Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Pangling


__ADS_3

Marni makin merasakan ada sesuatu yang salah sedang terjadi di rumahnya. Mahluk-mahluk gaib menumpuk terlalu padat. Lapisan tipis tubuh mereka memang tak membuat ruangan ini sesak selayaknya keberadaan manusia. Ini karena bagi sosok-sosok asing ini, waktu dan ruang bukanlah sesuatu yang membuat mereka terganggu. Bagian konsep keterbatasan itu tak mereka kenal. Namun, dari perspektif manusia, Marni merasakan udara menjadi semarak oleh panas. Oksigen menjadi pipih, membuat Marni merasakan paru-parunya kesulitan mendapatkan udara.


"Bangsat, apa ini?" tuturnya dalam gumaman pada diri sendiri.


Pikiran Marni mendadak terbang kepada beragam kemungkinan yang ia benci. Ia tak menyukai ketidaksempurnaan keadaan ini, anomali atau glitch dalam sebuah sistem. Perasaan tak tenang dan menduga-duga membuatnya begitu kesal serasa menggelembung gembung ingin meledak. Tidak ada seorangpun yang suka pada ketidakjelasan dan hal-hal yang tak teraba dan terkira.


Chandranaya sang kuntilanak merah masih mengambang di atas tulisan darah japa-mantra yang dibuat dukun muda itu.


Mendadak Marni teringat akan tanggung jawab Wandi dan Farid. "Kemana anak-anak itu? Harusnya mereka sudah menyelesaikan tugas mereka dan kembali ke sini. Aku harap mereka tak ragu melaksanakan perintah bila tidak aku sendiri yang memotong kemaluan mereka dan memberi makan ke anjing-anjing desa sebelah," ujarnya geram pada diri sendiri.


Marni memandang dengan mata batinnya. Hantu-hantu tanpa anggota badan yang lengkap berjalan terseok-seok, mengesot, merangkak, melata, melompat, meloncat, dan berjalan pincang menyeret tungkai kaki-kaki mereka yang sudah tak utuh lagi.


Mendadak kedua matanya bersirobok dengan mata sang kuntilanak merah mengambang yang memerah darah.

__ADS_1


Marni tersentak mundur terkejut setengah mati dan mengutuk. Sedari tadi sang kuntilanak hanya memandang kosong, tetapi baru kali ini hantu perempuan itu langsung menatap ke arahnya.


Entah mengapa Marni begitu terkejut dengan pandangan mata mati hantu perempuan ini. Padahal, bukan masalah baginya bertemu dan menghadapi hantu jenis apapun. Pada sang kuntilanak merah ini pun awalnya ia sama sekali tak merasa takut atau gentar, selain berpura-pura di depan dukun muda bernama Soemantri Soekrasana tersebut. Namun kali ini perutnya terasa aneh, serasa jantungnya jatuh ke lambung. Apalagi kemudian Chandranaya terkikik mengerikan nan meresahkan. Darah menggumpal keluar dari mulutnya, mengalir bagai lahar kesedihan dan kesengsaraan.


Marni semakin mencium ketidakberesan. Lidahnya saja kelu ketika hendak membentak sang hantu seperti yang biasa ia lakukan. Akibatnya bukannya memaksa berani dengan membentak sang sosok astral itu, Marni berbalik arah dan pergi keluar, menuju ke gudang belakang rumahnya. Ia sangat berharap Soemantri Soekrasana yang telah berhasil ia dan suaminya sekap telah mampus dibunuh dua pemuda budak nafsu berahi yang diperintahkan untuk menghabisinya tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soemantri Soekrasana berlari secepat mungkin menembus pepohonan, melompati parit kecil dan tegalan untuk mengikuti dua sosok tuyul yang berkejaran lincah sehingga saking cepatnya terlihat seperti  tak menyentuh tanah. Kedua sosok dengan tubuh serupa anak-anak akan tetapi dengan kepala dan mata besar melebihi porsinya itu memberitahukan keberadaan Girinata kepada Soemantri Soekrasana.


Mantra-mantra terus bermunculan melewati bibirnya dengan tujuan untuk tidak sekadar menguasai kedua sosok tuyul berbadan serupa bayi berumur dua tahunan itu, namun juga untuk melukis semacam peta gaib dan daftar data kehadiran para mahluk supranatural di dusun ini, terutama setelah gerbang gaib telah bobol.


