Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Limapuluh Lima


__ADS_3

Julianus mengarahkan ujung senapan rakitannya ke sosok misterius yang masih meliuk-liukkan tubuh moleknya tersebut.


"Siapa ... Siapa ... Siapa kau?!" ujar Julianus terbata-bata namun dengan energi yang dipaksakan.


Sosok penari perempuan setengah telanjang itu mengangkat satu kakinya ke satu anak tangga atas, mengarah ke Julius.


"Berhenti! Berhenti di situ! Aku ... Aku bisa tembak kamu!" ancam Julianus dengan rasa takut hinggap sempurna di dasar rasa.


Tetabuhan semakin semarak terdengar. Sang penari menaikkan satu kakinya yang lain ke satu anak tangga atas lagi. Terdengar gemerincing gelang kakinya.


Julianus bersiap menarik pelatuk senapan dengan panik.


Sosok penari tersebut kini tak lagi berjalan menaik anak tangga, ia ... berlari cepat ke arah Julianus.


Senapan terlepas dari tangan. Julianus mendapati wajah sang penari sudah berada sejengkal di depannya. Wajah perempuan penari itu pucat, kedua matanya hanya merupakan rongga kosong, gelap, berisi cacing yang menggeliat keluar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nurdin terduduk tak mampu bergerak. Tangannya masih memegang senapan, namun tak tahu apa yang harus dilakukan.


Sosok raksasa jangkung itu kembali terlihat di sela-sela rumah elit warga. Ia baru saja dilangkahinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yakobus Yakob melompati atap, terkesiap dengan banyaknya mahluk halus bermunculan.


Pocong dengan kain pembungkus yang lusuh dan kotor oleh tanah kuburan membayang di satu sudut sebuah rumah. Kuntilanak melayang menembus dinding di rumah lainnya. Hantu lainnya merayap dan berguling-guling di segala penjuru.


Teriakan terdengar di sana-sini. Yakobus Yakob bingung, tak yakin bagaimana cara menolong orang-orang itu. Ia bukan seorang dukun atau pengusir hantu.

__ADS_1


Kekuatannya memang termasuk dapat melihat mahluk halus, namun, itu sama sekali tak membuatnya juga mampu mengusir mereka. Baginya, kemampuan ini adalah bagian dari indra keenamnya yang terbuka, membuatnya peka dalam semua indra.


Namun tak lama, akhirnya Yakobus Yakob melihat ancaman sesungguhnya.


Empat laki-laki bersenjatakan perang panjang masuk ke perumahan dan kini telah berdiri di depan sosok berseragam satpam yang terduduk lemah di tengah jalan kompleks. Yakobus Yakob mengendus bau iblis kerak neraka menyeruap dari tubuh-tubuh mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nurdin seakan tersadar ketika empat orang asing menggenggam parang yang dihiasi cairan berwarna merah di bilahnya - jelas itu darah, pikir Nurdin - berdiri berjajar di depannya.


Ancaman nyata berasal dari mereka, bukan mahluk gaib raksasa yang sudah dua kali dilihatnya.


Dengan keberanian yang muncul secara nyata dan tiba-tiba itu, Nurdin mengarahkan senapannya ke para pemuda asing tersebut. "Berhenti sampai di situ. Masih ada kesempatan untuk berputar, berbalik dan pergi, sebelum aku tembakkan senapan ini. Aku tahu kalian dari Kampung Pendekar. Entah apapun yang kalian lakukan, aku sudah menghubungi polisi. Tak lama mereka akan tiba," ujar Nurdin berdusta.


Salah satu dari empat pamuda Kampung Pendekar itu mengangkat parangnya dan maju menghampiri ke arah Nurdin tanpa aba-aba dan peringatan.


Tak dapat terelakkan lagi, secara refleks, Nurdin pun menekan pelatuk senapan rakitan pinjaman Julianus, salah satu warga kompleks elit yang kini sedang mengejang kaku di depan sosok hantu penari di lantai tiga rumahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka berdua, Parulian dan Lamhot, mendiami rumah elit salah satu milik bos perusahaan sawit dimana mereka bekerja. Sang bos juga berasal dari Sumatra, kampung sebelah, yang bertahun-tahun merantau sehingga menjadi harimau di tanah orang.


Jadilah bertahun kemudian, satu persatu mereka mencoba mengikuti jejak sang tokoh tersohor di daerah mereka itu.


