Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Limapuluh Tiga


__ADS_3

Sosok bergelar Gatotkaca tersebut melemparkan kedua bangkai APV yang masih terbakar hebat. Pakaiannya compang-camping dan kulitnya dihiasi coretan hitam legam jelaga. Namun selain itu, tubuhnya tak menunjukkan luka atau bahkan lebam sedikitpun.


Ia melihat sekeliling dan heran ketika melihat pasukan polisi yang tadi sudah ia lumpuhkan kini sudah kembali prima dan menembak ke arah warga.


Tanpa banyak pikir ia melesat terbang dan menukik turun menghajar musuh. Ia kembali meringkus senjata mereka dan menciderai para anggota polisi itu dengan parah. Teriakan terdengar kembali ketika Gatotkaca mematahkan tulang belulang mereka. Sosok adiwira tersebut juga menendang, memukul dan membanting musuh bagai bola bowling yang memelantingkan kumpulan pin.


Di sisi lain Sarti alias Ratna Manggali melihat sepak terjang Gatotkaca ini dan menggelengkan kepalanya.


"Dasar bocah," gumamnya.


Maklum, Gatotkaca memang bagai sesosok orok dibanding usianya yang sudah terhitung ratusan tahun. Gatotkaca sungguh seperti seorang anak kecil yang menikmati permainan kekuatan ini.


Sarti kemudian berkelebat, menancapkan tombak pendeknya ke lambung satu orang anggota polisi yang menjerit-jerit karena kakinya dipatahkan Gatotkaca. Ujung Baru Klinting merobek perut dan membuatnya diam untuk selamanya.


Sarti hendak membunuhi anggota polisi lain yang berhasil dilumpuhkan Gatotkaca ketika ia merasa sebuah tubrukan keras melemparkan tubuhnya bagai daun kering.


Sarti bangun berdiri dan melihat sosok Gatotkaca berdiri tegak di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan, pembunuh?" Gatotkaca memandang tajam ke arah Sarti dan mengerutkan keningnya.


"Kau adalah orang sakti terbodoh yang pernah kutahu. Dengan bertindak sok pahlawan dan berprikemanusiaan seperti ini kau pikir dirimu istimewa?" jawab Sarti. "Mereka akan segera kembali sembuh dan akan menyerang lagi bila tidak sekalian kau tumpas. Apa susahnya membunuh dan membungkam mereka selamanya," lanjutnya.

__ADS_1


"Itu bukan caranya," balas Gatotkaca pendek.


Sarti menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi tapi tidak membalas ucapan Gatotkaca. Ia harus mengakui bahwa sosok sakti ini memiliki niat membantu, terutama para penduduk. Lagipula kesaktiannya yang luar biasa telah banyak menolong, terutama masalah Marsudi dan antek-antek kepolisiannya. Walau bagi Sarti tindakan Gatotkaca hanya membuang-buang waktu, toh nampaknya sosok itu memiliki prinsip kepahlawanannya sendiri.


Suara Soemantri Soekrasana tiba-tiba ada di dalam otaknya, "Sarti, apapun urusanmu sekarang segera tinggalkan. Tolong Maung dan bawa ia kemari."


Tanpa banyak pikir lagi Sarti melesat pergi meninggalkan Gatotkaca yang memandang kepergiannya dengan mimik wajah yang tak terbaca.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Marsudi berkelit dari serangan-serangan Sarti dengan Baru Klinthingnya. Ia juga dengan lincah berhasil menghindari terkaman si Maung yang sudah kepayahan dalam gerakannya karena sempat ia hajar tadi. Bila Sarti tak muncul, Marsudi sudah yakin siluman harimau putih itu akan tewas bersama inangnya, Anggalarang.


"Aku tak bisa bertahan lebih lama. Aku sudah membuka gerbang untuk memaksa perempuan itu kembali kesana. Bila ia bisa kita kurung, Marsudi dan antek-anteknya praktis akan kehilangan kekuatan. Segeralah kemari bila urusan kalian sudah rampung," ujar Soemantri Soekrasana di dalam otak Sarti dan Anggalarang.


Ia masih menyabet dan menusukkan tombak pendeknya sedangkan Marsudi begitu lincah dan berbahaya walau perempuan iblis sedang tidak ada di dalam tubuhnya.


Sepersekian detik ketika konsentrasinya buyar, Marsudi menyobek bahu Sarti dengan jari-jarinya yang kuat bagai jalinan kawat baja. Tombak Baru Klinthing jatuh dari genggam Sarti. Maung yang berusaha menyerang Marsudi ternyata terlalu lambat. Wajahnya juga tercakar sehingga membuat hidungnya setengah tercerabut keluar.


