
Sarti berjongkok di atas gerbang masuk jalan beraspal Kampung Pendekar. Suasana yang ia saksikan sekarang membawanya kembali ke masa kehidupan aslinya, yaitu kehidupan awalnya sebagai Ratna Manggali sewaktu masih tinggi di Daha, Kerajaan Kediri, pada masa kekuasaan Raja Airlangga yang berkuasa pada tahun seribu enam sampai seribu empat puluh dua Masehi.
Desa-desa pesisir di wilayah kekuasaan kerajaan Kediri saat itu menjadi korban angkara murka sang ibunda, yaitu Dayu Datu dari Desa Girah, yang legenda kemudian mengenalnya sebagai Nyi atau Ibu Calonarang dan berjuluk Rangda Nateng Girah.
Kemarahan sang ibunda dipicu karena penghinaan yang dilakukan masyarakat kepada anaknya, Sarti sang Ratna Manggali. Penghinaan demi penghinaan berupa ejekan, umpatan dan pelecehan membuat darah sang ibu mendidih dan menggelegak. Orang-orang mencemooh Ratna Manggali karena ia adalah anak seorang penyihir, penguasa ilmu Ngiwa Leak yang sakti dan dianggap kejam dan jahat.
Ejekan, cemoohan dan cacian itu bukan sekadar dianggap sebagai perundungan belaka, melainkan sebagai bentuk dari risak atau penindasan. Selain itu, Nyi Calonarang merasa bahwa masyarakat melihat tokoh perempuan seperti dirinya yang memiliki ‘pekerjaan’ yang tidak wajar, yaitu sebagai penyihir dan penganut ilmu Leak, sebagai sosok yang tidak memiliki tempat, kotor dan hina.
Maka, hari Kajeng Pon tengah malam, dimana setiap orang telah tidur nyenyak tak berani keluar pada hari yang dikeramatkan itu, bibi-bibi Ratna Manggali, yaitu para sisya atau murid-murid perempuan sang ibu, keluar dari perguruan. Mereka beterbangan, melompat ke udara dalam bentuk bola-bola dan kelebatan api dan sinar terang.
Udara di desa-desa pesisir mendadak gerah, panas membakar. Gelombang panas di udara tersebar dari lintasan lewat bola dan larik-larik api itu.
Anak-anak gelisah dalam tidurnya. Bayi menangis tiba-tiba. Lolongan anjing saling bersahutan bertubrukan dengan suara kaokan goak atau burung gagak riuh rendah. Tidak peduli sedang musim kering, kodok darat berbunyi ramai, berselang-seling dengan suara tokek yang menempel di langit-langit rumah atau pepohonan.
Masyarakat terbangun dengan keganjilan dan rasa takut yang tak beralasan. Mereka mendengar suara-suara binatang yang tumpang-tindih di masa yang tak wajar ini. Mereka juga merasakan hawa panas yang menjadi-jadi. Namun tak ada dari mereka yang berani membuka pintu untuk keluar dan menggusah anjing-anjing liar, atau membuka jendela membiarkan angin dingin masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Suasana mencekam. Jantung mereka berdetak lebih kencang serasa ingin membobol dada mereka, meloncat keluar.
Endih, atau bola-bola dan larik-larik api jadi-jadian di angkasa kemudian meluncur turun di atas jalan-jalan dan atap rumah-rumah penduduk desa, pecah terburai meletup-letup. Bungkus api yang menyelimuti para leak berubah menjadi beragam jenis bentuk mahluk lain.
Tiga puluh sembilan sisya jumlahnya.
Bongkahan bola api yang terpecah membelah dan memunculkan monyet-monyet liar besar, anjing-anjing kumal ganas berbulu kotor, dan babi-babi bertaring panjang. Mereka berkeliaran di jalan-jalan sepanjang desa wilayah pesisir, bersuka ria, bergajulan dan bercanda. Semakin banyak leak berubah menjadi mahluk berbentuk kambing, kerbau atau kuda. Ada pula leak berebentuk celuluk, raksasa yang matanya kosong dan berlubang besar dengan taring memaksa keluar dari mulutnya. Celuluk-celuluk ini berkelebat, berlari-lari, menari-nari dalam balutan dendam dan angkara murka. Mereka menggoda pada penduduk di dalam rumah yang saling merapat diselumuti rasa takut dengan bersandar di gapura rumah. Sedangkan leak yang berwujud kain putih bergulung panjang dan tebal malang-melintang di atas tanah. Seorang sisya Ibu Calonarang berhenti di perempatan jalan desa, berdiam di sana membentuk sosok menara pengusungan mayat, bergoyang-goyang di tempatnya.
