Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Enampuluh Enam


__ADS_3

Iblis perempuan setengah telanjang itu mundur. Warna tubuhnya yang setipis angin, tembus pandang semacam kaca buram perlahan memudar akan tetapi tak hilang.


Bandi mendelik. Bukan karena takut, tapi lebih karena lancang. Ia berdiri membusungkan dadanya yang bergelembung kepala bayi itu.


Nyi Blorong tertawa, bukan terkikik ala kuntilanak. Suaranya menggema dan menggantung di langit lalu turun menekan ke bawah, mengintimidasi karena keagungan dan kengeriannya.


Mahluk-mahluk halus semakin menggelinjang, berseliweran bagai anak-anak ayam digusah.


Nyi Blorong membesar dan meninggi lagi. Tubuh astralnya yang ditutupi warna hijau keemasan menjadi berkali-kali lipat ukurannya. Sepasang matanya membeliak, mambalas pandangan menantang Bandi.


"Kera ini sungguh tak tahu diuntung. Dipikirnya memiliki kekuatan semacam ini membuatnya tak terkalahkan!" ucap sang ratu.


Bandi makin menantang. Ia berseru keras, "Blorong! Tempatmu bukan di sini. Semua mahluk yang merayap di atas tanah kuburan, berenang di rawa-rawa, berdiam di pepohonan, menggantung di sulur-sulurnya, dan terpasung di atas tanah keramat pulau ini tak akan menerimamu. Kuasamu tak ada artinya di depanku!"


Nyi Blorong mendesis. Wajah ayunya retak. Darah mengalir merembes dari rekahannya. Ia membuka mulut dan mengeluarkan lidah bercabangnya. Sepasang matanya yang kini berubah menjadi mata ular memandang ke arah iblis perempuan yang berada di balik tubuh Bandi, memeluknya dari belakang.


"Bidakmu memiliki niat, nafsu, gairah dan hasrat yang tinggi, perempuan iblis. Tak salah kau memilihnya. Namun kedunguannya merupakan ciri khas manusia-manusia kotor."


Sosok Nyi Blorong kini perlahan memendar. Setiap partikel tubuhnya menempel di helai-helai kabut.


Affandi maju menembus tubuh ratu penguasa jin laut Selatan tersebut sembari mulutnya komat-kamit merapal sebuah mantra, "..., Gelap ngampar kuwang-kuwang, Midaku raku, Gelap ngampar pengucapku, Nyaut ora nyunduk, Gajah meta, Kala anembah, ...."


"Lancang! Kurang ajar!" desis Affandi.


Suaranya yang pelan mengalir di udara. Walau lembut dan halus, energi dari ucapannya memukul bagai palu baja. Semua pemuda merasakan kepala mereka berdenging. Ada semacam lecutan listrik di dalam kepala mereka, meletus-letus mengejutkan dan mengirimkan serangan syok.


Para pemuda memegang kepala mereka.

__ADS_1


"Kalian boleh tak takut mati karena merasa neraka yang indah itu mengembalikan kalian ke dunia ini. Tapi, apa kalian tak takut sakit?" ujar Affandi kemudian masih dengan gumaman suara pelan.


Sinyal serupa anak-anak petir ini menyembur ke segala arah.


Gendang telinga para pemuda pecah!


Para pemuda berteriak-teriak bagai koor, silih berganti, saling timpa, saling tindih.


Gendang telinga mereka perlahan kembali utuh. Kemudian pecah lagi, hanya dalam hitungan kurang dari sepersekian detik.


Bandi mengatupkan rahangnya dengan amarah sekelas bumbu akhirat.


Perempuan iblis kini benar-benar memudar dan hilang, tetapi Bandi semakin padat. Ia adalah hasil karya sang perempuan iblis tersebut. Ia bidak utama, gacoan terbaik yang terpoles indah. Bandi sendiri yang sadar bahwa ia adalah pemangku kekuasaan itu sendiri. Ia adalah penentu masanya sendiri. Ia adalah pengatur hidupnya sendiri.


Maka dalam satu hentakan, tubuhnya terlontar ke udara siap menjejak laki-laki yang sedang menggunakan ilmu Gelap Ngampar untuk menyiksa para pemuda pasukannya.


Affandi dan Nyi Blorong yang sosoknya kini bagai bayangan raksasa berwarna hijau tersebut tersenyum.


Bandi jatuh berdebum di atas aspal.


Affandi melaju ke depan secepat hentakan petir, gerakan Saifi Angin yang dikasainya membawa tubuhnya ke dekat badan terpuruk Bandi.


Dengan sekali sepak, Bandi terlontar jauh, terseret kuatnya tendangan, merusak lapisan aspal.


