Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Limapuluh Empat


__ADS_3

Dibanding sundal bolong, kuntilanak, pocong, hantu beragam jenis serta jin berbagai bentuk, hantu berbau terbakar ini terlihat begitu bebas, tak terpenjara oleh kekuatan macam apapun. Ia juga berkomunikasi dengan kata-kata, bukan kikikan, geraman atau tindakan yang dilakukan dengan tiba-tiba dan penuh interpretasi bagai hantu-hantu lain.


"Jangan terlalu keras kepala. Kau yakin tak mau membantu nyawa manusia? Sekeras apapun jemawamu, tak mungkin nafas manusia tak berdosa lebih murah dari kesombonganmu, Yakobus Yakob," lanjut hantu anak laki-laki yang nyatanya adalah Priyam tersebut dengan dingin.


"Hantu yang memiliki jiwa penasaran dan melayang di atas bumi berusaha memberitahuku mana yang baik, mana yang jahat?" singgung Yakobus Yakob. Hiasan bulu burung di mahkota kepalanya berdesir pelan.


Priyam menunjuk ke sebuah arah. Pepohonan tersibak ketika sosok raksasa jangkung yang menjulang tinggi berjalan. "Ia akan membantu memanen jiwa manusia. Ia akan ikut menakuti manusia, sehingga kemudian dapat mengikat jiwa penasaran manusia yang akan dibunuh oleh pasukan pemuda dari desa tersebut. Selanjutnya, mereka akan bangun dari kematian dan menjadi budak kekuatan iblis. Pilihan ada di tanganmu," ujar Priyam. Tubuhnya menghilang, tidak secara dramatis, namun meruap di udara seakan tak pernah datang sama sekali.


Yakobus Yakob menarik nafas. Hatinya tergelitik. Rasa penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi, serta ingin memecahkan misteri ini membuat Yakobus Yakob mengikuti permainan. Lagipula, ia tak bisa membohongi diri sendiri bahwa ada cipratan rasa tak rela bila manusia baik-baik yang tak terlibat perilaku bejat dan jahat harus mati untuk kembali hidup serta kemudian melakukan hal-hal jahat dan terkutuk yang tak pernah mereka lakukan semasa hidup.


Yakobus Yakob meloncat ke udara dan terhempas angin mengikuti larik-larik cahaya yang melempit di celah kabut, mengikuti mahluk gaib jangkung nan mengerikan tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Julianus memerhatikan Nurdin sang petugas keamanan alias satpam kompleks itu berdiri canggung di tengah jalan perumahan. Ia sendiri duduk di lantai dari tiga lantai rumahnya.


Sebagai seorang pengusaha muda, yang meskipun bila dihitung-hitung ia sudah tak terlalu hijau lagi karena umurnya sudah lebih dari tiga puluh tujuh tahun, sudah dapat dimaklumi kalau ia begitu menikmati segala keberhasilannya.


Julianus masih bujang, belum memiliki pacar apalagi istri. Tapi bukan berarti ia masih perjaka, untuk urusan yang satu itu, tak perlu menikah untuk melepaskannya. Tak perlu tampang atau pesona fisik pula untuk dapat menemukan perempuan cantik nan memikat untuk dijadikan rekanan di atas ranjang. Cukup menjadi kaya, seperti dirinya.


Julianus mendadak tersenyum-senyum sendiri memikirkan hal ini. Bunyi ledakan, kabut dan segala hal misterius di luar sana memang membuatnya bertanya-tanya. Hanya saja, kehidupannya yang terbiasa sendiri itu membuatnya tak terlalu ambil pusing dengan segala jenis hal yang tak terjelaskan.


Ia tak repot dengan Tuhan dan agama, termasuk segala konsep setan-malaikat, surga-neraka. Ia masa bodoh dengan perihal politik dan ketatanegaraan. Ia tak peduli dengan ada apa kelak setelah kematian. Apakah ada kumpulan hakim suci yang menentukan ganjaran atau hukuman buatnya, atau Tuhan sendiri yang akan menginjaknya lebur ke neraka. Ia bukan agnostik, ia bukan ateis, ia bukan skeptis. Apapun sebutan orang tentang dirinya, ia persilahkan saja. Namun, ia sendiri mengakui bahwa ia hanya orang yang tak acuh dan beku. Itu saja.

