Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Ketigapuluh Tiga Kusuma Dewi


__ADS_3

Sang preman dalam bentuknya sebagai manusia dan laki-laki biasa jelas merasa ngeri dengan sosok kuntilanak merah yang penuh dengan segala ciri menakutkannya itu. Rasa takut yang telah ditanam sejak masa purba oleh masyarakat di peradaban negeri ini menyentak titik lemahnya.


Wardhani di sisi lain, meski ia sendiri berada dalam wujud gaib, sosok sang kuntilanak merah tetap membuatnya gentar. Bukan karena sekadar bentuk mengerikannya, tetapi kekuatan yang sang entitas adikodrati itu miliki. Wardhani ingat sekali bahwa sang kuntilanak merah itulah yang menggagalkan semua rencananya, dan keluarganya di dusun Pin sana.


Ini juga langsung mengingatkannya dengan keadaan sang bapak, Girinata, yang entah bagaimana kabarnya. Termasuk keadaannya bersama arwah ibu, kakak dan simbah putrinya. Ia sendiri terhisap ke dalam dimensi dunia lain, terkurung bersama mahluk-mahluk magis bagai tawanan yang kalah perang. Itu semua karena Soemantri Soekrasana dan kuntilanak merahnyayang kini hadir di depan matanya.


"Apa yang kau takutkan? Selesaikan, bunuh kedua orang di dalam mobil itu. Jangan pedulikan hantu sialan itu," ujar Wardhani di dalam tubuh sang preman, menutupi ketakutannya sendiri.


Kendaraan, tak peduli sebagus apapun, bila tak bisa dijalankan, maka fungsinya sama sekali nol. Tidak berguna.


"Kau sendiri, apa yang kau takutkan dari sosok itu? Bukankah kau yang menarik tubuhku tadi?" balas sang preman karena merespon ada nada kepengecutan pula pada sang mahluk yang menempel di tubuhnya itu.


Wardhani enggan melanjutkan percakapan untuk menjadi sebuah perdebatan ini. Ia mengakui bahwa ada kebenaran dan pembenaran di sana, ia sama takutnya dengan sang preman. Hanya saja kekesalan memuncak di ubun-ubun Wardhani ketika akhirnya melihat Soemantri Soekrasana berdiri tak jauh dari tempatnya. Kedua telapak tangan pemuda itu terkatup di depan dada dengan mata separuh tertutupi. Nampak ia sedang membaca mantra.


Sosok laki-laki muda yang sempat meggetarkan hasrat berahinya itu, yang sempat ia pikirkan untuk dijadikan budak nafsu atau kekasih yang cukup istimewa tersebut akhirnya bertemu kembali dengannya.


Tak lama Soemantri Soekrasana juga melihat tepat ke arah Wardhani di dalam tubuh sang preman. Tatapan gaib Soemantri Soekrasanamenembus langsung ke mata Wardhani.


"Bangsat! Apa yang mau kau lakukan, Mas Soemantri?" gumam Wardhani tahu bahwa kedatangan Soemantri Soekrasana ke tempat ini mungkin sekali adalah untuk memburunya dan merintangi tujuannya lagi.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana seakan tahu apa yang dipikirkan Wardhani di dalam tubu sang preman. Sebagai jawabannya, mantra yang dilantunkan oleh Soemantri Soekrasana bagai ratusan utas tali yang perlahan mengikat Wardhani dan menariknya keluar dari dalam tubuh inangnya. Ini adalah sebuah usaha Soemantri Soekrasana untuk menyentak keluar Wardhani dan mungkin kembali mengurungnya ke dalam dimensi gaib dimana selama ini ia terkunci dan terkerangkeng.


Wardhani bisa dikatakan istimewa, bahkan bagi Soemantri Soekrasana sendiri. Gadis itu adalah manusia seutuhnya, tetapi ia mampu berlaku seperti mahluk-mahluk gaib atau adikodrati. Dengan percaya diri Wardhani menggelari diri sendiri dengan Ratu Dedemit. Sebenarnya, bila mau jujur, ini tidak berlebihan melihat kemampuan


sihir Wardhani.


Itu sebabnya, Soemantri Soekrasana tidak hendak melepaskan perempuan itu.


Bila hanya masalah hantu, itu tidak masalah bagi Soemantri Soekrasana. Hantu-hantu yang menakuti manusia, hanyalah bagian dari dendam dan kepiluan yang terbawa sampai kematian. Para hantu hanya cenderung mengulang dan melakukan hal-hal yang masih terikat pada keadaannya semasa hidup dulu. Berbeda dengan Wardhani yang memiliki kesadaran penuh untuk menundukkan para hantu, mengatur dan memerintah mereka, sampai membuat manusia celaka.


