
Sepasang mata seorang Anggraeni sendu. Namun ketika tersenyum, kedua matanya itu tertarik ke belakang sehingga terlihat ikut tersenyum. Rambutnya panjang. Dulu sewaktu pacaran, Anggraeni hampir selalu menggeraikannya. Kini, ketika sudah memiliki dua orang anak kembar, ia lebih sering mencepol seadanya. Kulitnya yang putih, kontras dengan kulit Satria Piningit yang cenderung gelap, kerap menjadi olok-olokan dan bercandaan teman-teman Satria Piningit. Seperti tahi cicak, kata mereka.
Namun itu malah yang membuat Satria Piningit bangga. Memiliki istri cantik, rupawan, berkulit indah.
"Sayang tidur saja dulu. Nanti aku menyusul," balas Satria Piningit tak kalah pelan. Ia sadar, sang istri memerlukan semacam keyakinan bahwa semuanya baik-baik saja. Perempuan itu perlu suaminya memberikan sinyal tentang sebuah kepercayaan.
Sampai saat ini, Satria Piningit tak memberikan secuilpun informasi tentang ketergesaan mereka meninggalkan kasur empuk di rumah mereka, dan memilih kamar hotel, yang meski kasurnya tak kalah empuk - bahkan cenderung lebih empuk - tapi suasana asing yang tak sebanding dengan rumah.
"Aku janji, sayang. Aku pasti menyusul, sebentar lagi," yakin Satria Piningit kembali.
Anggraeni merasa tak perlu menekan sang suami. Senyuman dan kelegaan Satria Piningit sudah terlihat. Dan itu cukup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satria Piningit tertidur di kursi, lima belas menit kemudian. Lampu di kamar hotel, di lantai tingkat empat itu diatur redup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anggraeni tidur menyamping, kemudian menggerakkan tubuhnya menelentang. Ia membuka mata perlahan. Sepersekian detik ia mencoba mengingat sedang berada dimana.
Ia melirik ke arah kursi. Satria Piningit tak terlihat di sana. Kursi kosong itu kini menghadap ke arahnya, bukan ke jendela kaca bertirai lebar itu.
Sontak pandangannya mencari-cari dimana sang suami.
Di sampingnya hanya ada kedua kembar yang tidur menelungkup.
Lampu kamar mandi menyala. Ia juga mendengar bunyi kran air dan flush dinyalakan.
Dadanya naik turun dalam posisi terlentang ini, merasa lega bahwa suaminya ada di kamar mandi.
Namun entah mengapa, tak lama walau ia sudah yakin bahwa Satria Piningit sudah tak ada di tempatnya sebelumnya, dan sedang ada di kamar mandi, ia seakan ditarik untuk melihat ke arah kursi kosong dimana suaminya tadi duduk menghadap jalan di bawah hotel tersebut.
Sama, tetap kosong, tidak ada apa-apa yang bisa ia lihat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Satria Piningit masih tertidur di kursi, namun tirai yang tadi ia buka sudah ia tutup kembali. Niatnya memang setelah menutup tirai, ia akan segera menyusul sang istri untuk tidur. Namun seperti terkena sirep, tubuhnya menolak untuk meninggalkan kursi yang sudah terlanjur nyaman tersebut. Nampak-nampaknya beban berat yang dipanggulnya hari ini menekan bahu dan dadanya hingga ia tenggelam ke dalam ketenangan.
Maka perlahan matanya menutup dan tertidur selama kurang lebih lima belas menit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anggraeni menarik nafas dan tersenyum sendiri. Mengapa tiba-tiba otaknya memikirkan hal yang bukan-bukan? Padahal jelas Satria Piningit sedang di kamar mandi, dan bukan di tempat duduk itu.
Bunyi keran dan kecipak air masih terdengar di kamar mandi. Lampu di sana pun masih dinyalakan. Satria Piningit masih ada di dalam, pikir Anggraeni.
Ia kembali memandang ke kursi kosong tersebut.
Kosong.
Ia memegang dadanya yang naik turun. Ia menggelengkan kepalanya merasa konyol.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satria Piningit tertidur semakin dalam. Kepalanya lunglai di sisinya. Segala otot dan syarafnya sedang istirahat penuh.
