
Affandi ternyata terpancing juga dengan logika yang dibangun saudaranya itu. Ia mengusap dagunyadan menimbang-nimbang apa yang dikatakan Kardiman Setil.
"Kau yakin kau melihat ia membawa keris?" tanyanya.
"Diselipkan di pinggang bagian belakangnya, Af!" jawab Kardiman Setil mantap.
"Tapi, abang belum mengatakan apa-apa,"ujar Affandi ragu.
"Ah, kau ini, Af. Dia sedang meditasi, mencari petunjuk. Sedangkan selagi dia sedang tirakatan seperti itu, kita mungkin mendapatkannya sekarang. Apa bedanya? Kita ikut membantu Marsudi bukan tanpa sebab dan alasan. Kita percaya ada kekuatan misterius yang mengatur ini semua, dari petunjuk gaib yang diterima Marsudi, sampai petunjuk yang aku terima. Kita ada disini adalah bagian dari semua ini. Iya ‘kan, Af?"ujar Kardiman Setil kembali meyakinkan Affandi.
Affandi berpikir sejenak.
"Apa yang harus kita lakukan?"ujarnya kemudian.
Kardiman Setil memukul pahanya tanda ia bersemangat dan senang karena Affandi akhirnya menunjukkan rasa percayanya.
"Kita ikuti si laki-laki. Kita tanya soal kerisnya, baik-baik atau dengan kekerasan. Kita beli kalau perlu. Kalau dia tidak mau memberi lihat kerisnya, kita paksa. Soalnya itu berarti memang ada sesuatu dengan keris itu."
"Kalau ternyata keris itu kita dapatkan dan abang mengatakan itu bukan pusaka yang ia cari?"
"Ya sudah ‘kan? Apa ruginya sih? Kau tak pernah merampok apa? Atau kebaikan warga desa Obong penipu itu membuat kau lembek? Memikirkan bahwa ada orang baik di dunia ini?"ejek Kardiman Setil.
"Brengsek kau, Kar. Sengaja kau pancing emosi dan harga diriku," Affandi merasa kesal. "Baik, kita ambil keris itu. Awas kalau sampai kau salah lihat atau kau cuma mau cari gara-gara buat dapatkan perempuan itu," ancam Affandi.
__ADS_1
Kardiman Setil terkekeh kemudian beranjak dari bangku itu, mencari tahu kemana gerangan sang lelaki muda itu pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepertinya si laki-laki muda itu juga sehabis bepergian jauh. Ia rupa-rupanya menuju ke kamar mandi umum di seberang restoran dan losmen itu. Berarti si laki-laki itu tidak menginap dan memesan kamar di sini. Kalau iya, sudah barang tentu ia langsung saja ke kamar losmennya, pikir Kardiman Setil dan Affandi. Keduanya mengikuti si laki-laki tersebut.
"Kar, kalau memang benar ... Kalau memang benar orang itu yang kau lihat membawa sebuah keris, bisa saja dia bukan orang sembarangan. Paling tidak ia punya bela diri. Untuk apa dia bawa-bawa keris segala ‘kan?" bisik Affandi ketika mereka berjalan di belakang mengikuti si laki-laki muda ke sebuah bangunan kayu yang diperuntukkan bagi toilet sekaligus kamar mandi.
Kardiman Setil terkekeh kembali, "Sekarang baru kau serius," ucapnya puas. "Aku sudah pikirkan, makanya lebih baik kita rampok saja orang itu, tak usah pakai bicara segala, kita akan menghabiskan banyak tenaga."
Affandi hanya diam, tapi dia meraba sepasang karambitnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Walau berdinding kayu, ternyata bangunan panjang toilet sekaligus kamar mandi itu cukup bersih dan lega. Soemantri Soekrasana tidak tahu bahwa ada dua orang yang mengikutinya. Ia tak sadar bahwa keris Mpu Gandring yang terselip di pinggangnya ternyata mencuat dan terlihat oleh mata awas Kardiman Setil. Ia sendiri sudah merasa gatal di seluruh tubuh, ingin mandi dan memberikan diri.
