Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Melenggok Pelan Penuh Goda


__ADS_3

Kebejatan dan darah dinginnya membuat Wardhani tak benar-benar peduli dengan apapun selain nafsu dan kepentingannya sendiri. Yang jelas ia telah menguasai Dusun Pon sebagai seorang ratu ilmu sihir dan ilmu hitam, serta pemimpin para dedemit. Soemantri Soekrasana adalah titik puncak pencapaiannya ini. Walau jelas sang dukun muda juga yang ternyata menjadi halangan terakhirnya. Ini karena Soemantri Soekrasana belum tewas sebagaimana telah direncanakan dan disepakati dirinya, Girinata sang bapak serta Marni sang ibu. Namun, bagaimanapun juga, karena kedatangan Soemantri Soekrasanake Dusun Pon inilah ia dapat lepas dari cangkang kefanaan dan kehinaan untuk keluar dari kepompong menjadi entitas yang agung dan berkuasa.


"Aku tak berencana untuk melawanmu lagi, Wardhani," ujar Soemantri Soekrasana sembari mengelap darah dari mulut dan dagunya.


Wardhani berjalan melenggok pelan penuh goda ke arah Soemantri Soekrasana. "Jujur, aku enggan membunuh engkau, Mas Soemantri. Aku sangat tergoda untuk menawarkan tempat di sampingku, berjalan dalam pecahan lipat dunia, beriringan sebagai ratu dan raja dedemit."


"Dan aku harus berjalan bugil seperti dirimu sepanjang hari seumur hidupku?" potong Soemantri Soekrasana menggeleng dan bergidik ngeri membayangkan keterlanjangannya.


Wardhani tersenyum. "Aku tidak sedang bercanda, Mas. Aku juga tidak sedang lengah. Apapun rencana licik Mas Soemantri, aku pasti tahu. Jadi sebaiknya Mas pikirkan cepat dan laksanakan rencana rahasia Mas untuk melawanku. Atau, ambil saja tawaranku," ujarnya masih dengan nada menggoda sekaligus mengancam di saat yang sama.


"Aku jujur, Wardhani. Aku sudah enggan melawanmu lagi. Aku sudah terlalu lemah, kehabisan tenaga. Kamu juga paham itu, bukan?" Soemantri Soekrasana menepuk celana dan kemejanya yang kotor oleh debu yang tak mungkin terlihat di kegelapan malam, apalagi keringat membuatnya menempel. Namun, tetap saja ia melakukannya.


Tak lama Soemantri Soekrasana berdiri pelan dan kesusahan.


Wardhani tersenyum. Kedua bagian jari-jarinya mengepal. "Terserah apa katamu, Mas. Lakukan sekarang," Wardhani memandang tajam ke arah dukun muda yang ternyata sekali lagi harus ia akui tampan itu.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana menarik nafas. "Sudah kukatakan bahwa aku tak akan melawanmu, Wardhani. Aku tak bohong. Paling tidak, bukan aku yang akan melawanmu," Soemantri Soekrasana memicingkan mata, membaca mantra dalam hatinya.


Chandranaya muncul di belakang tubuhnya, mengambang. Sepasang matanya mengalirkan darah. Kikikan kesengsaraan dan kepedihan menggema. Empat entitas gaib di dalam tubuh Wardhani bergejolak, memekik, memberontak gila-gilaan sebagai respon atas kedatangan mahluk halus kuntilanak merah itu.


Wardhani tak tahu apa yang sesunggu hnya terjadi. Ia tak mampu menahan gejolak tiba-tiba dari dalam tubuhnya tersebut.


Akhirnya keempat mahluk agung tersebut pun tercerabut dari tubuh fisik Wardhani. Mereka bakhan terlempar, terlontar dan keluar melalui bagian bel akang badan telanjang gadis itu.


Untaian kabut tersibak oleh hawa magis yang kental. Lapisan-lapisan putih tipis itu seperti membelah ngacir oleh lewatnya kekuatan sihir yang datang berbondong-bondong. D sudut lain dusun, para warga yang masih berkumpul berdiam diri, tak benar tahu apa yang harus dilakukan, namun sadar ada sesuatu yang sedang terjadi di luar sana. Mereka yang masih kuat tak mengantuk saling berbicara pelan, tentang masa lalu dan masa depan Dusun Pon. Menyesali segala hal yang harusnya masih dapat mereka lakukan atau hindari. Para tetua memandang dua anak Pak Guru Johan yang tertidur di samping ibu mereka di pendopo dusun ini. Mereka saling bertukar pandang memberikan sinyal komunikasi pemahamanbahwasanya mereka harus tetap berjaga sembari menunggu nasib memunculkan diri dan mengumumkan keras-keras kepada mereka tentang keputusan akan diapakan tempat mereka ini.


