Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Sebelas


__ADS_3

"Aku ada karena kau ada, tapi aku bukan kau. Aku ada karena ada itu sendiri. Kalian tak bisa mengkambinghitamkanku atas tindakan kalian sendiri. Darah yang kalian tumpahkan adalah tanggung jawab dan kemauan kalian sendiri. Makna darah di tangan kalian adalah makna yang kalian ciptakan sendiri," sang Pangkalima kembali berbicara dalam teka-teki tanpa menggerakkan bibirnya.


Yakobus Yakob gelagapan. Sosok itu kini melayang di atasnya. Yakobus Yakob dapat melihat wajahnya dengan seksama.


Ia melihat wajahnya sendiri di wajah sang Pangkalima, kecuali sepasang matanya yang berwarna merah darah.


Sosok itu perlahan turun dan menimpa Yakobus Yakob, menembus tubuhnya dan bersatu dengannya.


"Sekarang aku adalah kau dan kau adalah aku, namun kita adalah dua yang merupakan satu," kali ini Yakobus Yakob yang berbicara. Suaranya sendiri menggema di dalam otaknya.


Di satu sudut lain, nampak satu sosok yang sangat kontras dengan keadaan ini. Sosok Perempuan itu berdiri anggun, serasa melayang. Kepulan asap dan abu yang beterbangan tak bisa menyentuh kulitnya sama sekali.


Tubuhnya yang ramping berbalut kemben hijau dengan jalinan sulaman benang emas. Jarit dan selendang di pinggangnya berkelim-kelim rumit, panjang, mewah dan megah. Rambut bergelombangnya bersaing panjang dengan jaritnya menyapu tanah. Sebuah mahkota bertahta batu manikam berkelap-kelip di atas kepalanya yang sempurna.


Untaian kalung, gelang lengan dan pergelangan tangan yang berpendar keemasan senada dengan warna kulitnya yang juga bercahaya, berlawanan dengan langit yang kelabu. Wajah ayunya menyimpan kekuatan. Pesona wajah yang membuat pria manapun bertekuk lutut. Bukan hanya karena birahi, namun ada rasa takut dan takluk yang tak bisa digambarkan karena ada rasa kekalahan dan pasrah yang mutlak.


Sosok itu memandang Yakobus Yakob yang terbaring di tanah tebal oleh abu dengan sunggingan senyum misterius.


Yakobus Yakob sendiri meregang kaku. Sulur-sulur tanaman yang tadinya tak terlihat tiba-tiba muncul dari dalam tanah menusuk kulitnya yang memaksa masuk ke dalam tubuhnya. Hujan abu semakin menjadi, memenuhi rongga hidung, mulut dan matanya.


Dengan sedikit celah di matanya pula ia melihat ratusan sosok gaib beragam ukuran dan bentuk bergerak mendekat ke arahnya. Mereka berebutan masuk ke dalam tubuhnya dengan menyobek dada dan perutnya. Ia merasa darah bermuncratan dari tubuhnya.


Nafas Yakobus Yakob menjadi tersengal-sengal.


Ia terbangun dari rawa-rawa. Air masuk ke dalam mulut dan matanya. Tubuhnya basah kuyup. Mandau berkarat yang ia genggam meneteskan air.


Satu larik sinar dari senter menyorot tepat ke arah wajahnya.

__ADS_1


"Bangsat! Bersembunyi di sini kau. Sudah bosan hidup kau rupa-rupanya!" ujar orang yang menyenterinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kapal penumpang tersebut terapung-apung di tengah laut yang melengkung cembung tak berbatas.


Langit yang jernih bagai penutup kaca, dengan hiasan awan berarak bak tempelan lukisan semesta.


Kapal penumpang itu dibuat tahun 1991 oleh galangan kapal Jos L. Meyes Papenburg yang berlokasi di Jerman. Kapasitasnya dapat menampung 1973 penumpang ekonomi yang kerap lebih dari itu, berjubel-jubel ketika masuk dan bertaburan bagai ikan terbaring di tempat tidur atau di lantai dengan beralaskan matras bila mereka beruntung, atau kain sarung seadanya.


Bandi tak mampu membeli kelas I, II atau III dengan kamar dan televisi. Tak masalah. Lagipula ia cukup senang berbaring di lantai beralaskan jaket kulit, bukan di dalam dek, tapi di dekat menara uap yang berbunyi nyaring serta panas mengepul-ngepulkan asap kehitaman.


