
Setelah semua mahluk itu muncul, Satria Piningit berusaha berkomunikasi dengan mereka.
"Aku minta maaf bila harus meminta kalian untuk kembali turun tangan. Tapi teman-temanku, bahkan orang-orang tak berdosa akan menjadi korban dari kejahatan dari kampung itu, kampung darimana kau berasal, Soelastri," ujar Satria Piningit melalui riak gelombang komunikasi gaibnya.
Sebagai responnya, tubuh hantu Soelastri berputar pada porosnya dengan aneh dan terpatah-patah. Bunyi derak meletup-letup dari dalam badan adi kodrati tersebut. Tak ada jawaban berupa bahasa oleh Soelastri. Namun, sosok hantu itu kemudian merangkak kayang dengan begitu cepat serta mustahil dilakukan oleh manusia, menuju Kampung Pendekar dan menghilang begitu saja.
Tubuh Priyam menebarkan bau terbakar yang kental. Sosok Tarini yang ada di sampingnya menggengam tangan Priyam. Keduanya memudar di udara dan juga ikut hilang seperti Soelastri. Sedangkan Jessica Wu, darah mengalir deras dari rekahan luka besar di keningnya. Busana merahnya semakin memerah oleh lelehan darah tersebut. Ia membuka mulutnya yang juga penuh cairan merah kental dengan lebar. Wajah pucat mayatnya terlihat jelas dari balik rambut panjang hitam yang menjuntai. Jessica Wu melayang bagai bayangan, kemudian juga ikut menghilang secara dramatis.
Keempat sosok hantu itu memang tidak memberikan jawaban apa-apa. Namun, baik Satria Piningit maupun Yakobus Yakob paham bahwa semua hantu memutuskan untuk membantu mereka.
Satria Piningit menatap Yakobus Yakob.
"Nah, kau boleh turun sekarang Yakobus. Bahkan hantu-hantu pun punya rasa welas asih dan keinginan sadar untuk membantu manusia. Kau tak perlu kehabisan tenaga untuk melenyapkan para pemuda yang pada dasarnya sudah mati itu, Yakobus," ujar Satria Piningit.
Yakobus Yakob bersiap memendarkan tubuhnya untuk memecah setiap partikel dan atom tubuhnya. Namun kemudian tubuhnya kembali memadat. "Mengapa kau tak ikut sekalian denganku untuk menyelesaikan masalah ini Satria Piningit?" ujar Yakobus Yakob mendadak, menyebut nama Satria secara lengkap. Nadanya sangat misterius.
Satria Piningit mengerutkan keningnya. "Aku tak bisa apa-apa. Atau, maksudmu, Jin Obong ini?" sosok Jin Obong berdiri jangkung membayang di belakang Satria Piningit. Bulu-bulu tubuhnya yang hitam, kasar dan lebat meremang.
__ADS_1
"Kalian berdua," jawab Yakobus Yakob.
Melihat Satria Piningit tak paham apa yang ia maksud, Yakobus Yakob kembali terkekeh.
"Kau benar-benar tak tahu potensimu, bukan? Jinmu itu mirip dengan hantu Mariaban dan gendruwo. Ia dapat menyentuh manusia, melukainya, bahkan membunuhnya. Di sisi lain, ia memiliki ciri-ciri serupa dengan hantu-hantu yang kau kirim tadi. Tapi untuk melakukan dua tugas secara bersamaan, membunuh para pemuda sekaligus mengusir para hantu yang bernaung di dalam tubuh mereka, bukanlah pekerjaan yang gampang baginya. Untuk itu, jinmu itu memerlukan inang. Mungkin sama seperti siluman harimau putih di dalam tubuh temanmu yang lain itu. Bedanya, ia dirasuki roh siluman harimau. Sedangkan jin mu ... Seperti yang kukatakan tadi, satu jenis mahluk khusus dan berbeda," ulas Yakobus Yakob. Baru kali ini Satria Piningit mendengar sosok misterius itu berbicara panjang lebar, meski juga masih dengan suara rendahnya.
"Penjelasanmu masuk akal. Lalu, bagaimana harusnya? Siapa yang harus dirasuki Jin Obong agar kekuatannya bisa berkali lipat dan efektif melawan pasukan pemuda dan hantu-hantunya di kampung itu?" tanya Satria Piningit.
