Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Enampuluh Sembilan


__ADS_3

Sarti memandang ke arah Wong Ayu yang masih melayang di udara. Di bawah mereka api masih menyala lebat, menggerogoti sosok-sosok tubuh pemuda yang tak berbentuk lagi sampai hangus, gosong dan hancur di banyak bagian. Bahkan tidak terkecuali Yudi.


"Mereka tak akan terus seperti ini, Wong Ayu. Mereka akan kembali utuh dan terus melawan kita sampai kita kehabisan tenaga dan akal. Apa yang harus kit alakukan untuk melawan mereka? Kapan Soemantri akan sampai?" balas Sarti tanpa membuka mulut.


Padahal, tadinya Sarti yakin tubuh-tubuh itu bila dicincang sedemikian rupa akan kembali utuh dengan waktu yang sedikit lambat dibanding bila dilukai atau dibunuh begitu saja. Tapi ia benar-benar salah. Daging-daging berserakan tenggelam dalam darah mereka sendiri atau yang gosong terbakar, ternyata merapat dengan cepat dan membentuk utuh tubuh sempurna kembali.


Yudi yang terbakar meraung, menjejakkan kakinya mencelat tinggi menyerang Sarti. Sarti bergerak secepat kilat menghindar dengan cepat dan cekatan. Tubuh Yudi yang terbakar itu melewati Sarti, beberapa jengkal darinya.


Bukankah sebelumnya orang itu tak memiliki kemampuan jurus silat sehebat ini? Pikir Sarti. Bagaimana mungkin dalam keadaan terluka, ia malah bisa meloncat tinggi seperti itu?


Kebingungan Sarti menjadikan kelengahan menjamur di dalam otaknya. Ketika sang perempuan berusia ratusan tahun itu menjejak tanah, dua orang pemuda yang tadi ia bantai di dalam rumah William Tanata muncul membobol jendela kaca di belakangnya. Mereka siap menanamkan parang-parang panjang mereka ke batok kepala perempuan berumur seribu tahun lebih ini.


Soemantri Soekrasana menggeber motor sport-nya, menubruk keras dua tubuh pemuda yang hampir berhasil membunuh Sarti di kehidupannya yang entah keberapa ini.


Satu pemuda terlempar jauh. Kaki dan rusuknya patah sehingga membutuhkan beberapa waktu untuk kembali sembuh. Sedangkan satunya terlindas roda motor sport Soemantri Soekrasana dengan telak.


Melihat kesempatan ini, Sarti membenamkan kakinya ke kepala pemuda itu sampai hancur.


"Aku tak akan berterimakasih padamu, Soemantri. Kau tahu aku masih akan hidup, bukan?" ujar Sarti memandang ke arah Soemantri yang sudah membanting motornya.

__ADS_1


"Malah seharusnya kau harus berterimakasih padaku, nek. Tidak akan ada yang lebih seru dari kejadian kali ini dibanding hidupmu yang lain," ujar Soemantri Soekrasana sembari tersenyum.


Sarti mendengus tak acuh. Ia kesal dengan kenyataan bahwa Soemantri Soekrasana sungguh memang menyelamatkan nyawanya barusan. Ia masih belum ingin mati dahulu. Misi masih harus diselesaikan.


Soemantri Soekrasana kemudian memandang ke arah Wong Ayu yang perlahan turun ke tanah. Ia kemudian mengambil botol air mineral dari tas selempangnya, meminum sedikit dan menyemburkannya ke tanah.


Ia menutup kedua matanya, kemudian membaca sebuah mantra dalam bahasa Jawa: Paneklukan Braja, untuk meminta bantuan kekuatan gaib, "Iki panelukan ing braja ... Hi kekilat kirta kama dewa kamanusan, kang mungguh ing bongkot ilat kita, ..., iya iku kang wisesa ing braja kabeh!"


Semua warga yang dengan sekuat tenaga berkumpul agak menjauh dari medan peperangan terlihat bagai kumpulan semut menghindari api. Namun, mereka masih dapat melihat dengan jelas kilatan-kita cahaya lemah dari balik gegap gempita cacahan kabut. Udara yang berdesir pun dapat mereka rasakan begitu aneh. Bulu kuduk merinding dan perut bergejolak seperti sedang meriang. Mahluk-mahluk halus yang tadi mereka lihat jelas, kini berpendaran di kelopak mata mereka, seakan mereka sekarang berada di alam mimpi, antara ada dan tiada.


