
Ratih membuka kedua matanya. Cahaya matahari menembus masuk ventilasi dan tirai jendela kamarnya, mematuki wajah dan kelopak matanya. Kepalanya terasa begitu berat dan pening. Ada semacam beban yang menggantung di punggungnya.
"Nampaknya kamu sedang sakit, Dek," ujar Pak Guru Johan yang mendadak masuk ke kamar.
"Jam berapa sekarang, Mas? Aku tidur lama sekali. Kepalaku agak pusing. Aku harus bangun, masak dan beres-beres rumah," ujar Ratih agak panik.
"Jam sebelas siang. Tapi sudah, aku pikir kamu memang sedang tak enak badan. Istirahat saja dulu. Untung ada Kusuma Dewi sepupumu itu. Dia yang masak dan beres-beres dari pagi. Anak-anak sudah mandi dan makan. Tinggal kamu nanti makan siang sekalian, terus minum obat biar enakan," jelas sang suami.
"Lho, kok malah Dewi yang repot? Aku tak enak, Mas. Dia ‘kan tamu kita."
"Tidak mengapa, Dek. Sewaktu tadi aku periksa badanmu agak panas, dia malah yang sengaja minta untuk melakukan pekerjaan rumah. Katanya sebagai bayaran minta diantarkan ke tunggul kayu tepi sungai nanti," ujar Pak Guru Johan sembari tertawa renyah.
Ratih membalasnya juga dengan tawa yang jelas terdengar lemah. "Baiklah, Mas,kalau begitu. Sampaikan terimakasihku buat Dewi. Sebentar lagi aku mau coba bangun untuk makan."
"Sudah, sudah. Nanti aku yang bawa makanannya ke sini. Kamu santai saja. Kebetulan juga ini hari minggu ‘kan? Aku seharian di rumah, paling nanti menemani Dewi sebentar," cegah sang suami.
Ratih merasa dadanya membuncah bangga dan bahagia. Tak mungkin mendapatkan model suami yang penuh perhatian semacam itu. Benar kata warga dusun bahwa ia beruntung menjadi istri seorang Pak Guru Johan. Padahal semalam rasa-rasanya ia memimpikan sesuatu yang aneh. Ia bermimpi tentangsang suami dirasuki sosok berbeda, entah apa itu ia pun tak mampu menjelaskan. Senyum hangat dan tenang yang biasa ia kenal dari Pak Guru Johan berubah menjadi seringai menakutkan.
Besok paginya, Ratihtak berhasil mengingat banyak mimpinya tersebut karena badannya mulai terserang demam dan kepalanya luar biasa berat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul tiga sore, Kusuma Dewi telah berganti pakaian dengan terusan berwarna abu-abu yang jatuh pas di tubuhnya. Terusan itu panjangnya sedikit melebihi lutut, namun karena bokongnya yang membulat itu, membuat sedikit bagian kain kerap terangkat setiap tungkai kakinya bergerak jalan, memamerkan bagian belakang pahanya. Kulit pucat yang sama sekali tak ia banggakan itu malah sebaliknya terlihat bak pualam dengan serat-serat kebiruan urat membayang di baliknya bagi Pak Guru Johan. Belum lagi sepasang dadanya yang Kusuma Dewi pikir berbentuk panjang dan jatuh bagai wewe gombel itu sebenarnya terlihat membentuk lengkungan indah di balik kain busananya bagi Pak Guru Johan.
__ADS_1
Pak Guru Johan merasa ia mau gila saja. Seumur-umur ia tak pernah merasa setergoda ini dengan seorang perempuan. Bukan berarti Ratih tak membuatnya tergoda. Itu hal yang lain lagi.
Tapi perasaan yang datang menerjang bagai bajir bandang ini merenggut semua logika dan moralnya.
Perasaan bersalahnya kepada Ratih seakan dikubur dalam-dalam. Kemungkinan bahwa tindakannya akan menjadi sebuah masalah besar, skandal dan kasus memalukan tidak mendapatkan penjelasan logis di dalam otaknya lagi.
Berahi dan nafsu syahwat meraja, memperbudaknya. Sejak Kusuma Dewi datang ke Dusun Pon kemarin, Pak Guru Johan merasa tidak menjadi dirinya sendiri. Semacam ada sosok lain yang merasuk ke dalam tubuhnya dan menyeringai kepada dirinya sendiri dari balik pantulan cermin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Angin kuat menghempas benteng pepohonan bambu, membuatnya bergemerisik hebat. Sisa-sisa angin yang mampu menembus sela-sela batang dan daun bambu yang panjang-panjang itu mengibarkan rambut kemerahan Kusuma Dewi dan membuat baju terusannya berkelebatan genit, menyibak dan memamerkan kulit mulus sang gadis.