Ketika Soemantri Soekrasana hampir kehilangan dua tuyul tengil itu, ia kembali secepatnya merapal sebuah mantra lain, "Menjangan gendhongen aku kidang kencono pelayokno ingsun, cang palancang malem." Sebuah ilmu kanuragan meringankan tubuh bernama Lepas Lumumpat. Soemantri Soekrasana merasakan tubuhnya kini menjadi seringan kapas namun dapat bergerak secepat seekor menjangan. Kedua tungkai kakinya bekerja secara otomatis tanpa terasa begitu berusaha. Soemantri Soekrasana bergerak cepat dan lincah. Rerumputan dan ilalang tinggi tersibak hampir tanpa gerakan yang berarti. Soemantri Soekrasana malah kadang menjejeri kedua sosok mahluk pencuri gaib yang juga merupakan pelari handal tersebut.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Istri Pak Guru memicingkan kedua matanya melihat sosok yang datang bertelanjang dada menyibak selimut kabut di malam ini. Sang perempuan beranak dua itu bersumpah bahwa sepertinya ia kenal dengan baik wajah orang yang baru datang tersebut. Namun, bilapun benar apa yang dipikirkan, tidak mungkin sosok terssebut semuda ini, tidak pula dengan porsi tubuh yang tegap dan prima tersebut. Garis-garis wajah laki-laki ini mirip orang yang ia tahu, tetapi orang yang ia kenal tersebut sudah paruh baya, sedikit bungkuk dan berjalan dengan menyeret kedua kakinya. Itupun kalau memang orang yang datang itu adalah sosok yang biasanya ia kenal sebagai Girinata.


Sosok laki-laki muda itu mendekat pelan dan santai. Keduanya tangannya bertaut di belakang tubuh. Ia tersenyum pada istri Pak Guru Johan. "Anak-anak belum tidur, nduk?" ujarnya ramah.


Istri Pak Guru Johan membalas senyuman laki-laki misterius tersebut secara naluriah saja. Ia kemudian memandang kedua anak lelakinya dan melambaikan tangannya tergesa-gesa agar keduanya mendekat dan merapat kepadanya, juga secara naluriah.


Sorot lampu terang benderang di rumah Pak Guru Johan akhirnya berhasil menggambarkan setiap detil wajah dan perawakan laki-laki tersebut.


"Maaf, kalau boleh tahu, ada keperluan apa ya, Mas?" ujar istri Pak Guru Johan sembari memeluk kedua anak laki-lakinya erat. Mendadak seutas angin malam membuatnya bergidik ngeri dan merinding. Ia tak paham apa yang terjadi, namun insting keibuannya membuat dirinya secara otomatis melindungi kedua anaknya tersebut.


"Welah, nduk. Kamu tak kenal siapa aku? Aku manglingi to rupanya, bikin pangling?" ujar Girinata kemudian terkekeh. Nampaknya ia sengaja bermain-main dengan perasaan bangganya sendiri. Pertanyaan yang diajukan jelas tak masuk akal, karena memang ada perubahan luar biasa yang terjadi padanya. Selain wajah, seluruh tubuh pun kembali meremaja. Tentu siapapun bakal pangling, bahkan mungkin tak mengenal dirinya yang sekarang sama sekali.

__ADS_1


Istri Pak Guru Johan menyipitkan kedua matanya memandang sang tamu. Mendadak matanya terbelalak. Kedua tangannya memegang erat kedua anaknya yang mulai tak betah berada dalam penjara kedua lengan ibunya. "Pakdhe ... Pakdhe Giri .. Pakdhe Girinata?" ujar istri Pak Guru Johan terbata-bata. Ia sendiri hampir tak percaya dengan tebakannya.


Sinar lampu yang terang di rumahnya tak mungkin salah menggambarkan detil identitas fisik sang tamu. Rambut itu tak abu-abu dan masih lebat. Tubuh itu tak mengkerut dan bungkuk. Kulit wajah itu tak kendur dan menggelambir. Tapi sorot matanya, sorot mata penuh misteri namun mengandung kenakalan sekaligus kuasa itu tak dimiliki orang lain yang istri Pak Guru Johan pernah kenal, terutama di Dusun Pon.


__ADS_2