Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Ketigapuluh Lima Kusuma Dewa


__ADS_3

Sisik kehijauan sosok siluman ular prajurit Nyai Blorong memendarkan sinar lampu taman ketika tubuh ularnya meliuk cepat menghindari terkaman Maung dan Anggalarang.


Kedua siluman bertubuh setengah manusia setengah binatang itu terus bergulat kembali menubruki pepohonan, mematahkan batang dan menghancurkan dahannya.


Namun kali ini terlihat sekali bahwa sang ular yang menjadi kedodoran. Siluman itu tak menyangka bahwa Maung dapat kembali pulih dengan cepat dan dapat melawannya balik dengan kekuatan yang berkali lipat. Sang ular tak paham bahwa Anggalarang yang membuatnya demikian. Mereka tak lagi dua, melainkan satu. Anggalarang menjadikan Maung sebagai separuh bagiannya yang lain, sehingga keduanya memiliki kekuatan yang lebih besar.


Di lain pihak, Kusuma Dewi tak mampu lagi melawan kepedihan hatinya. Ia melihat dari mata si prajurit Nyai Blorong, betapa wajah Maung yang berupa harimau jadi-jadian itu tetap menunjukkan bagian besar wajah Anggalarang kekasihnya yang ia begitu cintai.


Kusuma Dewi mengerti bahwasanya ia hanyalah budak sang iblis. Ia tak memiliki kekuatan untuk melawan balik sang tuan. Tubuh dan jiwanya bukanlah miliknya seorang. Sungguh ironis memang mengingat beberapa waktu yang lalu ia baru saja merasakan puncak cinta dan bangga akan kepemilikan raganya. Kini ia yakin bahwa ia terpenjara.


Anggalarang sendiri makin menjadi. Maung boleh dengan ganasnya meraung, tetapi Anggalarang lah yang meradang.


Rasa kecewa yang luar biasa membanjiri Anggalarang dengan amarah, yang ini berkebalikan dengan Kusuma Dewi. Mungkin latar belakang masa lalu mereka yang membuat keduanya memiliki hasil kekecewaan yang berbeda.


Anggalarang yang di masa kecil menjadi korban kekerasan dan harus berjuang dalam kehidupan dengan cara yang keras pula, akhirnya menciptakan defense mechanism, yang secara harfiah benar-benar berupa suatu kekuatan gaib pelindung bernama Maung. Sehingga bila sesuatu melukainya lagi, Maung akan segera menjadi benteng menahan serangan itu bahkan melawan balik.


Di sisi lain, Kusuma Dewi, dahulu sepanjang hidupnya menyelubungi dirinya dengan ketidakpercayaan dan bahkan benci diri. Anggalarang baginya adalah refleksi dari mimpi yang ingin ia gapai. Ketika Kusuma Dewi melakukan apa saja, bahkan mengorbankan segalanya untuk mendapatkan Anggalarang, maka ketika Anggalarang akhirnya jatuh di dalam pelukannya, tak ada lagi yang ia inginkan di dunia ini. Anggalarang membuatnya cinta dan bangga akan dirinya sendiri. Sekarang, Anggalarang mungkin sudah tak menjadi miliknya lagi, maka, tak ada lagi tujuan di hidupnya.


Anggalarang kecewa, Kusuma Dewi sedih.

__ADS_1


Kekecewaan Anggalarang karena mengetahui gadis yang ia cintai tidak lebih dari seorang budak iblis, dilepaskan dalam bentuk amarah dan kemurkaan. Sedangkan Kusuma Dewi yang bersedih karena orang yang ia cintai adalah sudut yang bertentangan dengan kehidupannya, dilepaskan dalam bentuk keputusasaan.


Maung melompat menyerang sang ular yang juga telah bersiap dengan cakar-cakar hitam kehijauan di sepuluh jarinya. Namun, tanpa siluman itu sadari, kesedihan yang membuncah dari dalam jiwa Kusuma Dewi membuat gadis itu menggunakan segala kekuatannya untuk membuka lembaran gaib penjaranya.