Marsudi melompat merentangkan kedua tangannya dan siap menghancurkan kepala kedua anggota Catur Angkara itu ketika tiba-tiba dalam sepersekian detik sosok Gatotkaca muncul bagai roket dan menyepak Marsudi. Tubuh Marsudi sontak terlempar jauh bagai sebuah bola.


"Aku merasa kalian memiliki rencana," ujar Gatotkaca tanpa melihat ke arah Sarti dan Maung yang menggelepar di tanah.

__ADS_1


Gatotkaca malah melihat ke arah para anggota kepolisian yang sudah ia lumpuhkan kedua kalinya kini mulai pulih seperti sediakala.


"Dengar. Lakukan apa yang menurut kalian perlu dilakukan. Tapi aku tak akan membiarkan kalian membunuh satu orangpun," ujar Gatotkaca dengan garis wajah yang tegas.


Sebelum Gatotkaca mencelat terbang, ia sempat melihat wajah hewani Maung yang semula bisa dikatakan luka parah perlahan kembali memperbaiki diri.


Maung memang memiliki kemampuan regenasi yang cukup cepat. Namun bukan berarti ia tak bisa tewas. Hampir serupa dengan ilmu rawarontek atau ilmu gaib apapun yang dianugerahkan kepada para anggota kepolisian antek-antek Marsudi, Maung hampir bisa dikatakan bakal tewas di tangan Marsudi bila ia dan Sarti tak ditolong Gatotkaca.


"Maung, Sarti, cepat kemari!" suara Soemantri Soekrasana menggema di kepala kedua jagoan yang masih tergeletak di tanah itu.


"Cerewet sekali bocah tengik itu," ujar Sarti masih kesal. Ucapan Sarti ini ditimpali geraman Maung. Keduanya berpandangan sejenak, bangkit dan langsung menghambur pergi mencari dimana lokasi Soemantri Soekrasana berada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Si perempuan iblis berdiri sedikit bungkuk. Tubuh setengah telanjangnya sekarang ditutupi rambut panjangnya yang bergulung-gulung bagai tentakel gurita. Kulit keriputnya berwarna kemerahan oleh darah yang keluar menetes dari pori-pori.


Ia mengeluarkan suara aneh nan mengerikan serupa tawa melihat Wong Ayu melayang di udara dengan posisi tubuh terlentang dan terbalut kain kafan yang terus membebatnya sampai hampir kehabisan nafas. Di bawahnya, anjing hutan menyalak, babi hutan dan kambing berlompatan dalam hujan. Aura jahat, penyakit dan kutukan menyebar ke segala arah.


Wong Ayu merasakan nafasnya hampir putus. Tubuhnya serasa melesak masuk ke dalam inti bumi. Pandangannya berkurang-kunang dan tak lama ia tak sadarkan diri.


Ketika Wong Ayu merasakan oksigen masuk secara mengejutkan ke dalam paru-parunya, kedua matanya mendadak membelalak. Ia kembali berdiri di dunia gaib itu lagi, namun kali ini ia sudah mentas dari danau darah. Tubuhnya terbalut jarit hijau dengan tepian tersulam benang emas. Ia berdiri bersama ketiga rekan Catur Angkara. Sarti di sebelah kanannya. Cahaya dari bilah tombak Baru Klinthing yang ia genggam menerangi wajah dan tubuhnya yang juga terbalut kain hijau. Wong Ayu melihat diri Sarti dalam sejatinya yang sebenar-benarnya, sang Ratna Manggali. Kecantikannya kali ini terbuka dengan lugas.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana dan Anggalarang berdiri di samping kiri Wong Ayu bertelanjang dada dengan bagian tubuh mereka ditutupi kain hijau. Sinar kebiruan menyala dari keris Mpu Gandring tergenggam di tangan kanan Soemantri Soekrasana.


Di depan mereka berdiri sebuah pohon beringin raksasa yang menjulang tinggi seakan hendak menyundul langit yang berwarna lembayung. Sulur-sulurnya yang bergelantungan sampai tanah berbaur dengan helai-helai rambut panjang bergulung sang iblis yang berjongkok di atas pohon. Sosoknya tertutup dedaunan, namun terlihat jelas seringai jahatnya. Kain panjang yang ia kenakan menyelip di dalam batang dan diantara ranting, seakan merupakan bagian dari pohon beringin itu sendiri.


__ADS_2