
Marsudi jatuh terduduk dengan panik. Tulang bahu kirinya yang retak karena dihajar sosok adiwira misterius yang dijuluki Gatotkaca oleh media itu tidak kembali sembuh seperti biasanya. Rasa sakit yang menjalar di seluruh syarafnya menjerit-jerit, memaksa otaknya untuk menyadari betapa gawat darurat keadaannya saat ini.
Sosok siluet Gatotkaca menghujam turun ke bumi dua ratus meter di depan Marsudi.
Marsudi tak menyangka sampai sejauh ini tubuhnya terlempar sampai menghajar batuan cadas perbukitan serta membuatnya hancur berantakan. Awalnya ia merasa senang mendapatkan lawan yang seimbang bagi kemampuan ilmu kanuragan barunya. Selama hidup, mendapatkan kekuatan dan kesaktian semacam ini adalah dambaannya, mimpi-mimpinya dan bahkan telah menjadi tujuan hidupnya satu-satunya. Ketika berhasil memilikinya, tentu ia sudah merasa menjadi dewa. Marsudi tak merasa nyawa manusia ada harganya karena mereka dirasa memiliki tingkat yang jauh lebih rendah dibanding statusnya sebagai seorang dewa. Maka, hanya dewa lain yang mampu membuatnya puas.
Nyatanya, kehebatan dan kesempurnaan kedigdayaannya belum berumur satu hari penuh ketika ia terpaksa harus menelan pin pahit kenyataan hidup.
Marsudi hendak berdiri untuk kembali terbang melesat menghajar sang lawan sebelum ia sadari bahwa kekuatannya hilang musnah bagai debu tertiup angin.
Segala keberanian dan rasa percaya diri sontak rontok dari jiwanya apalagi ketika dalam sepersekian detik dilihatnya sosok Gatotkaca yang kini malah sudah meluncur cepat ke arahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Tunggu novel selanjutnya yang khusus menceritakan kisah Gatotkaca sekaligus sekuel dari novel Babad Angkara Murka ini yang berjudul 'Sang Tetuka Adiwira'....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang warga menusuk paha salah satu anggota polisi dengan sebatang linggis ketika polisi itu dengan senjata laras panjangnya memburu para warga yang bersembunyi di beragam bangunan yang sebagian hancur dan terbakar.
__ADS_1
Luka di paha anggota polisi itu tak sembuh dengan cepat seperti yang terjadi sebelumnya, ketika para warga melihat Gatotkaca melumpuhkan dengan melukai mereka. Teriakan kesakitan yang terdengar dari mulut sang polisi sangatlah pilu.
Melihat ini para warga menyeruak keluar dari tempat persembunyian mereka karena sadar bahwasanya ilmu kanuragan para anggota polisi yang membuat mereka kembali sembuh setelah serangan yang berbahaya bahkan mematikan itu telah hilang seluruhnya, seutuhnya.
Sebaliknya, para anggota polisi baru mulai sadar ketika mimis timah panas senjata mereka sudah mulai habis dan gelombang warga menyerbu dan menghajar tubuh mereka sebelum mereka sempat melepaskan tembakan. Kesadaran akan hilangnya ilmu mereka ini membuat para anggota kepolisian antek-antek Affandi panik dan tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Rupa-rupanya kekuatan dan kesaktian benar-benar membuat manusia lupa diri dan jemawa.
Irawan berteriak keras-keras, "Teman-teman, teman-teman, tolong tahan emosi kalian! Tolong jangan terburu nafsu!"
Teriakan Irawan ini kemudian ditimpali warga lain dari Prajuritan seperti Hamdan dan Dul Matin yang juga ikut berteriak menahan warga lain yang terbakar emosi untuk tidak mengotori tangan mereka dengan darah para penjahat itu.
Sedari tadi mereka mengamati bahwasanya sosok misterius dengan kekuatan luar biasa, seorang adiwira, yang mereka tahu digelari dengan nama Gatotkaca, sudah berkali-kali melumpuhkan para penyerang dengan membuat mereka cidera parah. Namun tidak seperti empat orang jagoan berilmu tinggi lainnya yang juga melawan mahluk-mahluk gaib dan orang-orang sakit berilmu aliran hitam, Gatotkaca terlihat sekali menghindari pembunuhan. Gatotkaca seperti memiliki kode moral tertentu untuk tidak melenyapkan nyawa manusia walau mereka adalah jelas orang-orang berwatak jahat, dan padahal Gatotkaca sendiri memiliki kesaktian yang berada di atas rata-rata, bahkan melebihi keempat jagoan lain.
