
Soemantri Soekrasana benar, pikir Wong Ayu dalam hati. Diluar rasa kaget dan kangennya dengan laki-laki bernama Satria Piningit ini, ia harus segera istirahat dan segar kembali sehingga tidak hanya tubuhnya yang prima tetapi otaknya juga, untuk memikirkan rencana ke depan. Namun sebelumnya, Satria Piningit perlu menceritakan dahulu kisahnya, dari awal secara utuh.
Di sisi lain, Anggalarang dan Sarti berpandang-pandangan dan bertukar kata di udara. Mereka paham bahwa Soemantri Soekrasana hanya ingin tahu hubungan Satria Piningit dan Wong Ayu. Apakah mereka sepasang kekasih yang telah terpisah? Atau bahkan lebih dari itu? Intinya Soemantri Soekrasana merasa jengah dan gerah dengan kedatangan Satria Piningit. Rupa-rupanya api asmara mendadak membakarnya, hanya dalam waktu beberapa hari.
"Baik, Satria. Ceritakan semua yang kau tahu mengenai desa Obong," perintah Soemantri Soekrasana.
Kata-katanya jelas dan tegas. Satria Piningit terbuai dengan kata-kata tersebut. Ia mengangguk dengan perlahan, linglung namun kata-kata yang keluar dari mulutnya bersih dan tertata. Soemantri Soekrasana membuatnya seperti mesin penutur cerita.
Kisah Desa Obong beserta Priyam dan masa remaja Wong Ayu terurai sejelas-jelasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam merambat pelan dari puncak terus mencair dan meleleh bagai es ke kaki gunung, melewati sela-sela pepohonan, ilalang dan bebatuan cadas. Hawa dingin datang setelahnya, namun tidak berjalan pelan, namun menyergap bagai penyamun, menembus daging dan membekukan tulang.
Namun Affandi hanya duduk mendeprok di atas sebuah susunan bebatuan gunung yang beberapa bagiannya rata, tepat di tepi jurang. Ia tidak merasakan dingin yang keparat datang tiba-tiba itu. Sebenarnya malah ia tak merasakan apa-apa.
Sulit memang untuk menggambarkannya memang, namun Affandi hampir merasa seperti sedang linglung. Tapi perasaan itu juga tidak tepat dikatakan linglung.
Ia bisa mengingat semua kejadian yang terjadi sebelum ia mati. Memang ada beberapa bagian yang sepertinya hilang atau terbalik-balik urutannya, namun bila ia sedikit berkonsentrasi, maka kepingan-kepingan itu gampang saja untuk disambung-sambungkan.
Namun ia tak merasakan perasaan lain seperti rasa takut, sakit, amarah atau benci. Ia bagai sehelai bulu burung yang jatuh mengambang di atas danau.
__ADS_1
Affandi menarik nafas memperhatikan pepohonan yang berbayang dan perlahan menghilang dari pandangan karena gelap datang menyelimutinya. Lurus di pandangannya, titik-titik cahaya mulai terlihat ketika lampu-lampu mulai dihidupkan. Sebuah perkampungan warga yang terletak di bawah kaki gunung terlihat mempersiapkan perubahan hari.
Perkampungan itu adalah desa Obong.
Lama ia berdiam disana. Segala rasa dan emosi yang dimilikinya nampaknya menguap, namun tidak dengan kepekaan dan instingnya.
Dari ujung matanya, ia dapat melihat dalam kegelapan, sesuatu datang membuka tirai malam di belakangnya. Sosok itu berjalan pelan namun pasti dan tidak malu-malu menunjukan dirinya.
Sepasang mata Affandi kini dapat melihat dalam gelap. Pendengarannya menjadi tajam, sehingga bahkan dapat mendengar jarum yang jatuh ke tanah di jarak beberapa meter di sekitarnya. Jadi tak sulit memahami sang sosok yang muncul tiba-tiba namun penuh diam tersebut.
Affandi berdiri kemudian berbalik. Ia tak mengharapkan apapun. Hantu jahanam, siluman terkutuk, iblis laknat, atau penyihir buruk rupa pun tak akan membuatnya terkejut.
Berdiri di sana dengan begitu agung. Gelap malam tertembus sinar bulan yang Affandi tak duga-duga ada, menyelip melalui pepohonan dan bebatuan bukit. Seorang perempuan cantik tak tergambarkan. Garis wajahnya tegas namun rupawan. Sepasang matanya bermain-main penuh semangat, indah, memesona sekaligus penuh goda.