Pak Guru Johan menelan ludah ketika berjalan di belakang Kusuma Dewi.
"Mereka juga kemungkinan kembali dari kunjungan mereka ke tunggul kayu di tepi sungai," ujar Pak Guru Johan.
Kusuma Dewi tersenyum.
Senyumnya sedikit memudar ketika akhirnya menyaksikan sendiri tempat yang mereka tuju yang penuh dengan aura sakral dan misteriusnya.
Ada dua orang perempuan, pengunjung, yang tak lama kemudian meninggalkan tempat itu. Kusuma Dewi melihat sebatang tunggul kayu yang biasa saja sebenarnya, tertancap di tepi sungai yang arusnya melewati bebatuan.
"Dulu tunggul itu dibebat kain kuning dan putih. Semenjak sang penjaga, mbah Darmo, wafat tak jauh dari tempat ini, warga sudah tak memperlakukannya seperti dahulu. Hanya saja, cerita sudah terlanjur tersebar dan berkembang. Mereka bilang, bila kamu mengencingi tunggul itu, jodoh akan segera datang menghampirimu. Kamu akan terlihat lebih cantik, lebih ganteng dan jauh lebih menarik dari sebelumnya," ujar Pak Guru Johan sembari tersenyum.
__ADS_1
Kusuma Dewi terkejut dan menatap suami sepupunya itu. "Mas sungguh-sungguh?"
"Ya Mas tidak tahu menahu kebenarannya. Tapi kalau kamu bertanya apakah Mas serius dengan cerita itu, ya memang begitu adanya."
"Lalu, apa saya harus jongkok mengencingi tunggul kayu itu? Di tempat terbuka ini?" ujar Kusuma Dewi dengan nada tak percaya.
Pak Guru Johan terkekeh. "Begini Dek Dewi. Setahu Mas, orang yang benar-benar berniat ya tinggal kencing saja, tidak ada ruginya. Tapi itu kalau laki-laki. Itupun kalau orang lain juga ingin melakukan, mereka akan antri dan berdiri jauh-jauh. Kalau perempuan, biasanya memang mereka ditemani teman atau saudara perempuan mereka," ujar Pak Guru Johan santai.
Memang bila diperhatikan, tunggul kayu itu bagaimanapun terletak di tempat yang cukup tersembunyi dan terlindungi oleh pepohonan dan dedaunan yang melingkupi kepala bagai atap.
"Hanya saja, Mas tidak yakin kamu perlu melakukan ini," lanjut Pak Guru Johan menantang bercanda.
"Jadi, Mas merasa tindakan saya ini konyol,ya?" balas Kusuma Dewi. Pandangan matanya menjadi sedikit sendu.
Pak Guru Johan tersentak dan langsung merasa bersalah. Meski ia memang berniat mengantarkan adik iparnya itu ke tampat ini, ia tak terlalu memikirkan apakah Kusuma Dewi berniat melakukan apapun. Ia berpikir setelah tahu apa yang harus dilakukan, Kusuma Dewi hanya akan tertawa dan membatalkan niatnya.
"Bukan, bukan seperti itu, Dek. Begini, menurut Mas, kamu itu sudah cantik. Lagipula, kalau Mas tahu kamu benar-benar berniat, Mas bisa minta Mbak Ratih yang menemanimu ketika dia sembuh nanti."
Kusuma Dewi menghela nafas. "Mas sungguh-sungguh tak merasa bahwa tindakan saya ini bodoh, konyol dan berkesan putus asa, bukan?"
"Ah, Dek Dewi. Mas tidak bisa dan tidak mau menghakimimu. Mas sudah berjanji menemanimu ke tempat ini, maka bila kamu memang mau melakukan apa yang biasa para pengunjung lakukan, maka lakukan saja. Anggap saja ini untuk seru-seruan semata. Mas akan berdiri jauh dan menjaga barangkali ada orang lain pula yang datang," ujar Pak Guru Johan dengan sedikit gugup.
Kusuma Dewi menatap wajah Pak Guru Johan dengan seksama dan menemukan ketulusan serta kejujuran di sana. "Jangan terlalu jauh, Mas. Saya percaya dengan, Mas."
__ADS_1
Kusuma Dewi berbalik dan berjalan cepat, bahkan bersemangat, ke tunggul kayu itu. Pak Guru Johan yang merasa janggal degan situasi ini membalikkan badannya.