Bandi adalah seorang mantan anggota tentara yang dahulu bertugas di pula Jawa namun dipecat secara tak hormat karena ikut serta dalam intrik bisnis narkoba, prostitusi dan penggelapan senjata api.


Bagi ia dan beberapa rekannya sesama anggota tentara, kesalahan terbesar bukanlah keterlibatannya dalam bisnis haram ini, tapi karena ia ketahuan.


Bedanya, Kardiman menjadi 'seseorang', tokoh penting yang kaya raya, dihormati dan memiliki harga. Sedangkan Bandi meneruskan karirnya sebagai penjahat kelas teri, begundal, preman bawahan dan pelaku teror sewaan harga murah meriah bahkan kadang dengan diskon.


Namun, walaupun ia hidup seperti ini, tak ada yang benar-benar ia sesali. Baginya, dahulu, menjadi seorang tentara bukan perkara praktis, tapi filosofis: kekuasaan. Menjadi seorang anggota militer, aparat, intinya pemegang kuasa.


Nilai-nilai patriotisme dan bela negara hanyalah omong kosong belaka. Kebutuhan menindas orang lain adalah dorongan hidup yang paling mendasar. Dengan begitu, nilai kehidupan berada di paling puncak.


Namun, apa mau dikata, bahkan roda pun berputar. Ia sekarang menjadi seorang jongos, anak buah bos-bos yang membayarnya dengan jasa pengabdian.


Maka dari itu, Bandi berlayar menyeberangi lautan untuk ke Kalimantan. Ia mendengar ada kesempatan besar di sana untuk karir kriminalnya.


Mana tahu, kekuasaan akan kembali di raih di tanah orang.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bandi kegirangan bagai seorang anak kecil di taman bermain ketika tubuhnya menempel di sisi kapal. Badannya doyong, condong ke laut, melihat dengan mata kepala sendiri, kumpulan lumba-lumba meloncat-loncat mengiringi kapal seperti meminta perhatian para penumpang yang menyoraki mereka.


Binatang abu-abu bagai botol bir yang timbul tenggelam tersebut memesonakan Bandi. Ia terkekeh, bertepuk tangan sembari bersorak seperti penumpang kapal ibu-ibu dan anak-anak mereka.


Seorang pemuda tersenyum di samping Bandi. "Biasanya itu tanda kita sudah dekat pulau Kalimantan, Om," ujar pemuda itu.


"Wah, baguslah. Aku sudah bosan di laut. Berarti aku perlu siap-siap," balas Bandi.


"Maksud saya sudah dekat bukan dalam hitungan menit, Om," ujar sang pemuda masih tersenyum. "Kita akan sampai mungkin besok subuh, dini hari."


"Hah, itu kau bilang dekat?"


Sang pemuda tertawa. Memang seperti itulah keadaannya. Kapal laut berjalan lambat dibanding kendaraan darat apalagi pesawat. Walau sudah terlihat pulau di ujung mata, air akan menahan kapal sedemikian rupa sehingga seakan tak sampai-sampai.


"Kapal ini juga akan melewati sungai sebelum sampai ke pelabuhan, Om. Itu akan butuh waktu seharian. Semoga sungai sedang pasang, kalau tidak akan makin lambat karena dangkal," sang pemuda melanjutkan karena paham kemungkinan besar sang bapak baru pertama kali ini berlayar ke Kalimantan.


"Ah, tak apalah. Siapa namamu? Kau orang Jawa juga?"


"Saya Satria Piningit, Om. Saya orang Kalimantan yang belajar di Jawa, tinggal di desa bapak saya, desa Obong namanya. Bapak saya yang orang Jawa, sedangkan ibu saya sendiri orang Kalimantan, jadi ..."


"Kau tinggal di desa Obong? Dekat Kaliabang, Pancasona, Prajuritan?" potong Bandi. Ia yakin bahwa hanya ada satu desa di seantero pulau Jawa yang bernama Obong.


"Wah, Om tahu desa saya?"


Keduanya langsung terlibat percakapan yang akrab. Bandi memang familiar dengan ketiga desa tersebut. Ia sendiri lahir di desa Pancasona. Tak pelak dalam sekejap mereka sudah saling bercerita bagai paman dan kemenakan saja.

__ADS_1


__ADS_2