Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Duapuluh Sembilan


__ADS_3

Chandranaya ditemukan oleh tiga orang pemuda desa. Ketiganya adalah putra tiga orang penting di desa, Pak Lurah, pemilik kebun tebu dan tuan tanah.


Ketiganya terkejut mendapati mayat Chandranaya yang tergeletak setengah telanjang dengan wajah berleleran darah dan kedua mata melotot bagai ingin keluar dari rongganya.


Namun, keterkejutan itu terjadi sebentar saja, karena kemudian digantikan oleh nafsu bejat yang menggebu-gebu. Darah remaja mereka menggelegak tak tertahan demi melihat tubuh setengah bugil mayat perempuan tercantik di desa Ngalimunan yang masih hangat tersebut.


Selama hidup, mereka sudah begitu penasaran dengan isi di balik busana megah dan mewah gadis anak orang miskin tersebut. Tidak hanya para pemuda, semua tahu bahwa laki-laki normal di desa Obong pasti berliur bernafsu pada setiap sudut lekukan tubuh Chandranaya.


Maka, walau telah menjadi mayat pun, kemolekan Chandranaya masih tiada bandingannya. Tidak ada yang percaya bahwa ketiganya akhirnya berhasil melihat sepasang dada ranum Chandranaya yang sudah tanpa pelindung itu.


Ketiga ayah mereka saling berebutan perempuan ini, padahal istri mereka lebih dari satu. Sekarang, demi melihat apa yang telah tersajikan di depan mata mereka, semua terbukti sudah bahwa hasrat ketiga ayah para pemuda itu memang bisa dipahami.


Ketiganya membersihkan darah di wajah sang gadis sampai sungguh hilang. Mereka juga menutup kedua matanya yang membeliak lebar. Kini, Chandranaya terlihat seperti sedang tertidur saja. Tak lama, ketiganya secara bergantian menyetubuhi Chandranaya sampai puas. Tubuh Chandranaya yang tak bergerak dan berontak itu semakin membuat para pemuda semakin ganas. Mereka menjilati leher, ketiak, dada sampai pangkal pahanya sebelum memasukkan kejantanan mereka dalam-dalam.


Pohon-pohon pisang menjadi saksi bisu kebejatan tiga remaja tanggung itu.


Ketiganya bahkan sebenarnya paham bahwa Pak Carik lah yang kemungkinan besar melakukan semua ini kepada Chandranaya. Ketiganya sebelumnya bertemu Pak Carik sehabis buang air besar di dekat situ.


Tapi mereka tak peduli.


Mereka terus menikmati tubuh yang sudah benar-benar telanjang itu ketika masih hangat.


Setelah mereka selesai, mayat molek Chandranaya telah basah oleh keringat dan cairan kelelakian mereka.


Tanpa diketahui, Sarti mendadak sudah berdiri di belakang ketiga laki-laki yang masih telanjang itu. Tangan kanannya memegang celurit rompal yang ia dapatkan di tegalan sawah dalam perjalanannya ke tempat ini. Instingnya selalu benar, sudah ditajamkan dalam berkali-kali kehidupan dan kematiannya.


Sepasang mata Sarti membelalak penuh murka. Dua remaja laki-laki tewas dahulu. Sarti membuncaikan perut mereka sehingga usus berlompatan keluar. Keduanya tewas di samping Chandranaya setelah kejang-kejang terlebih dahulu.


Remaja lelaki terakhir berjongkok ketakutan sembari menutupi kejantanannya yang kini mengerut sama seperti nyalinya. Dia adalah putera Pak Lurah.

__ADS_1


"Pak ... Pak ... Pak Carik. Aku sum ... sumpah, bukan kami pelakunya. Pak Carik yang pertama mem ... merudapaksa dan membunuhnya. Kami cuma lewat. Dia sudah terlebih dahulu mati. Percaya padaku ...," ujar remaja itu terbata-bata. Sosok Sarti menjadi malaikat maut di depannya.


"Berdiri!" perintah Sarti. Dengan tubuh bergetar anak Pak Lurah itu berdiri. Kedua tangannya masih menutupi kelelakiannya.


"Angkat kedua tanganmu!" lanjut perintah Sarti.


"Kau mau aa..aapa? Percaya padaku, Pak Carik pelakunya," suara anak laki-laki itu bergetar.


