Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Wardhani


__ADS_3

Pukul enam petang Wardhani mengambil handuk kumal miliknya dan pergi ke belakang. Ia menggantungkan kain pengering tubuh itu di pengait yang menempel di dinding bata kamar mandinya untuk kemudian menimba air dari sumur berlumut di depannya. Sumur dan kamar mandi itu masih satu bagian dari rumah peninggalan nenek kakeknya yang meski besar, terlihat cukup kuno dan kurang dana untuk perawatan.


Air yang Wardhani timba menggunakan ember plastik yang diikat oleh tali terbuat dari potongan karet ban itu dimasukkan ke dalam semacam corong dari batu untuk kemudian masuk ke dalam bak penampungan air di dalam kamar mandi. Daster selutnya basah di beberapa bagian.


Gadis delapan belas tahun ini meruap dan menguapkan keremajaan yang sedang mulai matangdari tubuhnya. Wajahnya berkesan ayu dan tegas dengan mata menyalak galak terhiasi bulu mata lentik seakan ditempel semesta dengan paksa.


Air mengalir menyapu lekukan tubuh dan sepasang dada ranumnya yang masih mungkin untuk tumbuh lebih berisi. Pucuk kedua dadanya itu berwarna merah terang semerah darah keperawanan - bukan coklat atau jambon. Tapi merah! - kontrasdengan kulitnya yang segelap daun kering, namun dengan kelembaban dan kehalusan yang sangat mengejutkan: bak dirawat di dalam keraton, entah memang diam-diam Wardhani merawatnya dengan baik atau memang sekali lagi semesta yang memberikannya cuma-cuma.


Rambut panjang bergelombangnya digelung begitu saja untuk menghindari air yang berkilat-kilat di kulit indahnya karena pantulan sinar kuning lampu bohlam kamar mandi. Tapi, urusan rambut atau pakaiannya yang lusuh yang kini tergantung di samping handuk, tak mampu menutupi kecantikan Wardhani yang seakan mendesak keluar dari kulit duniawinya. Beberapa pemuda di kampungnya jelas-jelas sepakat bahwa gadis itu sepertinya sejenis bidadari yangturun ke bumi namun tak bisa kembali ke kayangan karena selendang untuk terbangnya tertinggal di suatu tempat.


Namun, ia tak sempurna karena sayangnya, penduduk kampung bilang bahwa gadis ini memiliki hidup yang malang adanya. Pikirannya agak terganggu. Sedikit gila. Padahal, beberapa pemuda tadi juga tak begitu keberatan andaikata bisa berpacaran dengan Wardhani yang konon katanya sedikit gila itu. Mungkin cara berpikir bidadari sedikit berbeda dengan manusia.


Bagaimana orang-orang bisa berpikir Wardhani gila, itu akan disisakan untuk diceritakan kelak dalam kisah ini.


Ayah Wardhani bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik atau perusahaan pengepul kertas bekas, sedangkan ibunya juga sedang buruh, buruh tani, di sawah padi yang dahulu merupakan milik keluarganya.


Ironis memang. Namun, begitulah memang cara dunia bekerja.


Kakek dan nenek dan kakek buyut sebelum mereka dahulu termasuk orang terpandang dan kaya di kampung ini. Keluarga Sardhana, sang Kakek Buyut Wardhani, dikenal sebagai juragan tembakau yang memiliki tanah luas termasuk persawahan di kampung yang miskin dan jauh dari pusat peradaban di Jawa saat itu.


Namun hidup menjungkirbalikkan mereka. Orangtua Wardhani sekarang hanya ditinggalkan rumah kuno nan luas yang tak mampu mereka rawat dengan baik, tepat setelah anak perempuan pertama mereka wafat di usia ke sembilan belas.

__ADS_1


Wabah yang mendera kampung dan kampung-kampung tetangga sewaktu Wardhani masih orok itu merontokkan tanaman dan meruntuhkan kesehatan semua orang.


"Ah, sial, airnya habis," gumam Wardhani. Ia sedang membersihkan cekungan indah ketiak dan tonjolan elok sisi dadanya ketika gayung plastik hijau yang sudah retak di sana-sini itu membentur dasar bak yang sudah kehabisan air. Air sabun meluncur turun dari lekukan pinggulnya.


Ia mengambil handuk kumal dan membelitkan di tubuhnya. Satu dua lubang di penutup tubuhnya itu jelas sekali menunjukkan gelap kulit mulusnya di berbagai bagian. Pintu kamar mandi berderit ketika Wardhani membukanya untuk menuju ke sumur.


