan malu dan amarah. Ia meninggalkan mereka, menaiki tangga besi ke ruang atas gudang pabrik besi milik Afung, bos mereka sendiri yang mereka rampok dua hari yang lalu.
"Biarkan saja bocah ingusan itu. Mengganggu saja," kata Randu kemudian.
Yanto memicingkan mata memperhatikan punggung Tomi menghilang di lantai atas. Ia sendiri yang akan menebas kepala Tomi bila anak muda itu masih bertingkah, tekadnya. Namun ia tersenyum dan menenggak birnya kembali.
Tomi menjambaki rambutnya. Sial, pikirnya. Uang hasil rampokan lalu memang banyak, sangat cukup untuk menikahi janda desa Obong yang membuat hatinya ketar-ketir. Tapi ia tak menyangka bahwa desas-desus yang mengatakan bahwa Yanto adalah mantan napi rampok tanpa hati yang Pernah membunuh lima orang tanpa terbukti itu memang benar adanya. Ia melihat dengan mata kepala sendiri betapa ringan tangannya mengayunkan golok menebas leher perempuan malang itu. Baru pagi ini ia mendengar informasi bahwa sang istri bos mereka akhirnya wafat di rumah sakit. Sedangkan Randu dan Pariadji, dua bangsat psikopat itu, malah terkikik di balik penutup muka mereka sembari meraup lembaran rupiah sebanyak-banyaknya padahal Afung meraung-raung mendekap tubuh istrinya.
Tak ada yang mencurigai bahwa mereka lah pelakunya. Sebagai penjaga gudang, mereka sudah merencanakan sedemikian rupa untuk menciptakan alibi. Ini diprakarsai dan dipimpin oleh Yanto sendiri, membuktikan pengalamannya yang sudah mumpuni. Sialnya, ini adalah kali pertama ia terlibat demi tergiur jumlah rampokan. Entah bagaimana dengan rampokan-rampokan mereka sebelumnya, siapa yang jadi korban, berapa yang tewas di tangan bajingan-bajingan sadis ini.
Ia duduk lemas, melihat ranting-ranting pepohonan melalui jendela kaca berteralis besi yang bergoyang-goyang samar tertiup angin malam. Cahaya di luar tak begitu terang, tapi cukup jelas untuk membuatnya mengusap-usap kedua matanya karena tiba-tiba ada sosok wajah di sana.
Ini ‘kan lantai dua, pikirnya.
__ADS_1
Wajah itu perlahan semakin jelas. Putih pucat ... Bukan, tapi benar-benar putih. Sepasang matanya hanya berupa garis hitam horizontal.
Tomi menggosok matanya lagi. Ia yakin ia tidak mabuk malam ini, ia bahkan tak meminum seteguk alkohol pun.
Benar, wajah putih itu ada di sana. Siapapun atau apapun yang ada di balik jendela kaca itu sekarang sedang memiringkan kepalanya, memperhatikan Tomi dengan pandangan kosongnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Randu melonjak kaget. Suara besi berkelontangan, kaca yang pecah dan teriakan Tomi di lantai atas terlalu keras dan menyakitkan untuk tidak diacuhkan.
Pariadji malah sudah meraba gagang goloknya. Begitu juga sang pemimpin, Yanto. Goloknya yang masih berbau darah istri Afung perlahan ia hunus. Secara instingtif, ia memberikan kode perintah kepada Randu untuk melakukan hal yang sama, mencabut goloknya.
Mereka menyebar dan perlahan mendekati tangga. Tepat ketika anak tangga ketiga diinjak oleh Yanto, bunyi kelontak besi terdengar lagi. Sangat dekat.
Kepala Tomi menggelinding dari anak tangga paling atas di lantai dua dan berhenti di kaki Yanto.
Randu dan Pariadji menjerit tertahan dan melompat mundur. Yanto sendiri tetap tak bergeser dari posisinya walau darah kental mengalir deras dari leher kepala Tomi yang terputus dan menempel di kakinya. Ia meraba kalung jimatnya sembari menguatkan genggaman pada gagang goloknya.
Di atas sana, sesosok berbaju merah darah dan berwajah seputih kertas berdiri memegang celurit pendek di tangan kanannya yang masih meneteskan darah berwarna sepekat bajunya.
__ADS_1