Nyi Blorong mendesis. Lidah bercabangnya menyela keluar. Mahluk-mahluk astral terlempar jauh, ketakutan, membenamkan tubuh-tubuh tak nyata mereka ke dalam tanah dan pepohonan.


Affandi kini yang menolakkan tubuhnya ke udara. Ia mencelat bagai pecahan ledakan gunung berapi, kemudian turun menghujam. Ia membenamkan kedua kakinya ke dada Bandi yang terlentang di jalan beraspal. Sebagai akibatnya, Bandi melesak ke dalam bumi.

__ADS_1


Kedua mata Bandi, sepasang telinga dan kedua lubang hidungnya mengalirkan darah. Ia tak dapat mendengar apapun. Ketika berangsur-angsur pendengaranya kembali, ia masih bisa mendengar teriakan bersahut-sahutan terus-menerus para pemuda yang gendang telinganya terus pecah kembali pecah kembali.


Gendang telinganya pun pecah lagi.


Dadanya remuk. Tonjolan sebesar kepala bayi di dadanya dihimpit kaki laki-laki bidak utama Nyi Blorong.


Affandi masih merapal mantra tersebut dan berdiri di atas tubuh Bandi yang tanpa daya.


Nyi Blorong meliuk. Ekornya bergelung-gelung. "Apakah keramu masih ingin kau mainkan, perempuan iblis?" ujar Nyi Blorong mengejek.


Sosok perempuan setengah bugil tiba-tiba muncul di samping tubuh Bandi yang terbenam ke dalam tanah. Semula tubuh molek berbusana tak menutupi itu berdiri mengambang. Namun kini tubuh itu menunduk kemudian membungkuk, berubah menjadi sosok perempuan tua berkulit sarang kerutan. Rambut panjangnya menutupi sisa badan, awut-awutan. Sepasang dadanya panjang menggelember jatuh. Jari-jarinya kurus berkuku tajam. Wajahnya buruk mengerikan, retak, pucat pasi bagai kertas, dengan sepasang mata merah berair.


"Ampun, Ratuku. Hamba lancang," ujar sang iblis pendek tetapi dengan makna kekalahan telak.


"Tubuh apa lagi yang kau pakai? Setahuku, kau masih tergantung menjadi satu dengan pohon di alam baka pelataran neraka," ujar Nyi Blorong.


Kini tubuh perempuan yang berkuasa di bawah samudra laut Selatan itu telah kembali ke bentuknya yang agung, indah, rupawan walau masih dengan ekor ular melata di atas tanah.


Tidak ada jawaban dari sang iblis perempuan. Ia masih menunduk di samping Bandi, seakan kekuatannya telah menghilang dan harus mengakui kekalahan telak melawan Nyi Blorong.


Apakah sungguh demikian? Sementara itulah yang bisa disaksikan dalam adegan di kisah ini.


Kabut masih pekat. Namun tak cukup kuat, melawan nafsu-nafsu bejat, dendam kesumat dan gairah laknat yang terkungkung di kampung tepi sungai ini.


Nyi Blorong datang bukan untuk meminta bantuan apalagi memohon kepada entitas jahat yang merasa mampu mengendalikan pulau ini. Nyi Blorong datang untuk memerintah. Affandi adalah perahunya menyebrangi lautan tanpa terdeteksi kekuatan Amin Kelaru.


Malang bagi Bandi. Padahal baginya kekuasaan sudah ada di depan mata. Bahkan ia sudah merasakan bahwa kekuasaan itu telah di dalam genggamannya. Kuasa telah diberikan utuh oleh kekuatan dan rencana matang sang iblis betina. Namun, lihatlah yang terjadi sekarang. Kini kehinaan ada di ats dadanya, dalam rupa seorang laki-laki yang bukan hanya menginjak ilmu Parang Irang, namun juga harga dirinya.

__ADS_1


Lalu, mengapa perempuan iblis berumur purba yang sudah menawarkan kekuatan dan kemerdekaan kepadanya dapat dengan semudah itu menyerah? Ia sungguh terhina, ia sungguh terluka.


Jauh di balik bangunan-bangunan padat mengimpit, kesepuluh orang pendekar masa lalu yang dibangkitkan kembali menyembunyikan diri memperhatikan kejadian ini. Tidak terlihat perasaan apa yang bergejolak di dalam jiwa purba mereka yang telah bertahun-tahun mati itu. Apa yang akan mereka lakukan sebagai langkah berikutnya masih menjadi misteri. Yang jelas, sosok tengkorak hitam menyembul di antara mereka. Sosok itu membayang kemudian menghilang.


__ADS_2