"Kapan aku bisa punya rumah sebesar ini ya, Bang?" ujar Lamhot. Sebatang rokok terselip di bibirnya yang hitam, bergoyang sembari ia berbicara, namun tak lepas karena menempel oleh liur yang mengering.


Parulian tertawa. Kedua kakinya menggantung di udara, keduanya duduk di tepian bagian belakang atas bangunan tingkat tiga elit nan mewah ini. Bagian terbuka itu kerap menjadi sarana mereka untuk bersantai, merokok, bermain kartu atau minum-minum.


Pagi yang santai. Mereka tak bekerja hari ini. Ledakan yang menghebohkan di pagi buta. Tak ada sinyal sama sekali. Tadi warga yang tinggal di perumahan ini sempat keluar dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi, terutama ketika ada suara letusan.

__ADS_1


Nurdin, satpam kompleks, berusaha menenangkan warga dan berjanji akan segera mencari tahu apa gerangan yang terjadi. Parulian menerka bahwa ledakan dan letusan itu ada hubungannya dengan kampung sebelah yang terkenal memelihara warga tukang onar.


Sudah biasa.


Ia sebagai orang perantau, tak mudah digentarkan oleh masalah semacam ini. Sedangkan sinyal, pasti ada hubungannya dengan kabut tebal yang bergulung-gulung di udara ini.


"Ya kau harus usaha lah. Kerja. Kerja sekeras mungkin. Tapi kalau mau cepat, mungkin bisa coba babi ngepet saja," ujar Parulian sembari tertawa.


Lamhot, juniornya tak tertawa. "Menurutku bang Parulian, ilmu sihir, nujum, teluh, santet, voodoo atau apapun sebutannya, itu semua cuma khayalan, imajinasi, halusinasi. Paling pol, itu bersifat psikologis, atau sugesti. Kalau orang percaya, maka ada lah dia ... Di dalam pikirannya."


Parulian memberhentikan tawanya, "Jadi, kau mau bilang bahwa kau ini apatis, skeptis?"


"Ah, tak juga, Bang. Masalah Ketuhanan, aku masih bisa terima. Gini-gini masih takut aku mati dan masuk neraka. Hanya saja, aku pilih agama Kristen yang sembahyang seminggu sekali, itupun belum tentu sebulan ada sekali aku ke gereja. Coba kalau lima kali sehari macam saudara Muslim kita, sudah jadi calon masuk neraka aku," jawab Lamhot terkikik.


"Bah, mana bisa kau pula yang pilih masuk surganya siapa, menghindari neraka agama yang mana," balas Parulian sembari meludah ke bawah.


"Ah, tapi serius aku, Bang. Tak bisalah aku percaya dengan segala jenis ilmu gaib yang banyak orang negeri ini bincangkan," nyala rokok hampir hilang karena terlalu lama menempel di bibir tanpa dihisap.


"Tapi ‘kan, bukankah di Kitab Suci dijelaskan pula kalau mukjizat itu benar-benar ada?" lanjut Parulian.


"Beda ... Beda lah itu, Bang."


Parulian kembali meludah ke tanah. Ia membuka kotak rokok, mengambil satu batang dan menyalakannya. Matanya menyipit ketika asap rokok mulai membumbung. "Aku pikir kau ini hanya melakukan pembenaran saja. Takut kau dibilang tak bertuhan, ateis, agnostik, sesat. Begitu?"


"Aku cuma selalu mencoba berpikir pakai otak dulu bang, bukan perasaan."


"Macam mana pula itu? Heh, asal kau tahu, bahkan di Gereja Katolik sekalipun, kalau ada laporan kejadian ajaib dan dianggap mukjizat seperti misalnya patung Bunda Maria yang menangis darah, atau orang yang dirasuki setan, tetap Gereja mengirim orang untuk selidiki itu fenomena. Jangan-jangan hanya cat yang luntur dan psikologi orang yang terganggu."


"Nah, apalagi Katolik, maka aku pilih Protestan yang tak banyak pakai ritual ini itu dan upacara keagamaan yang lebih masuk akal saja."

__ADS_1


"Alasan saja kau anak muda. Sudah jelas kau bilang tadi, kau pun malas ke gereja."


Keduanya tertawa keras-keras menyadari alasan yang dibuat-buat Lamhot ini.


__ADS_2