Walau teriakan Irawan, Hamdan, Dul Matin dan beberapa warga yang lain akhirnya didengarkan, korban tetap tak bisa dihindarkan. Dua anggota polisi tewas mengenaskan diamuk para warga, salah satunya adalah polisi yang tertusuk linggis di pahanya tadi.
Mereka yang tewas tidak bangkit lagi. Mereka yang terluka parah tidak kembali sembuh. Semuanya berhasil diringkus oleh para warga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau pikir mereka bisa membereskan ini semua?" tanya Wong Ayu kepada Soemantri Soekrasana. Mereka berempat berdiri di dataran tinggi melihat dari jauh asap dan api membumbung di bawah sana.
Soemantri Soekrasana mengangkat bahunya. Ia sedang melinting rokok. Sebelum membakar rokok itu, ia menawarkan kepada Wong Ayu yang kemudian ditolak, termasuk kepada Sarti dan Anggalarang yang juga sama-sama menolaknya.
__ADS_1
"Kita sudah terlalu banyak membikin masalah beberapa hari ini. Terlalu banyak korban dari warga. Lagipula Sarti sudah meyakinkan kepada kita bahwa Gatotkaca sudah berhasil melumpuhkan Marsudi dan para warga juga berhasil membungkam para antek-anteknya," jawab Soemantri Soekrasana dengan rokok menempel di bibirnya.
"Apa bukan berarti kita lepas tanggung jawab dan terkesan pengecut?" kali ini Anggalarang yang berbicara.
Soemantri Soekrasana mengepulkan asap rokoknya. "Apa kau pikir kita pengecut, Sarti?"
Yang ditanyai menjawab dengan santai, "Siapa yang peduli? Memangnya kita pahlawan, superhero, adiwira? Biar orang beranggapan bahwa Gatotkaca itu yang pahlawan, kita cuma membereskan masalah yang perlu dibereskan."
Tiba-tiba Wong Ayu memandang rekan-rekannya satu-persatu. "Aku sumber masalahnya. Harusnya aku tidak menyeret siapapun dalam masalah ini, baik para warga serta orang-orang yang tak bersalah dan tentu saja kalian. Aku yang paling bertanggung jawab dalam hal ini. Ada baiknya bila aku bisa melakukan lebih banyak hal untuk menebus atau paling tidak bertanggung jawab atas kekacauan yang kuhasilkan."
Anggalarang menggaruk-garuk dagunya yang sepertinya tidak gatal. "Aku rasa si iblis perempuan akan tetap mencari cara untuk keluar dari dunianya walau tanpa kau, Wong Ayu. Maung di dalam diriku terpanggil karena mendengar kata 'Obong' yang diulang-ulang. Jadi, sebenarnya desa Obong adalah titik utama kemunculan si iblis, kau hanya alat. Sekarang, kita semua adalah alat juga, tapi sebagai bentuk perlawanan terhadap iblis itu. Lalu, apa gunanya merasa berdosa seperti itu?"
Sarti melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Aku setuju, Anggalarang. Selama hidupku, manusia terbukti tak pernah selesai dengan masalah mereka. Aku selalu terlibat dalam gejolak politik, perang dan persengketaan. Bahkan sampai sekarang aku tak benar-benar paham mengapa aku masih hidup."
Sarti alias Ratna Manggali mengeratkan lipat lengannya di depan dada seperti sedang merasa kedinginan. Ia menatap jauh ke depan, entah ke masa yang mana.
"Selama itu pula aku sudah membunuh banyak orang. Orang baik, orang jahat, orang yang tak paham apa-apa. Aku berjalan di sisi raja dan pemimpin lalim atau di bawah presiden hebat dan jujur. Semuanya sudah aku lalui, untuk apa? Aku tak tahu. Aku hanya menjalankan tugas dalam kehidupan. Aku berjalan maju. Mungkin kau juga harus seperti itu, Wong Ayu. Kita, manusia tak berhenti berbuat dosa. Lakukan apa yang perlu dilakukan. Mungkin kita, Catur Angkara, adakah memang alat semesta untuk keseimbangan dunia. Paling tidak di kehidupan kali ini aku tidak bosan karena tidak perlu melakukan semuanya sendiri. Ada kalian."
Soemantri Soekrasana bersumpah ia melihat selarik senyuman menyembul tipis di bibir Sarti.
__ADS_1