Yakobus Yakob tersenyum tipis. Ia memandang Jin Obong dengan menggunakan mata batinnya, kemudian berkata lirih kepada mahluk halus bertubuh raksasa itu. "Inilah saatnya kau menunjukkan pengabdianmu." Usai itu, tubuh Yakobus Yakob yang penuh dengan rajah itu kini benar-benar berpendar pecah dan hilang.
Satria Piningit menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia kebingungan dengan maksud sosok misterius nan mengesalkan itu. Namun ketika sadar telah mendapatkan jawabannya, semua telah terlambat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pemuda yang sudah Sarti tusuk menembus dada dengan tombak Baru Klinting itu kembali bangun. Ia mengusap lelehan darah di dada bekas ia tadi tertusuk dan membuatnya sempat mati. Ia dengan begitu percaya diri mengangkat satu batang linggis di atas kepalanya untuk menyerang Sarti. Yang akan diserang sudah siap dengan tombaknya, kembali mengantarkan sang musuh ke alam baka untuk kesekian kalinya. Sarti tak peduli lagi, kalau perlu ia akan mencincang lawannya ini sampai ratusan kali.
Namun, mendadak sang pemuda tersentak. Batang linggis jatuh jatuh berdenting di atas aspal sebelum ia sempat melakukan serangan. Ada lima kuku runcing dan hitam menembus dada dan lambungnya dari belakang.
__ADS_1
Wajah sang pemuda menunjukkan rasa tidak percaya. Rasa sakit yang menyetrumi seluruh tubuhnya begitu nyata, bahkan makin menguat. Nyawanya perlahan naik ke atas kepala dan melayang terbang.
Sosok hantu tanpa lengan dan separuh kepala hancur sehingga mempertontonkan cairan kuning otak yang membeleber keluar ikut tercerabut bersama nyawa sang pemuda. Awalnya hantu itu terpisah dari tubuh sang pemuda, kemudian berjalan mengambang di atas tanah sedikit terseok, seakan berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Namun, tak lama sang hantu laki-laki setengah baya itu membuka mulutnya yang tinggal separuh untuk berteriak meski yang keluar hanya bunyi seperti orang tercekik. Tak lama tubuh astralnya sobek, pecah dan meledak hancur berkeping-keping dan hilang dalam dimensi lain.
Tubuh sang pemuda yang kini telah benar-benar tewas terangkat ke udara kemudian dilemparkan keras dengan mudahnya bagai seonggok daging busuk. Tubuhnya menubruk salah satu rumah warga sehingga menambah kehancuran bentuk buruk rupanya.
Sarti melotot. Ia kembali mempersiapkan kuda-kudanya. Mahluk apa lagi yang muncul kini?
Memang benar, ada sosok separuh monster separuh manusia yang kini berdiri tegak di depan Sarti, tempat sebelumnya pemuda yang kembali hidup tadi berada. Salah satu dari kedua tangan sang sosok yang jari-jari panjangnya bercakar tajam meneteskan darah. Tubuhnya yang berbulu hitam legam nan kasar memyembul dari sobekan pakaian yang ia kenakan. Taring mencuat dari mulutnya yang penuh dengan susunan gigi yang sama tajam dan runcing.
Walau sosok ini bertubuh jangkung dan menggelembung, Sarti dapat melihat jelas siapa yang ada di balik tubuh serupa gendruwo atau hantu Mariaban tersebut. Wajahnya yang sangat kebinatangan itu masih menunjukkan ekspresi tertentu yang sebaliknya sangat manusiawi. Itu sebabnya Sarti perlahan mengendurkan kuda-kuda dan penjagaannya. Ada semacam kesadaran bahwa bahaya sedang tidak bersamanya saat ini. Mahluk di depannya pastilah bukan sosok yang mengancam.
Setelah hidup ratusan tahun, Sarti sudah mempelajari bagaimana ia harus memercayai naluri atau instingnya sendiri, terutama dalam keadaan genting, kritis, mengancam dan berbahaya.
Menhadapi mahluk mengerikan yang baru saja membunuh pemuda yang menjadi lawannya tadi, rasa terancam tersebut perlahan meredup. Maka, Sarti menurunkan tombaknya di sisi tubuh, kemudian memerhatikan sosok itu dengan seksama.
Sarti sang Ratna Manggali mengerutkan keningnya. Hatinya mencelos.
__ADS_1
"Satria? Satria Piningit? Apa benar itu kau?" seru Sarti tak percaya.