Soemantri Soekrasana membuka pintu kamar mandi, menguncinya dan memuja syukur ketika air dingin yang mengalir dari pegunungan membasuh setiap inci tubuhnyayang telanjang.
Kardiman Setil memberikan sinyal kepada Affandi untuk menjaga pintu ruangan toilet dan kamar mandi itu. Ia sendiri masih sempat mencuci tangan dan mukanya. Affandi menengok keluar dan melihat tak ada tanda-tanda siapapun akan datang. Ia pergi ke toilet berdiri dan kencing.
Kardiman Setil merasakan kulit wajahnya begitu segar. Ia berjanji pada diri sendiri untuk mandi habis-habisan setelah merebut keris ini dan bisa jadi mendapatkan pujian dari Marsudi.
Tiba-tiba dari pantulan cermin ia melihat ada sosok tubuh yang berdiri di pojokan, di balik pintu. Sosok itu membelakanginya. Pakaiannya berwarna merah dan ia mengenakan semacam jarit atau kain yang membungkus bagian bawah tubuhnya. Yang membuat Kardiman Setil agak kaget adalah bahwa sosok itu memiliki penampilan seperti seorang perempuan, termasuk lekuk tubuh dan rambutnya yang sebagian seperti disanggul. Lagi pula ia paham betul bagaimana bentuk tubuh seorang perempuan. Namun, ini 'kan toilet khusus pria, pikirnya.
__ADS_1
Pandangannya sedikit kabur, berair, seperti kaca depan mobil yang terguyur hujan. Maklum, ia habis mencuci muka. Lagipula keadaan di luar maupun lampu di dalam ruangan toilet ini sama redupnya. Ia harus mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Sosok itu masih di sana. Ia segera kembalikan tubuhnya.
Sosok itu tidak ada di sana.
Tengkuknya merinding. Bulu-bulu di tubuhnya berdiri, meremang.
Perlahan ia kembalikan badannya dan melihat ke cermin. Tubuh itu terlihat kembali. Kardiman Setil membelalakkan mata. Nafasnya tersendat-sendat dan jantungnya berpacu kencang ketika ia melihat dari pantulan cermin, sosok itu berbalik, sangat perlahan.
Ia membalikkan tubuh cepat-cepat. Sosok itu tak ada di sana. Ia tak melihat apapun.
Ia berbalik lagi dan mendapati wajah seorang perempuan di cermin. Wajahnya pucat, seputih kapas. Kedua matanya melotot lebar dan darah mengalir keluar dari kedua matanya tersebut.
Kardiman Setil terkejut bukan main. Saking kagetnya, lidahnya kelu dan ia jatuh terduduk di lantai.
Affandi kini yang terkejut melihat saudara angkatnya dalam posisi seperti itu. Ia melihat dengan heran dan setengah berbisik berkata, "Kar, kau kenapa?"
Kardiman Setil melihatnya dengan pandangan horor.
Affandi mendekatinya, "Kau kenapa, Kar? Sudah jangan main-main. Kita selesaikan ini segera,"ujar Affandi setengah berbisik.
Kardiman Setil masih memandang Affandi dengan horor, namun kali ini telunjuknya mengarah ke bagian belakang Affandi.
"Apa? Apaan kau ini, Kar?" ujar Affandi semakin bingung bercampur kesal atas perilaku Kardiman Setil yang menurutnya aneh. Namun tetap saja ia berbalik dan melihat ke arah yang ditunjukkan Kardiman Setil.
__ADS_1
Sebuah dinding kayu biasa. Ada sosok perempuan berbaju sejenis kebaya berwarna merah. Ia menempel di dinding itu bagai seekor cecak, dengan kepala di bawah dan wajah mendongak ke arahnya. Wajahnya pucat luar biasa dan kedua matanya mengalirkan darah. Sosok itu perlahan merayap turun seperti binatang melata. Sesampainya di lantai, ia merangkak menuju Affandi yang kini ikut jatuh terduduk karena syok.
Affandi dan Kardiman Setil saling berpegangan dan berusaha berdiri dengan susah payah. Hanya tinggal sejengkal lagi sang kuntilanak merah berhasil menyentuh mereka, keduanya berhasil bangun dan berlari keluar bagai dua tawanan yang melarikan diri dari penjara.