
Wardhani menggeram memamerkan semua biji giginya yang menghitam dan mendadak menajam layaknya mata gergaji. Sepasang mata dengan bulu lentiknya berubah memerah kontras dengan kulit wajahnya yang kini bukannya gelap, namun memucat seputih kapas.
Sosok campuran mahluk-mahluk adikodrati kegelapan agung yang berjubah kepulan asap hitam bergabung di dalam tubuh Wardhani itu kembali melesat ke arah Soemantri Soekrasana. Sepasang tungkai kaki kudanya mendepak tanah, didorong oleh ledakan ekor ular raksasa dan hembusan kepak sayap gagak hitam terentang. Sepasang tangan cakar berkuku tajam hitam berkulit bulu loreng terentang ke depan, siap mencabik-cabik daging dan jiwa Soemantri Soekrasana.
Namun sekali lagi tubuh dukun laki-laki muda itu bergeser cepat, sedikit terseret, namun kembali lolos dari serangan gumpalan asap hitam penuh angkara murka tersebut.
Wardhani terbelalak kaget sekaligus marah karena serangan keduanya yang lebih dipersiapkan, lebih cepat, lebih berbahaya dan lebih menakutkan karena langsung melibatkan empat entitas supranatural purba tersebut dapat pula dihindari sang lawan dengan sedemikian rupa.
Soemantri Soekrasana menghela nafas dan berdiri tegap. Ia kemudian baru memasang kuda-kuda silatnya. Beberapa sosok tuyul bertubuh kanak-kanak dan berkepala besar berlarian bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Baik, baik. Terimakasih semua," ujarnya perlahan kepala mahluk-mahluk gaib yang sudah pernah membantunya sebelumnya menceritahukan keberadaan Girinata di rumah Pak Guru Johan. Terjawab sudah bahwa bukanlah Lembu Sekilan yang menggerakkan tubuh Soemantri Soekrasana, melainkan mahluk-mahluk cebol berkepala besar yang cekikikan tapi bersembunyi di belakangnya. Merekalah yang menarik tubuh Soemantri Soekrasana untuk menghindari serangan Wardhani.
Wardhani memicingkan mata, makin menggeram dan memamerkan deretan gigi yang tajamnya tak bisa dibayangkan itu. Para tuyul semakin mengkerut seperti anak-anak nakal yang ketakutan sekaligus bersemangat dengan degilnya terhadap amukan dan murka orangtua mereka akibat berbuat salah.
Soemantri Soekrasana membuka resleting tas selempang butut yang terkoyak berlubang di satu sudut itu. Ia mengambil sejumput kembang tujuh rupa yang telah lumayan kering dan tak segar lagi. Ia menaburkan kelopak bunga itu di tanah di depannya serta merapal sebuah mantra dengan cepat, tepat sebelum Wardhani dengan empat mahluk gaib di tubuhnya terlontar kembali dengan cepat ke arahnya.
__ADS_1
Soemantri Soekrasana terdorong ke belakang. Para tuyul bubar berlarian menghilang ke balik pepohonan bambu dan kembali bersembunyi di sana.
Sosok mahluk campuran hewani Wardhani yang berjubah asap hitam gelap jahat menubruk selembar lapisan tipis namun kuat di atas tabuan kelopak kembang tujuh warna. Itu adalah benteng yang diciptakan Soemantri Soekrasana.
Wardhani meraung. Sepasang cakarnya menyobek lapisan pertahanan itu kemudian merangkak maju mengejar Soemantri Soekrasana kembali. Kali ini, Wardhani mengepakkan sepasang sayap gagaknya dan mengangkatnya ke angkasa sedikit dan sejenak saja kemudian menghujam ke arah Soemantri Soekrasana.
Yang diserang melemparkan kelopak bebungaan ke arah datangnya ancaman. Bunga-bunga itu melecutkan sihir bagai bom-bom kecil yang meledak-ledak. Wardhani mengepakkan sayapnya lebih keras dan sekali lagi menembus pertahanan lawan, mengibaskan kelopak bunga. Namun ternyata kesempatan ini digunakan Soemantri Soekrasana mengambil lagi bilah senjata bercahaya biru keluar dari tas selempangnya dan menusukkan lurus ke depan.
Harusnya keris pusaka Mpu Gandring cukup membuat sepak terjang Wardhani selesai, berhenti sampai di sini. Soemantri Soekrasana sudah mempertimbangkan tenaga yang bakal diserap keris itu untuk membuat tenaga besar yang dihasilkan menjadi sangat berbahaya bagi musuh gaibnya.