"Aku percaya. Sekarang angkat kedua tanganmu!" suara Sarti terdengar sekali menahan amarah. Ia jujur bahwa ia percaya ucapan remaja laki-laki itu. Ia sendiri sudah berpapasan dengan Pak Carik dengan noda darah di pakaiannya. Ia akan membunuh Pak Carik malam ini juga, namun setelah menebas putus benda di antara pangkal paha anak Pak Lurah yang bejat ini.


Teriakan kesakitan anak Pak Lurah tak sempat terdengar karena Sarti menancapkan ujung lancip celurit melalui rongga mulutnya yang terbuka lebar, menembus hingga belakang kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sarti meneteskan air mata.


Sarti menguburkan jasad Chandranaya di dekat kali.


Ia pulang ke rumah Pak Carik. Melihat sekilas tubuh tambun laki-laki itu berjalan ke belakang, ke bangunan rumah tempat istri ketiganya tinggal.


Sarti mencari baju silatnya yang berwarna merah darah dan bersumpah akan mengenakan pakaian berwarna merah setiap kali melakukan aksinya, membunuh para bajingan tengik yang mengotori dunia. Ini sebagai penghormatan kepada Chandranaya, gadis cantik berkebaya merah yang tewas dirudapaksa dengan keji.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sarti menjadikan Pak Carik sebagai menu utama. Sebagai pembuka ia berkelebat di atas atap genteng rumah pemilik kebun tebu dan tuan tanah dahulu. Membunuh keduanya di rumah mereka sendiri. Tuan tanah kepalanya menggelinding setelah dipapras dua kali oleh Sarti ketika ia sedang buang air kecil di halaman belakang. Sedangkan pemilik kebun tebu tengkorak kepalanya terbelah dan mengeluarkan cairan merah darah dan kuning otak, ketika ia sedang merokok daun di pekarangan.


Pak Lurah lah yang paling sial. Ia sempat mencoba melarikan diri, sehingga kaki kanannya putus dan ia harus menyeret tubuh setengah baya bergelambirnya itu di jalan setapak menuju rumahnya sembari berteriak-teriak memohon ampunan atau pertolongan. Sarti membacok punggungnya tiga kali dan meninggalkannya mati sekarat kehabisan darah.


Ketiganya pantas tewas menurut Sarti karena mendidik anak-anak mereka sebejat mereka sendiri. Andai ketiganya ini yang menemukan mayat Chandranaya, bukannya ketiga anak lelaki mereka, sudah barang tentu mereka juga akan melakukan hal yang serupa.

__ADS_1


Mungkin jauh lebih bejat dan jahat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pak Carik diseret Sarti dari tempat tidurnya, ditemani teriakan histeris istri ketiga.


Pak Carik Ngalimun kemudian digantung terbalik dalam keadaan sepenuhnya telanjang.


Ini semua dilakukan Sarti dengan kesaktiannya yang memang pilih tanding.


Sarti membakar tubuh Pak Carik sampai tewas beberapa saat kemudian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ingatan Sarti terakhir saat itu adalah ketika warga desa menangkapnya, mengeroyok dan memukulinya, kemudian melemparkannya ke tumpukan kayu yang terbakar, serupa dengan yang dilakukannya kepada Pak Carik Ngalimun.


Sarti melakukan pembunuhan itu dengan dipenuhi oleh amarah dan urusan pribadi. Dia tidak merencanakan smeua serangan dengan tujuan meloloskan diri. itu sebabnya, ia tak melawan ketika warga desa melihat ia membunuh Pak Carik. Para warga menggeruduk dan menangkapnya.


Sebelum mati, Sarti melihat Nyi Roro Kidul tersenyum ke arahnya dari balik api. Selendang hijaunya melambai-lambai seperti bagian dari api itu sendiri.


Sang ratu laut Selatan itu berkata pelan, "Tugasmu selesai hari ini. Besok kau akan bangun kembali, Sarti."


Sarti tak merasakan sama sekali api yang menggerogoti kulit, daging dan tulangnya sampai gosong. Tahu-tahu, ia sudah melayang-layang, lepas dari kehidupan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sarti masih memandang kuntilanak merah itu dengan hati yang terluka. Tanpa membuka mulutnya sang hantu perempuan berkata lirih, "Harusnya kau bisa menyelamatkanku, Sartiii ...."


"Ya, harusnya aku bisa menyelamatkanmu. Aku terlambat, Chandranaya," ujar Sarti lirih.

__ADS_1


__ADS_2