Ada sosok perempuan duduk di tepian sumur. Bajunya putih kumal, namun bersinar pendar di mata Wardhani. Ia duduk menyamping. Wajahnya tertutup rambut panjang hitam kemerahan yang tak kalah kumal dan kusutnya. Mungkin itu sebabnya sosok perempuan itu menyisirinya dengan sisir serit ... dengan perlahan.



Wardhani terdiam.


Tubuhnya terasa kaku dan beku. Ada desiran darah berlomba-lomba berkejaran di seluruh nadi sampai ke perutnya.


Wardhani memaksa tubuhnya untuk berpaling.


Sebelum wajah sang sosok berhasil terlihat, Wardhani berhasil membawa tubuhnya setengah berlari masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, ia melihat mbah putri, sang nenek, duduk di kursi rotan. Tubuh keriputnya ditutupi kebaya dengan bahan yang sebenarnya cukup mewah dengan warna hijau tua, setua umurnya. Rambutnya sudah seluruhnya putih, disanggul sederhana. Beberapa helai jatuh menutupi sisi wajahnya.


Wardhani melihat sang nenek yang sedang duduk di sana melihat ke arahnya.

__ADS_1



Wardhani melesat ke dalam kamar tidurnya melalui lantai berubin buatan jaman Belanda itu.


Wardhani menarik nafas panjang. Keringat dingin bercampur dengan air serta sisa sabun di tubuhnya.


Kedua orangtuanya mungkin sekarang sedang dalam perjalanan pulang dari bekerja. Inilah susahnya tinggal seorang diri di rumah peninggalan yang besar ini, mungkin itu pikir Wardhani.


Seorang diri?


Bisa saja sebenarnya Wardhani tinggal bersama sang mbah putri yang tadi ditemuinya sedang duduk di kursi rotan ketika kedua orangtuanya sedang bekerja, andaikata mbah putrinya itu masih hidup. Tapi beliau nyatanya sudah meninggal lama sekali, bahkan sebelum kakak kandung Wardhani wafat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dusun kecil ini sudah banyak kehilangan para tetuanya. Generasi baru sebenarnya menuntut perubahan yang besar seperti dusun dan desa-desa tetangga. Jalan besar dibangun, pusat pertokoan dikembangkan, industri baru bermunculan. Dusun ini ternyata masih menyimpan misteri yang seharusnya tak perlu lagi diagung-agungkan. Bagaimana tidak, ada empat daerah khusus yang dianggap sakral dan keramat, tak boleh disentuh, apalagi sampai digusur dan dirusak.


Pertama, sepasang pohon beringin di sudut lapangan, berusia ratusan tahun. Kedua pohon itu dibebat dengan kain berwarna putih dan kuning kusam termakan usia. Kedua, sebuah tugu batu yang dibangun puluhan tahun yang lalu tepat di perempatan jalan utama dusun. Ada aksara Jawa yang sudah sama sekali pudar dan tak terbaca, selain kata yang berarti 'mengunci'. Tugu batu setinggi dada orang dewasa ini juga dilingkari dengan kain putih kuning. Ketiga, sebuah tanggul kayu di tepian sungai kecil. Kain putih kuning diikat mengelilingi tanggul kayu sebesar dua paha manusia itu. Yang keempat dan terakhir adalah gapura utama dusun yang terbangun dari batu bata merah. Lagi-lagi kain putih kuning diikat di beberapa bagian gapura tersebut.



Tiap malam Rabu Pon, mbah Darmo, satu-satunya tetua yang masih hidup, melakukan ritual khusus di empat tempat keramat tersebut.

__ADS_1


Usia mbah Darmo sudah lebih dari seratus tahun. Konon, ia dan puluhan orang sejamannya, selalu bergantian setiap malam Rabu Pon bergantian menjaga empat tempat tersebut.


Sekarang, sudah tidak ada penerus yang memedulikan kegiatan takhyul semacam itu. Generasi Internet ini merasa bahwa halangan terbesar perkembangan dusun mereka karena adanya empat tempat yang harusnya dihancurkan untuk pembangunan menara sinyal, jalan-jalan besar yang mulus, pertokoan dan lain sebagainya. Masyarakat dusun nyatanya masih terlalu menghormati mbah Darmo sebagai tetua dusun terakhir yang masih hidup. Seakan malu mengakui bahwa mereka sengaja menunggu sang tetua wafat untuk dapat melakukan perubahan besar. Sialnya, sampai sekarang pun, malam Rabu Pon ini, mbah Darmo masih melakukan ritual di empat tempat itu walau berjalan terbungkuk-bungkuk dan tertatih-tatih di kegelapan malam yang pekat.


__ADS_2