__ADS_1


Penikmatan akan masa muda dan kekayaan membuatnya praktis menjadi seorang hedonis. Bahkan bila semesta melipat dan sobek di berbagai tempat, ia akan dengan mudahnya menyelip di rongga-rongga berlubangnya.


Paling tidak itulah anggapannya sendiri.


Sebelum ia menyaksikan hal ini dengan kedua matanya.


Sosok serupa manusia namun begitu jangkung dengan tubuh sedikit berpendar berjalan menelisik di antara rumah. Bentuk raksasanya tak mungkin tak dapat dilihat.


Julianus tersentak dan nanap. Kedua matanya membelalak tak percaya. Rasa takut menjalar ke dalam sumsum tulang punggungnya. Segala hal yang ia percayai tentang siapa dirinya dan bagaimana tanggapannya tentang hidup, dunia dan semesta tercerabut jangkap.


Ia bangun dari kursi single super nyamannya, berdiri dan mundur ke belakang.


Ia kemudian menutup tirai besar yang menaungi jendela kaca besar mewahnya dengan cepat, berusaha mencari penjelasan logis, alasan atau pembenaran bahwa apa yang ia saksikan tadi hanya halusinasi belaka. Namun ia gagal. Pemandangan dalam beberapa detik itu tadi terlalu nyata untuk sebuah khayalan.


Sesampainya di lantai atas yang diperuntukkan sebagai lantai 'entertainment' baginya dan rekan-rekan bisnisnya, ia menarik nafas cepat-cepat. Ia melihat sekeliling. Ada sebuah bar kecil, meja bilyar, televisi super besar, sofa dan lemari buku.


Setelah menguatkan keberanian dan akal sehat, ia bergegas membuka tirai lebar serupa dengan lantai kedua.


Tak ada apa-apa. Nurdin sang satpam duduk dengan senapan di tangan.


Ia lega, tak bisa menjelaskan apa tadi yang ia lihat, tetapi tak bisa menghindari rasa nyaman mengalir di tengkuknya mengetahui bahwa mahluk raksasa nan jangkung dengan tubuh berpendar tadi tak terlihat sama sekali.


Namun, Julianus kembali curiga. Mengapa sang satpam hanya duduk di sana? Bukankah ia seharusnya memeriksa keadaan di depan kompleks?

__ADS_1


Sial! Ia muak dengan segala misteri yang terjadi dalam beberapa menit terakhir. Ia akan turun, dan secara langsung ikut memeriksa keadaan.


Bunyi tetabuhan tipis terdengar tiba-tiba merayap dari udara masuk ke telinganya.


Julianus menyipitkan mata berusaha berkonsentrasi memadatkannya. Rasa-rasanya ia mengenal nada dan gaya musik tersebut. Namun akibat terlalu kurus, bunyi nada ritma yang cenderung dikuasai tetabuhan perkusif itu tak dapat ditangkap dengan utuh olehnya.


Julianus tak mengacuhkannya dan berlari kecil ingin menuruni tangga sudut, ketika langkahnya terhenti di anak tangga keenam.


Di bawah, beberapa anak tangga jaraknya dari Julianus, sosok itu terlihat samar, lebih seperti bayangan.


Sang sosok tidak berdiri tegak, malah sebaliknya, bergoyang-goyang, meliuk-liukkan tubuhnya.


Kini, setelah melihat sosok yang perlahan membentuk itu, Julianus baru dapat menempatkan kepingan puzzle di tempatnya: suara tetabuhan yang ia dengar samar adalah musik pengiring sosok penari di bawah tangga sudut itu.


Julianus tak bisa memalingkan wajah dari sosok penari perempuan yang sepasang dadanya menggantung indah tak tertutup, helai-helai bulu burung diselipkan di jari-jari tangannya melambangkan kepak sayap, gemerincing lonceng-lonceng di gelang kakinya selaras dengan bunyi tetabuhan yang semakin terdengar jelas, menggelora.


Julianus tak dapat melihat wajah sosok penari perempuan itu. Wajahnya di bawah mahkota berhiaskan bulu burung tersebunyi dalam gelap, tersamarkan oleh kabut yang menutupi cahaya mentari.


Julianus merasakan tubuhnya kaku. Segala pemikiran tentang ketidakacuhannya pupus. Logika dan rasionalitasnya menguap bergabung bersama udara.


Ia mencoba mengangkat senapannya.


Berhasil!

__ADS_1


__ADS_2