Tubuhnya dibungkus kemben hijau menyala yang menyambung dengan kain jarit bernada sama hanya dengan tambahan kilau keemasan dan keperakan yang saling bermain. Kain jarit yang menutupi bagian bawah tubuh perempuan tersebut berkelim-kelim begitu panjang dan lebar, menutupi tanah dan bebatuan cadas pegunungan ini.
Kulitnya memancarkan keindahan yang tak terlukiskan, tak terkatakan, tak terperi. Perempuan yang berdiri di depan Affandi ini seperti membawa serta langit turun bersamanya.
Affandi ternganga. Lututnya gemetar dan lemah, namun kedua kakinya serasa terpaku.
Awalnya ia yakin ia tak akan terkejut atau merasakan apapun pada sosok misterius ini, namun nyatanya, semua emosi dan rasa datang memburu bagai air bah, banjir bandang. Dadanya serasa penuh ingin meledak.
__ADS_1
Ia perlahan sadar penuh apa yang dirasakan laki-laki semacam Kardiman Setil, saudara angkatnya yang sudah tewas mengenaskan. Bagaimana Kardiman Setil melihat perempuan cantik dengan segala keindahannya. Bagaimana berahi menutup aliran darahnya. Bagaimana inginnya ia merengkuh pinggang ramping dan merasakan dadanya menghimpit dada padat sang perempuan itu, kemudian menindihnya, menjadikan kedua tubuh mereka menjadi satu.
Syarafnya tersengat, jantungnya tergedor.
Sang perempuan bidadari berbalut kain hijau membuka mulutnya, "Kau, anakku, manusia baru. Bagaimana rasanya hidup kembali?"
Semerbak abab wangi pelbagai bebungaan semakin membelai Affandi dari keterpanaannya.
"Si ... Siapa engkau, putri?" jawab Affandi terbata dalam bentuk pertanyaan.
"Aku yang membangkitkanmu dan memberikan kau tujuan hidup baru, yang berbeda dari cara hidup lalumu yang melulu mengenai uang dan kekuasaan. Aku akan memberikanmu kehidupan itu sendiri, anakku."
Affandi jelas bingung dengan jawaban perempuan cantik ini, dan mengapa ia terus memanggil dirinya dengan 'anakku'.
"Manusia selalu terkungkung pada nafsu dan keinginan, itu sudah sifat dasar mereka. Oleh sebab itu, keabadian tak pantas mereka rengkuh."
Affandi puyeng. Ia masih terlalu terkejut dengan perubahan perasaan di dalam dirinya. Bangkit dari kematian, tak merasakan apa-apa, sampai tiba-tiba jatuh dalam lubang keterpesonaan dan dijejeli kata-kata yang di telinganya tanpa makna.
"Kaum kami, mahluk-mahluk seperti kami dikutuk dalam keabadian, berkebalikan denganmu. Tapi kami memiliki tujuan. Sebuah tujuan yang terus diperbaharui untuk mengimbangi cara dunia ini bercanda. Kami melihat manusia saling bunuh, bahu-membahu, kemudian berperang lagi, kemudian mencapai peradaban, kemudian menghancurkannya lagi. Kami berperan di dalamnya, bukan ikut campur atau usil. Bukan pula sekadar mengisi waktu tanpa batas ini. Kami masuk terlibat di dalam percaturan nafsu manusia seperti seekor ayam jantan yang berkokok di pagi hari, sebagai sebuah keniscayaan. Kami tak bisa menghindar, karena kami memiliki tujuan dan keterikatan dengan manusia. Kaum bedebah yang berlagak memiliki kuasa atas diri mereka sendiri," sang perempuan berkata panjang lebar.
"Tapi, anakku, kau tak perlu khawatir. Kami juga bersenang-senang dalam permainan hidup ini, dan kau telah aku pilih menjadi bidak dan gacoan terbaik saat ini."
__ADS_1
Selesai berbicara, si perempuan berbalut busana hijau tersebut berjalan pelan, bagai melayang, mendekati Affandi yang masih terkunci oleh pesona yang tak dapat ia jelaskan.
Tubuh Affandi tak bisa bergerak sama sekali. Bulu kuduknya meremang, ia merinding. Semua rasa yang tadinya hilang kembali datang, dibayar tuntas.