Sang ibu, muncul dari kegelapan, menyibak tirai kelam malam melayang turun dari riuhnya pecahan api dan hawa panas di angkasa sebagai latar belakangnya.
Sarti ingat bahwa ia berada di rumah, menangis. Ia sedih karena sang ibu tak mampu menahan amarah kepada pada warga di seantero wilayah Kediri. Ini artinya nyawa akan beterbangan dengan mudahnya. Di sisi lain, pelecehan kata-kata oleh mereka terhadap dirinya, penghinaan terhadap ibu dan keluarganya juga sudah terlanjur menancap di relung-relung jiwanya.
Itulah sebabnya, walau ia diam di rumah dan dalam keadaan hati yang gundah gulana, sang ibu memasukkan semua pemandangan di desa-desa itu secara gaib ke dalam pikirannya. Setiap sepak terjang dan tindakan para sisya leak terpatri di penglihatan batinnya. Ia melihat apa-apa saja yang terjadi dengan begitu jelas.
Malam kelam yang mendadak menjadi terang benderang serta panas itu, mendadak diguyur hujan gerimis. Membuat tanah berbau angit dan membuat para leak menjadi semakin bersuka ria bermain di genangan air.
__ADS_1
Ketika fajar menyingsing, sama seperti sifat alamiah ilmu hitam, para leak pergi menghilang kembali ke bentuknya semula: para sisya perempuan, berbondong-bondong pulang ke padepokan mereka.
Para penduduk yang semalaman bergetar ketakutan perlahan membuka pintu dan memberanikan diri keluar rumah. Mereka merasa sang mentari menyelamatkan mereka malam ini.
Sayangnya, segala pemikiran mereka salah adanya.
Di perguruan desa Girah, para sisya, sang Calonarang dan Sarti si Ratna Manggali, bersama-sama menonton pertunjukan kematian hasil kerja mereka semalam melalui mata batin.
Anak-anak pada pagi itu sakit-sakit, kemudian mati mendadak dengan tragis. Teriakan tangis dan pilu menggema di seantero wilayah kerajaan Kediri. Kematian anak-anak ini diikuti dengan orang-orang dewasa yang mendadak muntah-muntah, mencret dan tewas tak lama. Ada lagi yang merasakan kulit mereka gatal-gatal, koreng dan bernanah. Tak sampai sore menjelang, nyawa mereka lepas dari tubuhnya.
Tangisan warga desa disauti dengan tepuk tangan dan tawa para sisya. Mereka saling mengucapkan selamat atas karya mereka tersebut. Tujuh sisya teladan, tertua dan terhebat diguyur pujian dari sisya-sisya muda.
Nyi Lenda, yang paling cerdas, berambut hitam begitu panjangnya hingga terseret di tanah, semalam berubah menjadi leak berwujud anjing besar kurus. Kadang ia juga berubah menjadi sosok raksasa setengah anjing, menyebarkan ludah teluhnya ke seantero desa. Ia diselamati oleh adik kandungnya, Nyi Lendi. Padahal Nyi Lendi adalah sisya Ibu Calonarang yang paling ganas. Berkebalikan dengan sang kakak, rambutnya pendek sepanjang pipi. Ia memotongnya agar tak perlu repot memadamkan rambutnya yang terbakar ketika ia meludahkan api. Semalam Nyi Lendi berubah menjadi leak setengah harimau loreng.
__ADS_1
Nyi Gendi tersenyum-senyum puas. Mudah baginya menebarkan tulah dan penyakit dengan berubah menjadi sosok kambing bertelinga panjang, atau siluman raksasa separuh kambing. Senyum perempuan ini dibalas senyuman binal dan nakal Nyi Guyang yang ahli dalam guna-guna dan ilmu pelet. Hanya saja, semalam, sisya yang dijuluki Nyi Jaran Guyang ini berubah menjadi kuda bukan untuk menggoda orang dengan asmara, namun dengan angkara.