Sesungguhnya Wardhani sudah bernegosiasi dengan si preman. Bujukan dan rayuannya memang tak pernah gagal. Tubuh molek dan merangsangnya akan membuat siapapun melakukan apa yang ia inginkan bagai seekor kerbau dicucuk hidungnya. Ini Wardhani lakukan terutama kepada si preman karena tubuhnya hampir tak bisa dikuasai sepenuhnya. Entah karena Wardhani berada dalam keadaan yang tak menguntungkan - buktinya ia harus bekerjasama dengan si siluman ular dalan menguasai jiwa dan tubuh Kusuma Dewi - atau memang si preman yang terlalu bebal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kemunculan Soemantri Soekrasana di hadapan Wardhani jelas membawa kenangan dan pemikiran kembali atas asalnya, asal semua masalah ini terjadi. Dusun Pon menyimpan keluarga dan sumber keberadaannya disana.


Andai Wardhani tahu tepat yang terjadi saat ini. Sosok Sarti telah datang dan memastikan tujuan dan tugasnya selesai di Dusun Pon.


Dimana letak cerita sosok perempuan bernama Sarti di dalam garis takdir Girinata? Dimana peran Sarti dalam jalinan nasib Soemantri Soekrasana, Anggalarang, Kusuma Dewi atau Wardhani?

__ADS_1


Sarti menjadi saksi atas tindakan penyihir Dasimah terhadap mayat Marni. Dua hari sebelumnya ia bangkit dari kuburan, di lokasi yang sama Dasimah dan Girinata membangkitkan Marni dan menjadikannya sundel bolong budak kehidupan mereka.


Kelak akan diceritakan lebih lanjut tentang siapa sosok perempuan ini. Namun, yang jelas, Sarti hidup ratusan tahun lamanya. Ia tidak kekal. Ia bisa mati, berkali-kali malahan. Bedanya, Sarti selalu dihidupkan kembali oleh sosok gaib perempuan cantik berkebaya hijau. Sarti akan menggali tanah kuburan dan kembali hidup dalam tubuh anak perempuan berusia enam belas tahun.


Ia akan mendapatkan tugas dan misi di atas bumi ini, berjalan sampai nyawanya kembali hilang hanya untuk dihidupkan kembali dengan cara yang sama.


Sarti sementara menghilang dari Dusun Pon, berkelana dengan identitas barunya. Kemampuan silat dan ilmu kanuragannya membuat ia mampumemburu sampah masyarakat dan membunuh mereka.


Setelah bertahun-tahun, Sarti yang selalu beraksi dengan baju silat berwarna merah, topeng Panji putih pucat dan sebilah celurit, kini kembali ke Dusun Pon.


"Girinata. Kau mungkin tak terlalu mengenalku. Ibumu, Dasimah lah yang begitu akrab denganku," ujar Sarti di balik topeng Panjinya.


Girinata memandang kosong ke arah sosok Sarti dan mendadak datang ke rumahnya entah darimana. Tubuh Girinata luar biasa bungkuk. Ia sangat kepayahan, namun ada selembar seringai licik dalam wajahnya.


"Aku tahu benar dengan perilaku para tetua dusun ini di masa lampau. Aku juga tahu apa yang kau dan ibumu itu lakukan pada jasad istrimu itu, Girinata. Bejat!" ujar Sarti.


Sarti membuka mata batin. Ia melihat tumpukan roh halus yang tersebar di berbagai tempat di rumah ini, termasuk beberapa yang menempel erat di tubuh Girinata.


"Aku tak tahu apa yang terjadi padamu dan dusun keparat ini. Yang jelas, aku hadir sebagai jawaban atas tindakanmu dan orang-orang terdekatmu, Girinata. Aku adalah karmamu. Apapun rencana gaib yang kau buat haruslah selesai saat ini juga. Aku harus menutup misi dalam kehidupanku yang satu ini dengan baik," lanjut Sarti.

__ADS_1


Entah apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Girinata yang bisa dikatakan tak mampu berbuat apapun itu. Namun yang jelas perjalanannya memang harus selesai sampai di sini, hari ini. Sarti mendekat dan membabatkan celuritnya cepat. Kepala Girinata menggelinding di lantai ubin Belanda rumah tua miliknya itu.


__ADS_2