Namun tiba-tiba ia tersentak ketika mendengar bunyi pintu kamar mandi tertutup.
Satria Piningit menggosok kedua matanya, menguap dan berdiri pelan.
Lampu kamar mandi dinyalakan dan ia mendengar bunyi air dari keran mengalir.
Satria Piningit berjalan menuju tempat tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anggraeni memikirkan tentang apa yang telah terjadi hari ini. Jujur ia lega karena Satria Piningit sudah terlihat nyaman ketika sampai di hotel. Di satu sisi, ia ingin sekali memahami apa yang sedang bergejolak di dalam hati suaminya itu, apa yang berseliweran di dalam kepalanya. Namun di sisi lain, ia takut tak bisa menerima atau memahaminya. Jadi, mungkin yang terbaik sekarang adalah membiarkan semua seperti apa adanya. Mungkin ada suatu masa ketika Satria Piningit akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin Satria Piningit akan membuka gembok pintu misterinya itu.
Anggraeni menarik nafas dan tanpa maksud apa-apa menoleh kembali ke arah kursi yang, tadinya, kosong itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satria Piningit merasa kantung kemihnya menggelitik. Ia tak merasa terlalu kebelet buang air kecil. Namun, rasa seperti ini akan mengganggu di kala tidurnya nanti.
__ADS_1
Ia berjalan ke depan kamar mandi dan mengetuknya perlahan. "Sayang, aku juga mau pipis. Bukakan, ya?" pintanya.
Tidak ada respon dari dalam.
Satria Piningit menggaruk-garuk perutnya dan menguap lebar-lebar. Mungkin istrinya sudah akan selesai dan tak perlu repot-repot untuk berjalan membuka pintu kamar mandi, sekalian saja setelah selesai nanti.
Satria Piningit menoleh ke arah tempat tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anggraeni yakin bahwa ia tak salah lihat. Ada sosok yang sedang duduk di kursi yang menghadap ke arahnya itu.
Lampu remang-remang menyembunyikan bentuk sempurnanya. Tapi demi Tuhan, Anggraeni yakin ada tubuh sebentuk manusia di kursi itu.
Sosok itu bergerak.
Anggraeni merasa tubuhnya kaku. Sebaliknya sosok di balik gelap itu menggoyangkan kepalanya.
Seorang perempuan!
Anggraeni yakin itu. Ada helaian rambut panjang di salah satu sisi wajahnya.
Kepalanya terus saja bergoyang ke kiri dan ke kanan, kemudian berhenti miring. Anggraeni yakin bahwa sosok itu sedang melihat tajam ke arahnya.
Buku kuduknya merinding. Dadanya naik turun dengan begitu cepat. Ia melihat ke arah kedua anak kembarnya yang masih sama pulasnya. Ia hendak meraih keduanya dan mungkin berlari menghindar, memanggil suaminya, atau berteriak sekalian.
Tapi lidahnya kelu, seperti menempel di rongga mulutnya. Kedua tangannya bergetar namun tak bergerak. Ia terlentang kaku di atas tempat tidur dengan pandangan tertuju ke arah kursi di dekat jendela hotel yang kini tak kosong lagi.
Sosok itu kini perlahan berdiri.
Berjalan pelan ... Begitu pelan ... Ke arah tempat tidurnya, Seakan Anggraeni melihat sebuah scene film yang diputar secara slow motion.
Anggraeni tak bisa menghindar lagi. Kedua bola matanya bahkan melotot, apalagi ketika walau samar, namun cukup jelas terlihat kengerian itu.
Sosok itu kini terlihat jelas.
Perempuan asing itu sedang menangis. Namun bukan air mata yang keluar, melainkan darah.
__ADS_1
Cairan yang keluar dari kedua matanya selaras dengan warna kebaya yang ia kenakan dan kontras dengan kulit wajahnya yang pucat seputih kapas.
Sang sosok kuntilanak itu sama melototnya memandang Anggraeni yang terbaring terlentang terbujur kaku.