Maung membabatkan kaki depannya yang jari-jarinya bercakar sekuat baja ke arah dada sang siluman ular. Tepat pada saat yang bersamaan, kulit dada sang siluman membelah terbuka. Sosok Kusuma Dewi muncul dari rekahan itu dan membiarkan cakar Maung mengoyak lehernya dengan pasrah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ketika kepala Girinata menggelinding lepas dari badannya dan jatuh ke lantai berubin Belanda di ruang tamu rumah tuanya, Wardhani melonjak kaget. Jarak yang memisahkan tak terlalu berpengaruh pada Wardhani. Lipatan ruang dan waktu hanyalah masalah konsep yang saat ini tak terlalu ia kenal karena berada di dalam dunia yang sama sekali berbeda.


Maka, kematian sang ayah yang langsung ia ketahui itu merupakan petaka dan kemalangan besar baginya.


Yang jelas, Wardhani meraung-raung bagai


seekor binatang liar yang terluka. Segala kesedihan berjatuhan tepat di atas kepalanya dan berdentum menghajar dadanya bagai godam mengetahui sang bapak telah tewas dengan tragis.


Girinata adalah satu-satunya keluarga yang masih hidup di alam nyata. Penghubung dirinya dan kehidupan. Harusnya ia bisa kembali lagi ke Dusun Pon menembus dimensi yang menyekat tubuh ragawinya untuk melepaskan sang bapak dari kutukan yang memenjarakannya gara-gara laki-laki muda bernama Soemantri tersebut. Seyogyanya ia membawa sang bapak kembali ke kejayaan yang beberapa saat lalu hanya tinggal seujung kuku dapat dinikmati.


Namun, nyatanya, pemandangan menyedihkan, mengerikan dan miris itu tergambar tepat di depannya. Kejayaan ternyata mengejawantah menjadi dendam kesumat, amarah dan benci belaka.

__ADS_1


Chandranaya sang kuntilanak merah dengan gampang menggunakan kesempatan ini untuk mendesak Wardhani keluar dari tubuh sang inang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anggalarang tersadar dengan apa yang sudah ia lakukan, namun semua sudah terlambat. Dengan kesadaran penuh sekarang, ia mengambil semua kendali yang entah bagaimana dapat ia lakukan. Bulu-bulu putih kasar Maung tersedot masuk kembali ke pori-pori kulitnya. tubuh raksasa harimau Maung mengkerut, otot-ototnya menggulung, semua terseret masuk ke dalam tubuh Anggalarang yang kini jatuh berlutut tanpa busana. Keringatnya memantulkan cahaya lampu taman.


Dengan mengumpulkan tenaga yang tadi diserap sosok Maung, Anggalarang berlari cepat ke arah Kusuma Dewi yang bergelimang darah. Sosok ular yang menutupi tubuhnya menguap bersama oksigen dan karbondioksida entah kemana setelah teriakan kemarahan dan kekecewaan sempat terdengar.


Anggalarang mengangkat kepala indah Kusuma Dewi dan meletakkannya di atas pahanya. Rambut sang kekasih memerah paripurna sewarna darah yang menggelegak dari luka menganga di dada dan lehernya.


"Kusuma Dewi, sayangku. Apa yang terjadi dengan kita?" ujar Anggalarang. Suaranya bergetar hebat.


Kusuma Dewi yang sekarat berusaha mengangkat tangannya yang juga belepotan darah menyentuh wajah Anggalarang. Ia tak mampu bicara. Darah terus mengalir dari leher, dada, mulut dan hidungnya. Pandangannya sudah tak fokus. Dengan segenap kekuatan Kusuma Dewi berucap, "Akang ...," sebelum jiwanya lepas dari raganya.


Anggalarang meraung pedih. Rasa sedih menyelimutinya dengan erat, menghimpitnya dengan ketat. Ia serasa ingin mati saja. Serasa ada yang dibetot lepas dengan paksa dari dirinya. Rasa kosong itu begitu menyakitkan.


Kata terakhir Kusuma Dewi adalah perwakilan dari cinta sejatinya. Bahkan Anggalarang paham itu. Ia membunuh Kusuma Dewi, membunuh dirinya sendiri. Kusuma Dewi adalah hidupnya.


Tubuh perempuan yang dicintainya dengan segenap jiwa dan raganya itu tergeletak lunglai, terbenam dalam darahnya sendiri yang terus mengucur seperti tak tahu bagaimana untuk berhenti. Anggalarang memeluk jasad Kusuma Dewi seperti memeluk keindahan yang tak mungkin kembali.

__ADS_1


__ADS_2