Nyatanya memang benar adanya kekhawatiran mereka itu. Di jalan setapak dengan hutan bambu di kedua tepiannya, empat mahluk adikodrati berpendaran dalam gelap diselimuti rekahan kabut putih. Gadis tanpa busana dengan kulit gelap indah, tubuh ramping molek dan pucuk dada merah terang merekah menegang di sepasang bulatan gundukan padat sedang berdiri dengan awas membelakangi mahluk-mahluk itu. Di depan sosok gadis muda tak berbusana tersebut, ada sosok kuntilanak merah melayang dan merentangkan kedua tangannya ke samping dengan penuh ancaman bagai seekor merak mengembangkan ekornya dan menegakkan dadanya.


Sepasang mata hantu betina itu melotot murka dengan darah menggenang di permukaan bulatan mata seperti danau. Cairan merah kental itu meluap juga sampai menetes deras keluar dari mata terus mengalir ke pipinya yang sepucat kapas, dagu, kebaya merah, jarit dan berakhir di ujung kedua kaki telanjangnya yang tak menyentuh tanah.


"Ada apa dengan kalian? Mengapa mahluk seagung kalian mengkerut seperti lubang pantat?" serapah Wardhani menggunakan bahasa batinnya terhadap empat entitas supranatural yang bersembunyi di belakang tubuhnya.

__ADS_1


Tentu tak ada jawaban yang jelas selain geraman, kaokan, desisan dan ringkikan mengerikan. Wardhani menatap sang kuntilanak, lalu kemudian berganti pada Soemantri Soekrasana yang terlihat lelah namun tak acuh.


Wardhani menggeretakkan giginya karena geram. Wajah pemuda dukun itu terpampang nyata ketampanannya sekarang setelah rambutnya yang basah oleh keringat tersibak. Garis-garis kemudaannya tertimpa bayangan ketegasan, mungkin oleh waktu dan pengalaman kerasnya. Tak heran dalam usia begitu muda, Soemantri Soekrasana telah menjadi seorang dukun yang hebat dan menguasai beragam ilmu kanuragran serta mantra-mantra gaib. Sepasang mata Soemantri Soekrasana yang pada dasarnya teduh itu selalu terlihat tajam dan siaga, selalu bergerak-gerak awas.


Wardhani semakin sebal karena harus menyia-nyiakan barang bagus seperti itu. Padahal, ia bisa meminta kedua orangtuanya untuk memberikan Soemantri Soekrasanakepada dirinya, sebagai hadiah, sebagai piaraan. Apalagi ia belum pernah merasakan sejatinya sentuhan lawan jenis secara sukarela, bukan sebagai pemancing belaka.


Namun kini, pemuda itu benar-benar menyulitkannya. Ia sakti, cerdas, serta mendapatkan perlindungan dari si hantu perempuan sundal ini, pikirnya. Tak ada cara lain, ia harus mengerahkan segala kemampuannya untuk tidak hanya menaklukkan dan melumpuhkan dukun muda itu, tetapi juga membunuhnya. Termasuk si kuntilanak merah yang harus dilenyapkan dari segala dunia, dari segala dimensi, semesta dan dunia.


Wardhani merapal mantra dan mengeraskan otot-otot di tubuhnya. Wajah cantiknya itu mendadak kembali berubah menjadi mengerikan karena tulang pipinya tertarik ke belakang dengan kemunculan barisan gigi lancip mata gergajinya menyobek gusi lamanya. Sedangkan kulitnya memucat seputih-putihnya.


Empat entitas gaib menggeliat di belakangnya. Semuanya berontak dan menebarkan suara nyaring berisik. Tubuh mereka meruapkan bau busuk serta amis darah dan nanah. Keempatnya terlipat-lipat. Sosok mereka yang sudah mengerut takut menjadi sungguh-sungguh tertarik dan terseret, terhisap kembali ke tubuh Wardhani sang ratu dedemit.


"Bangsat! Kalian mencoba menyangkal siapa aku, bukan?" ujarnya pendek dengan geram. Keempat mahluk iblis yang semula mengikutinya dengan sukarela, kini harus terpenjara oleh kekuatan sihir Wardhani yang luar biasa.


"Aku sudah meminta baik-baik kepada kalian sebelumnya. Tapi sekarang kalian harus merasakan kekuatan dan kekuasaan sejatiku. Dasar mahluk-mahluk tak tahu diuntung," ujar Wardhani semakin kesal dengan perilaku para iblis yang bersembunyi di belakangnya bagai para pengecut.

__ADS_1


__ADS_2