Soemantri Soekrasana jatuh berlutut. Pandangannya berkurang-kunang. Keris Mpu Gandring terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah. Wardhani mengibaskan ekor panjang yang menggeliat tak sabar, membentur dada Soemantri Soekrasana keras dan melemparkan tubuhnya yang kemudian jatuh bergulingan di tanah. Ia terbatuk dan memuntahkan darah. Soemantri Soekrasana tidak hanya merasakan serangan fisik, namun juga luka-luka cedera akibat aktifitas gaib.
Keempat entitas supranatural yang melekat di tubuh Wardhani meringkik, mendesis, menggeram, dan mengaok ketika terpapar sinar kebiruan bilah keris Mpu Gandring yang tergeletak di tanah. Wardhani memamerkan gigi mata gergajinya dengan mimik wajah ngeri sekaligus jijik. Tapi tak lama raut wajah dan air mukanya berubah menjadi licik menggoda namun penuh kesombongan akan kemenangan dan kuasa.
Tungkai kaki kudanya bermain-main di atas tanah. Ekor ularnya bergelung. Sepasang sayap lebar nan gelapnya melipat masuk dan kedua lengan bercakar harimau loreng menyilang menempel di depan sepasang dadanya yang menyinarkan pucuk merah darah itu.
__ADS_1
Wardhani mengedarkan pandangan dan menyorotkan ancaman yang menyiratkan hukuman perih bagi para tuyul yang menunduk mengendap-endap serta megintip di balik batang pepohonan bambu.
Soemantri Soekrasana meludahkan darah dari mulutnya, kemudian mendeprok duduk. Ia menarik nafas panjang-panjang kemudian menghembuskannya keras. Rambut panjang tanggungnya basah oleh keringat, begitu pula leher dan kemejanya. Ia sudah semalaman bertempur, baik dengan mahluk halus maupun manusia yang berhati lebih bejat dibanding hanya. Ia juga kelelahan karena berjibaku menggunakan mantra dan ilmu serta terserap energinya ketika memakai keris pusaka Mpu Gandring.
Wajah Wardhani mendadak melembut menyaksikan pemandangan di depannya. Mengapa ia baru sadar bahwa ternyata Soemantri Soekrasana sang dukun muda ini begitu tampan ketika rambut tanggungnya tersibak sedemikian rupa? Darah genit, nakal, badung dan sundalnya menggelegak. Ia sudah mereguk berjenis rasa kegelapan. Menghabisi nyawa, bersekutu dengan iblis, bahkan sekarang ia sudah melepas keterikatannya pada kesopanan yang melambangkan peradaban manusia yaitu berbusana.
Deretan gigi hiunya masuk ke dalam gusinya yang memerah, kemudian digantikan dengan gigi normalnya, begitu pula sayap dan ekor yang melesak masuk ke balik asap hitam bergulung-gulung. Kaki kudanya terkelupas dan membantuk sepasang kaki manusia termasuk sepasang lengannya yang semua bercakar menjadi jari-jemari lembut nan lentik miliknya.
Wardhani menyerap menghisap kepulan asap hitam yang menyelimuti tubuhnya ke dalam hidung seperti sedang menarik nafas. Tubuh bugilnya yang tadinya putih pucat berangsur-angsur kembali ke warna aslinya, gelap.
Soemantri Soekrasana terbatuk kembali. Percikan darah muncrat dari sela-sela bibirnya.
"Aku minta maaf, Mas Soemantri," ujar Wardhani lembut. Soemantri Soekrasana membutuhkan sedikit dorongan tenaga untuk mendongak dan kembali melihat tubuh polos tanpa busana gadis dengan kulit gelap, lekukan tubuh indah dan puncak kedua dada yang merah terang, segar dan berdiri menegang itu.
"Kenapa kita tidak akhiri saja perselisihan ini, Mas. Aku tidak akan marah dan akan melupakan apapun yang Mas lakukan pada bapak dan ibuku yang penting kita berdamai saja," ujar Wardhani.
__ADS_1
Wardhani memang bejat dan sudah tak waras. Dalam pertimbangan orang normal, sebagai anaknya ia saja belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi kepada kedua orangtuanya. Apa yang dilakukan Soemantri Soekrasana kepada mereka? Apakah Girinata sudah tewas dibunuh? Lalu bagaimana dengan Marni? Apakah sungguh Wardhani sama sekali tak peduli lagi?