Namun, bagi Sarti, Wong Ayu, Soemantri Soekrasa dan para pemuda Kampung Pendekar yang telah utuh tersebut, energi yang meletup-letup di sekeliling Soemantri Soekrasana terlihat jelas.


Tarini, hantu nenek-nenek yang punggung dan bagian kepalanya berlubang menganga juga muncul di sisi lainnya Soemantri Soekrasana sekejap kemudian. Tubuh hantu yang merupakan adik kandung Priyam di masa hidupnya dulu itu seakan meleleh, memencar dan berpendar. Hantu-hantu semakin kalang kabut dan tiba-tiba mereka berteriak-teriak kalut, ketika dari balik tubuh Soemantri Soekrasana, sosok Chandranaya sang kuntilanak merah muncul.


Sosok hantu perempuan berkebaya merah itu melayang di atas kepala Soemantri Soekrasana yang masih membaca mantra. Kedua matanya melotot mengalirkan darah bagai air terjun. Mulutnya terbuka lebar berteriak keras memekakkan pendengaran gaib para mahluk halus.


***


Yudi merasakan darahnya menggelegak sampai ke ubun-ubun. Amarah menjalar bersama darah semakin parah.

__ADS_1


Ia baru saja kembali dari kematian. Rasa sakit yang ia rasakan karena api yang memanggang tubuhnya tak sebanding dengan rasa bencinya.


Untungnya, Yudi tidak bodoh. Ia sengaja mengambil sesuatu dari alam sana, dari dunia yang berbeda, sebuah tempat dimana nafsu dipelihara dan dimanja. Apapun yang ia inginkan ternyata mendapatkan ganjaran. Ia sudah mencicipi kekuatan besar yang mengalir dan berjobak di nadi, syaraf, lapisan kulit dan serat-serat dagingnya. Dan semua itu sungguh lezat.


Kini, sudah saatnya ia tidak sekadar mengecap dan mencecap, sebaliknya kali ini ia akan menyantap makanan gaib itu dengan rakus bagai kerumunan hyena memangsa bangkai yang sedap atau hasil rebutan dari singa jantan.


Para hantu kalang kabut, gagap dan gamam mendapati seorang laki-laki muda yang sekonyong-konyong muncul dan membawa serta hantu-hantu lain yang mengancam dan mengintimidasi mahluk-mahluk gaib yang ikut serta dengan para pemuda pimpinan mereka itu.


Ini tak bisa dibiarkan!


Ratu dari dunia seberang, bersama sosok laki-laki bernama Bandi yang memberikan kekuatan serta penawaran keabadian kepada Kampung Pendekar itu menjelaskan dengan gamblang bahwa para siluman berbentuk binatang dan mahluk-mahluk mengerikan serta menjijikkan lainnya, para hantu dan arwah-arwah tak tenang yang mati menderita atau penasaran, serta jin-jin yang dimanfaatkan manusia, akan diberikan pilihan untuk bisa bebas dari alam memori dan pengulangan mereka di dunia, agar mereka dapat bebas dan menjalani hidup sesuai keinginan mereka sendiri.


Sepertinya memang mustahil bahwa hantu dan mahluk-mahluk gaib lainnya diberikan pilihan semacam itu. Hantu khususnya, adalah entitas berupa rekaman kesadaran manusia yang pernah hidup. Hantu sendiri jelas bukan manusia.


Namun, dengan kemampuan adikuasa yang adikodrati mahluk agung berbentuk betina itu, sepertinya apa saja bisa terjadi. Buktinya, Yudi telah mati dan ditunjukkan kehidupan di sebuah tempat yang tak bisa dibandingkan dengan apapun. Di tempat itu nafsu, berahi, gairah, ambisi, amarah dan benci: angkara murka, bukanlah kejahatan. Mereka bukanlah hal yang harus dihindari, ditekan dan ditanam dalam-dalam. Sebaliknya, mereka dirayakan, dipestakan dan diperjamukan bagai sebuah pencapaian tertinggi.


Ia dan para pemuda Kampung Pendekar yang lain sudah diberikan jaminan bahwa mereka akan masuk nirwana itu, ya ... Surga! Sebuah Firdaus dengan konsep yang berbeda dengan apa yang biasa diketahui dan dikenal semua orang beragama dan berkeyakinan. Berkebalikan malah.


Dengan syarat, membawa serta sebanyak mungkin orang yang menjadi bakal calon surga seperti mereka setelah terlebih dahulu menjadi pasukan.

__ADS_1


Tentu ia setuju, siapa yang tidak? Pikir Yudi.


__ADS_2